Lompat ke isi

Aremania

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Aremania
Sejak1994
JenisKelompok suporter
Klub kebanggaanArema Indonesia & Arema FC
Slogan
  • Salam Satu Jiwa, AREMA!
  • Tidak Kemana-Mana Tapi Ada Dimana-Mana!
MarkasMalang, Jawa Timur
Stadion
TribunSemua Tribun
Tokoh penting
  • Yuli Sumpil
  • Sukarno (Cak No)
  • El Kepet
  • Ovan Tobing
Sub Kelompok
  • Curva Nord Arema (CNA)
  • Curva Sud Arema (CSA)
Warna KebesaranBiru
Afiliasi

Aremania adalah sebutan untuk kelompok suporter fanatik klub sepak bola Arema yang terkenal dengan loyalitas tinggi, atribut biru dan prinsip "Egaliter, Mandiri, dan Loyal" menjadi kebanggaan warga Malang Raya dan sekitarnya yang aktif mendukung timnya di berbagai penjuru Indonesia, Aremania tidak termasuk dalam struktur organisasi klub Arema Malang melainkan berdiri sendiri sebagai simpatisan pendukung klub Arema Malang. Oleh karena itu Aremania selalu mandiri dalam segala urusan dan pembiayaannya.[1] Tidak pasti kapan Aremania dibentuk, tetapi nama Aremania pertama kali muncul pada 4 September 1994 melalui jaket yang dikenakan salah satu pendiri Arema, Ovan Tobing.[2]

Aremania bukan hanya tentang 90 menit di lapangan, tapi tentang kebanggaan terhadap identitas Malang. Mereka membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi alat pemersatu warga sebuah daerah secara emosional.

Sejarah dan Filosofi "Satu Jiwa"

Aremania lahir seiring berdirinya klub Arema pada 11 Agustus 1987. Berbeda dengan kelompok suporter lain yang biasanya memiliki struktur organisasi formal yang kaku (seperti memiliki Ketua Umum), Aremania dikenal dengan konsep egaliter. Aremania tidak memiliki "Panglima" atau "Ketua Umum". Mereka bergerak secara organik melalui koordinator wilayah (Korwil). Aremania identik dengan simbol yang "Dianggap" Ikonik ada beberapa visual yang sangat melekat dengan Aremania:

  • Singa: Sering terlihat di spanduk atau bendera.
  • Angka 87: Merujuk pada tahun kelahiran 1987, sering didesain secara artistik.
  • Tulisan "AREMANIA" dengan Font Tertentu: Biasanya menggunakan gaya huruf melengkung yang tegas dan tebal (bold).

Slogan "Salam Satu Jiwa" (Sasaji) bukan sekadar sapaan, melainkan pengikat emosional bahwa setiap pendukung adalah bagian dari keluarga besar tanpa memandang status sosial.

Sebelumnya pendukung Arema pernah berada dalam "masa kelam" di mana setiap kesebelasannya bertemu dengan tim lain hampir dipastikan akan terjadi kerusuhan. Setelah timbul kesadaran untuk menunjukkan bahwa mendukung kesebelasan kesayangnnya tak harus dengan pandangan sempit (chauvinisme lokal), Aremania mulai berbenah diri dan mulai mengubah imejnya, tidak hanya damai, sportif, loyal, tetapi juga atraktif. Pada masa berdirinya, Aremania berhasil menyingkirkan komunitas pendukung yang pernah dibentuk oleh klub pada awal klub dibentuk dan secara mandiri membentuk kelompok pendukung tanpa pemimpin yang bernama Aremania.

Aremania salah satu suporter paling loyal di Indonesia. Di setiap pertandingan, entah di Malang maupun di luar kota Malang, Aremania selalu mendukung tim kesayangannya. Mereka tidak pernah peduli timnya menang atau kalah, yang penting mereka mendukung tim kesayangan mereka dengan cara yang sportif, atraktif dan simpatik.

