Uji nyala api

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Uji nyala api dilakukan terhadap tembaga halida. Nyala api dengan warna khas hijau-kebiruan disebabkan oleh tembaga.
Jenis nyala api Pembakar Bunsen yang berbeda tergantung pada aliran udara yang melalui katup:
1. katup udara ditutup
2. katup udara nyaris tertutup
3. katup udara setengah terbuka
4. katup udara terbuka penuh.
Nyala api gas

Uji nyala api adalah suatu prosedur analisis yang digunakan dalam ilmu kimia untuk mendeteksi keberadaan unsur tertentu, terutama ion logam, berdasarkan karakteristik spektrum emisi masing-masing unsur. Warna nyala api secara umum juga bergantung pada temperatur; lihat warna nyala.

Uji ini melibatkan introduksi sampel suatu unsur atau senyawa ke dalam nyala api panas, tak berwarna, dan mengamati warna nyala yang dihasilkan. Ide pengujian ini adalah bahwa atom-atom sampel menguap dan karena panas, mereka mengemisikan sinar ketika berada dalam nyala api. Sampel curah juga memancarkan cahaya, tetapi cahayanya tidak baik untuk analisis. Sampel curah memancarkan cahaya terutama karena pergerakan atom-atomnya, sehingga spektrumnya lebar, yang terdiri dari rentang warna yang luas. Atom-atom sampel yang terpisah dalam nyala api dapat mengalami emisi hanya karena transisi elektron antara tingkat energi atom. Transisi tersebut mengemisikan cahaya dengan frekuensi yang sangat spesifik, yang tidak lain merupakan karakteristik unsur kimia itu sendiri. Oleh karena itu, nyala api menjadi berwarna, yang ditentukan terutama oleh sifat-sifat unsur kimia yang dimasukkan ke dalam nyala. Uji nyala api adalah percobaan yang relatif mudah dilakukan, sehingga sering didemonstrasikan atau dilakukan dalam kelas sains di sekolah-sekolah. Untuk keperluan analisis kualitatif anorganik, uji nyala api sering digunakan sebagai uji pendahuluan, dan termasuk uji organoleptik.

Sampel biasanya ditaruh pada seutas kawat platina yang dicuci berulang kali dengan asam klorida untuk menghilangkan sisa analit sebelumnya.[1] Senyawa biasanya dibuat menjadi pasta dengan asam klorida pekat, sebagai halida logam, yang mudah menguap, sehingga memberikan hasil yang lebih baik. Nyala api yang berbeda-beda harus dicoba untuk menghindari kesalahan data akibat nyala api yang "terkontaminasi", atau kadang-kadang untuk memverifikasi akurasi warna. Pada mata pelajaran kimia di sekolah menengah, kadang-kadang digunakan bidai (splint) kayu, karena larutan dapat dikeringkan di atasnya, dan harganya murah. Kadang-kadang juga digunakan kawat nikrom.[1] Penggunaan bidai harus dilakukan secara hati-hati dengan melambaikan bidai melewati nyala api, dan bukannya dengan memegangnya sehingga bidai terpapar nyala api dalam waktu lama. Hal ini untuk menghindari bidai terbakar. Penggunaan kapas pentul[2] (bahasa Inggris: cotton swab (US) atau cotton bud (UK)) atau busa melamin (yang digunakan pada spons penghapus)[3] sebagai penyangga juga telah disarankan.

Natrium adalah komponen atau kontaminan umum dalam banyak senyawa dan spektrumnya cenderung mendominasi warna nyala. Uji nyala api sering dilihat melalui kaca kobalt biru untuk menyaring warna kuning natrium dan memudahkan pengamatan ion logam lainnya.

Uji nyala api adalah praktik yang cepat dan mudah, dan dapat dilakukan dengan peralatan dasar yang dijumpai di sebagian besar laboratorium kimia. Namun, jumlah unsur yang terdeteksi positif pada kondisi ini sangat sedikit, mengingat pengujian ini lebih bergantung pada pengalaman subyektif pelaku percobaan daripada objek percobaan. Uji ini memiliki kesulitan dalam mendeteksi beberapa unsur dalam jumlah kecil, sementara jika terlalu besar juga cenderung memudarkan warna nyala hingga tidak muncul sama sekali.

