Ikon kebudayaan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pai apel, bisbol, dan bendera dikumpulkan bersama adalah sebuah klise dari ikon-ikon kebudayaan Amerika

Ikon kebudayaan adalah sebuah artifak yang diidentifikasikan oleh para anggota dari sebuah budaya sebagai perwakilan dari budaya tersebut. Proses identifikasi tersebut bersifat subyektif, dan "ikon-ikon" yang dicap khas adalah hal-hal yang dipandang sebagai barang otentik dari budaya tersebut. Saat orang-orang mengangkat sebuah ikon kebudayaan, mereka mengaitkannya dengan persepsi umum mereka atas identitas kebudayaan yang diwakilkan.[1] Ikon-ikon kebudayaan juga bisa diidentifikasikan sebagai sebuah perwakilan otentik dari praktik-praktik dari satu budaya oleh pihak lainnya.[2]

Dalam media, beberapa barang dan tokoh dari budaya populer disebut "ikonik" meskipun mereka kurang pendirian; istilah "ikon pop" sekarang sering digunakan. Beberapa komentator meyakini bahwa kata tersebut terlalu digunakan atau salah digunakabn.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Grayson, Kent; Martinec, Radan (2004-09-01). "Consumer Perceptions of Iconicity and Indexicality and Their Influence on Assessments of Authentic Market Offerings". Journal of Consumer Research. 31 (2): 296–312. doi:10.1086/422109. ISSN 0093-5301. 
  2. ^ Motley, Carol M.; Henderson, Geraldine Rosa (2008-03-01). "The global hip-hop Diaspora: Understanding the culture". Journal of Business Research. Cross-Cultural Business Research. 61 (3): 243–253. doi:10.1016/j.jbusres.2007.06.020. 
  3. ^ Heard about the famous icon? We have - far too often, The Independent (London), January 27, 2007

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Biedermann, Hans (1994). Dictionary of Symbolism: Cultural Icons and the Meanings Behind Them. Meridan. 
  • Brooker, Will (2001). Batman Unmasked: Analysing a Cultural Icon. Continuum. 
  • Edwards, Peter; Karl Enenkel, and Elspeth Graham (editors) (2011). The Horse as Cultural Icon: The Real and the Symbolic Horse in the Early Modern World. Brill. 
  • Foudy, Julie; Leslie Heywood; Shari L Dworkin (2003). Built to Win: The Female Athlete as Cultural Icon. University of Minnesota Press. 
  • Gilbert, Erik (2008). The Dhow as Cultural Icon. Boston University. * Heyer, Paul (2012). Titanic Century: Media, Myth, and the Making of a Cultural Icon. Praeger. 
  • Heyer, Paul (2012). Titanic Century: Media, Myth, and the Making of a Cultural Icon. Praeger. 
  • Meyer, Denis C. (2010). Cles Pour la France en 80 Icones Culturelles. Hachette. 
  • Nelkin, Dorothy; M Susan Lindee (2004). The DNA Mystique: The Gene as a Cultural Icon. University of Michigan Press. 
  • Reydams-Schils, Gretchen J (2003). Plato's Timaeus as Cultural Icon. University of Notre Dame Press. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]