Penghargaan yang pernah diraih oleh Aremania antara lain adalah The Best Suporter pada Ligina VI tahun 2000 Oleh Ketum Agum Gumelar. dan The Best Suporter pada Copa Indonesia II tahun 2006.[3]

Aremania dan Identitas Kota

Patung singa di Kota Malang

Aremania berhasil membuat warna biru dan logo Singa menjadi identitas visual Malang Raya. Di Malang, Anda akan menemukan patung singa, coretan mural Arema yang artistik, hingga atribut biru di pasar-pasar tradisional. Bagi banyak orang Malang, menjadi Aremania adalah "darah daging" (identitas kelahiran, jiwa dan kebanggaan) bukan sekadar pilihan hobi

Dari catatan Kompas, sebelum Arema lahir sebagian kawula muda Kota Malang tersekat dalam pelbagai geng. Misalnya, Argom (Armada Gombal), Prem (Persatuan Residivis Malang), Saga (Sumbersari Anak Ganas), Van Halen (Vederasi Anak Nakal Halangan Enteng), Arpanja (Arek Panjaitan), Arnak (Armada Nakal ), Anker (Anak Keras), GAS (Gabungan Anak Setan), Aregrek (Arek Gang Gereja Kayutangan), Ermera, Arpol.[4]

Kegiatan geng-geng ini cenderung pada hal-hal negatif. Misalnya kubam (mabuk-mabukan), ngisruh (membuat kerusuhan), nggelek (narkoba), tawuran, kriminalitas. Sebagian geng juga dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu. Hingga kini, masih dikenang nama-nama tokoh geng legendaris seperti Fauzi alias Gozi, Si Nyawa Rangkap Tamin, Hanafi, Joni Mangi, Mariso, Birowo. Sebagian dari mereka hilang saat musim penembakan misterius (petrus) pada tahun 1980-an. Setelah lahir Arema, kawula muda itu mulai berimpun dalam Aremania dan meninggalkan kehidupan geng. Dengan jargon "salam satu jiwa Arema", mereka membangun persaudaraan.[5]

Pionir Kreativitas Suporter Indonesia

Aremania sering disebut sebagai Laboratorium Suporter Indonesia. Pada akhir 90-an hingga awal 2000-an, mereka membawa standar baru dalam mendukung tim:

  • Atraksi di Tribun

Mereka adalah salah satu pionir penggunaan nyanyian (chant) yang kompak, koreografi bendera besar (giant flag), perkusi yang terorganisir dan koreo tangan khas mereka.

  • Sportivitas

Di masa lalu, Aremania pernah mendapatkan penghargaan sebagai Suporter Terbaik oleh Ligina (Liga Indonesia) dan Copa Indonesia karena kemampuannya menjaga kondusivitas dan kreativitas di stadion.

  • Bahasa Walikan

Aremania identik dengan penggunaan Boso Walikan (Bahasa Kebalikan khas Malang), seperti "Arema" menjadi "Amer", atau "Malang" menjadi "Ngalam". Ini menjadi identitas linguistik yang kuat.

  • Budaya "Turun Jalan" dan Konvoi

Salah satu ciri khas yang sangat melekat pada Aremania adalah tradisi konvoi biru. Setiap kali Arema merayakan hari jadi (11 Agustus) atau memenangkan turnamen penting, ribuan suporter akan memadati jalanan Malang Raya dan semua penjuru kota akan dipenuhi spanduk atau giant flag singo edan.

  • Disiplin di Jalan

Di masa kejayaannya (awal 2000-an), Aremania dikenal sebagai pionir suporter yang mampu melakukan konvoi besar-besaran dengan relatif tertib, mengenakan helm, dan tidak merusak fasilitas umum, yang kemudian menjadi percontohan bagi kota lain.

Struktur dan Sebaran

Meskipun pusatnya berada di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu), basis massa Aremania sangat luas:

  • Aremania Luar Kota

Terdapat banyak korwil di kota-kota besar seperti Jakarta (Aremania Djakarta), Bandung, hingga Bali.

  • Aremania Luar Negeri

Migrasi tenaga kerja dan mahasiswa asal Malang membawa bendera Aremania hingga ke Malaysia, Hong Kong, Taiwan, dan Australia.

  • Aremanita

Sebutan khusus untuk pendukung perempuan. Mereka memiliki peran aktif dalam aksi sosial dan dukungan di tribun.

