Abdullah bin al-Mubarak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Abdullah bin al-Mubarak atau Ibnul Mubarak, yang diberi bergelar (bahasa Arab: كنية) Abu Abdirrahman, lahir di Marwa pada tahun 118 H. dan wafat di bulan Ramadhan, saat kembali dari medan perang pada 181 H. dalam umur 63 tahun, atau yang bertepatan dengan tahun 736797 M.[1][2][3][4][5][6][7] Dia adalah seorang ahli fikih, ahli hadits, punya sikap wara’ atau hati-hati, terpercaya (bahasa Arab: ثبت) dalam bidang hadits, zuhud, suka berjihad (bahasa Arab: مجاهد), sangat alim (bahasa Arab: العلامة), pemberani, dermawan, ahli sejarah, dan lain-lain.[7][6][5][4][3][1][2]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Perjalanan Intelektual[sunting | sunting sumber]

Yaman adalah salah satu wilayah yang pernah dikunjungi Abdullah ibnul Mubarak selama pengembaraannya menuntut ilmu. San'a, merupakan merupakan salah satu tempat terkenal di wilayah Yaman

Adz-Dzahabi menuturkan, bahwa Ibnul Mubarak mulai menuntut ilmu sejak umur 20 tahun di daerahnya, Marwa, dan kemudian, pada tahun 141 H. melanjutkan perjalanannya ke wilayah lain dan berguru kepada para tabi'in yang dijumpainya.[3] Seluruh hidupnya, selain dihabiskan untuk menuntut ilmu, juga digunakan untuk berjihad, berniaga, menafkahkan hartanya dan pergi haji.[3] Beberapa wilayah Islam yang pernah dikunjunginya dalam rangka menuntut ilmu, antara lain: Yaman, Mesir, Syiria, Bashrah, dan Kufah; dia juga meriwayatkan dari para para gurunya, baik yang sudah senior maupun yang yunior.[8]

Guru dan Murid[sunting | sunting sumber]

Abdullah ibnul Mubarak berguru kepada banyak ulama besar dan terkenal di masanya, antara lain; dalam bidang ilmu hadits): berguru kepada Sulaiman At-Taimi, Ashim Al-Ahwal, Hisyam bin Urwah, Ismail bin Abi Khalid, Musa bin Uqbah, Al-Auza'i, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, dan lain-lain; dalam bidang fikih berguru kepada Imam Abu Hanifah dan yang lain; dalam bidang ilmu Qira'at berguru kepada Abu Amr bin Al-Ala', dan lain-lain.[8] Sedangkan ulama-ulama besar yang pernah menjadi muridnya, antara lain: Ma'mar, Ibnul Qaththan, Ibnu Ma'in, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad bin Mani', Muslim bin Ibrahim, Abdan, dan lain-lain.[8]

Pujian ulama[sunting | sunting sumber]

Ada sebuah tanya jawab yang dilakukan 'Atha' bin Muslim dan 'Ubaid bin Jannad Abu Said, yakni seperti ini yang diriwayatkan oleh Abu Nuaim al-Ashbahani dlm "Hilyatul-Auliya' wa Thabaqatul-Ashfiya'" (8/162):[9]

Karya-karya[sunting | sunting sumber]

Abdullah ibnul Mubarak, terkenal pula dengan pribadi yang produktif; beberapa karyanya berbagai bidang keilmuan, antara lain:

  1. Tafsirul Qur'an;
  2. As-Sunan fil Fiqh;
  3. Kitabut Tarikh;
  4. Kitabuz Zuhd;
  5. Kitabul Birri wash Shilah;
  6. Riqa'ul Fatawa;
  7. Ar-Raqa'iq'; dan,
  8. Arba'in fil Hadits.[8][2]

Kata-kata Mutiara Abdullah ibnul Mubarak[sunting | sunting sumber]

"Awal dari sebuah ilmu adalah niat, kemudian memperhatikan, kemudian memahami, kemudian mengamalkan, kemudian menjaga, kemudian menyebarluaskan."[8]

"Orang yang cerdas tidak akan merasa aman dari 4 hal: pertama, terkait dosa yang pernah dilakukan, dia tidak tahu apakah yang akan Allah perbuat atasnya; kedua, umur yang tersisa, dia tidak tahu mengenai hal yang akan membuatnya celaka; ketiga, keutamaan yang Allah berikan kepada seorang hamba, dia tidak tahu bahwa sebenarya ia adalah sebuah tipuan dan istidraj; keempat, kesesatan yang tampak sebagai petunjuk termasuk ketergelinciran hati sehingga agaam seseorang menjadi rusak tanpa sadar."[8]

"Kami mencari ilmu untuk mendaaptkan dunia; sedangkan ilmu menuntun kita untuk meninggalkannya (dunia)."[8]

"Orang yang bakhil terhadap ilmu, akan diuji dengan tiga perkara: pertama, kematian sehingga menyebabkan ilmunya hilang; kedua, menjadi lupa; ketiga, dekat dengan penguasa, sehingga ilmunya menjadi lenyap."[8]

"Abdullah (yakni ibnul Mubarak) ditanya, "Wara' manakah yang terberat itu?" Dia (Abdullah) menjawab, "(Bersikap wara' dalam) lisan"."[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b (Arab) Shalahuddin Khalil (2000). Al-Wafi bil Wafayat. Beirut: Dar Ihya’ut Turats. , XVII, hal. 225.
  2. ^ a b c (Arab) Khairuddin Az-Zarkali (2002). Al-A'lam. ttp: Darul ‘Ilmi lil Malayin. , IV, hal. 115.
  3. ^ a b c d (Arab) Abu Abdillah Adz-Dzahabi (2006). Siyar A’lamun Nubala’. Kairo: Darul Hadits. , VII, hal. 365.
  4. ^ a b (Arab) Abu Abdillah Adz-Dzahabi (1998). Tadzkiratul Huffadh. Beirut: Darul Kutub Al-‘Ilmiah. , I, hal. 201-204.
  5. ^ a b (Arab) Abul Abbas bin Khalikan Al-Barmaki (1900). Wafayatul A’yan. Beirut: Dar Shadir. , III, hal. 32.
  6. ^ a b (Arab) Muhammad bin Hibban Al-Busti (1991). Masyahiru Ulama’il Amshar. Ttp: Darul Wafa'. , I, hal. 309.
  7. ^ a b (Arab) Muhammad bin Hibban Al-Busti (1973). Ats-Tsiqat. India: Darul Ma’arif Al-Utsmaniah. , VII, hal. 7-8.
  8. ^ a b c d e f g h (Arab) Abdullah bin Al-Mubarak. Kitabul Jihad. Jeddah: Darul Mathbu'atul Haditsiyah. , hal. 2-9.
  9. ^ al-Ashbahani, Abu Nuaim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Ishaq bin Mihran (1974). Hilyatul-Auliya' wa Thabaqatul-Ashfiya' (dalam bahasa Arab). Beirut: Darul-Kitab al-'Arabiy. 
  10. ^ Ibnu Abid-Dunya, Abubakr Abdullah bin Muhammad. al-Wara' li Ibnu Abid-Dunya (dalam bahasa Arab). 1408 H/1998 M. Kuwait: Ad-Darus-Salafiyyah.