Generasi Z


Generasi Z atau Generasi Digital, sering disingkat menjadi Gen Z dan dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai Zoomers,[1][2][3] Sebagian besar anggota Generasi Z adalah anak-anak dari generasi baby boomers yang lebih muda, generasi x dan generasi milenial.[4][5]
Para peneliti dan media populer menggunakan pertengahan hingga akhir tahun 1990-an sebagai tahun awal kelahiran dan awal tahun 2010-an sebagai tahun akhir kelahiran Gen Z,[6] dengan generasi yang paling sering didefinisikan sebagai orang yang lahir dari tahun 1997 hingga 2012.[7][8][9][10] Hal ini memungkinkan adanya perbedaan di setiap wilayah atau negara atas pengklasifikasian rentang usia masing-masing generasi, salah satu yang menjadi pertimbangan dalam hal ini adalah perkembangan teknologi di setiap negara atau wilayah yang tidak sama, yang akan berpengaruh terhadap pola hidup, mindset, pengalaman, psikologi, dan lain sebagainya pada setiap generasi.
Gen Z atau Generasi Z yang digunakan di Indonesia berawal dari tahun 1997 hingga 2012 berdasarkan data resmi yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada Sensus Penduduk tahun 2020, berada di angka 27,94% dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia.[4][5][11]
Sebagai generasi sosial pertama yang tumbuh dengan akses ke Internet dan teknologi digital portabel sejak usia muda, Gen Z, meskipun belum melek digital, telah dijuluki "digital native" atau orang-orang yang tumbuh bersamaan dengan reformasi digital.[12][13][14][15] Selain itu, efek negatif dari menghabiskan waktu dengan layar paling terasa terjadi pada remaja, dibandingkan dengan anak-anak yang lebih kecil.[16] Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, Gen Z cenderung hidup lebih lambat dibandingkan pendahulunya ketika mereka seusia;[17][18] memiliki tingkat kehamilan remaja yang lebih rendah; dan lebih jarang mengonsumsi alkohol (tetapi belum tentu obat psikoaktif lainnya).[19][20][21] Remaja Z lebih peduli dibandingkan generasi yang lebih tua terhadap prestasi akademis dan prospek pekerjaan,[17][22] dan lebih baik dalam menunda kepuasan dibandingkan generasi tahun 1960-an, meskipun ada kekhawatiran sebaliknya.[23] Prevalensi sexting di kalangan remaja semakin meningkat; konsekuensi dari hal ini masih kurang dipahami.[24] Selain itu, budaya anak muda menjadi lebih senyap meskipun tidak hilang.[25][26]
Secara global, terdapat bukti bahwa rata-rata usia pubertas di kalangan anak perempuan telah jauh menurun dibandingkan abad ke-20, yang berdampak pada kesejahteraan dan masa depan mereka.[27][28][29][30][31] Selain itu, prevalensi alergi di kalangan remaja dan dewasa muda Gen Z lebih besar dibandingkan populasi umum;[32][33] terdapat kesadaran dan diagnosis yang lebih besar terhadap kondisi kesehatan mental,[21][22][34][35] dan kurang tidur lebih sering dilaporkan.[13][36][37] Di banyak negara, remaja Gen Z lebih mungkin didiagnosis menderita disabilitas intelektual dan gangguan kejiwaan dibandingkan generasi yang lebih tua.[38][39]
Di seluruh dunia, Gen Z menghabiskan lebih banyak waktu pada perangkat elektronik dan lebih sedikit waktu untuk membaca buku dibandingkan sebelumnya,[40][41][42] yang berdampak pada rentang perhatian,[43][44] kosakata,[45][46] prestasi akademik,[47] dan kontribusi ekonomi masa depan.[40]
Generasi Perang
[sunting | sunting sumber]Generasi Perang adalah generasi yang didefinisikan sebagai orang-orang yang lahir pada masa-masa perperangan. Ada 3 generasi perang yang umum, yaitu:
Generasi Perang Klasik
[sunting | sunting sumber]Generasi Perang Klasik adalah generasi yang didefinisikan sebagai orang-orang yang lahir pada tahun 1648 sampai dengan tahun 1860 masehi.
Generasi Perang Klasik merupakan generasi perang yang sangat ditentukan oleh kekuatan pasukan dalam bentuk jumlah prajurit, persenjataan dan keahlian, serta pengalaman dalam bertempur secara frontal berhadapan. Contoh paling sederhana dari Generasi Perang Klasik ini adalah Perang Napoleon yaitu ketika bangsa Prancis melakukan ekspansi di daratan Eropa.[48]
Generasi Perang Dunia I
[sunting | sunting sumber]Generasi Perang Dunia I adalah generasi yang didefinisikan sebagai orang-orang yang lahir pada tahun 1860 sampai dengan tahun 1918 masehi.
Pada Perang Dunia I merupakan generasi yang lahir pada awal permulaan hingga berlangsungnya Perang Dunia I. Ciri dari Generasi Perang Dunia I ini ialah generasi yang menerapkan konsep perang dengan daya tembak yang terkendali secara terpusat, terperinci dan teratur bagi infantri, tank dan artileri yang menekankan pentingnya peran komandan dalam pertempuran. Doktrin yang sangat ditekankan dalam Generasi Perang Dunia I ini adalah “the artilery conquers, the cavalry as the attackers and the infantry occupies.” Selanjutnya motto yang berkembang dalam Generasi Perang Klasik dan Generasi Perang Dunia I adalah “close and destroy”.[48]
Generasi Perang Dunia II
[sunting | sunting sumber]Generasi Perang Dunia II adalah generasi yang didefinisikan sebagai orang-orang yang lahir pada masa Perang Dunia II, yaitu lahir dalam rentang tahun 1939 sampai dengan tahun 1945 masehi.
Ciri Generasi Perang Dunia II ini adalah generasi yang menerapkan konsep perang dengan mengutamakan kecepatan, spontanitas, kekuatan mental serta fisik prajurit. Dalam strategi ini, kedisiplinan prajurit dalam bertempur akan menentukan hasil yang dicapai dan bukan menentukan cara bertempur. Maka pada Generasi Perang Dunia II, insiatif prajurit maupun komandan lapangan menjadi lebih penting daripada ketaatan kepada komando atas. Selanjutnya desentralisasi dan insiatif yang berasal dari Generasi Perang Dunia II memunculkan strategi baru dalam perang, yaitu interoperability strategy dalam membangun sinergitas dan komunikasi pertempuran dengan dukungan perangkat teknologi modern.[48]
Generasi Pasca Perang Perang Dunia II
[sunting | sunting sumber]Generasi Pasca Perang Dunia II adalah generasi yang didefinisikan sebagai orang-orang yang lahir pasca perang dunia II, tidak ada rentang tahun yang pasti terhadap generasi ini, pendapat umum menyatakan bahwa Generasi Pasca Perang Dunia II merupakan orang-orang yang lahir setelah Perang Dunia II berakhir. Sejak Munculnya Teori Generasi (Bahasa Inggris: Generation Theory), dunia diperkenalkan dengan beberapa istilah baru mengenai karakter dari berbagai generasi, yang dijabarkan sebagai berikut:
Generasi Era Depresi
[sunting | sunting sumber]Generasi Era Depresi adalah generasi yang didefinisikan sebagai orang-orang yang lahir sebelum dan setelah perang dunia I dan Perang dunia II, yang mengalami depresi atau stress akibat kondisi yang terjadi pada masa tersebut. Selain itu, menurut para sosiolog, Generasi Era Depresi juga dinamakan sebagai generasi era 70-an, di mana pada masa itu merupakan sebuah era kekalahan yang mematahkan semangat ketika Generasi Baby Boomers menyadari bahwa meskipun mereka telah berusaha menemukan jati diri, melakukan yang mereka inginkan, dan mencari kesadaran batin di level yang lebih tinggi, mereka masih tak mengetahui jati diri mereka sendiri. Berbulan - bulan meditasi spiritual tampaknya tidak membangkitkan pemikiran yang mengubah hidup, gerakan perdamaian tidak menghasilkan perdamaian, dan generasi hipster telah menghilang.[49] Setelahnya, era 80-an, generasi ini menjadi lebih stabil dalam kondisi kesehariannya.
Generasi Baby Boomer
[sunting | sunting sumber]
Generasi Baby Boomers adalah generasi yang lahir pasca perang dunia II, dengan rentang tahun lahir 1946–1964.[50]
Generasi ini lahir akibat tingginya angka kelahiran pasca perang dunia II. Generasi Baby Boomer dibedakan atas dua generasi yaitu Generasi Baby Boomer I di mana generasi ini merupakan generasi awal munculnya Generasi Baby Boomer, tepatnya setelah berakhirnya Perang Dunia II dan Generasi Baby Boomer II di mana generasi ini merupakan kelanjutan dari Generasi Baby Boomer I.
