Abu al-Aswad ad-Du'ali
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 603 Irak |
| Kematian | 688 (Kalender Masehi Gregorius) Basra |
| Penyebab kematian | Pes |
| Data pribadi | |
| Agama | Islam |
| Kegiatan | |
| Spesialisasi | Linguistika |
| Pekerjaan | ahli bahasa, penyair |
Abu al-Aswad ad-Du'ali (bahasa Arab: أَبُو ٱلْأَسْوَد ٱلدُّؤَلِيّ) merupakan penggagas ilmu nahwu dan pakar tata bahasa Arab dari Bani Kinanah dan dijuluki sebagai "Bapak Bahasa Arab". Nama lengkapnya adalah Abu al-Aswad Ẓālim bin ʿAmru bin Sufyān bin Jandal bin Yamār bin Hīls bin Nufātha bin al-ʿĀdi bin al-Dīl bin Bakr, lebih dikenal atau dengan julukannya Abu al-Aswad ad-Du'ali (atau Ad-Dili), orang yang diambil ilmunya dan yang memiliki keutamaan, dan seorang hakim (qadhi) di Basyrah. Ia dilahirkan pada masa kenabian Muhammad. Ia dianggap sebagai orang yang pertama kali mendefinisikan tata bahasa Arab, serta yang pertama kali meletakkan titik pada huruf hijaiyah.[1]
Kompetensi
[sunting | sunting sumber]Ali bin Abi Thalib adalah yang pertama kali mencetuskan kodifikasi ilmu Bahasa Arab, menyusun pembagian kalimat, bab inna wa akhawatuha, idhafah, imalah, ta’ajjub, istifham dan lain-lain, kemudian ialah yang memerintahkan kepada Abu al-Aswad ad-Du'ali untuk mengembangkannya sambil berkata, “انح هذا النحو; unhu hadzan nahwa!” (ikutilah yang semisal ini)". Maka istilah ilmu nahwu diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib ini. Abu al-Aswad ad-Du'ali diperintahkan untuk mengembangkan bahasa Arab oleh Ali bin Abi Thalib karena pada masa itu Islam telah berkembang ke berbagai negara dan orang asing (ajam, non Arab) banyak yang salah dalam berbahasa Arab dan kesulitan memahami Al-Quran, serta masuknya orang-orang ajam ke negeri-negeri Islam lalu mencampurkan bahasa mereka.[2]
Dikisahkan bahwa yang membuat Abu al-Aswad ad-Du'ali semakin bersemangat mengembangkan bahasa Arab ialah karena pada suatu malam ia berjalan dengan putrinya, kemudian putrinya berkata: “ما أجمل السماء; maa ajmalus sama’i” (apa yang paling indah di langit?), kemudian Abu al-Aswad ad-Du’ali berkata: “نجومها; nujumuha” (bintang-bintangnya). Selanjutnya putrinya berkata, “Saya bermaksud mengungkapkan ketakjuban (kekaguman)”. Maka Abu al-Aswad ad-Du'ali berkata membenarkan, katakanlah: “ما أجمل السماء; maa ajmalas sama’a” (betapa indahnya langit).[3]
Perkataan para ulama tentangnya
[sunting | sunting sumber]Ahmad Al-Ijli berkata, “Dia tsiqah (tepercaya) dan orang yang pertama kali berbicara tentang ilmu nahwu”. Al-Waqidi berkata, “Dia masuk Islam pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.” Orang lain berkata, “Abu al-Aswad ad-Du'ali ikut perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib, dan dia termasuk pembesar kelompok pendukung Ali dan orang yang paling sempurna akal serta pendapatnya di antara mereka. Ali radhiallahu ‘anhu telah menyuruhnya meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu ketika dia mendengar kecerdasannya.”
