Adam dan Hawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Lukisan yang menggambarkan Adam dan Hawa.

Dalam kepercayaan agama Abrahamik, Adam dan Hawa adalah kedua sosok yang diyakini sebagai pasangan manusia pertama di bumi dan keseluruhan manusia modern ini diyakini merupakan keturunan dari mereka berdua. Garis besar kisah mereka sama antara yang tertuang dalam Al-Qur'an dengan Kitab Kejadian, meski terdapat beberapa perbedaan. Kisah Adam dan Hawa memengaruhi pandangan masyarakat penganut agama Abrahamik; baik terkait manusia, gender, dan identitas.

Kisah[sunting | sunting sumber]

Dalam Al-Qur'an (kitab suci Islam), kisah Adam termaktub dalam surah Al-Baqarah (2): 30-39, Al-A'raf (07): 11-25, Al-Hijr (15): 26-44, Al-Isra' (17): 61-65, Thaha (20): 115-126, dan Shad (38): 67-88, sedangkan kisah Adam dalam Tanakh (kitab suci Yahudi) dan Alkitab (kitab suci Kristen) termuat pada Kitab Kejadian (Beresyit) pasal 2-5. Selain dari kitab suci, kisah Adam juga terdapat dalam beberapa riwayat hadits dan literatur Rabinik.

Meski secara garis besar sama, ada perbedaan di antara Al-Qur'an dan Alkitab mengenai kisah Adam.

  • Kisah penciptaan Adam dalam Al-Qur'an diawali dengan percakapan antara Allah dan para malaikat. Allah menyatakan hendak menciptakan manusia yang berperan sebagai khalifah (wakil, penerus) di bumi, tetapi malaikat memandang bahwa mereka yang lebih pantas menerima peran tersebut karena mereka selalu bertasbih pada Allah, sedangkan manusia dipandang hanya akan merusak bumi dan menumpahkan darah di sana.[1] Alkitab tidak menyertakan percakapan ini. Kisah Adam dalam Alkitab diawali dengan Allah menciptakan alam semesta beserta isinya.[2]
  • Alkitab menerangkan bahwa manusia (Adam) diciptakan menurut rupa dan gambar Allah,[3] sedangkan Al-Qur'an menyatakan bahwa tidak ada yang serupa dengan Allah.[4]
  • Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Allah mengajarkan nama segala sesuatu pada Adam,[5] sedangkan dalam Alkitab disebutkan bahwa Allah meminta Adam memberi nama hewan-hewan.[6]
  • Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Para malaikat melakukannya, tetapi iblis menolak sehingga dia diusir dari surga.[7][8] Kisah ini tidak terdapat dalam Alkitab.
  • Alkitab menyebutkan bahwa saat Adam tidur, Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuknya.[9] Al-Qur'an tidak menjelaskan mengenai penciptaan Hawa, tetapi ayat Al-Qur'an yang menyatakan bahwa manusia diciptakan "dari diri yang satu dan Allah menciptakan pasangannya dari dirinya"[10][11] ditafsirkan sebagai penciptaan Hawa yang berasal dari bagian Adam. Salah satu riwayat hadits menyebutkan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk.[12]
  • Alkitab menyebutkan bahwa ular membujuk Hawa memakan buah terlarang. Setelah memakannya, Hawa kemudian membujuk Adam agar ikut memakannya juga. Setelahnya, Allah kemudian mengutuk ular dan membuatnya berjalan menggunakan perut seumur hidup, menghukum Hawa dengan memberikan kepayahan saat mengandung dan melahirkan dan membuat suaminya berkuasa atasnya, dan menghukum Adam dengan menjadikannya bersusah payah mencari rezeki dari tanah sampai dia sendiri kembali menjadi tanah.[13] Al-Qur'an tidak menyebutkan mengenai rincian hukuman yang masing-masing mereka terima, juga tidak menyebutkan bahwa Hawa memakan buah terlarang lebih dulu dari Adam. Al-Qur'an hanya menyebutkan bahwa keduanya bersalah.