Uniknya setiap Korwil (Koordinator Wilayah) memiliki kebebasan kreatif untuk menciptakan logonya sendiri. Mereka biasanya menggabungkan elemen lokal daerah mereka dengan simbol singa. Hal ini justru dianggap sebagai kekayaan visual karena menunjukkan betapa luas dan beragamnya basis massa Aremania. Kekuatan Aremania terletak pada Korwil.

  • Otonomi: Setiap korwil memiliki bendera, kas, dan kegiatan sosial sendiri.
  • Koordinasi: Saat akan melakukan "Away Days" (mendukung ke luar kota), antar korwil akan saling berkoordinasi untuk menyewa bus atau kereta api secara mandiri tanpa harus menunggu instruksi dari manajemen klub.

Rivalitas

Rivalitas dalam dunia Aremania bukan hanya soal kalah-menang di lapangan, tapi sering kali menyangkut harga diri daerah.

  • Rivalitas Utama: Aremania vs Bonek (Persebaya Surabaya)

Akar Masalah: Sering disebut sebagai Derbi Super Jawa Timur. Rivalitas ini bersifat sosiopolitik antara dua kota terbesar di Jawa Timur: Surabaya (Ibu Kota Provinsi) dan Malang (Kota Pendidikan/Wisata). Persaingan yang sengit ini memuncak pada tahun 1990-an ketika Arema mulai muncul sebagai kekuatan baru yang menantang dominasi Persebaya. Tensi: Persaingan ini sangat tinggi baik di dalam maupun di luar lapangan hingga sering terjadi pelarangan suporter tamu untuk hadir di stadion masing-masing demi keamanan.

  • Rivalitas Regional: Aremania vs Persik Mania (Persik Kediri)

Dikenal dengan sebutan Derbi Tetangga. Meski tidak sepanas dengan Surabaya, laga melawan Persik selalu bergengsi untuk menentukan siapa "penguasa" di wilayah Jawa Timur bagian selatan.

Hubungan Persahabatan

Aremania dikenal memiliki hubungan sangat baik dengan The Jakmania (Persija Jakarta). Hubungan ini sering disebut sebagai potret perdamaian antar suporter di Indonesia.

Ini adalah salah satu persaudaraan suporter paling ikonik di Indonesia. Dimulai dari saling sambut yang hangat saat laga tandang, hubungan ini bertahan puluhan tahun. Sering terdengar nyanyian "Di sini Arema, di sana Jakmania, di mana-mana kita saudara" saat kedua tim bertemu.

Secara historis Aremania juga memiliki hubungan dekat dengan suporter lainnya seperti:

  • LA Mania
  • Delta Mania
  • Pusamania
  • Pasopati
  • Panser Biru
  • Snex
  • Smeck
  • Semeton Dewata
  • Slemania
  • Brajamusti
  • Bartman
  • The Macz Man
  • Ultras Gresik
  • Kabo Mania
  • Viola
  • Bobotoh/Viking

Lagu, Chant dan Anthem

Lagu-lagu Aremania dikenal memiliki lirik yang puitis namun tetap membakar semangat. Berikut adalah beberapa yang paling populer:

  • Kami Ini Aremania
  • Salam Satu Jiwa
  • Janji Sumpah Setia
  • Dibawah Bendera Singo Edan
  • Kabar Damai
  • Tegar
  • Malang Tanah Kejayaan

Keunikan Cara Bernyanyi Aremania

  • Dirigen Utama: Aremania memiliki tokoh dirigen legendaris (seperti (Alm) Sam Ikul atau Yuli Sumpil) yang berdiri di atas pagar stadion untuk memimpin ribuan orang bernyanyi secara serempak.
  • Orkestra Tribun: Aremania jarang menggunakan alat musik modern. Kekuatan utama mereka adalah Drum Bass yang besar dan banyak, serta tepukan tangan yang ritmis, menciptakan suasana yang mengintimidasi lawan namun membakar semangat kawan. (Alm) Cak No adalah penabuh bass drum legendaris Aremania.

Aremania membuktikan bahwa lagu bukan sekadar hiasan, melainkan "senjata" psikologis untuk mendukung tim kebanggaan mereka.