Meskipun uji nyala api hanya memberikan informasi kualitatif, bukan data kuantitatif tentang proporsi unsur dalam sampel, data kuantitatif dapat diperoleh menggunakan teknik terkait yaitu fotometri nyala atau spektroskopi emisi nyala. Instrumen spektroskopi serapan atom nyala api, yang dibuat oleh misalnya Perkin Elmer atau Shimadzu, dapat dioperasikan pada moda emisi menurut panduan peralatan.[4]

Unsur-unsur umum[sunting | sunting sumber]

Beberapa unsur umum dan warna nyalanya sebagai berikut:

Simbol Nama Warna Gambar
Al Aluminium Putih perak, dalam kondisi sangat panas seperti busur listrik, biru terang
As Arsen Biru FlammenfärbungAs.jpg
B Boron Hijau terang FlammenfärbungB.png
Ba Barium Hijau pucat/apel
Be Berilium Putih
Bi Bismut Biru langit
Ca Kalsium Merah bata FlammenfärbungCa.png
Cd Kadmium Merah bata
Ce Serium Biru
Co Kobalt Putih perak (kadang-kadang dilaporkan sebagai hijau kebiruan)
Cr Krom Putih perak (kadang-kadang dilaporkan sebagai hijau kebiruan)
Cs Sesium Ungu biru
Cu(I) Tembaga(I) Hijau kebiruan
Cu(II) Tembaga(II) (non-halida) Hijau Uji nyala api tembaga sulfat
Cu(II) Tembaga(II) (halida) Hijau-biru
Ge Germanium Biru pucat
Fe(II) Besi(II) Emas, ketika sangat panas seperti busur listrik, biru terang, atau hijau yang berubah menjadi coklat jingga
Fe(III) Besi(III) Coklat jingga Nyala api besi(III), dihasilkan menggunakan reaksi termit
Hf Hafnium Putih
Hg Raksa Merah
In Indium Indigo/Biru
K Kalium Lilak FlammenfärbungK.png
Li Litium merah krimson; tak terlihat melalui kaca hijau FlammenfärbungLi.png
Mg Magnesium (tidak ada), tetapi untuk logam Mg yang terbakar adalah putih intensif
Mn (II) Mangan (II) Hijau kekuningan
Mo Molibdenum Hijau kekuningan
Na Natrium Kuning terang; tak tampak melalui kaca biru kobalt Flametest--Na.swn.jpg
Nb Niobium Hijau atau biru
Ni Nikel Putih keperakan (kadang-kadang dilaporkan sebagai tak berwarna atau hijau kebiruan)
P Fosforus Hijau kebiruan pucat
Pb Timbal Biru/putih FlammenfärbungPb.png
Ra Radium Merah krimson
Rb Rubidium Merah-ungu Die Flammenfärbung des Rubidium.jpg
Sb Antimon Hijau pucat FlammenfärbungSb.png
Sc Skandium Jingga
Se Selenium Biru azure (biru langit)
Sn Timah Biru-putih
Sr Stronsium Merah tua [krimson hingga kirmizi (scarlet)], kekuningan jika dilihat melalui kaca hijau dan

ungu jika dilihat melalui kaca kobalt

FlammenfärbungSr.png
Ta Tantalum Biru
Te Telurium Hijau pucat
Ti Titanium Putih keperakan
Tl Talium Hijau murni
V Vanadium Hijau kekuningan
W Tungsten Hijau
Y Itrium Merah tua (Carmine, Crimson, atau Scarlet)
Zn Seng Tak berwarna (kadang-kadang dilaporkan sebagai hijau kebiruan) Zinc burning.JPG
Zr Zirkonium Merah lembut

Emas, perak, platina, paladium, dan sejumlah unsur lainnya tidak menghasilkan warna nyala api karakteristik meskipun beberapa dapat menimbulkan percikan (seperti logam titanium dan besi) dan garam berilium serta emas dilaporkan terkumpul sebagai logam murni pada pendinginan.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Jim Clark (2005). "Flame Tests". Chemguide. 
  2. ^ Sanger, Michael J.; Phelps, Amy J.; Catherine Banks (2004). "Simple Flame Test Techniques Using Cotton Swabs". Journal of Chemical Education 81 (7): 969. doi:10.1021/ed081p969 
  3. ^ Landis, Arthur M.; Davies, Malonne I.; Landis, Linda; Nicholas c. Thomas (2009). ""Magic Eraser" Flame Tests". Journal of Chemical Education 86 (5): 577. doi:10.1021/ed086p577 
  4. ^ "Atomic Absorption (AA)". Perkin Elmer. Diakses tanggal 2 May 2013. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]