Kedudukan[sunting | sunting sumber]

Pandangan umum dalam agama Abrahamik adalah bahwa Adam dan Hawa merupakan manusia pertama dan semua manusia modern ini merupakan keturunan mereka.

Gereja Katolik mengakui Adam dan Hawa sebagai santo dan santa.[14] Pesta liturgi tradisional untuk Adam dan Hawa dirayakan pada 24 Desember sejak Abad Pertengahan.

Islam mengakui Adam sebagai nabi dan termasuk dalam daftar 25 nabi. Al-Asy'ari berpendapat bahwa Hawa adalah seorang nabiah (nabi perempuan).[15] Beberapa ulama yang mendukung adanya nabiah antara lain Ibnu Hazm, Al-Qurthubi, dan Abu al-Hasan al-Asy'ari.[15][16][17] Meski demikian, kebanyakan ulama berpendapat bahwa sebagaimana tidak ada perempuan yang menjadi rasul, maka juga tidak ada perempuan yang diangkat menjadi nabi.

Menurut pandangan Baha'i, Adam adalah perwujudan Allah yang pertama dalam sejarah[18]. Penganut Baha'i meyakini bahwa Adam memulai siklus Adamik yang berlangsung selama 6.000 tahun dan berpuncak pada Nabi Muhammad[19].

Dosa asal[sunting | sunting sumber]

Dalam doktrin Kristen, peristiwa Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang memicu yang kemudian disebut dosa asal. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 377 menuliskan yang intinya bahwa awalnya manusia diciptakan sempurna, seluruh kodratnya utuh dan teratur, bebas dari kecenderungan jahat yang membuatnya terikat pada kenikmatan inderawi.[20] Namun Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang membuat kodrat manusia yang sempurna tersebut rusak, karunia keadilan dan kesucian dari Allah yang terdapat dalam diri manusia menjadi berkurang dan kekurangan ini menurun pada keturunan mereka. Kekurangan tersebut yang dinamakan "dosa asal" (KGK 416-417).[21] Dosa asal tersebut mengakibatkan kodrat manusia rusak dan melemah dari yang seharusnya, tetapi kodratnya tidak sepenuhnya rusak (KGK 405).[21]

Dosa asal yang dilakukan manusia pertama mengakibatkan manusia kehilangan:[22]

  • Rahmat kekudusan
  • Empat berkat yang terdiri dari:
  1. keabadian, yakni manusia diyakini diciptakan bersifat abadi dan dosa asal membuat manusia dapat mengalami kematian.
  2. tidak adanya penderitaan
  3. pengetahuan akan Tuhan
  4. keutuhan, yaitu harmoni antara nafsu kedagingan dan akal budi. Hilangnya berkat keutuhan menyebabkan manusia kesulitan menundukkan keinginan dagingnya pada akal budinya, sehingga manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa atau konkupisensi (KGK 405-418).[21]

Doktrin dosa asal ini tidak ditemukan dalam ajaran Yahudi arus utama. Meskipun sebagian Yahudi Ortodoks menyalahkan Adam dan Hawa atas kerusakan di dunia dan beberapa guru Yahudi di Babel[23] percaya bahwa kematian merupakan hukuman pada manusia lantaran dosa Adam, hal itu bukan pandangan mayoritas Yahudi sekarang. Yahudi modern mengajarkan bahwa manusia lahir dalam keadaan bebas dan suci, dan berbuat dosa atas pilihan mereka sendiri.[24]

Dalam Islam juga tidak ditemukan adanya kepercayaan ini.[25][26] Di Al-Qur'an disebutkan bahwa meski bersalah, Adam dan Hawa bertaubat dan telah menerima pengampunan.[27][28][29]

Identitas dan peran gender[sunting | sunting sumber]