Generasi Baby Boomer memiliki banyak saudara, akibat dari banyaknya pasangan yang berani untuk mempunyai banyak keturunan. Generasi yang adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. Dianggap sebagai orang lama yang mempunyai pengalaman hidup.[51] Generasi ini diramalkan sebagai generasi yang akan menggebrak dunia karena memiliki kemapanan dalam hal ekonomi hingga kesehatan dan gaya hidup pada usia produktif mereka.
Generasi X
[sunting | sunting sumber]
Generasi X adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1965 sampai dengan 1980.[52]
Generasi ini terlahir pada masa gejolak dan transisi global seperti era Perang Dingin antara blok barat yang dikomandoi Amerika Serikat dan blok timur yang dikomandoi Uni Soviet, Perang Vietnam antara pasukan Vietkong yang berhaluan komunis dengan pasukan Vietnam Selatan yang dikomandoi Amerika Serikat, serta Revolusi Tenteram yang menandakan jatuhnya tembok Berlin dan bersatunya Jerman Timur dan Jerman Barat.
Tahun-tahun ketika generasi ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Penyimpanan datanya pun menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari oleh orang - orang pada masa ini. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Jane Deverson, sebagian dari generasi ini memiliki tingkah laku negatif seperti tidak hormat pada orang tua, mulai mengenal musik punk, dan mencoba menggunakan ganja.[51]
Xennials. Lahir antara tahun 1975-1985. Usianya saat ini yang termuda 38 tahun dan yang tertua 48 tahun. Istilah Xennials adalah paduan nama Generasi X dan Millenial untuk menggambarkan individu-individu yang lahir selama tahun puncak Generasi X / Millenial pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Generasi ini disebut juga generasi mikro yang berfungsi sebagai jembatan antara ketidakpuasan Gen X dan optimisme Millennials. Gen ini mengadopsi berbagai media sosial , cenderung lebih calm down dan natural dalam menggunakan media social. Generasi Xennials memiliki dua kepribadian yaitu sinis dan kaku, tetapi mereka juga memiliki sikap optimistis. Xennials memanggil teman mereka melalui telepon rumah saat masa kecil dan remaja, masih merasakan sensasi mengobrol menggunakan telepon kabel. Xennials masih mengingat masa-masa transisi yang dialami dalam penggunaan berbagai fitur dari aplikasi tersebut, tetapi lebih mudah mengadaptasi teknologi baru.
Generasi Xennials masih menyukai bentuk tulisan tangan, peduli terhadap keseimbangan kerja dan kehidupan yakni fokus pada pekerjaan, tetapi memberikan batasan karena tidak ingin pekerjaan menggangu kehidupan pribadi.
Milenial
[sunting | sunting sumber]
Milenial atau (Generasi Y) adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1981–1996.
Generasi ini disebut juga dengan sebutan generasi Y, yang sudah mengenal teknologi seperti komputer, permainan video, dan ponsel. Ungkapan Generasi Milenial mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instant messaging. Mereka juga suka main permainan daring.[51] Dalam generasi millenial terdapat banyak sekali masalah seperti krisis seperempat hidup.
Generasi Z
[sunting | sunting sumber]
Generasi Z atau Gen Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1997 sampai tahun 2012, ini rentang tahun yang digunakan di Indonesia berdasarkan Data Sensus Penduduk 2020 oleh Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS).
Hal ini memungkinkan adanya perbedaan di setiap wilayah atau negara atas pengklasifikasian rentang usia masing-masing generasi, salah satu yang menjadi pertimbangan dalam hal ini adalah perkembangan teknologi di setiap negara atau wilayah yang tidak sama, yang akan berpengaruh terhadap pola hidup, mindset, pengalaman, psikologi, dan lain sebagainya pada setiap generasi. Generasi Z adalah generasi setelah Generasi Milenial, generasi ini merupakan generasi peralihan Generasi Milenial dengan teknologi yang semakin berkembang. Beberapa di antaranya merupakan keturunan dari Generasi X dan Milenial.
Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan Generasi Milenial, tetapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka.[51]
Generasi Alpha
[sunting | sunting sumber]
Generasi Alpha adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 2013 sampai tahun 2024. Generasi ini lahir setelah Generasi Z.
Melihat dari banyaknya pimpinan. baik itu negara maupun perusahaan, generasi X masih mendominasi. Sementara itu generasi Y masih menggeliat, mencari kemapanan dalam bidang pekerjaan maupun pribadi, tidak dipungkiri beberapa sudah menjadi pimpinan sebuah perusahaan sejak usia muda. Generasi Z yang merupakan keturunan dari generasi X dan baby boomer, sekarang ini merupakan anak-anak muda yang rata-rata masih mencari jati diri, beberapa di antaranya sudah mempunyai penghasilan sendiri yang cukup besar terutama dari bidang seni.[51]
Generasi Beta
[sunting | sunting sumber]Generasi Beta merupakan kelanjutan dari Generasi Alpha yang pada lahir pada tahun 2025 hingga 2039. Hal ini memungkinkan adanya perbedaan di setiap wilayah atau negara atas pengklasifikasian rentang tahun lahir pada generasi ini, salah satu yang menjadi pertimbangan dalam hal ini adalah perkembangan teknologi di setiap negara atau wilayah yang tidak sama, yang akan berpengaruh terhadap pola hidup, mindset, pengalaman, psikologi, dan lain sebagainya pada setiap generasi.[53]
Generasi Beta diperkirakan akan menjadi generasi pertama yang benar-benar tumbuh dengan teknologi berbasis AI di segala aspek kehidupan. Mulai dari pendidikan berbasis personalisasi AI, rumah pintar, hingga interaksi sosial yang semakin didominasi oleh platform digital.[54]
Perbedaan Definisi Gen Z
[sunting | sunting sumber]| Bagian dari seri tentang |
| Generasi besar di dunia Barat |
|---|
Adanya perbedaan di setiap wilayah atau negara atas pengklasifikasian rentang tahun pada masing-masing generasi, merupakan hal yang sangat wajar. Salah satu yang menjadi pertimbangan dalam hal ini adalah perkembangan teknologi di setiap negara atau wilayah yang tidak sama, yang akan berpengaruh terhadap pola hidup, mindset, pengalaman, psikologi, dan lain sebagainya pada setiap generasi. Para peneliti dan media populer sering menggunakan pertengahan hingga akhir tahun 1990an sebagai tahun awal kelahiran dan awal tahun 2010an sebagai tahun akhir kelahiran untuk mendefinisikan Generasi Z.
Pada tahun 2012, ketika jurnalis Bruce Horovitz mengenalkan istilah Generasi Z, rentang umur yang digunakan masih belum jelas. Setelahnya, tahun 2014, istilah ini mulai sering dipakai usai presentasi dari agen pemasaran Sparks and Honey, di mana rentang umur yang dipakai untuk mendeskripsikan Generasi Z bermakna mereka yang lahir tahun 1995 sampai tahun 2014.[55]
Pengklasifikasian generasi yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada Sensus Penduduk 2020 merujuk pada istilah yang digunakan oleh William H. Frey dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Analysis of Census Bureau Population Estimates (2020). Istilah Generasi Z atau Gen Z adalah orang-orang yang lahir pada tahun 1997 sampai 2012.[56]
Badan Statistik Kanada menghitung Generasi Z sebagai orang-orang yang lahir pada 1997-2012[7] berdasarkan Pew Research Center yang telah menetapkan tahun 1997 sebagai tahun awal lahirnya Generasi Z, dengan mendasarkan pada "pengalaman formatif yang berbeda", seperti perkembangan teknologi dan sosio-ekonomi baru, serta pertumbuhan dunia setelah serangan 11 September.[8] Pew belum menentukan titik akhir untuk Generasi Z, tetapi menggunakan tahun 2012 sebagai titik akhir tentatif untuk laporan tahun 2019 mereka.[8] Banyak outlet berita menggunakan tahun lahir awal 1997, sering kali mengutip Pew Research Center ini.[9] Berbagai lembaga think tank dan perusahaan analisis juga telah menetapkan tanggal mulainya pada tahun 1997,[57] begitu pula berbagai perusahaan manajemen dan konsultan.[10] Dalam laporan tahun 2022, Sensus AS menetapkan Generasi Z sebagai "generasi termuda dengan anggota dewasa (lahir 1997 hingga 2013)."[58]
Badan Statistik McCrindle Research Center di Australia menyebut Generasi Z sebagai orang-orang yang lahir pada 1996 sampai 2010.[59] lansiran media berita lainnya menggunakan tahun 1995 sebagai tahun awal kelahiran Generasi Z.[60] Psikolog Jean Twenge mendefinisikan Generasi Z sebagai "iGeneration" dengan kelompok mereka yang lahir antara tahun 1995 dan 2012.[61] Beberapa referensi juga mengatakan mereka yang lahir hingga tahun 2015 masih tergolong Generasi Z.[62]
Terlepas dari perbedaan tahun tersebut, mereka semua sepakat kalau Generasi Z adalah orang-orang yang lahir di generasi internet—generasi yang sudah menikmati keajaiban teknologi usai kelahiran internet..
Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Kebahagiaan dan nilai pribadi
[sunting | sunting sumber]
The Economist menggambarkan Generasi Z sebagai generasi yang lebih berpendidikan, berpengetahuan luas, berperilaku baik, dan dapat mengendalikan stres hingga depresi dibandingkan generasi sebelumnya. Pada tahun 2016, Varkey Foundation dan Populus melakukan penelitian internasional yang meneliti sikap lebih dari 20.000 orang berusia 15 hingga 21 tahun di dua puluh negara: Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Israel, Italia, Jepang, Selandia Baru, Nigeria, Rusia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Britania Raya, dan Amerika Serikat.
Mereka menemukan bahwa remaja Gen Z secara keseluruhan merasa bahagia dengan keadaan dalam kehidupan pribadi mereka sekitar (59%). Kaum muda yang paling tidak bahagia berasal dari Korea Selatan (29%) dan Jepang dengan skor (28%), sedangkan generasi muda yang paling bahagia berasal dari Indonesia dengan skor tinggi yaitu (90%) dan Nigeria (78%).[63]
Untuk menentukan 'skor kebahagiaan' secara keseluruhan di setiap negara, para peneliti mengurangkan persentase orang yang mengatakan mereka tidak bahagia dengan persentase orang yang mengatakan mereka bahagia. Sumber kebahagiaan yang paling penting adalah kesehatan jasmani dan rohani (94%), mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga (92%), dan teman (91%). Secara umum, responden yang berusia lebih muda dan berjenis kelamin laki-laki cenderung lebih bahagia, dibandingkan perempuan.
Keyakinan agama berada di urutan terakhir dengan persentase (44%). Meskipun demikian, agama merupakan sumber utama kebahagiaan bagi generasi muda Gen Z yang berasal dari Indonesia (93%), Nigeria (86%), Turki (71%), Tiongkok, dan Brasil (keduanya 70%). Alasan utama kecemasan dan stres adalah masalah keuangan (51%) dan sekolah (46%); media sosial dan akses terhadap sumber daya dasar (seperti makanan dan air) menempati urutan teratas, keduanya mencapai 10%. Kekhawatiran terhadap pangan dan air paling serius terjadi di Tiongkok (19%), dan India (16%); generasi muda India juga lebih banyak mengalami kecemasan dan stres akibat media sosial dengan rata-rata (19%).
Karakteristik
[sunting | sunting sumber]
Adapun karakteristik dan ciri - ciri umum Generasi Z adalah.[51][64]
• Merupakan generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan pendidikan maupun pribadi akan mereka akses dengan cepat dan mudah. Anggota generasi Z tidak mengenal dunia tanpa smartphone atau media sosial. Ketika iPhone dirilis pada 2007, anggota tertua dari generasi ini baru berusia 10 tahun dan anggota bungsu belum dilahirkan. Mereka mengetahui semua seluk-beluk teknologi. Bahkan, kemampuan teknologi mereka seakan merupakan bawaan sejak lahir.
• Sangat suka dan sering berkomunikasi dengan semua kalangan khususnya lewat jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, LINE, WhatsApp, Telegram, Instagram, atau SMS. Melalui media ini mereka jadi lebih bebas berekspresi dengan apa yang dirasa dan dipikir secara spontan.
• Ketika platform seperti Facebook dan Twitter pertama kali keluar, millennial dan generasi yang lebih tua menggunakannya tanpa memikirkan dampak. Seiring waktu, mereka menyadari bahwa mengumbar hidup di mata publik dapat dengan mudah menghantui mereka. Generasi Z telah belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut dan memilih platform yang lebih bersifat privasi dan tidak permanen.
• Generasi Z dikenal lebih mandiri daripada generasi sebelumnya. Mereka tidak menunggu orang tua untuk mengajari hal-hal atau memberi tahu mereka bagaimana membuat keputusan. Apabila diterjemahkan ke tempat kerja, generasi ini berkembang untuk memilih bekerja dan belajar sendiri.
• Cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan sekitar. Tanpa diragukan lagi, generasi Z akan menjadi generasi yang paling beragam yang memasuki lapangan kerja dalam sejarah Amerika Serikat. Mereka terdiri dari berbagai bagian dari kelompok ras atau etnis minoritas. Mereka juga dibesarkan untuk lebih menerima dan menghormati lingkungan dibanding generasi orang-orang sebelumnya.
• Terbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Misalnya membaca, berbicara, menonton, dan mendengarkan musik secara bersamaan. Hal ini karena mereka menginginkan segala sesuatu serba cepat, tidak bertele-tele dan berbelit-belit.
• Generasi Z menempatkan uang dan pekerjaan dalam daftar prioritas. Tentu saja, mereka ingin membuat perbedaan, tetapi hidup dan berkembang adalah lebih penting.
• Cenderung kurang dalam berkomunikasi secara verbal, cenderung egosentris dan individualis, cenderung ingin serba instan, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses.
• Generasi Z benar-benar generasi pertama dunia digital. Smartphone dan media sosial tidak dilihat sebagai perangkat dan platform, tetapi lebih pada cara hidup. Kedengarannya gila, tetapi beberapa penelitian mendukung klaim ini. Sebuah studi oleh Goldman Sachs menemukan bahwa hampir setengah dari Gen Z terhubung secara online selama 10 jam sehari atau lebih. Studi lain menemukan bahwa seperlima dari Gen Z mengalami gejala negatif ketika dijauhkan dari perangkat smartphone mereka.
• Cepat merasa puas diri bukanlah sebuah kata yang mencerminkan Generasi Z. Sebanyak 75% dari Gen Z bahkan tertarik untuk memegang beberapa posisi sekaligus dalam sebuah perusahaan, jika itu bisa mempercepat karier mereka.
Pengetahuan
[sunting | sunting sumber]Pendidikan
[sunting | sunting sumber]
Sejak pertengahan abad ke-20, angka partisipasi sekolah dasar telah meningkat secara signifikan di negara-negara berkembang. Pada tahun 2019, OECD menyelesaikan penelitian yang menunjukkan bahwa meskipun belanja pendidikan meningkat 15% dibandingkan dekade sebelumnya, kinerja akademik mengalami stagnasi. Hasil dari Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa siswa dengan nilai tertinggi dalam matematika berasal dari negara-negara Asia dan Rusia.
Sejak awal tahun 2000-an, jumlah pelajar dari negara-negara berkembang yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri telah meningkat secara signifikan. Ini adalah masa keemasan pertumbuhan bagi banyak universitas di yang menerima mahasiswa internasional. Pada akhir tahun 2010-an, sekitar 5 juta pelajar bepergian ke luar negeri setiap tahunnya untuk mendapatkan pendidikan tinggi, dengan negara maju menjadi tujuan terpopuler dan Tiongkok sebagai sumber negara pelajar internasional terbesar.
Hasil survei kualitas pendidikan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan, kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa muda Indonesia meningkat dari 2018. Skor literasi Indonesia versi PISA 2022 naik 5 posisi dari 2018. Skor literasi membaca internasional turun 18 poin, sedangkan Indonesia hanya turun 12 poin.
Sementara itu, literasi sains Indonesia naik 6 posisi dari survei 2018. Secara internasional, literasi sains internasional turun 13 poin, sedangkan Indonesia turun 12 poin.[65]
Minat baca
[sunting | sunting sumber]
Kemampuan membaca dan minat baca pada kalangan remaja Indonesia sangat memprihatinkan. Menurut data statistic dari United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2016, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi terendah.[66] Terutama di kalangan remaja. Banyak remaja yang belum sadar tentang pentingnya membaca. Mereka menganggap membaca adalah kegiatan yang membosankan. Ada banyak faktor yang menyebabkan minat baca remaja di Indonesia menjadi sangat rendah. Misalnya, kebiasaan membaca tidak di tanamkan sejak dini, fasilitas Pendidikan yang belum merata dan minimnya sarana pendidikan, dan kurangnya produksi buku di Indonesia. Selain faktor tersebut masih ada hal lain yang memengaruhi hal ini, salah satunya yaitu remaja Indonesia lebih suka bermain game. Mereka menganggap bermain game adalah kegiatan yang menyenangkan dan tidak membosankan. Hampir semua remaja di Indonesia memiliki akun sosial media, bahkan di antara mereka memiliki lebih dari dua akun sosial media. Remaja Indonesia menghabiskan waktu luangnya dengan bermain sosial media sepanjang hari, dibandingkan membaca buku atau membaca sebuah artikel online.[67][68]
Minat budaya
[sunting | sunting sumber]
Banyak anak muda Indonesia sudah melupakan budaya Indonesia dan lebih menyukai budaya luar negeri, faktor kemajuan teknologi informasi adalah salah satu faktor pemicu yang membuat anak muda akan melupakan budaya mereka sendiri.
