Menara Babel

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sketsa bangunan Menara Babel.

Menara Babel (Bahasa Ibrani: מגדל בבל Migdal Bavel, Bahasa Arab: برج بابل‎ Burj Babil) adalah menara tertinggi di Bumi yang pernah dibangun di zaman Babylonia. Negara Babylonia ini berdiri setelah zaman Nabi Nuh AS pasca banjir bandang. Penduduk pada zaman itu dianugerahi dengan kekuatan-kekuatan fisik yang lebih dan keperawakan yang gagah dibanding dengan bangsa-bangsa lain. Menara inilah yang dikenal hingga saat ini sebagai simbol keangkuhan dan kesombongan manusia. Mitologi kuno menyebutkan bahwa dahulunya manusia hanya memiliki satu rumpun bahasa dan kemudian para manusia bepergian ke arah timur dan mendirikan sebuah menara yang sangat tinggi menjulang ke langit di sebuah tempat yang bernama Shinar. Ada banyak kisah yang menuturkan mengenai menara ini. Diantaranya bersumber dari Kitab Al Qur'an dan Kitab Injil.

Sumber Kisah[sunting | sunting sumber]

Kitab Al-Qur'an[sunting | sunting sumber]

Kaum 'Aad adalah kaum yang hidup setelah zaman Nabi Nuh AS. Keberadaan pembangunan menara ini dapat diketahui melalui surah-surah yang tertera didalam Kitab Al-Qur'an. Ada banyak surah yang menjelaskan tentang keadaan Kaum 'Aad saat itu. Ibukota kaum 'Aad adalah Iram. Terkenal dengan bangunan-bangunannya yang menjulang tinggi ke langit. Waktu itu tidak ada di kota lain seperti itu, hanya ada di Iram. Hal ini tertera didalam Surah Al Fajr (ayat 6-8) yang berbunyi

6. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad?
7. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,
8. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,

Sedangkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada Kaum 'Aad melebihi kaum-kaum lainnya. Hal ini tertera pada Kitab Al-Qur'an surah Al A'raf (ayat 69) berbunyi:

Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Al-A'raf:69)
Adapun kaum 'Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: "Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?" Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. (QS Al-Fushilat:1)

Adapun cemeti azab yang menimpa bangsa 'Aad dijelaskan sebagai berikut:

Dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.(QS. adz-Dzariyat : 41-42)
Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang (QS. al-Haqqah : 6)

Jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan Samud”. (QS. Fushshilat : 13).

Bukti-bukti akan cemeti azab itu telah diketahui menurut Book of Jubilee menara babel ini mempunyai tinggi 2,484 meter. Yang mana tingginya hampir dengan tinggi Gunung Merapi di Indonesia saat ini. Bukti kejayaan, ketinggian, dan cemeti azab yang menimpa kaum ini telah ditemukan dalam Mitologi bangsa-bangsa lain. Menjadi sebuah pelajaran bagi seluruh manusia bahwa kekuatan manusia tidaklah mutlak, tidak sepatutnya manusia menyombongkan diri dengan nikmat-nikmat yang sudah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Nikmat bisa menjadi kebahagiaan untuk manusia yang pandai bersyukur dan bisa menjadi malapetaka untuk manusia yang meningkarinya. Menara babel lembaran hitam tentang kesombongan dan keangkuhan terbesar yang pernah dilakukan manusia.

Kitab Injil[sunting | sunting sumber]

Pembacaan Kisah Para Rasul dalam Kitab Injil 2:1-11 1 Korintus 12:3b-7, 12-13 Injil: Yohanes 20:19-23. Cerita “Menara Babel” mengisahkan tentang anak-anak manusia yang menjadi sombong, mereka mahu membangun sebuah menara yang boleh mencapai langit dan dapat mencapai Tuhan. Tuhan mengacau bahasa mereka, sehingga mereka tidak saling mengerti, sehingga berakhirlah riwayat pembangunan Menara Babel itu bersama kesombongan para pembangunnya. Cerita itu pada dasarnya mahu mengatakan bahawa kesombongan manusia selalu menimbulkan salah pengertian sesama manusia. Dan ketidak saling pengertian itu akan menimbulkan kekacauan, rusuhan dan bencana. Dan memang sejak peristiwa Menara Babel itu, kisahkisah tentang kesombongan manusia dan keruntuhannya selalu berulang. Oleh kerana kesombongannya manusia tidak saling mengerti, sehingga apa saja yang telah dibangun boleh runtuh berkecai. Terhadap kesombongan manusia yang memecah belah dan meruntuhkan, Tuhan rupanya tidak berdiam diri. Pada peristiwa Pentakosta, Tuhan mengutus Roh- Nya untuk mempersatukan kembali yang terpecah belah, tercerai berai dan membangun kembali yang telah runtuh dengan bahasa Pentakosta, bahasa saling pengertian, seperti kita dengar dalam pembacaan pertama minggu ini.