Pandangan mengenai Hawa acapkali menjadi acuan bagi peran dan kedudukan perempuan secara umum dalam agama dan masyarakat, utamanya pada masyarakat Barat Abad Pertengahan. Sarjana Timur Dekat Carol Lyons Meyers menyatakan bahwa kisah Hawa merupakan bagian Alkitab yang paling memengaruhi gagasan masyarakat Barat terkait gender dan identitas.[30]:72 Sosiologis Linda L. Lindsey menyatakan bahwa wanita menanggung lebih berat beban dosa asal, penciptaannya dari rusuk Adam, urutan kedua diciptakan setelah Adam, dengan kutukan Tuhan saat pengusirannya dari Taman Eden kerap menjadi dasar untuk mendukung kekuasaan pria atas wanita.[31]:133,397

Dari sisi lain, Trible dan Frymer-Kensky melihat bahwa kisah Hawa dalam Kejadian tidak menunjukkan inferioritas Hawa atas Adam. Kata "penolong" (ezer) menunjukkan pendamping dalam Alkitab alih-alih pembantu, dan kata ini juga digunakan pada hubungan Tuhan pada (Bani) Israel (bukan Israel pada Tuhan).[32][33]:168 Trible menjelaskan bahwa, dalam mitologi, hal yang diciptakan terakhir secara tradisi merupakan puncak penciptaan, yang tersirat dalam Kejadian 1 bahwa manusia (Adam) diciptakan setelah segala sesuatu yang lain — kecuali Hawa.[32] Namun, sarjana Perjanjian Baru Craig Blomberg mengatakan bangsa Yahudi kuno mungkin telah melihat urutan penciptaan sebagai bentuk keistimewaan kepada putra sulung terkait hak waris (baik dalam tulisan suci mereka dan dalam budaya sekitarnya) dan menafsirkan Adam diciptakan lebih dulu dari Hawa sebagai tanda hak istimewanya.[34]:129

Yahudi[sunting | sunting sumber]

Penciptaan Hawa, menurut Rabi Joshua, adalah bahwa Tuhan mempertimbangkan dari anggota badan Adam yang mana Hawa akan diciptakan. Dia tidak diciptakan dari kepala Adam karena akan menjadi orang yang sombong, tidak diciptakan dari mata karena dia akan ingin mengorek semua hal, tidak dari telinga karena dia akan berkeinginan mendengar semua hal, tidak dari mulut karena dia akan banyak bicara, tidak dari hati karena dia akan iri pada orang-orang, tidak dari tangan karena dia akan berkeinginan untuk mengambil semua hal, tidak dari kaki karena dia akan menjadi seorang petualang. Oleh karena itu Hawa diciptakan dari anggota yang disembunyikan, yaitu tulang rusuk, yang bahkan tidak terlihat ketika manusia telanjang.[35]

Literatur rabinik awal mengandung tradisi-tradisi yang menggambarkan Hawa dengan cara yang kurang baik. Menurut Bereshith Rabba 18: 4, Adam dengan cepat menyadari bahwa Hawa ditakdirkan untuk terlibat dalam pertengkaran terus-menerus dengannya. Wanita pertama juga menjadi objek tuduhan yang dinisbatkan kepada Rabi Joshua dari Siknin, yang menurutnya Hawa, terlepas dari upaya ilahi, ternyata “berkepala bengkak, genit, penyadap, gosip, rentan terhadap kecemburuan, suka mencuri, dan petualang." (Ibid. 18: 2). Serangkaian dakwaan yang serupa muncul dalam Bereshith Rabba 17: 8, yang dengannya penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam alih-alih dari bumi membuatnya lebih rendah dari Adam dan tidak pernah puas dengan apapun. Akhirnya, kejahatan paling jahat yang dikaitkan dengan Hawa muncul dalam Bereshith Rabba 17: 8:

