Literasi digital

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum sesuai dengan kegunaannya dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.[1] Literasi digital juga dapat didefinisikan sebagai "kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, membuat, dan mengkomunikasikan informasi, yang membutuhkan keterampilan kognitif dan teknis".[2][3] Literasi digital juga merupakan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk engkomunikasikan konten/informasi dengan kecakapan kognitif dan teknikal.[4] Literasi digital lebih cenderung pada hal hal yang terkait dengan keterampilan teknis dan berfokus pada aspek kognitif dan sosial emosional dalam dunia dan lingkungan digital.[5] Literasi digital merupakan respons terhadap perkembangan teknologi dalam menggunakan media untuk mendukung masyarakat memiliki kemampuan membaca serta meningkatkan keinginan masyarakat untuk membaca.[6]

Definisi[sunting | sunting sumber]

Paul Gilster mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber dengan sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.[7] UNESCO sendiri menguraikan bahwa literasi digital adalah kecakapan yang tidak hanya melibatkan kemampuan penggunaan perangkat teknologi, informasi dan komunikasi, tetapi juga melibatkan kemampuan untuk dalam pembelajaran bersosialisasi, sikap berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetisi digital.[8]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Literasi media dimulai di Inggris dan Amerika Serikat masing-masing sebagai akibat dari propaganda perang pada tahun 1930-an dan munculnya iklan pada tahun 1960.[9] Pesan manipulasi dan proliferasi berbagai bentuk media telah menarik lebih banyak perhatian dari para pendidik. Mempromosikan pendidikan  media untuk mengajar individu bagaimana menilai dan mengevaluasi pesan media yang mereka terima. Kemampuan untuk mengkritik konten digital dan multimedia memungkinkan individu untuk mengidentifikasi bias dan menilai pesan secara mandiri.[10]

Literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya.[11] Agar seseorang dapat menilai pesan digital dan multimedia secara mandiri, mereka harus menunjukkan keterampilan literasi digital dan memanfaatkan aplikasi digital secara bijak.[12] Renee Hobbs telah menyusun daftar keterampilan yang menunjukkan keterampilan literasi digital dan media. Literasi digital dan media mencakup kemampuan untuk menelaah dan memahami makna pesan, menilai kredibilitas, dan menilai kualitas sebuah karya digital.[13] Literasi digital tidak hanya tentang membaca dan menulis di perangkat digital, tetapi juga melibatkan mengetahui produksi kekuatan media lain, seperti merekam dan mengunduh video.[14]

Elemen[sunting | sunting sumber]

  • Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital;
  • Kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten;
  • Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual;
  • Komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital;
  • Kepercayaan diri yang bertanggung jawab;
  • Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru;
  • Kritis dalam menyikapi konten; dan bertanggung jawab secara sosial.[2]

Prinsip[sunting | sunting sumber]

  1. Pemahaman untuk mengekstrak ide secara eksplisit dan implisit dari media;
  2. Saling ketergantungan antara media yang satu dengan media yang lain;
  3. Faktor sosial menentukan keberhasilan jangka panjang media yang membentuk ekosistem organik untuk mencari informasi, berbagi informasi, menyimpan informasi dan akhirnya membentuk ulang media itu sendiri;
  4. Kurasi atau kemampuan untuk menilai sebuah informasi, menyimpannya agar dapat di akses kembali.[2]

Kerangka[sunting | sunting sumber]

  1. Proteksi (safeguard), yaitu perlunya kesadaran atas keselamatan dan kenyamanan pengguna internet, yaitu perlindungan data pribadi, keamanan daring serta privasi individu dengan layanan teknologi enkripsi sebagai salah satu solusi yang disediakan;
  2. Hak-hak (right), yaitu hak kebebasan berekspresi yang dilindungi, hak atas kekayaan intelektual, dan hak berserikat dan berkumpul;
  3. Pemberdayaan (empowerment), yaitu pemberdayaan internet untuk menghasilkan karya produktif, jurnalisme warga, dan kewirausahaan serta hal -hal terkait etika informasi.[4]

Gerakan Literasi Digital Nasional[sunting | sunting sumber]

  • Menyasar literasi digital di sekolah dengan indikator;
  • Menyasar literasi digital di keluarga dengan indikator;
  • Menyasar literasi digital di bermasyarakat dengan indikator.[2]

Akademi Literasi Digital Internet Sehat[sunting | sunting sumber]