Bukan hanya itu, bahkan banyak anak muda yang menilai budaya Indonesia adalah budaya yang kuno dan tidak mengikuti zaman, padahal budaya Indonesia memiliki banyak sekali ragam.
Anak muda Indonesia saat ini lebih banyak menyukai budaya luar negeri salah satunya budaya asal Korea Selatan, banyak anak muda Indonesia menyukai bahkan mendewakan tokoh-tokoh asal Korea Selatan tersebut.
Tak jarang ada yang sampai membenci orang yang memberikan kritik kepada idol mereka. Perilaku fanatik ini membuktikan bahwa anak muda Indonesia tidak memperhatikan lagi budaya dalam negeri. Bukan hanya budaya Korea, tetapi budaya barat juga menyusupi banyak anak muda, penerapan budaya barat di terapkan pada lifestyle anak muda zaman sekarang.
Hal ini dikarenakan banyaknya pengaruh budaya yang anak muda dapatkan di internet, lembaga budaya di Indonesia harus menciptakan program-program yang mengembalikan minat anak muda akan budaya Indonesia, salah satu yang bisa dilakukan adalah mengembangkan budaya Indonesia sesuai kemajuan zaman.[69]
Masalah kesehatan
[sunting | sunting sumber]Kesehatan mental
[sunting | sunting sumber]
Secara umum, remaja dan dewasa muda sangat rentan mengalami depresi dan kecemasan akibat perubahan otak pada masa remaja. Meskipun pandemi COVID-19 telah memperburuk masalah kesehatan mental bagi orang-orang dari segala usia, peningkatan ini paling terlihat pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun.
Data dari Jawatan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) menunjukkan bahwa antara tahun 1999 dan 2017, jumlah anak di bawah usia 16 tahun yang mengalami setidaknya satu gangguan mental meningkat dari 11,4% menjadi 13,6%.
Peneliti mewawancarai remaja yang lebih tua (berusia 17-19 tahun) untuk pertama kalinya pada tahun 2017 dan menemukan bahwa anak perempuan dua pertiga lebih mungkin mengalami gangguan mental dibandingkan anak perempuan yang lebih muda dan dua kali lebih mungkin dibandingkan anak laki-laki dari kelompok usia yang sama.[70]
Laporan UNICEF tahun 2021 menyatakan bahwa 13% dari anak usia 10 hingga 19 tahun di seluruh dunia didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental, sementara bunuh diri adalah penyebab kematian paling umum keempat di antara anak usia 15 hingga 19 tahun. Laporan tersebut berkomentar bahwa “gangguan terhadap rutinitas, pendidikan, rekreasi, serta kekhawatiran terhadap pendapatan keluarga, kesehatan dan peningkatan stres dan kecemasan, yang disebabkan pasca pandemi COVID-19 membuat banyak anak dan remaja merasa takut, marah dan khawatir.
Survei melakukan pengumpulan data pada 2021 dengan enumerator yang dilatih untuk melakukan wawancara terhadap remaja dan pengasuhnya.
Total ada 5.664 pasang remaja dan pengasuhnya yang mengikuti I-NAMHS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka-angka ini setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja.
Adapun remaja didiagnosis menderita gangguan mental sesuai dengan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM-5), yang merupakan pedoman penegakan diagnosis gangguan mental di Indonesia dan internasional.
Gangguan mental yang paling banyak diderita remaja Indonesia adalah: Gangguan kecemasan Sosial (gabungan antara fobia sosial dan gangguan kecemasan umum) sebesar 3,7%, lalu depresi mayor sebesar (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), dan PTSD atau Gangguan stres pasca trauma (0,5%).[71]
Kurang tidur
[sunting | sunting sumber]Kurang tidur meningkat di kalangan remaja masa kini, karena pola tidur yang buruk seperti: terganggu oleh cahaya perangkat elektronik, tidur sampai larut malam atau Begadang, hingga asupan kafein yang tinggi, insomnia, dan beban pekerjaan.
Konsekuensi dari kurang tidur meliputi suasana hati yang buruk, regulasi emosi yang buruk, kecemasan, depresi, peningkatan kemungkinan menyakiti diri sendiri, keinginan untuk bunuh diri, dan gangguan fungsi kognitif.
Selain itu, remaja dan dewasa muda yang lebih suka begadang cenderung memiliki tingkat kecemasan, perilaku impulsif, konsumsi alkohol, dan kebiasaan merokok yang tinggi.[72]
Di Indonesia, rata-rata anak muda hanya memiliki waktu tidur kurang dari 5 jam, jauh lebih sedikit dari rekomendasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk dewasa muda usia 18–25 tahun yaitu: 7–9 jam per hari.[73]
Masalah fisik
[sunting | sunting sumber]
Sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa frekuensi rabun jauh meningkat di kalangan kaum muda, dalam 50 tahun terakhir. Dokter mata Steve Schallhorn, Dewan Penasihat Medis Internasional Optical Express, mencatat bahwa penelitian telah menunjukkan hubungan antara penggunaan perangkat ponsel secara berlebihan dan menyebabkan kelelahan mata.[74]
Menurut seorang juru bicara, kelelahan mata digital, atau sindrom penglihatan komputer , "merajalela, terutama saat kita beralih ke perangkat yang lebih kecil dan semakin pentingnya perangkat dalam kehidupan kita sehari-hari." Gejalanya meliputi mata kering dan iritasi, kelelahan, ketegangan mata, penglihatan kabur, kesulitan fokus, sakit kepala. Namun, sindrom ini tidak menyebabkan kehilangan penglihatan atau kerusakan permanen lainnya.
Konsumsi makanan tidak sehat
[sunting | sunting sumber]Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyampaikan bahwa masih tingginya makanan tidak sehat di kalangan anak muda dan remaja Indonesia. Pertama, dari kebiasaan makan, dan gangguan kesehatan terkait gizi.
Saat ini, setiap hari, anak muda dan remaja Indonesia gemar mengonsumsi makanan berisiko. Sebanyak 50 persen anak kerap mengonsumsi makanan yang manis. Kemudian, 32 persen anak-anak dan remaja kerap mengonsumsi makanan asin.[75]
Selain itu anak muda dan remaja Indonesia, lebih gemar meminum minuman manis, dibandingkan dengan air putih. Remaja dan dewasa muda Indonesia juga kerap mengkonsumsi makanan olahan, seperti mie instan, seblak dan ayam goreng dengan terlalu sering, makanan tersebut memiliki kadar garam yang sangat tinggi.[76] Kadar garam yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah dan peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung, stroke, dan meningkatkan gagal ginjal.[77]
Generasi Z di Indonesia
[sunting | sunting sumber]Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 sekitar 74,93 juta orang, atau 27,94% yakni lebih dari seperempat populasi Indonesia adalah Generasi Z, yaitu anak-anak Indonesia yang lahir dari tahun 1997-2012.[78]
Rentang tahun inilah yang digunakan di Indonesia untuk menyebutkan anak-anak Gen Z.[79] Dengan demikian, sangat memungkinkan akan adanya perbedaan di setiap wilayah atau negara atas pengklasifikasian rentang tahun pada masing-masing generasi, salah satu yang menjadi pertimbangan dalam hal ini adalah perkembangan teknologi di setiap negara atau wilayah yang tidak sama, yang akan berpengaruh terhadap pola hidup, mindset, pengalaman, psikologi, dan lain sebagainya pada setiap generasi.
Dalam hal ketersediaan Internet disejumlah benua, negara ataupun daerah. Hal inilah salah satu yang menjadi titik acuan paling penting dalam pengklasifikasian setiap generasi, khususnya di Indonesia, layanan Internet untuk masyarakat umum berawal pada tahun 1996, kemudian terbentuknya Badan Pengelola Internet Indonesia pada tahun 1997,[80] maka pada tahun inilah internet mengalami perkembangan yang signifikan. Untuk itu inilah yang menjadi salah satu sebab cocoknya awal tahun untuk generasi Z indonesia, apalagi pada tahun 1998 zaman reformasi dalam hal politik pun berubah total. Jadi, setiap wilayah dalam pembagian penyebutan atau penamaan setiap generasi tidak mungkin sama.