Kemandirian Ekonomi (Merchandise)

Aremania adalah salah satu suporter pertama di Indonesia yang memahami nilai ekonomi dari sebuah "brand". Distro Arema.

  • Malang dipenuhi dengan distro (distribution store) yang menjual atribut Arema. Uniknya, banyak dari usaha ini dikelola secara mandiri oleh individu atau korwil, bukan hanya oleh manajemen klub. Ini menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang sangat kuat di Malang, siapa pun bisa membuat kaos dengan desain singa versinya masing-masing. Ini membuat atribut Arema sangat beragam di pasaran.

Hubungan dengan Masyarakat (Jiwa Sosial)

Aremania sering terlibat dalam aksi sosial yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola.

  • Aksi Solidaritas: Mereka sering menggalang dana untuk korban bencana alam atau membantu sesama anggota yang sedang kesulitan.
  • Pasca Tragedi Kanjuruhan: Muncul gerakan seperti "Tim Gabungan Aremania" (TGA) yang fokus pada pendampingan hukum dan bantuan medis bagi para penyintas, menunjukkan bahwa ikatan mereka sangat kuat di luar urusan tribun.

Filosofi Singo Edan

Istilah "Singo Edan" (Singa Gila) bukan hanya julukan klub, tapi cerminan karakter suporternya:

  • Berani dan Agresif (dalam arti positif): Pantang menyerah dalam mendukung tim meskipun Arema sedang terpuruk.
  • Egaliter: Di tribun, seorang pejabat, pengusaha, dan buruh bisa berdiri berdampingan mengenakan kaos biru yang sama, tanpa sekat status sosial.

Aremania saat ini

Aremania benar-benar atraktif, sportif dan kreatif. Pertandingan Arema itu telah aman dan nyaman untuk ditonton oleh semua kalangan. bahkan dengan kaum hawa yang dulunya takut untuk menonton pertandingan bola, sekarang mereka telah dengan aktif untuk turut serta memberikan dukungan kepada Arema kala bertanding. Kaum hawa telah membentuk kelompok supporter sendiri dalam mendukung Arema, yaitu Aremanita. Dan hal ini pula yang menjadikan Arema sebagai volunteer yang mempunyai kelompok supporter dari kalangan kaum hawa. Aremania sekarang menjadi sesuatu yang khas dari Malang. Walaupun Aremania meniru sesuatu yang telah ada di Amerika Latin, peniruan itu telah disesuaikan dengan konteks mereka sendiri.

Galeri

Aremania_at_Kanjuruhan_StadiumAremania di stadion Kanjuruhan saat laga melawan Persebaya

Aremania_FlareAremania menyalakan flare saat laga malam hari

Kontroversi

Kerusuhan pada 8 Besar Liga Indonesia 2007

Pada babak 8 Besar Divisi Utama Liga Indonesia 2007, Aremania bertindak anarkis, kala Arema bertanding melawan Persiwa Wamena pada 16 Januari 2008. Pertandingan harus dihentikan pada menit ke-71 saat Persiwa unggul 2-1 dari Arema. Para Aremania yang tidak puas dengan kepemimpinan wasit turun ke lapangan dan merusak Stadion Brawijaya. Akibatnya Aremania dihukum pelarangan mengenakan atribut saat mendukung Arema selama dua tahun dan dilarang medukung Arema ketika di luar kandang. Hukuman ini diterima oleh semua Aremania dan dapat dipatuhi selama dua tahun. Selama dua tahun tersebut Aremania hanya memakai baju hitam dan bendera merah putih selama menonton pertandingan.[6][7]