ICT Watch, sebuah organisasi masyarakat sipil yang fokus pada kolaborasi pembangunan kapasitas sumber daya manusia Indonesia atas pengetahuan dan kemampuan literasi digital, ekspresi online dan tata kelola siber, mengampu Akademi Literasi Digital Internet Sehat. Akademi ini berisi pelatihan online yang ringkas, gratis dan bersertifikat dengan kelas tematik, yaitu: Lindungi Privasimu, Bersama Lawan Hoaks, Fundamental Literasi Digital, UMKM Jualan Online, Tata Kelola Internet, Komunikasi Publik COVID-19 dan Guru Milenial. Kelas ini dapat diikuti sesuai keleluasaan waktu. Setelah menyelesaikan pelajaran / pelatihan hingga tuntas, peserta akan diberikan akses khusus untuk mengikuti ujian online dan mendapatkan sertifikat digital tanpa tidak dikenakan biaya apapun. ICT Watch menjadi penjamin kualitas atas manajemen proses kelas online ini. Adapun nama Internet Sehat merupakan lisensi nama atau merek dan lisensi konten atau isi yang hak penggunaannya dipegang oleh ICT Watch dan telah terdaftar pada Dirjen HAKI Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) sejak tahun 2010.

ICT Watch adalah penggagas Internet Sehat (cyber wellness) pada tahun 2002, kampanye advokasi literasi digital yang masih secara konsisten melayani masyarakat Indonesia hingga saat ini. Pada Agustus 2014 di Jakarta, ICT Watch menerima pengakuan nasional, Penghargaan Tasrif dari Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI). Pada Mei 2016 ICT Watch memperoleh prestasi internasional, penghargaan World Summit on the Information Society (WSIS) Champion (runner-up), dari PBB untuk kategori di bawah “Ethical Kategori Dimensi Masyarakat Informasi”. PBB menilai program Internet Sehat merupakan model strategi penyampaian etika online dan advokasi literasi digital kepada masyarakat. Pada Juni 2017, untuk penghargaan dan kategori yang sama, ICT Watch terpilih sebagai pemenang pertama (winner) WSIS 2017. Pada Februari 2021, ICT Watch bersama dengan Wikipedia dan sejumlah mitra menyelenggarakan kompetisi Tantangan WikiSehat: COVID-19 dan vaksinasi COVID-19, sebuah tantangan menulis bertema COVID-19 beserta vaksinnya di Wikipedia Bahasa Indonesia.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Putri, Vanya Karunia Mulia (15 Juni 2021). "Literasi Digital: Pengertian, Prinsip, Manfaat, Tantangan, dan Contoh". Kompas. Diakses tanggal 6 Desember 2021. 
  2. ^ a b c d Literasi Digital (Gerakan Literasi Nasional). Jakarta: Sekretariat TIM GLN Kemdikbud. 2017. hlm. 8. 
  3. ^ "Digital Literacy". Welcome to ALA's Literacy Clearinghouse. 2017-01-19. Diakses 2021-12-03.
  4. ^ a b Kerangka Literasi Digital. Jakarta: Kominfo Publisher. 2018. hlm. 4 - 5. ISBN 9786025132421. 
  5. ^ Lankshear, Colin.; Knobel, Michele. (2008). Digital literacies: concepts, policies and practices. NewYork: Peter Lang. ISBN 9781433101694. OCLC 213133349. 
  6. ^ Septianingrum, Alvidha, dkk (2018). Pengantar Tata Kelola Internet Seri Literasi Digital. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia: Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia,.  line feed character di |title= pada posisi 31 (bantuan)
  7. ^ Gerakan Literasi Nasional (tanpa tanggal). "Buku Literasi Digital". Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 6 Desember 2021. 
  8. ^ Qothrunnada, Kholida (23 November 2021). "Apa itu Literasi Digital? Ini Penjelasan Serta Manfaatnya". Detik. Diakses tanggal 6 Desember 2021. 
  9. ^ Scheidt, Lois (2015). "A review of 'It's Complicated: The Social Lives of Networked Teens' by Boyd, Danah (2014)". New Media & Society. 17 (2): 314–316. doi:10.1177/1461444814554342c. 
  10. ^ Liu, Zhi-Jiang; Tretyakova, Natalia; Fedorov, Vladimir; Kharakhordina, Marina (2020-07-31). "Digital Literacy and Digital Didactics as the Basis for New Learning Models Development". International Journal of Emerging Technologies in Learning. hlm. 4–18. ISSN 1863-0383.
  11. ^ Amanda, Septiany (18 Maret 2021). "Apa itu Literasi Digital, Prinsip Dasar, Manfaat, dan Contohnya". Tirto. Diakses tanggal 6 Desember 2021. 
  12. ^ Sugiharto, Gandang Dwi Haryo (1 Oktober 2021). "Mercermati Urgensi Literasi Digital pada Era Digitalisasi". Republika. Diakses tanggal 6 Desember 2021. 
  13. ^ Martens, Hans; Hobbs, Renee (30 April 2015). "How Media Literacy Supports Civic Engagement in a Digital Age". Atlantic Journal of Communication. hlm. 10–11. doi:10.1080/15456870.2014.961636. S2CID 52208620.
  14. ^ Heitin, Liana (2016-11-09). "What Is Digital Literacy? - Education Week". Education Week. Diakses 2021-12-03.