Generasi Z sudah beranjak dewasa, mencari dan memiliki pekerjaan, melihat peralihan rezim orde baru ke rezim reformasi, dan memiliki kemampuan untuk memengaruhi bidang-bidang dalam kehidupan sehari-hari seperti ekonomi, politk, sosial, budaya, agama dan lainnya.[81]
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nielsen Consumer & Media View pada Q2 2016 pada Generasi Z di 11 kota Indonesia terhadap 3 media utama yang digunakan Generasi Z yaitu TV, Internet, dan Radio, didapatkan hasil survey sebagai berikut:[82]
Mayoritas Generasi Z menonton TV akhir pekan
[sunting | sunting sumber]Data Nielsen TV Audience Measurement pada periode April - Juni 2016 menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja lebih banyak menonton televisi pada waktu pagi di akhir pekan. Dalam lima tahun terakhir, Program Serial masih merupakan genre yang paling banyak ditonton oleh Generasi Z, tetapi peningkatan penonton terjadi untuk genre Program Anak dan Hiburan. Tahun ini anak-anak menyukai Film Televisi (disingkat: FTV), terlihat dari tingginya rating yang diperoleh beberapa judul FTV dalam periode April - Juni 2016 pada penonton usia 10 - 14 tahun ini seperti Pangeran di Kandang Bebek yang mendapatkan rating 6,6 dan Mengejar Cinta Dosen Cantik dengan rating 5,8. Penonton remaja lebih memilih tayangan yang beragam tak hanya FTV, tetapi juga program Olahraga dan Hiburan.[82]
Generasi Z selalu terhubung dengan internet
[sunting | sunting sumber]Sebagai generasi yang terlahir pada era digital, akses internet telah menjadi kebutuhan bagi Generasi Z. Bila lima tahun lalu Warung Internet (Warnet) merupakan tempat utama bagi anak-anak (81%) dan remaja (56%) untuk mengakses internet, pada tahun ini Warnet tergantikan oleh rumah, di mana 49% anak-anak dan 62% remaja mengakses internet dari rumah mereka. Angka tersebut meningkat dari 7% pada anak-anak dan 9% pada remaja. 93% anak-anak dan 97% remaja menyatakan mereka mengakses internet melalui perangkat mobile mereka seperti smartphone atau iPad. Aktivitas yang paling banyak dilakukan oleh Generasi Z dengan internet ini adalah berinteraksi melalui media sosial, menjelajah internet, bermain game dan mendengarkan musik.[82]
Radio masih memiliki tempat di hati Generasi Z
[sunting | sunting sumber]Meskipun Televisi dan Internet menjadi media favorit bagi Generasi Z, tetapi tidak sedikit dari anak-anak dan remaja yang masih mendengarkan radio. Temuan Nielsen Radio Measurement kuartal kedua tahun ini menunjukkan bahwa tingkat penetrasi Radio pada konsumen Generasi Z adalah 20% keatas, dengan tertinggi di kota Palembang dengan 98%. Dari sisi waktu mendengarkan radio, anak-anak di Surakarta menghabiskan waktu terbanyak dengan rata-rata 159 menit per hari; dan untuk remaja terbanyak di Denpasar dengan rata-rata waktu 155 menit per hari. Mereka lebih banyak mendengarkan radio melalui perangkat mobile – Remaja 39% dan Anak-anak 20% - dan lagu Pop Indonesia merupakan genre lagu yang paling disukai oleh remaja (57%) dan Anak-anak (46%).[82]
Selain itu, Generasi Z juga adalah pengunjung bioskop yang setia. Di 11 kota yang disurvei Nielsen, rata-rata anak-anak pergi ke bioskop 9 kali dalam satu tahun, dan remaja 11 kali dalam satu tahun. Dengan kata lain, hampir setiap bulan mereka pergi menonton di bioskop. Olahraga merupakan kegiatan yang paling disukai anak-anak (48%) dan remaja (44%). Kegiatan berikutnya yang paling disukai adalah menonton TV, yaitu 38% pada anak-anak dan 32% pada remaja, dan mendengarkan musik dengan 17% pada anak-anak dan 25% pada remaja. 11% anak-anak menyatakan bahwa kegiatan yang mereka sukai setelah mendengarkan musik adalah membaca buku. Sementara itu, setelah mendengarkan musik, remaja lebih suka menjelajah internet (17%).[82]
Temuan diatas menunjukkan bahwa Genersi Z masih dapat dijangkau oleh media, termasuk media tradisional. Televisi, Internet dan Radio merupakan media utama yang mereka konsumsi. Selain penetrasi TV terrestrial masih yang tertinggi (diatas 95% pada anak-anak dan remaja), penetrasi TV berbayar juga mencapai 10%. Pola konsumsi internet juga memperlihatkan peningkatan dalam lima tahun terakhir, di mana pada kuartal kedua 2016 penetrasi internet pada anak-anak adalah 45% - meningkat 13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011 – dan pada remaja adalah 81% - meningkat 29% dibandingkan dengan kuartal kedua 2011. Rata-rata remaja menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk mengkonsumsi internet (2 jam 29 menit) dan radio (2 jam 20 menit), sementara anak-anak menghabiskan lebih sedikit waktu dengan 1 jam 37 menit untuk internet dan 1 jam 45 menit untuk radio.[82]
Menurut Hellen Katherina, Executive Director, Head of Watch Business, Nielsen Indonesia "Gen Z adalah masa depan, karena itu penting bagi para pelaku industri untuk memahami perilaku dan kebiasaan mereka. Lahir pada era digital, Gen Z memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, dan bahkan pada usia yang sangat muda mereka sudah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keputusan membeli dalam keluarga. Pemahaman mengenai perilaku dan kebiasaan mereka dalam mengkonsumsi media akan membuka peluang bagi para pemilik brand dan pemasar untuk dapat membangun hubungan jangka panjang dengan mereka."[82]
Generasi Z di Indonesia juga sering disebut sebagai Generasi Micin karena serba instan. Sebutan generasi micin ini sebenarnya adalah sebuah stereotype yang hadir dalam masyarakat untuk beberapa orang yang malas berpikir dan mudah berkeluh kesah saat diajak bekerja keras.
Penurunan Kemampuan Literasi Gen Z Akibat Artificial Intelligance
[sunting | sunting sumber]Kecerdasan buatan atau dikenal Artificial Intelligence (AI) merupakan suatu cabang ilmu computer yang mana fokus utamanya sebagai mesin yang dapat meniru sekaligus memahami perilaku, ketertarikan, hingga kebutuhan manusia (Fadilan et al., 2025).[83] Perkembangan AI sangat pesat terutama dalam dunia teknologi, tidak banyak disadari interaksi yang dilakukan oleh masyarakat dengan perangkat AI menjadi salah satu bagian dan rutinitas masyarakat pada era modern salah satunya dalam tatanan generasi Z (Lestari et al., 2024).[84]
Generasi Z sendiri merupakan generasi yang lahir antara tahun 1997 – 2012 yang mana menjadi generasi yang ikut bertumbuh dengan perkembangan teknologi dan media digital (Pujiastuti et al., 2025).[85] Perkembangan AI berpengaruh terhadap Gen Z yang tumbuh bersama dengan teknologi. AI tidak hanya sebagai alat dalam pengecekan suatu tata Bahasa, maupun paraphrase sebuah tulisan, tetapi juga sudah ikut merambah dalam aktivitas harian Gen Z, mulai dari penggunaan dalam mengerjakan tugas, menciptakan suatu hal, hingga menjelaskan tugas – tugas. Dengan demikian AI, ini menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan generasi ini, baik dalam proses pendidikan, pekerjaan, hingga dalam penggunaan literasi (Syifa Chairunnisa & Fadhilla Amaniar, 2025).[86]
Literasi sendiri merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun suatu kualitas terutama dalam sumber daya manusia yang unggul. Berdasarkan beberapa survey yang dilakukan tingkat literasi masyarakat Indonesia masih dalam kategori rendah bila dilakukan perbandingan dengan negara lain. Hal ini menjadi salah satu tantangan serius, terlebih ketika generasi Z dihadapkan pada arus perkembangan Teknologi yang sangat cepat dan pesat, salah satunya tren dalam penggunaan AI (Tamara Oktafiani Zega & Abdul Karim Batubara, 2024).[87]
Tren adanya penggunaan AI telah mencerminkan adanya perubahan yang besar terutama dalam cara generasi Z mengakses, merefleksikan informasi, dan memprosesnya, hal ini menumbuhkan ketergantungan berlebihan dalam penggunaannya, AI berpotensi akan menurunkan tingkat berpikir kritis terhadap generasi muda, tetapi selain itu AI juga menawarkan kemudahan dalam penggunaannya kepada Gen Z (Fadilan et al., 2025).[83]
Studi menunjukkan bahwa penggunaan AI berdampak negative terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreativitas, hal ini dapat memengaruhi kemampuan literasi pada generasi Z. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan antara AI dengan proses pembelajaran pada Gen Z, sebagaimana Panjaitan et al (2024) [88] menekankan bahwa penggunaan AI berkontribusi dalam peningkatan dan penyelesaian suatu tugas dalam proses literasi sehingga memudahkan dalam penyelesaian suatu tugas.