Rekor tur terbanyak

Setelah hukuman Aremania selesai, Aremania turut membawa Arema juara pada Indonesian Super League 2010. Pada Indonesian Super League 2010, Aremania menjadi supporter yang melakukan tur dengan jumlah paling besar. sekitar 50.000 Aremania yang datang ke Jakarta. Sebagian besar di antaranya menggunakan moda angkutan berupa kereta api, bus, dan kendaraan pribadi. Ini masih ditambah sekitar 7000-10000 Aremania yang tersebar di wilayah Jabodetabek. sekitar 40.000 Aremania berhasil memasuki stadion dengan memegang tiket yang telah dibeli sebelumnya, ribuan Aremania lain terpaksa berada di shuttle ban bahkan ribuan lainnya berada di luar stadion karena tidak dapat masuk stadion. Aremania menempati sektor 13 sampai 24 stadion utama Gelora Bung Karno sementara pendukung tuan rumah The Jakmania berada di sektor 1 sampai 12.[butuh rujukan]

Bentangan bendera raksasa

Pada 25 Mei 2014, saat berhadapan dengan Persib Bandung, kelompok suporter ini membentangkan bendera raksasa sebesar 15000m² dan menutupi seluruh area tribun Stadion Kanjuruhan.[8]

Pada pertengahan Oktober 2023, satu tahun pasca Tragedi Stadion Kanjuruhan, pemegang bendera raksasa membakar bendera tersebut sebagai bentuk protes kepada klub atas ketidakberpihakan pada korban tragedi.[9]

Tragedi Stadion Kanjuruhan

Pada 1 Oktober 2022, kerusuhan setelah Arema dikalahkan Persebaya dalam Derbi Super Jawa Timur. Pendukung yang tidak menerima kekalahan memanjat pagar dan masuk ke area lapangan pertandingan. Tindakan gegabah polisi dengan menembakkan gas air mata ke tribun yang masih penuh pendukung disinyalir menjadi penyebab utama kematian dari kurang lebih 135 orang disana.[10][11] Banyak pendukung kehabisan nafas dan saling injak akibat penggunaan gas air mata.[11] Titik paling kelam dalam sejarah Aremania adalah Tragedi Kanjuruhan. Peristiwa ini merenggut 135 nyawa setelah penggunaan gas air mata di dalam stadion pasca laga melawan Persebaya.

  • Dampaknya: Tragedi ini mengubah wajah Aremania dari sekadar suporter bola menjadi gerakan pencari keadilan (Usut Tuntas). Solidaritas global mengalir untuk Aremania pasca kejadian ini.

Referensi

  1. Bola.com. "Arek Malang Nonton Bola Lagi! Aremania Merahkan Kanjuruhan dengan Flare dalam Uji Coba Arema Vs PSIS". bola.com. Diakses tanggal 2022-06-05.
  2. "Sejarah Aremania, Berawal dari Jaket Ovan Tobing". wearemania.net. 4 September 2020. Diakses tanggal 13 September 2022.
  3. "6 Kelompok Suporter Fanatik Klub Sepak Bola Indonesia". Bola.net (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-06-05.
  4. Suprihadi, Marcus, ed. (2011-08-24). "Jangan Sampai Hidupkan Geng-gengan Lagi". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-06-05.
  5. "Jangan Sampai Hidupkan Geng-gengan Lagi". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-06-05.
  6. BINTARIADI, BIBIN (16 Januari 2010). "Aremania Gelar Konvoi Sambut Berakhirnya Sangsi Atribut". Tempo.Co. Diakses tanggal 21 Desember 2022.
  7. krs/, din (04 Februari 2008). "Komding Hanya Hukum Atribut, Bukan Aremania". sport.detik.com. Diakses tanggal 21 Desember 2022.
  8. "Arema Malang - Persib Bandung 25.05.2014".
  9. @arema_98 (12 Oktober 2023). "Kami Mengambil Sikap. Kami undur diri dari semua kreativitas tribun. Kami tetap berjuang bersama keluarga 135++ untuk keadilan. RIP #ONEFLAGONEPRIDE" (Tweet) via X. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  10. M Bagus Ibrahim (24 Oktober 2022). "Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan Bertambah 1, Total Jadi 135 Orang" [The number of fatalities in the Kanjuruhan disasater rises by 1, bringing the total to 135 people.]. Detik.com. Diakses tanggal 24 Oktober 2022.
  11. 1 2 "Dilarang FIFA, Kenapa Ada Tembakan Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan?". CNN Indonesia. 2 Oktober 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Oktober 2022. Diakses tanggal 2 Oktober 2022.

Pranala luar