"Mengapa seorang pria pergi tanpa topi sementara seorang wanita keluar dengan kepala tertutup? Dia seperti orang yang telah berbuat salah dan malu pada orang; karena itu dia pergi dengan kepala tertutup. Mengapa mereka [para wanita] berjalan di depan mayat [di pemakaman]? Karena mereka membawa maut ke dunia, oleh karena itu mereka berjalan di depan mayat, [seperti yang tertulis], "Karena ia telah dibawa ke kubur ... dan semua orang mengikuti dia, karena ada banyak yang tak terhitung sebelum dia" (Ayub 21: 32d). Dan mengapa ajaran menstruasi (nidah) diberikan kepadanya? Karena dia menumpahkan darah Adam [dengan menyebabkan kematian], maka itu adalah ajaran menstruasi yang diberikan kepadanya. Dan mengapa ajaran “adonan” (ḥalah) diberikan kepadanya? Karena dia merusak Adam, yang adalah adonan dunia, maka itu adalah ajaran adonan yang diberikan kepadanya. Dan mengapa ajaran tentang cahaya Sabat (nerot shabat) diberikan kepadanya? Karena dia memadamkan jiwa Adam, oleh karena itu adalah ajaran dari lampu Sabat yang diberikan kepadanya."[36]

Selain itu, literatur rabi awal mengandung banyak contoh saat Hawa didakwa berbagai pelanggaran seksual. Dituliskan dalam Bereshith Rabba 3:16 bahwa "hasratmu akan untuk suamimu," dia dituduh oleh para rabi karena memiliki dorongan seksual yang terlalu maju (Bereshith Rabba 20: 7) dan terus-menerus menggoda Adam (ibid. 23: 5). Namun, dalam hal popularitas dan penyebaran teks, motif Hawa bersanggama dengan ular purba mengambil prioritas di atas pelanggaran seksualnya yang lain. Meskipun agak membingungkan, kisah ini disampaikan di banyak tempat: Bereshith Rabba 18: 6, Sotah 9b, Shabat 145b – 146a dan 196a, Yevamot 103b dan 'Avodah zarah 22b.[37]

Dalam tradisi Yahudi, Filo, Pirkei De-Rabbi Eliezer, dan Targum Yerushalmi menyatakan bahwa Adam bukanlah ayah dari Qabil/Kain. Sebaliknya, Hawa menjadi sasaran perzinahan karena dirayu Sammael,[38][39] ular[40] (nahash, Ibrani: נחש) di Taman Eden,[41] atau iblis sendiri,[42] dan Hawa berseru saat kelahiran Kain, "Aku telah mendapatkan seorang putra melalui seorang malaikat Tuhan."[43]

Kristen[sunting | sunting sumber]

Yesus menegaskan bahwa pada awal dunia, Tuhan menciptakan satu laki-laki dan satu perempuan untuk disatukan sebagai suami istri.[44][45] Meskipun tidak menyebut nama Hawa, ini merupakan pengakuan Yesus akan kebenaran catatan di Kitab Kejadian tentang penciptaan Adam dan Hawa. Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar waspada terhadap penyesatan oleh iblis seperti yang pernah dialami Hawa, "Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya."[46]

Terkait sikap dalam ibadah jemaat, Paulus menyatakan bahwa perempuan harus berdiam diri dan mendengar dengan patuh, juga tidak diperkenankan mengajari laki-laki. Sikap ini dikaitkan dengan Adam yang diciptakan lebih dulu dari Hawa, juga karena Hawa yang tergoda pertama kali memakan buah terlarang.[47]

Islam[sunting | sunting sumber]

Terkait buah terlarang, Al-Qur'an tidak menjelaskan bahwa Hawa yang pertama kali memakannya. Baik Adam dan Hawa dijelaskan sama-sama bersalah, sama-sama bertaubat, juga sama-sama menerima ampunan.[48][49] Hawa dipandang sebagai Ummul Basyar (ibu umat manusia), tetapi pengaruhnya tidak begitu kuat pada peran dan kedudukan perempuan di dunia Muslim bila dibandingkan dengan di Barat.