Kemampuan literasi
[sunting | sunting sumber]Sebelum mengenal lebih jauh tentang hubungan AI dan kemampuan literasi, sebenarnya apaitu kemampuan literasi? Literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca, menulis dan berhitung namun lebih dari itu. Menurut UNESCO literasi dipahami sebagai kemampuan mengidentifikasi, memahami, menginterpretasikan, menciptakan dan mengomunikasikan dalam dunia yang semakin digital, dimediasi teks, kekayaan informasi, dan perubahan dunia yang cepat. Jadi literasi tidak hanya soal membaca tetapi bagaimana anda memahami, mengidentifikasi, dan menginterpretasikan bacaan tersebut.[89]
Jumlah pengguna AI dalam kalangan Gen Z
[sunting | sunting sumber]AI atau artificial intelegence merupakan suatu teknologi baru yang berkembang pesat dalam pemanfaatannya. AI menghadirkan banyak kemudahan untuk menjawab persoalan sehari-hari. Baik dalam bidang industri, ekonomi, hingga pendidikan. Kemudahan tersebut membuat AI digunakan oleh seluruh kalangan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia) dari sekian banyak pengguna AI sebanyak 43,7% merupakan Generasi Z serta konten yang paling banyak diakses adalah konten edukasi dan pembelajaran yakni sebanyan 43,98%. Dari data tersebut bisa kita lihat bahwa hampir seluruh kalangan gen z memanfaatkan AI dalam kegiatan pembelajarannya.[90]
Dampak jangka panjang ketergantungan pada AI
[sunting | sunting sumber]Ketergantungan yang berlebihan pada AI dalam pembelajaran dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis dan analitis mahasiswa. Mahasiswa yang terlalu sering mengandalkan AI cenderung pasif dan kurang melakukan analisis mendalam, sehingga kemampuan logika dan evaluasi mereka melemah. Ketergantungan ini juga mengurangi semangat belajar mandiri dan membuat mahasiswa kurang bertanya atau mengevaluasi informasi secara kritis. Meski AI dapat meningkatkan efisiensi belajar, perlu penggunaan yang seimbang agar AI menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis dan mandiri.
Hubungan antara kemampuan literasi dan ketergantungan pada AI
[sunting | sunting sumber]Literasi digital yang baik membantu individu untuk lebih kritis dan selektif dalam menggunakan AI sehingga tidak menjadi pengguna pasif yang terlalu bergantung pada teknologi tersebut. Hubungan antara literasi digital dan ketergantungan AI bersifat signifikan; semakin tinggi literasi digital, kemampuan untuk menggunakan AI secara efektif dan bijak juga meningkat, sehingga dapat meminimalkan dampak negatif ketergantungan. Namun, tanpa literasi digital yang memadai, ketergantungan pada AI cenderung meningkat dan dapat menghambat kemampuan berpikir kritis dan evaluatif.
Gangguan psikologis yang ditimbulkan dari kecanduan AI
[sunting | sunting sumber]Dengan banyaknya variasi yang muncul dari teknologi AI, hal ini menjadikan AI lebih mudah untuk diakses, termasuk oleh mahasiswa psikologi. Sama seperti mahasiswa lainnya, mahasiswa psikologi dapat menggunakan AI sebagai sarana untuk menyelesaikan suatu tugas, membuat sarana pembelajaran, menganalisis suatu data dan sebagainya. Baik atau buruknya dampak dari penggunaan teknologi AI ditentukan oleh penggunanya sendiri seperti penggunaan teknologi AI yang berlebihan dapat menyebabkan munculnya beberapa gangguan seperti kecemasan dan depresi hingga ketergantungan teknologi (Gumelar, 2023). Namun, penggunaan teknologi AI yang baik juga dapat memberikan manfaat seperti meningkatkan produktivitas, menganalisis data dengan mudah, meminimalisir human error hingga meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental. Selain itu, banyaknya jenis AI yang dapat digunakan seperti salah satunya yaitu chatbot yang dapat digunakan untuk mencari informasi terkait kesehatan mental. Namun, kurangnya tingkat kredibilitas pada informasi yang diberikan oleh AI adalah salah satu hambatan yang dapat menimbulkan kecenderungan munculnya self diagnose, sehingga dapat mengakibatkan munculnya gangguan tertentu seperti kecemasan, ketakutan berlebih hingga stres (Maskanah, 2022; Winata & Anggraeni, 2023)[91]
Pengguna AI pada generasi Z dalam tiga tahun terakhir
[sunting | sunting sumber]Berdasarkan laporan Work Trend Index 2024, porsi pekerja di Indonesia yang sudah menggunakan AI melebihi rata-rata global 75% dan Asia Pasifik 83%. Sebanyak 92% pekerja kantoran di Indonesia sudah menggunakan kecerdasan buatan atau AI, termasuk Gen Z, Milenial hingga Baby Boomers yang ditandai dengan penggunaan dan adaptasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari (Septiani,2024)[91]
Kesimpulan
[sunting | sunting sumber]Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) telah membawa dampak signifikan dalam kehidupan Generasi Z, terutama dalam aspek literasi dan pendidikan. AI menjadi alat bantu yang memudahkan akses terhadap informasi dan penyelesaian tugas, tetapi di sisi lain juga menimbulkan tantangan serius, seperti penurunan kemampuan berpikir kritis, ketergantungan berlebihan, serta potensi gangguan psikologis seperti kecemasan dan stres. Data menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z di Indonesia telah memanfaatkan AI dalam kegiatan edukatif mereka, menunjukkan keterlibatan yang tinggi terhadap teknologi ini. Namun, tingkat literasi digital yang masih rendah dapat memperburuk dampak negatif dari penggunaan AI yang tidak bijak. Literasi digital yang baik seharusnya menjadi filter utama agar Gen Z tidak hanya menjadi konsumen pasif teknologi, tetapi mampu menggunakan AI secara kritis dan produktif.[92]
Temuan dalam kajian ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian Generasi Z, terutama dalam konteks pendidikan. Sebagian besar dari mereka memanfaatkan AI tidak hanya untuk keperluan akademik seperti menyelesaikan tugas atau mencari referensi, tetapi juga dalam proses berpikir, mencipta, bahkan berkomunikasi. AI turut membentuk pola pikir dan pola belajar generasi ini. Di sisi lain, ketergantungan yang tinggi terhadap AI terbukti berdampak pada menurunnya kemampuan berpikir analitis dan reflektif. Ketika AI dijadikan sebagai alat utama, bukan alat bantu, maka fungsi kognitif individu secara perlahan akan mengalami degradasi. Ketergantungan ini juga berisiko memunculkan dampak psikologis, terutama ketika AI digunakan tanpa pemahaman kritis. Misalnya, dalam konteks kesehatan mental, penggunaan chatbot atau platform AI lainnya untuk self-diagnose dapat menyebabkan kesalahan persepsi yang berdampak serius, seperti stres atau gangguan kecemasan.
Dengan demikian, AI merupakan teknologi yang memiliki dua sisi: memberikan kemudahan dan efisiensi, tetapi juga menyimpan risiko jika digunakan secara berlebihan atau tanpa pengawasan. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran, pengawasan, dan pendidikan yang memadai agar AI benar-benar menjadi sarana yang mendukung peningkatan literasi dan kualitas sumber daya manusia, bukan sebaliknya. AI seharusnya menjadi alat bantu yang mendukung proses belajar aktif, bukan menggantikannya sepenuhnya.
Saran
[sunting | sunting sumber]Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan, diperlukan langkah konkret untuk mengoptimalkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara bijak di kalangan Generasi Z. AI seharusnya menjadi alat bantu yang memperkuat proses belajar, bukan menggantikan peran berpikir kritis dan kreativitas. Oleh karena itu, berbagai pihak seperti institusi pendidikan, pemerintah, orang tua, dan pengembang teknologi perlu bekerja sama dalam membentuk ekosistem digital yang sehat dan edukatif. Penguatan literasi digital serta pembiasaan dalam menggunakan AI secara seimbang sangat diperlukan agar Generasi Z mampu berkembang sebagai individu yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga kritis, mandiri, dan bertanggung jawab.
Adapun beberapa saran yang dapat diterapkan antara lain:
1. Meningkatkan literasi digital melalui kurikulum pendidikan maupun pelatihan di luar sekolah agar siswa mampu memahami dan mengevaluasi penggunaan AI secara tepat.
2. Mengimbangi penggunaan AI dengan metode belajar aktif seperti diskusi, analisis kasus, dan kegiatan literasi yang melatih kemampuan berpikir kritis dan mandiri.
3. Melibatkan peran pendidik dan orang tua dalam membimbing dan mengawasi penggunaan AI, serta memberikan arahan agar teknologi digunakan sesuai kebutuhan dan konteks.
4. Merumuskan regulasi dan etika penggunaan AI dalam konteks pendidikan dan informasi publik guna menghindari penyalahgunaan serta menjaga integritas akademik.
5. Meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental dengan memberikan informasi yang benar mengenai batasan AI dalam hal psikologi, serta mendorong penggunaan layanan profesional dalam menangani isu mental.
Mari kita sebagai generasi modern untuk lebih bijak dalam menggunakan AI. Jangan sampai kemudahan ini justru membawa kemunduran terhadap kemampuan intelligency kita. Ingat kita yang mengendalikan AI bukan AI yang mengendalikan kita, karena kecerdasan terbesar tetap berada di dalam diri kita.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Words We're Watching: 'Zoomer'" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ "Is Zoomer The Real Name For Gen Z?". Dictionary.com (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal June 14, 2020. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ "Definition of ZOOMER". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal April 28, 2023.
