Kabupaten Deli Serdang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Deli Serdang
Lambang Kabupaten Deli Serdang.png
Lambang Kabupaten Deli Serdang
Moto: Bhinneka Perkasa Jaya[1]


Lokasi Sumatera Utara Kabupaten Deli Serdang.svg
Peta lokasi Kabupaten Deli Serdang
Koordinat: 2°57’-3°16’ LU
98°33’-99°27’ BT[2]
Provinsi Sumatera Utara
Tanggal 1 Juli 1946
Ibu kota Lubuk Pakam
Pemerintahan
 - Bupati Drs. H. Amri Tambunan
 - DAU Rp. 1.260.755.135.000.-(2013)[3]
Luas 2.808,91 km2
Populasi
 - Total 1.790.431 jiwa (2010)
 - Kepadatan 637,41 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 061 dan 0621
Pembagian administratif
 - Kecamatan 22[1]
 - Kelurahan 389 / 14[4]
 - Flora resmi Pisang barangan
 - Fauna resmi Walet Hitam
 - Situs web http://www.deliserdangkab.go.id

Kabupaten Deli Serdang adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini berada di Lubuk Pakam.

Kabupaten Deli Serdang dikenal sebagai salah satu daerah dari 25 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki keanekaragaman sumber daya alamnya yang besar sehingga merupakan daerah yang memiliki peluang investasi cukup menjanjikan. Selain memiliki sumber daya alam yang besar, Deli Serang juga memiliki keanekaragaman budaya, yang disemarakan oleh hampir semua suku-suku yang ada di nusantara. Adapun suku asli penghuni Deli Serdang adalah Suku Karo, Melayu, dan Simalungun; serta beberapa suku pendatang yang dominan seperti dari suku Jawa, Batak, Minang, Banjar, dan lain-lain.

Dulu wilayah ini disebut Kabupaten Deli dan Serdang, dan pemerintahannya berpusat di Kota Medan. Memang dalam sejarahnya, sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah ini terdiri dari dua pemerintahan yang berbentuk kerajaan (kesultanan) yaitu Kesultanan Deli berpusat di Kota Medan, dan Kesultanan Serdang berpusat di Perbaungan.

Bandar udara baru untuk kota Medan yang menggantikan Polonia, Bandara Kuala Namu, sebenarnya terletak di kabupaten ini.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebelum kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Kabupaten Deli Serdang yang dikenal sekarang ini merupakan dua pemerintahan yang berbentuk Kerajaan (Kesultanan) yaitu Kesultanan Deli yang berpusat di Kota Medan, dan Kesultanan Serdang berpusat di Perbaungan (± 38 km dari Kota Medan menuju Kota Tebing Tinggi).[1]

RIS[sunting | sunting sumber]

Dalam masa pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS), keadaan Sumatera Timur mengalami pergolakan yang dilakukan oleh rakyat secara spontan menuntut agar NST (Negara Sumatera Timur) yang dianggap sebagai prakarsa Van Mook (Belanda) dibubarkan dan wilayah Sumatera Timur kembali masuk Negara Republik Indonesia. Para pendukung NST membentuk Permusyawaratan Rakyat se Sumatera Timur menentang Kongres Rakyat Sumatera Timur yang dibentuk oleh Front Nasional.[1]

Negara-negara bagian dan daerah-daerah istimewa lain di Indonesia kemudian bergabung dengan NRI, sedangkan Negara Indonesia Timur (NIT) dan Negara Sumatera Timur (NST) tdak bersedia.

Negara kesatuan[sunting | sunting sumber]

Akhirnya Pemerintah NRI meminta kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk mencari kata sepakat dan mendapat mandat penuh dari NST dan NIT untuk bermusyawarah dengan NRI tentang pembentukan Negara Kesatuan dengan hasil antara lain Undang-Undang Dasar Sementara Kesatuan yang berasal dari UUD RIS diubah sehingga sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.[1]

Pembagian Sumatera Timur ke dalam 5 Afdeling[sunting | sunting sumber]

Atas dasar tersebut terbentuklah Kabupaten Deli Serdang seperti tercatat dalam sejarah bahwa Sumatera Timur dibagi atas 5 (lima) Afdeling, salah satu diantaranya Deli en Serdang, Afdeling ini dipimpin seorang Asisten Residen beribu kota Medan serta terbagi atas 4 (empat) Onderafdeling yaitu Beneden Deli beribu kota Medan, Bovan Deli beribu kota Pancur Batu, Serdang beribu kota Lubuk Pakam, Padang Bedagai beribu kota Tebing Tinggi dan masing-masing dipimpin oleh Kontrolir.[1]

