Senapelan, Pekanbaru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Senapelan
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Riau
Kota Pekanbaru
Pemerintahan
 • Camat -
Luas - km²
Jumlah penduduk -
Kepadatan - jiwa/km²
Desa/kelurahan 6 kelurahan

Senapelan adalah sebuah Kecamatan di Kota Pekanbaru, Riau, Indonesia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sultan Siak ke 4, Sultan Alamuddin naik tahta atas bantuan Belanda, namun ia tidak mau mendapat kekangan dari mereka dalam urusan pemerintahan. Apalagi setelah semakin tampak kelakuan buruk Belanda yang lantas menancapkan kuasa di Mempura dan menguasai jalur perdagangan Sungai Siak. Selain itu, para orang-orang besar pengikut sultan sebelumnya menampakkan ketidaksenangan atas perubahan pucuk kekuasaan itu. Maka, diutuslah Agam dari suku Limapuluh untuk meninjau bandar Senapelan dan berunding dengan batin (kepala suku)nya untuk dijadikan pusat kekuasaannya yang baru. Kemudian setelah dipersiapkan segala sesuatunya, beliau membawa serta seluruh perangkat kerajaan dan pindah ke Senapelan.

Senapelan yang merupakan simpang lalu lintas perdagangan itu semakin ramai setelah menjadi ibukota Siak. Baginda membangun sebuah pekan (pasar) untuk mengurangi peran Petapahan yang sebelumnya menjadi pekan bagi saudagar-saudagar dari tanah Minangkabau. Selanjutnya, baginda membuka jalur transportasi menghubungkan dengan negeri-negeri penghasil lada, damar, kayu, gambir, dan rotan. Jalur tersebut menuju ke selatan sampai ke Teratak Buluh dan Buluh Cina dan ke barat sampai ke Bangkinang terus ke Rantau Berangin.

Perekonomian yang semakin maju di Senapelan tersebut telah memotong jalur perdagangan ke hilir sungai Siak. Akibatnya, Mempura menjadi sepi dan Belanda dirugikan. Kerugian besar tersebut bahkan mendesak Belanda untuk menutup lojinya di Pulau Guntung pada tahun 1765.

Sultan Alamuddin mangkat di Senapelan pada tahun 1766 dan Muhammad Ali naik tahta dengan gelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Ia meneruskan usaha ayahnya membangun bandar Senapelan yang kemudian dikenal dengan nama Pekanbaru. Bandar ini menjadi pusat perdagangan di hulu sungai Siak, bahkan para saudagar Petapahan mulai menjual dagangan mereka ke Senapelan.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Muchtar Lutfi, Suwardi MS, dkk (1998/ 1999), Sejarah Riau, Biro Bina Sosial Setwilda Tk. I Riau.