Rasisme[sunting | sunting sumber]

Pada Abad Pencerahan, gagasan mengenai keberadaan manusia sebelum Adam, disebut Pra-Adamit, menantang narasi Alkitab tentang asal-muasal manusia. Pada abad ke-19, gagasan pra-Adamit mulai diterima dengan sifat supremasi kulit putih. Dikatakan bahwa manusia non-kulit putih bukanlah keturunan Adam, tetapi manusia pra-Adam, sehingga kedudukan mereka lebih rendah dari ras kulit putih. Ilmuwan yang mendukung ini antara lain Charles Caldwell, Josiah C. Nott, dan Samuel G. Morton.

Setelah Perang Saudara Amerika, orang Selatan semakin menerima argumen yang mendukung kepercayaan mereka pada inferioritas kulit hitam. Pada tahun 1867, Buckner H. Payne, dengan nama pena Ariel, menulis sebuah pamflet, The Negro: What is His Ethnological Status? Dia berargumen bahwa orang Negro adalah binatang pra-Adam dari ladang (dianggap sebagai tatanan monyet yang lebih tinggi), yang dilestarikan di Bahtera Nuh. Pada tahun 1891, William Campbell, dengan nama pena "Caucasian", menulis dalam Anthropology for the People: A Refutation of the Theory of the Adamic Origin of All Races bahwa orang-orang non-kulit putih bukanlah keturunan Adam dan karena itu "bukan saudara dalam pengertian istilah yang tepat, tetapi ciptaan yang lebih rendah" dan bahwa poligenisme adalah satu-satunya teori yang dapat bersanding dengan Alkitab. Mengikuti Payne, Campbell menyatakan bahwa banjir besar zaman Nuh merupakan akibat dari pernikahan manusia kulit putih (keturunan Adam) dan keturunan pra-Adamit yang dipandang sebagai sebab kerusakan dunia.[50]

Dalam perpaduan yang tidak biasa dari pemikiran evolusioner kontemporer dan pra-Adamisme, evolusionis dan geolog the Vanderbilt University, Alexander Winchell, berargumen dalam traktat 1878-nya Adamites and Preadamites bahwa bangsa Negro terlalu inferior secara rasial untuk dikatakan dikembangkan dari Adam dalam Alkitab. Winchell juga percaya bahwa hukum evolusi bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan.[51]

Pengacara Irlandia Dominick McCausland, seorang literalis Alkitab dan anti-Darwin, berpendapat bahwa bangsa Tionghoa adalah keturunan dari Kain/Qabil dan bahwa ras "Kaukasia" pada akhirnya akan memusnahkan semua yang lain. Dia berpendapat bahwa hanya keturunan "Kaukasia" dari Adam yang mampu menciptakan peradaban, dan dia mencoba menjelaskan bahwa peradaban "non-Kaukasia" yang telah berkembang sebenarnya adalah ras "Kaukasia" yang hilang, yakni keturunan Ham bin Nuh.[52]

Pada tahun 1900, Charles Carroll menulis The Negro a Beast; or, In the Image of God. Dia menyimpulkan dalam buku itu bahwa ras kulit putih dibuat menurut gambar dan rupa Allah dan bahwa Adam hanya melahirkan ras kulit putih, dan orang negro adalah binatang pra-Adam, yang tidak mungkin dibuat menurut gambar dan rupa Allah karena mereka seperti binatang buas, tidak bermoral dan jelek.[53] Carroll mengklaim bahwa ras pra-Adam, seperti orang kulit hitam, tidak memiliki jiwa. Carroll percaya bahwa percampuran ras adalah penghinaan terhadap Tuhan dan merusak rencana ras penciptaan Allah. Menurut Carroll, pencampuran ras juga menyebabkan kesalahan ateisme dan evolusi.[54]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

  • Perincian mengenai kisah Adam dan Hawa dari sudut pandang Al-Qur'an dan Alkitab:

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Al-Baqarah (02): 30
  2. ^ Kejadian 1: 1-31
  3. ^ Kejadian 1: 26
  4. ^ Asy-Syura (42): 11
  5. ^ Al-Baqarah (02): 31
  6. ^ Kejadian 2: 19-20
  7. ^ Al-A'raf (07): 13
  8. ^ Al-Hijr (15): 34-35
  9. ^ Kejadian 2: 21-24
  10. ^ An-Nisa' (04): 01
  11. ^ Al-A'raf (07): 189
  12. ^ "Bersikaplah yang baik kepada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kalian luruskan dengan keras, akan patah. Sebaliknya, jika kalian biarkan akan selalu bengkok. Karena itu, bersikaplah yang baik kepada wanita." (HR. Bukhari 3331 & Muslim 1468)
  13. ^ Kejadian 3: 14-19
  14. ^ Steve Ray, "St[s]. Adam and Eve, St. Abraham, St. Moses – Did You Know Some Old Testament People Are Saints?", https://www.catholicconvert.com/blog/2019/01/16/st-adam-eve-st-abraham-st-moses-did-you-know-some-old-testament-people-are-saints/; confer Catechism of the Catholic Church, 61.
  15. ^ a b Ibnu Hajar, Fathul Bari, 6/447
  16. ^ Ibnu Hazm, al-Fashl fi al-Milal wa an-Nihal 2/60
  17. ^ Lawami'ul Anwar Al-Bahiyah: 2/66
  18. ^ Taherzadeh, Adib (1972). The Covenant of Baha'u'llah. Oxford, Inggris: George Ronald. hlm. hlm. 32. ISBN 0-85398-344-5. 
  19. ^ Surat yang ditulis atas nama Universal House of Justice kepada setiap umat pada tanggal 13 Maret 1986. Effendi, Shoghi (1983). Hornby, Helen (editor), ed. Lights of Guidance: A Baha'i Reference File. Baha'i Publishing Trust, New Delhi, India. hlm. hlm. 500. ISBN 81-85091-46-3. 
  20. ^ (Inggris) "Man", Catechism of the Catholic Church, Holy See 
  21. ^ a b c (Inggris) "The Fall", Catechism of the Catholic Church, Holy See 
  22. ^ "Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?". katolisitas.org. 
  23. ^ Babylonian Talmud. Tractate Shabbat 55b.
  24. ^ Kolatch, Alfred J. (1989). "Judaism's Rejection Of Original Sin". The Jewish Book of Why/The Second Jewish Book of Why. Jewish Virtual Library. New York: Jonathan David Publishers – via American-Israeli Cooperative Enterprise. Sementara ada beberapa guru Yahudi di zaman Talmud yang percaya bahwa kematian adalah hukuman yang ditanggung atas manusia karena dosa Adam, pandangan dominan adalah bahwa manusia berdosa karena ia bukan makhluk yang sempurna, dan bukan, seperti yang diajarkan agama Kristen, karena ia adalah secara inheren berdosa. 
  25. ^ "Islamic beliefs about human nature". ReligionFacts. 20 November 2016. Diakses tanggal 24 January 2017. 
  26. ^ "Repentance - Oxford Islamic Studies Online". www.oxfordislamicstudies.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-08-25. 
  27. ^ Al-Baqarah (02): 37
  28. ^ John L. Esposito (2004). The Oxford dictionary of Islam. Oxford University Press. p. 295
  29. ^ "Adam - Oxford Islamic Studies Online". www.oxfordislamicstudies.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-08-25. Manusia pertama. Diciptakan untuk menjadi wakil Allah (pelayan) di bumi. Al-Quran mencatat kejatuhan Adam dari kasih karunia sebagai akibat dari ketidaktaatan pada perintah-perintah Allah, tetapi, tidak seperti tradisi Kristen, kejatuhan itu tidak disertai “dosa asal” yang diturunkan kepada seluruh umat manusia. Tuhan memaafkan Adam ketika dia bertobat dan berbalik dari ketidakpercayaan. 
  30. ^ Meyers, Carol (1988). Discovering Eve: Ancient Israelite Women in Context. New York: Oxford University Press. ISBN 9780195049343. OCLC 242712170. 