Al-Waqidi berkata, “Lalu Abu Al Aswad menunjukkan kepadanya apa yang telah ditulisnya,” Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Alangkah baiknya nahwu yang kamu tulis ini.” Dan diriwayatkan pula bahwa dari situlah ilmu nahwu disebut ‘nahwu’. Muhammad bin Salam al-Jumahi berkata, “Abu al-Aswad ad-Du’ali adalah orang yang pertama kali meletakkan bab Fa’il, Maf’ul, Mudhaf, Huruf Rafa’, Nashab, Jar, dan Jazm. Yahya bin Ya’mar lalu belajar tentangnya.”[4]
Al-Mazini berkata, “Sebab yang melatarbelakangi diletakkannya ilmu nahwu adalah karena Bintu Abu al-Aswad (anak perempuan Abu al-Aswad) berkata kepadanya, “maa asyaddu al-harri”(alangkah panasnya); Abu al-Aswad lalu berkata, “al-hasyba ar-ramadha” (awan hitam yang sangat panas). Anak perempuan Abu al-Aswad lalu berkata, “aku takjub karena terlalu panasnya”. Abu al-Aswad berkata, “Ataukah orang-orang telah biasa mengucapkannya?”. Kemudian Abu al-Aswad mengabarkan hal itu kepada Ali bin Abu Thalib, lalu ia memberikan dasar-dasar nahwu kepadanya dan ia meneruskannya. Ialah pula orang yang pertama kali meletakkan titik pada huruf.”[4]
Al-Jahizh berkata, “Abu al-Aswad adalah pemuka dalam tingkat sosial manusia. Ia termasuk kalangan ahli fiqih, penyair, ahli hadits, orang mulia, kesatria berkuda, pemimpin, orang cerdas, ahli nahwu, pendukung Ali, sekaligus orang bakhil. Ia botak bagian depan kepalanya.”[4]
Keberpihakan pada Pertempuran Jamal
[sunting | sunting sumber]Ketika rombongan Aisyah mendekati Basyrah menjelang Pertempuran Jamal, Aisyah. menulis surat kepada al-Ahnaf bin Qais dan orang-orang di sana mengabarkan bahwa ia sudah sampai di Basyrah. Utsman bin Hunaif mengutus Imran bin Hushain dan Abu al-Aswad ad-Du'ali untuk menemui Aisyah, guna menanyakan maksud kedatangannya. Ketika kedua utusan itu datang menemui Aisyah, keduanya mengucapkan salam dan menanyakan maksud kedatangannya. Aisyah menyampaikan kepada kedua utusan itu bahwa maksud kedatangannya adalah hendak menuntut atas tertumpahnya darah Utsman, karena ia dibunuh secara zhalim pada bulan Haram di negeri Haram (Madinah).[5]
Setelah berdialog, Imran dan Abu al-Aswad kembali kepada Utsman bin Hunaif lalu menyampaikan kepadanya. Utsman bin Hunaif berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, demi Rabb pemilik Ka'bah, telah tiba masa berperang dalam Islam. Coba lihat alternatif apakah yang terbaik untuk kita?" Imran berkata, "Demi Allah, hal itu akan menjebak kalian dalam peperangan yang panjang." Kemudian Utsman bin Hunaif berkata kepada Imran bin Hushain, "Beri aku saran!" Imran berkata, "Menghindarlah, sesungguhnya aku akan berdiam dalam rumahku atau aku akan duduk di atas untaku."[5]
Kematian
[sunting | sunting sumber]Ia wafat di Basyrah karena wabah, atau mungkin karena kelumpuhan sebelum wabah, pada usia 85 tahun. Ada pula yang mengatakan ia wafat pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul-Aziz (717-720).
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Sibawaih, Imam dalam tata bahasa bahasa Arab dari Persia.
Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- ↑ Ibnu Khallikan. Wafaayat al-'Ayaan. vol. 1 p. 663.
- ↑ Qowa’idul asasiyah lillughotil arobiyah hal 6, Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah
- ↑ Huruf hijaiyahnya (Arab) sama, akan tetapi cara membacanya (harakatnya) berbeda, sehingga artinya berbeda.
- 1 2 3 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
- 1 2 Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
Bibliografi
[sunting | sunting sumber]- Ringkasan Syiar A’lam An-Nubala’, Imam Adz-Dzahabi. Pustaka Azzam. (Hal: 742-743)