- 1 2 "Who Are the Parents of Gen Z? | Signal Vine". Signal Vine (dalam bahasa American English). 2021-08-26. Diarsipkan dari asli tanggal August 26, 2021. Diakses tanggal 2025-09-17.
- 1 2 Kingl, Adam (November 17, 2022). "Gen Y vs. Gen Z: Understanding Similarities, Differences and Leadership Challenges". www.audacy.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 19, 2023. Diakses tanggal May 19, 2023.
- ↑ "Generation Z definition in American English | Collins English Dictionary". www.collinsdictionary.com (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal October 17, 2023. Diakses tanggal 2025-09-17.
- 1 2 "A generational portrait of Canada's aging population from the 2021 Census". www12-statcan-gc-ca.translate.goog (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-17.
- 1 2 3 Dimock, Michael (2019-01-17). "Defining generations: Where Millennials end and Generation Z begins". Pew Research Center (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-17.
- 1 2 Outlet berita besar yang menggunakan tahun 1997 sebagai tahun permulaan meliputi: The Wall Street Journal Public Broadcasting Service NBC News, mengutip Pew National Public Radio, mengutip Pew The New York Times The Washington Post CNBC Forbes Time Associated Press, mengutip Brookings Institution USA Today
- 1 2 Perusahaan manajemen dan konsultan yang mengutip tahun 1997 meliputi: Accenture Deloitte Touche Tohmatsu Ogilvy (agen)
- ↑ Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. "Generasi "Milenial" Dan Generasi "Kolonial"". www.djkn.kemenkeu.go.id. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ Turner, Anthony (2015). "Generation Z: Technology And Social Interest". Journal of Individual Psychology. 71 (2): 103–113. doi:10.1353/jip.2015.0021. S2CID 146564218.
- 1 2 Twenge, Jean (October 19, 2017). "Teens are sleeping less – but there's a surprisingly easy fix". The Conversation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 12, 2020. Diakses tanggal November 11, 2020.
- ↑ Strauss, Valerie (November 16, 2019). "Today's kids might be digital natives — but a new study shows they aren't close to being computer literate". Education. The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 17, 2019. Diakses tanggal November 21, 2019.
- ↑ Demopoulos, Alaina (2023-02-28). "'Scanners are complicated': why Gen Z faces workplace 'tech shame'". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ Adelantado-Renau, Mireia; Moliner-Urdiales, Diego; Cavero-Redondo, Iván; Beltran-Valls, Maria Reyes; Martínez-Vizcaíno, Vicente; Álvarez-Bueno, Celia (September 23, 2019). "Association Between Screen Media Use and Academic Performance Among Children and Adolescents: A Systematic Review and Meta-analysis". JAMA Pediatrics. 173 (11). American Medical Association: 1058–1067. doi:10.1001/jamapediatrics.2019.3176. hdl:10234/186798. PMC 6764013. PMID 31545344.
- 1 2 "Teenagers are better behaved and less hedonistic nowadays". International. The Economist. January 10, 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 19, 2020. Diakses tanggal September 29, 2020.
- ↑ Twenge, Jean (September 19, 2017). "Why today's teens aren't in any hurry to grow up". The Conversation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 15, 2020. Diakses tanggal November 13, 2020.
- ↑ Schepis, Ty (November 19, 2020). "College-age kids and teens are drinking less alcohol – marijuana is a different story". The Conversation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 21, 2020. Diakses tanggal November 21, 2020.
- ↑ Hymas, Charles (December 9, 2020). "Generation Z swap drink for drugs as class A use by 16-24-year-olds rises by half in seven years". The Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 10, 2020. Diakses tanggal December 19, 2020.
- 1 2 Chandler-Wilde, Helen (August 6, 2020). "The future of Gen Z's mental health: How to fix the 'unhappiest generation ever'". The Telegraph (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0307-1235. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 10, 2022. Diakses tanggal August 8, 2020.
- 1 2 "Generation Z is stressed, depressed and exam-obsessed". The Economist. February 27, 2019. ISSN 0013-0613. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 28, 2019. Diakses tanggal March 28, 2019.
- ↑ Protzko, John (May–June 2020). "Kids These Days! Increasing delay of gratification ability over the past 50 years in children". Intelligence. 80 (101451). doi:10.1016/j.intell.2020.101451. S2CID 218789047. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 3, 2023. Diakses tanggal September 26, 2020.
- ↑ Del Rey, Rosario; Ojeda, Mónica; Casas, José A.; Mora-Merchán, Joaquín A.; Elipe, Paz (August 21, 2019). Rey, Lourdes (ed.). "Sexting Among Adolescents: The Emotional Impact and Influence of the Need for Popularity". Educational Psychology. Frontiers in Psychology. 10 (1828): 1828. doi:10.3389/fpsyg.2019.01828. PMC 6712510. PMID 31496968.
- ↑ "Youth subcultures: what are they now?". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 2014-03-20. Diarsipkan dari asli tanggal November 22, 2020. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ Watts, Peter (April 10, 2017). "Is Youth Culture A Thing of the Past?". Apollo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 7, 2021. Diakses tanggal January 4, 2021.
- ↑ Weir, Kirsten (March 2016). "The risks of earlier puberty". Monitor. 47 (3). American Psychological Association: 40. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 17, 2022. Diakses tanggal December 20, 2020.
- ↑ Lamothe, Cindy (June 12, 2018). "The health risks of maturing early". BBC Future. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 25, 2021. Diakses tanggal January 9, 2021.
- ↑ Hanson, Mark; Gluckman, Peter (30 November 2005). "New research shows how evolution explains age of puberty". University of Southampton. Diakses tanggal 2023-07-04.
- ↑ Hochberg, Ze′ev; Konner, Melvin (2020). "Emerging Adulthood, a Pre-adult Life-History Stage". Frontiers in Endocrinology. 10 (918): 918. doi:10.3389/fendo.2019.00918. PMC 6970937. PMID 31993019.
- ↑ Eckert-Lind, Camilla; Busch, Alexander S.; Petersen, Jørgen H.; Biro, Frank M.; Butler, Gary; Bräuner, Elvira V.; Juul, Anders (2020). "Worldwide Secular Trends in Age at Pubertal Onset Assessed by Breast Development Among Girls: A Systematic Review and Meta-analysis". JAMA Pediatrics. 174 (4). American Medical Association: e195881. doi:10.1001/jamapediatrics.2019.5881. PMC 7042934. PMID 32040143.
- ↑ Graphic Detail (October 3, 2019). "The prevalence of peanut allergy has trebled in 15 years". Daily Chart. The Economist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 4, 2019. Diakses tanggal October 3, 2019.
- ↑ "Why everybody is suddenly allergic to everything". Health. National Post. July 30, 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 26, 2020. Diakses tanggal November 24, 2019.
- ↑ American Psychological Association (March 15, 2019). "Mental health issues increased significantly in young adults over last decade". Science Daily. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 20, 2020. Diakses tanggal December 31, 2020.
- ↑ Schraer, Rachel (February 11, 2019). "Is young people's mental health getting worse?". Health. BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 5, 2021. Diakses tanggal December 26, 2020.
- ↑ Kansagra, Sujay (May 2020). "Sleep Disorders in Adolescents". Pediatrics. 145 (Supplement 2). American Academy of Pediatrics: S204 – S209. doi:10.1542/peds.2019-2056I. PMID 32358212. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 29, 2022. Diakses tanggal January 1, 2021.
- ↑ University of Rochester (January 9, 2020). "Parents aren't powerless when it comes to sleep-deprived teenagers". Science Daily. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 17, 2021. Diakses tanggal January 1, 2021.
- ↑ Maulik, Pallab K.; Mascarenhas, Maya N.; Mathers, Colin D.; Dua, Tarun; Saxena, Shekhar (2011). "Prevalence of intellectual disability: A meta-analysis of population-based studies". Research in Developmental Disabilities. 32 (2): 419–436. doi:10.1016/j.ridd.2010.12.018. PMID 21236634. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 26, 2020. Diakses tanggal September 15, 2020.
- ↑ Buckley, Nicholas; Glasson, Emma J.; et al. (May 30, 2020). "Prevalence estimates of mental health problems in children and adolescents with intellectual disability: A systematic review and meta-analysis". Australian and New Zealand Journal of Psychiatry. 54 (10). The Royal Australian and New Zealand College of Psychiatrists: 970–984. doi:10.1177/0004867420924101. PMID 32475125. S2CID 219170827.
- 1 2 Thomas, Leigh (December 3, 2019). "Education levels stagnating despite higher spending: OECD survey". World News. Reuters. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 5, 2020. Diakses tanggal February 5, 2020.
- ↑ Ferguson, Donna (2020-02-29). "Children are reading less than ever before, research reveals". the Guardian (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal November 1, 2020. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ Sliwa, Jim (August 20, 2018). "Teens Today Spend More Time on Digital Media, Less Time Reading". American Psychological Association. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 1, 2020. Diakses tanggal November 8, 2020.
