Barus, Tapanuli Tengah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Barus
Gapura Selamat Datang Di Kota Barus Kota Bertuah
Gapura Selamat Datang Di Kota Barus Kota Bertuah
(Peta Lokasi) Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah.svg
Peta lokasi Kecamatan Barus
Negara Indonesia
ProvinsiSumatra Utara
KabupatenTapanuli Tengah
Pemerintahan
 • CamatKhairunnisa Marbun, S.STP[1]
Populasi
 • Total18,919 jiwa
 • Kepadatan801/km2 (2,070/sq mi)
Kode pos
22564
Kode Kemendagri12.01.01 Edit the value on Wikidata
Luas21,81 km²
Desa/kelurahan11 desa
2 kelurahan
Pasar Terendam Barus

Barus adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Indonesia. Ibu kota kecamatan ini berada di kelurahan Padang Masiang. Barus sebagai kota Emporium dan pusat peradaban pada abad 1 – 17 Masehi. Nama lain Barus saat itu yaitu Fansur. Kecamatan Barus berada di Pantai Barat Sumatra dengan ketinggian antara 0 – 3 meter di atas permukaan laut. Kecamatan Barus terletak pada Koordinat 02° 02’05” - 02° 09’29” Lintang Utara, 98° 17’18” - 98° 23’28” Bujur Timur. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Andam Dewi, sebelah Selatan dengan Kecamatan Sosorgadong, sebelah Timur dengan Kecamatan Barus Utara, sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia. Luas wilayah kecamatan ini 21,81 km², dan memiliki penduduk pada tahun 2021 berjumlah 18.919 jiwa.[3]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Penduduk kabupaten Tapanuli Tengah berasal dari beragam suku, dan kabupaten ini termasuk yang paling beragam, dibanding kabupaten lainnya di kawasan Tapanuli, Sumatra Utara. Suku Batak dan Pesisir, merupakan suku mayoritas di Tapanuli Tengah.[4] Adanya percampuran budaya sejak lama antara Batak Toba, Angkola, Mandailing, Melayu, dan Minangkabau, sehingga membentuk budaya orang Pesisir di Tapanuli Tengah. Meski demikian, polemik penyebutan suku terjadi, dimana sebagian lebih menerima disebut sebagai orang Melayu, dan sebagian juga menerima disebut bagian dari Batak.[4] Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, bahasa Batak (umumnya Toba dan Angkola atau Mandailing), Melayu dan Minangkabau.

Nilai-nilai kebudayaan Pesisir telah melekat di dalam kehidupan masyarakat, hal ini dilihat dari ragam budaya dan bahasa yang digunakan masyarakat sehari-hari. Penduduk yang tinggal di daerah Pesisir umumnya mempunyai marga sesuai dengan suku induknya, sebagian besar bermarga Batak Toba seperti : Pasaribu, Sinaga, Sinambela, Tarihoran, Sitanggang, Sihombing, Tanjung, Pohan, Samosir, Limbong dan lain-lain. Ada juga Batak Mandailing yang bermarga Nasution, Lubis, Batubara, Matondang dan bersuku Minang di antaranya marga Chaniago. Dari etnis Nias ada marga Harefa, Lase. Begitu juga dari marga Pakpak yakni Gaja, Tumanggor dan lain-lain.

Agama[sunting | sunting sumber]

Menurut sejarah, Barus merupakan wilayah awal masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia. Masyarakat di Barus umumnya menganut tiga agama yakni Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Penduduk Barus yang mayoritas berada di daerah Pesisir sebagian besar menganut agama Islam. Bentuk keyakinan lainnya adalah kepercayaan Parmalim yang merupakan agama nenek moyang suku Batak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kabupaten Tapanuli Tengah 2021 mencatat keberagaman penduduk berdasarkan agama yang dianut. Penduduk di kecamatan ini yang memeluk agama Islam berjumlah 73,03%, yang umumnya dipeluk penduduk Pesisir, Jawa, Minangkabau dan sebagian suku Batak. Kemudian pemeluk agama Kekristenan berjumlah 26,02%, dimana Protestan 15,84% dan Katolik 10,18%, yang umumnya dipeluk penduduk dari suku Batak dan Nias. Sebagian kecil lagi memeluk kepercayaan Parmalim 0,95% dan Hindu kurang dari 0,01%[2] Sementara untuk sarana rumah ibadah, terdapat 18 masjid, 18 musala, 9 gereja Protestan dan 5 gereja Katolik.[2]