Pada peristiwa Pentakosta itu dikurniakan kembali kepada manusia bahasa saling pengertian, bahasa persatuan yang telah hilang sejak peristiwa Menara Babel itu. Ketika Petrus tampil dan berbicara dalam bahasa ibunya, semua orang yang datang dari pelbagai sudut dunia tiba-tiba boleh mengerti. Mereka hairan dan berkata: “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengarkan mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri…” Bahasa yang saling tidak dimengerti sejak peristiwa Menara Babel itu sudah berakhir, dan sejak peristiwa Pentakosta bahasa yang tidak dimengerti itu ditemukan kembali. [1]

Tetapi sejarah rupanya selalu berulang, usaha membangun Menara Babel masih saja mahu dilakukan manusia, namun Tuhan pula senantiasa menciptakan “Pentakosta baru”. Negara kita juga, sejak sekian lama sebenarnya mengusahakan pembangunan. Pembangunan dalam segala bidang hidup. Bidang ekonomi, bidang budaya, bidang politik, hukum dan sebagainya. Tetapi mungkin kerana unsur kesombongan masih saja melekat pada diri kita dalam semua pembangunan itu. Kita berusaha untuk membangun yang serba hebat dan serba canggih tetapi jika tanpa mengikutsertakan Tuhan dalam pembangunan itu, sulit untuk dicapai hasilnya. [2]

Ada kebiasaan kita untuk berusaha memisahkan Tuhan dari pada pembangunan politik, hukum dan budaya kita. Pembangunan dipisahkan daripada agama, daripada iman dan moral. Oleh sebab itu, pembangunan kita terkesan tidak memiliki semangat iman dan moral. Politik dan budaya kita terkesan tidak beretika, tidak bermoral. Tuhan, iman dan moral hanya merupakan kata-kata hanya dimulut saja, yang digaungkan dalam upacara-upacara rasmi tanpa makna. Mungkin kerana itu, kita sekarang sedang mengalami krisis dalam pelbagai bidang hidup. Dan kata orang, akar dari segala krisis itu adalah krisis etika dan krisis moral itu. [3]

Dan salah satu krisis moral yang paling teruk adalah munculnya semangat mengutamakan kepentingan kumpulan yang melahirkan berbagai-bagai rusuhan dan kekacauan. Perpecahan sedang mengancam kita. Isu-isu perbezaan agama, perbezaan tingkat ekonomi dan sosial ditiup-tiup untuk melestarikan permusuhan antara golongan. Namun kita sebagai insan yang beriman, kita selalu boleh percaya bahawa Tuhan pasti tidak tinggal diam melihat keadaan gereja kita yang sedang diuji ini. Kita ada kesedaran dan kebangkitan baru yang dihembusi oleh Roh Tuhan. Kesedaran dan kebangkitan baru untuk membangun persaudaraan dan persatuan. Persatuan antara umat dan persatuan dari semua orang yang berkehendak baik tanpa membeza-bezakan agama, etnik, tingkat sosial dan golongan. Kita boleh percaya bahawa Roh Tuhan tengah berhembus di tengah- tengah kita. Dialah yang membawa bahasa yang saling dimengertikan itu kepada semua orang yang berkehendak baik. Roh akan berhembus ke mana Dia suka. Dan kita umat Katolik hendaknya merasa terpanggil untuk mengikuti arah hembusan Roh Tuhan itu. Dalam Injil hari ini Tuhan menasihatkan kepada kita; “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian sekarang Aku mengutus kamu”! Jadi saudara-saudari, kita dipanggil dan diutus untuk memberikan kesaksian tentang bahasa Pentakosta, bahasa yang saling dimengerti dan perdamaian. — Fr Valentine Gompok OFM Cap. [4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. Kitab Al Qur'an.
  2. Kitab Injil.
  3. Book of Genesis
  4. Hunter, Rahel. 2012. Sejarah Bahasa Manusia, Peristiwa Kejatuhan Menara Babel, dan Bahasa Pentakosta.. http://rahelhunter.wordpress.com/2012/11/01/sejarah-bahasa-manusiaperistiwa-kejatuhan-menara-babel-dan-bahasa-pentakosta (1 November 2012)
  5. Sudono Sentot, Anugerah. 2013. Kaum 'Aad, Menara Babel, Atlantis, Atlas, Adtyas (Devas), dan kaum Tsamud.. http://xeno101.blogspot.com/2013/10/kaum-aad-menara-babel-atlantis-dan-kaum.html (Oktober 2013)

Kategori:Agama