- ↑ "How Technology Affects the Attention Span of Children". Your Therapy Source. April 18, 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 17, 2021. Diakses tanggal March 31, 2021.
- ↑ "Too Much Screen Time?". Penn State University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 17, 2021. Diakses tanggal March 31, 2021.
- ↑ Massey University (September 20, 2010). "Vocabulary on decline due to fewer books". Social Sciences. Phys.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 26, 2021. Diakses tanggal November 7, 2020.
- ↑ Adams, Richard (April 19, 2018). "Teachers in UK report growing 'vocabulary deficiency'". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 12, 2020. Diakses tanggal November 11, 2020.
- ↑ Busby, Eleanor (April 19, 2018). "Children's grades at risk because they have narrow vocabulary, finds report". Education. The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 9, 2020. Diakses tanggal November 22, 2020.
- 1 2 3 "Perang, dari Generasi ke Generasi". rmol.co. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-10-15. Diakses tanggal 2017-10-15.
- ↑ "Littauer, F. Your Personality Tree: Lejitkan Potensi dengan Memahami Kepribadian Anda". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-30. Diakses tanggal 2017-10-15.
- ↑ Febriansyah, Hary (2021). Engangement Untuk Generasi Z. Jakarta: PRENADA. hlm. 10. ISBN 978-602-383-096-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 3 4 5 6 "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-18. Diakses tanggal 2017-10-15.
- ↑ Febriansyah, Hary (2021). Engagement Untuk Generasi Z. Jakarta: PRENADA. hlm. 14. ISBN 978-602-383-096-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ GoodStats. "Menyambut Kelahiran Gen Beta Mulai 2025". GoodStats. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ "Welcome Gen Beta - McCrindle". mccrindle.com.au (dalam bahasa American English). 2024-12-19. Diakses tanggal 2025-02-27.
- ↑ "Tips Menghadapi Generasi Z Ala Direktur PG Dikdas". Direktorat Guru Pendidikan Dasar.
- ↑ "H-88 Pilpres 2024, Menengok Lagi Definisi dan Karakteristik Gen Z". Tempo.
- ↑ Lembaga think tank dan perusahaan analitik yang menggunakan tahun 1997 sebagai tanggal mulainya meliputi: Gallup William H. Frey dari Brookings Institution
- ↑ Bureau, US Census. "2019 Data Show Baby Boomers Nearly 9 Times Wealthier Than Millennials". Census.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ "2021 Census shows Millennials overtaking Boomers". Australian Bureau of Statistics.
- ↑ Outlet berita yang menggunakan tahun 1995 sebagai tahun awal lahirnya meliputi: United Press International Financial Times Fortune, mengutip Deloitte CBS News
- ↑ Writter_01. "What generation do I belong to? What are the birth year cutoffs?". Dr. Jean Twenge (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-17. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ↑ "Perbedaan Antara Milenial dan Generasi Z di Dunia Kerja – Resources" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ Broadbent, Emma; Gougoulis, John; Lui, Nicole; Pota, Vikas; Simons, Jonathan (January 2017). "Generation Z: Global Citizenship Survey" (PDF). Varkey Foundation. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal August 20, 2019. Diakses tanggal November 15, 2019.
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-18. Diakses tanggal 2017-10-15.
- ↑ "Kualitas Pendidikan RI Meningkat, Kurikulum Merdeka Wajib Mulai 2024". Detik.com. Diakses tanggal 24 Mei 2024.
- ↑ Kompasiana.com (2023-06-15). "Rendahnya Literasi di Indonesia". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ Cheryshev, Denis (2023-04-15). "23win". 23win1.jpn.com/ (dalam bahasa eb). Diakses tanggal 2025-09-17. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Kompasiana.com (2022-12-07). "Kurangnya Minat Baca di Kalangan Remaja di Indonesia". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ "Berkurangnya Minat Generasi Muda terhadap Budaya Indonesia". kumparan. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ Kompas, Tim Harian (2023-05-03). "Krisis Kesehatan Mental Melonjak di Kalangan Remaja". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ "Survei: 17,9 Juta Remaja Indonesia Punya Masalah Mental, Ini Gangguan yang Diderita". Detik.com. Diakses tanggal 28 Mei 2024.
- ↑ "Pola Tidur Generasi Z dan Kesehatan". Kumparan. 3 September 2024. Diakses tanggal 3 September 2024.
- ↑ "Dampak Kebiasaan Begadang pada Remaja Menurut Ahli". Kompas.com. Diakses tanggal 28 Mei 2024.
- ↑ Stevens, Heidi (July 16, 2015). "Too much screen time could be damaging kids' eyesight". Chicago Tribune. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 19, 2019. Diakses tanggal September 8, 2019.
- ↑ "Duh! Anak Remaja Indonesia Gemar Makan Makanan Tidak Sehat". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 1 Juli 2024.
- ↑ Dyah Puspita Wisnuwardani (19 April 2024). "Remaja Hobi Makan Junk Food, Studi Ungkap Dampaknya pada Kesehatan Otak". Liputan 6. Diakses tanggal 12 Desember 2024.
- ↑ "Studi Baru Sebut Makanan Ultra-olahan Berdampak Negatif bagi Tubuh". Kompas.com. 6 Maret 2024. Diakses tanggal 12 Desember 2024.
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-27. Diakses tanggal 2021-06-22.
- ↑ "Jumlah Penduduk menurut Wilayah, Klasifikasi Generasi, dan Jenis Kelamin, di INDONESIA - Dataset - Sensus Penduduk 2020 - Badan Pusat Statistik". sensus.bps.go.id. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ "Sejarah Internet di Indonesia". Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ "Selamat Tinggal Generasi Milenial, Selamat Datang Generasi Z". tirto.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-18. Diakses tanggal 2017-10-14.
- 1 2 3 4 5 6 7 "GEN Z: KONSUMEN POTENSIAL MASA DEPAN". www.nielsen.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-10-15. Diakses tanggal 2017-10-15.
- 1 2 Fadilan, Muhammad Rifaldy; Purwanto, Eko; Azizurohman, Afandi; Hakim, Andhika Nur; Furqon, Muhammad Habib (2025-06-19). "Dampak Platform Media Sosial Berbasis AI terhadap Kualitas Interaksi Sosial Generasi Z". Interaction Communication Studies Journal (dalam bahasa Inggris). 2 (2): 15–15. doi:10.47134/interaction.v2i2.4276. ISSN 3048-1686.
- ↑ Lestari, E (2024). "Sosialisasi Dampak Perkembangan Teknologi dan Internet pada Generasi Z di Banjarmasin". Damhil: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat. 3 (2): 83–93. ISSN 2962-2875.
- ↑ Pujiastuti, Indah; Damaianti, Vismaia S.; Mulyati, Yeti; Sastromihardjo, Andoyo; Lestari, Dian (2025-06-14). "Ketergantungan penggunaan AI pada pendidikan tinggi: Ancaman terhadap keterampilan membaca teks akademik :". Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya (dalam bahasa Inggris). 8 (2): 473–484. doi:10.30872/diglosia.v8i2.1243. ISSN 2615-8655.
- ↑ Chairunnisa, Syifa; Amaniar, Fadhilla (2025-01-15). "AI dan Masa Depan : Tantangan Etika Generasi Z". Dewantara : Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora (dalam bahasa Inggris). 4 (1): 95–103. doi:10.30640/dewantara.v4i1.3807. ISSN 2962-1127.
- ↑ Zega, Tamara Oktafiani; Batubara, Abdul Karim (2024-06-03). "Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Digital Literasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Angkatan 2021 UIN Sumatera Utara, Medan". Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal (dalam bahasa Inggris). 6 (6): 3371–3390. doi:10.47467/reslaj.v6i6.2838. ISSN 2716-4691.
- ↑ Fortune, Charis Millenia (2025). "Adopsi AI dan Perbedaan Generasi: Studi Kasus Gen Z di Indonesia". Jurnal ARASTIRMA: 141–151.
- ↑ "What you need to know about literacy" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-09.
- ↑ stephanus.aranditio@kompas.id, Stephanus Aranditio- (2025-08-14). "Pengguna AI di Indonesia Meningkat, Gen Z Gunakan untuk Belajar". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-10-09.
- 1 2 Fadhilah, Rakhmad (2024). "Penggunaan AI Pada Mahasiswa Psikologi Dalam Meningkatkan Kesehatan Mental". Jurnal Empati. 13 (04): 280–290.
- ↑ Syahabudin, Romansyah (2025). "Dampak Penggunaan AI dalam Meningkatkan Efisiensi Belajar Mahasiswa: Studi Tentang Ketergantungan dan Kemampuan Kritis". jurnal rumpun managemen dan ekonomi. 2 (3): 421–430. doi:https://doi.org/10.61722/jrme.v2i3.4530. ;