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Jembatan gantung di atas Aek Raisan pada tahun 1905

Julukan "Kota Tua" seolah telah melekat pada daerah Barus, hal ini karena Barus memiliki sejarah panjang di Indonesia, sebagaimana diketahui bahwa dulunya Barus merupakan pelabuhan internasional yang disinggahi oleh berbagai pedagang yang berlabuh dari berbagai negeri di belahan dunia dengan berbagai etnis dan suku untuk mendapatkan kapur barus dan rempah-rempah. Untuk menunjang kehidupan yang layak maka perekonomian sangat menentukan tingkat kemakmuran suatu daerah. Profesi masyarakatnya ada yang menjadi nelayan, pegawai, petani dan berdagang. Mata pencarian ini dapat dibagi menjadi berbagai sektor di antaranya sektor perikanan atau kelautan, sektor perindustrian, sektor Jasa dan perdagangan.

Sarana dan pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2011 terdapat sebanyak 247 orang guru SD, mengajar sebanyak 2.728 orang murid pada 22 sekolah. Sementara pada tingkat SLTP terdapat 142 orang guru, mengajar 1.533 orang murid pada 7 sekolah. Selanjutnya pada tingkat SLTA terdapat 84 guru mengajar 1.202 orang murid pada 3 sekolah. Sementara untuk tingkat perguruan tinggi terdapat 42 tenaga pengajar, yang mengajar 792 mahasiswa pada 2 Perguruan Tinggi Swasta di Kecamatan ini. Selain Sekolah negeri di Kecamatan ini juga terdapat sekolah swasta. Dari 22 SD/Sederajat terdapat 14 sekolah negeri dan 8 sekolah swasta. Dari 7 SMP/Sederajat terdapat 2 sekolah negeri dan 5 sekolah swasta sedangkan untuk tingkat SMA/ sederajat hanya ada 2 sekolah negeri dan 1 sekolah swasta.

Untuk tigkat pendidikan tinggi, Barus telah memiliki dua perguruan tinggi yakni Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hamzah Alfansuri Sibolga Barus (STIT HASIBA), dan Sekolah Tinggi Kependidikan Ilmu Ilmu Pendidikan (STKIP).

Potensi wisata[sunting | sunting sumber]

Makam Syeikh Mahmud Barus di Papan Tinggi.
Pantai di Kota Barus

Daerah Barus sekitarnya ditinjau dari segala aspek mempunyai potensi yang sangat besar terutama potensi pariwisatanya. Sektor pariwisata bahari dan keindahan alam lainnya. Hal ini didukung dengan kondisi alam dan masyarakat Barus yang ramah tamah serta banyak objek wisata yang tersebar diwilayahnya. Objek wisata pantai adalah primadona tersendiri yang dimiliki Barus. Disamping itu Kecamatan Barus juga memiliki objek wisata sejarah berupa Benteng Portugis dan makam-makam kuno yang merupakan makam para penyebar agama Islam tempo dulu. Makam yang terkenal adalah Makam Mahligai dan Papan Tinggi.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Simanullang, Zuardi (5 Oktober 2021). "Bupati Bakhtiar Ahmad Sibarani Lantik Ajudannya Jadi Camat Barus". rri.co.id. Diakses tanggal 30 Desember 2021. 
  2. ^ a b c "Kecamatan Barus Dalam Angka 2021" (pdf). www.tapanulitengahkab.bps.go.id. hlm. 25, 67–68. Diakses tanggal 30 Desember 2021. 
  3. ^ "Kabupaten Tapanuli Tengah Dalam Angka 2020" (pdf). www.tapanulitengahkab.bps.go.id. Diakses tanggal 4 Desember 2020. 
  4. ^ a b "Mengetahui Apa Itu Suku Batak Pesisir Pasisi". Diakses tanggal 30 Desember 2021. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]