Karesidenan Sumatera Timur[sunting | sunting sumber]

Selanjutnya dengan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Timur tanggal 19 April 1946, Keresidenan Sumatera Timur dibagi menjadi 6 (enam). Kabupaten ini terdiri atas 6 (enam) Kewedanaan yaitu Deli Hulu, Deli Hilir, Serdang Hulu, Serdang Hilir, Bedagei / Kota Tebing Tinggi pada waktu itu ibu kota berkedudukan di Perbaungan. Kemudian dengan Besluit Wali Negara tanggal 21 Desember 1949 wilayah tersebut adalah Deli Serdang dengan ibu kota Medan meliputi Lubuk Pakam, Deli Hilir, Deli Hulu, Serdang, Padang dan Bedagei.[1]

Kabupaten Deli dan Serdang[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 14 November 1956. Kabupaten Deli dan Serdang ditetapkan menjadi Daerah Otonom dan namanya berubah menjadi Kabupaten Deli Serdang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1948 yaitu Undang-Undang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah dengan Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956. Untuk merealisasikannya dibentuklah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Dewan Pertimbangan Daerah (DPD).[1]

Hari Jadi Kabupaten Deli Serdang[sunting | sunting sumber]

Tahun demi tahun berlalu setelah melalui berbagai usaha penelitian dan seminar-seminar oleh para pakar sejarah dan pejabat Pemerintah Daerah Tingkat II Deli Serdang pada waktu itu (sekarang Pemerintah Kabupaten Deli Serdang), akhirnya disepakati dan ditetapkanlah bahwa Hari Jadi Kabupaten Deli Serdang adalah tanggal 1 Juli 1946.[1]

Perpindahan ibu kota[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1984, ibu kota Kabupaten Deli Serdang dipindahkan dari Kota Medan ke Lubuk Pakam dengan lokasi perkantoran di Tanjung Garbus yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara tanggal 23 Desember 1986. Demikian pula pergantian pimpinan di daerah inipun telah terjadi beberapa kali.

Kabupaten besar sebelumnya[sunting | sunting sumber]

Dulu daerah ini mengelilingi tiga “daerah kota madya” yaitu kota Medan yang menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Utara, kota Binjai dan kota Tebing Tinggi disamping berbatasan dengan beberapa Kabupaten yaitu Langkat, Karo, dan Simalungun, dengan total luas daerah 6.400 km² terdiri dari 33 Kecamatan dan 902 Kampung.

Perubahan luas[sunting | sunting sumber]

Daerah ini, sejak terbentuk sebagai kabupaten sampai dengan tahun tujuh puluhan mengalami beberapa kali perubahan luas wilayahnya, karena kota Medan, Tebing Tinggi dan Binjai yang berada didaerah perbatasan pada beberapa waktu yang lalu meminta/mengadakan perluasan daerah, sehingga luasnya berkurang menjadi 4.397,94 km².

Diawal pemerintahannya Kota Medan menjadi pusat pemerintahannya, karena memang dalam sejarahnya sebagian besar wilayah kota Medan adalah “tanah Deli” yang merupakan daerah Kabupaten Deli Serdang. Sekitar tahun 1980-an, pemerintahan daerah ini pindah ke Lubuk Pakam, sebuah kota kecil yang terletak di pinggir jalan lintas Sumatera lebih kurang 30 kilometer dari Kota Medan yang telah ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Deli Serdang.

2004[sunting | sunting sumber]

Tahun 2004 Kabupaten ini kembali mengalami perubahan baik secara Geografi maupun Administrasi Pemerintahan, setelah adanya pemekaran daerah dengan lahirnya Kabupaten baru Serdang Bedagai sesuai dengan UU No. 36 Tahun 2003, sehingga berbagai potensi daerah yang dimiliki ikut berpengaruh.