  31. ^ Lindsey, Linda L (2016). Gender Roles: A Sociological perspective. New York: Routledge. ISBN 978-0-205-89968-5. 
  32. ^ a b Trible, Phyllis (1984). Texts of Terror: Literary feminist readings of biblical narratives. Philadelphia: Fortress Press. ISBN 978-0-8006-1537-6. 
  33. ^ Frymer-Kensky, Tikva (2006). Studies in Bible and feminist criticism (edisi ke-1st). Philadelphia, PA: Jewish Publication Society. ISBN 9780827607989. OCLC 62127975. 
  34. ^ Craig L. Blomberg (2009). "Chapter 2: Women in Ministry: a complementarian perspective". Dalam Beck, James R.; et al. Two views on women in ministry. Grand Rapids, Michigan: Zondervan. ISBN 9780310254379. OCLC 779330381. 
  35. ^ Polano, Hymen (1890). The Talmud. Selections from the contents of that ancient book... Also, brief sketches of the men who made and commented upon it, p. 280. F. Warne, ISBN 1-150-73362-4, digitized by Google Books on 7 July 2008
  36. ^ Genesis Rabbah, in: Judaic Classics Library, Davka Software. (CD-ROM).
  37. ^ Kosior, Wojciech (2018). "A Tale of Two Sisters: The Image of Eve in Early Rabbinic Literature and Its Influence on the Portrayal of Lilith in the Alphabet of Ben Sira". Nashim: A Journal of Jewish Women's Studies & Gender Issues (32): 112–130. doi:10.2979/nashim.32.1.10. 
  38. ^ Byron 2011, hlm. 17: "And Adam knew about his wife Eve that she had conceived from Sammael" – Tg.Ps.-J.: Gen.4:1, Trans. by Byron.
  39. ^ Byron 2011, hlm. 17: "(Sammael) riding on the serpent came to her and she conceived [Cain]" - Pirqe R. L. 21, Trans. by Friedlander.
  40. ^ Byron 2011, hlm. 17: "First adultery came into being, afterward murder. And he [Cain] was begotten into adultery, for he was the child of the serpent." – Gos.Phil. 61:5–10, Trans. by Isenberg.
  41. ^ Louis Ginzberg, The Legends of the Jews, Vol.1, Johns Hopkins University Press, 1998, ISBN 0-8018-5890-9, p.105–09
  42. ^ Luttikhuizen 2003, hlm. vii.
  43. ^ Ginzberg, Louis (1909). The Legends of the Jews Vol I: The Ten Generations - The Birth of Cain (Translated by Henrietta Szold) Philadelphia: Jewish Publication Society.
  44. ^ Markus 19:5
  45. ^ Markus 10:6-9
  46. ^ 2 Korintus 11:3
  47. ^ 1 Timotius 2:11-14
  48. ^ Al-Baqarah (02): 36-37
  49. ^ Al-A'raf (07): 22-23
  50. ^ dalam Harvey, 2005, hlm. 43.
  51. ^ Smith, 2003, hlm. 50.
  52. ^ Dominick M'Causland, The Builders of Babel, 1871; Patrick Maume “Dominick McCausland and Adam’s Ancestors: an Irish Evangelical responds to the Scientific Challenge to Biblical Inerrancy” in Juliana Adelman and Eadaoin Agnew (eds) Science and Technology in Nineteenth-Century Ireland (Dublin: Four Courts Press, 2011)
  53. ^ Charles Carroll The negro a beast"; or, "In the image of God"; the reasoner of the age, the revelator of the century! The Bible as it is! The negro and his relation to the human family! The negro not the son of Ham, 1900
  54. ^ Colin Kidd, The Forging of Races: Race and Scripture in the Protestant Atlantic World, 1600 – 2000, 2006, hlm. 150

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Harvey, Paul (2005). Freedom's Coming : Religious Culture and the Shaping of the South from the Civil War through the Civil Rights Era. UNC Press. ISBN 0-8078-2901-3
  • Smith, Christian (2003). The Secular Revolution. University of California Press. ISBN 0-520-23000-0