Dengan terjadinya pemekaran daerah, maka luas wilayahnya sekarang menjadi 2.394,62 km² terdiri dari 22 kecamatan dan 403 desa/kelurahan, yang terhampar mencapai 3,34% dari luas Sumatera Utara.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

  1. Bangun Purba
  2. Batang Kuis
  3. Beringin
  4. Biru-Biru
  5. Deli Tua
  6. Galang
  7. Gunung Meriah
  8. Hamparan Perak
  9. Kutalimbaru
  10. Labuhan Deli
  11. Lubuk Pakam
  12. Namo Rambe
  13. Pagar Merbau
  14. Pancur Batu
  15. Pantai Labu
  16. Patumbak
  17. Percut Sei Tuan
  18. Sibolangit
  19. Sinembah Tanjung Muda Hilir
  20. Sinembah Tanjung Muda Hulu
  21. Sunggal
  22. Tanjung Morawa

Bupati[sunting | sunting sumber]

Tercatat dalam sejarah bahwa Bupati di Kabupaten Deli Serdang adalah[1]:

  1. Moenar S. Hamidjojo,
  2. Sampoerno Kolopaking,
  3. Wan Oemaroeddin Barus (1 Februari 1951 s.d 1 April 1958),
  4. Abdullah Eteng (1 April 1958 s.d 11 Januari 1963),
  5. Abdul Kadir Kendal Keliat (11 Januari 1963 s.d 11 November 1970),
  6. Haji Baharoeddin Siregar (11 November 1970 s.d 17 April 1978),
  7. Abdul Muis Lubis ( 17 April 1978 s.d 3 Maret 1979),
  8. H. Tenteng Ginting (3 Maret 1979 s.d 3 Maret 1984 ),
  9. H. Wasiman ( 3 Maret 1984 s.d 3 Maret 1989),
  10. H. Ruslan Mansur ( 3 Maret 1989 s.d 1994 ),
  11. H. Maymaran NS (3 Maret 1994 s.d 3 Maret 1999),
  12. Drs.H. Abdul Hafid, MBA (3 Maret 1999 s.d 7 April 2004),
  13. Drs. H. Amri Tambunan (periode 2004 s.d 2009),
  14. Drs. H. Amri Tambunan (periode 2009 s.d 2014).

Wakil Bupati[sunting | sunting sumber]

Perjalanan penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Deli Serdang, tercatat beberapa Bupati didampingi oleh seorang wakil Bupati. Pada pertengahan periode kepemimpinan (1997) H. Maymaran. MS, beliau didampingi oleh seorang wakil Bupati Drs. H. Rayo Usman Harahap, sesuai dengan Surat Keputusan Mendagri Nomor 132.22-141 tanggal 24 Februari 1977. Jabatan Wakil Bupati berlanjut dijabat oleh Drs. H. Rayo Usman Harahap pada periode Drs. H. Abdul Hafid, MBA. sampai dengan tahun 2002. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, jabatan Wakil Bupati merupakan satu paket dengan Bupati yang dipilih oleh anggota legislatif. Tahun 2003, Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Deli Serdang, terpilih Drs. H. Amri Tambunan yang berdampingan dengan Drs. Yusuf Sembiring, MBA., MM. sebagai Wakil Bupati untuk periode 2004 sampai dengan 2009. Tahun 2009, pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Deli Serdang, Drs. H. Amri Tambunan terpilih kembali menjadi Bupati berpasangan dengan Zainuddin MARS sebagai Wakil Bupati untuk periode 2009 sampai 2014[rujukan?].

Legislatif[sunting | sunting sumber]

Demikian pula halnya di legislatif, pimpinan di lembaga inipun sudah silih berganti mulai dari Ketua Dewan dijabat oleh Bonar Ginting, H. Mahmud Hasan, T.A. Muhaid Arief, dan Kapten M. Selamat.kemudian pada priode berikutnya terpilih menjadi Ketua Dewan adalah Letkol Gus Masinan, BA (1971 s.d 1982), H.M. Rizan ( 1982 s.d 1987), H.T. Abunawar Sinar (1987 s.d 1992), H. Iping Safei dilanjutkan oleh Usman DS (1992 s.d 1997), Kolonel Drs. H. Nusrin Siregar (1997 s.d 1999), Naik Tarigan, BBA (1999 s.d 2004) Tahun 2004 s.d 2009 H Wagirin Arman, tahun 2009 sampai saat ini Ketua DPRD Kabupaten Deli Serdang dijabat oleh Hj Fatmawaty Takrim[rujukan?].

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk Deli Serdang terdiri dari: Suku Melayu 55%, Suku Jawa 18%, Suku Karo 30%,[suku Nias] 40% selebihnya terdiri dari: Suku Batak, Minang, Tionghoa dll[rujukan?].

Referensi[sunting | sunting sumber]

Sumber[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]