Pusat Kesenjataan Infanteri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Pussenif)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pusat Kesenjataan Infanteri
Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Darat
Logo Infanteri TNI AD.png
Lambang Korps Infanteri TNI AD
NegaraIndonesia
CabangTNI Angkatan Darat
Tipe unitPusat Kesenjataan Infanteri
Bagian dariTentara Nasional Indonesia
MarkasBandung, Jawa Barat
JulukanPussenif
MotoYudha Wastu Pramuka
Situs webpussenif.mil.id
Komandan tempur
DanpussenifMayor Jenderal TNI Teguh Pudjo Rumekso
Wadan PussenifBrigadir Jenderal TNI Agus Subiyanto

Pusat Kesenjataan Infanteri atau Pussenif Kodiklat TNI AD adalah Badan pelaksana Kodiklat TNI AD yang berkedudukan langsung di bawah Dankodiklat TNI AD di bidang doktrin, pendidikan, dan latihan antar kecabangan serta sebagai staf khusus Kasad di bidang pembinaan kesenjataan dan penelitian serta pengembangan Infanteri. Pussenif memiliki tugas pokok menyelenggarakan pembinaan kesenjataan Infanteri, pendidikan dan latihan, penelitian dan pengembangan Infanteri serta Lintas Udara di lingkungan Angkatan Darat dalam rangka pembinaan kemampuan dan kekuatan satuan Infanteri. Pussenif berkedudukan langsung di bawah Dankodiklat TNI AD dan bertempat di Bandung.

Tugas pokok[sunting | sunting sumber]

Pussenif Kodiklat TNI AD bertugas menyelenggarakan pembinaan kesenjataan Infanteri, Pendidikan, Latihan, Penelitian dan Pengembangan Infanteri di lingkungan TNI Angkatan Darat dalam rangka mendukung tugas pokok Kodiklat TNI AD.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Periode 1946 - 1949[sunting | sunting sumber]

Begitu Kemerdekaan Indonesia di Proklamirkan, segera bangkitlah para pemuda dari berbagai lapisan dan berbagai kelompok, untuk secara kesadaran ikut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan serta menegakan kedaulatan Negara Republik Indonesia yang baru lahir. Mereka itulah yang kemudian hari tumbuh menjadi Prajurit TNI AD. Para pemuda bekas Heiho, PETA, Seinendan dan KNIL telah memiliki bekal latihan/pengalaman kemiliteran; namun tidak sedikit para pemuda yang karena semangat pengabdian telah ikut berjuang walaupun tanpa berbekal pengalaman Kemiliteran. Sejak saat itu fungsi pendidikan dan latihan pada hakekatnya benar-benar telah dirasakan kebutuhannya. Lembaga pendidikan yang tertua dalam ketentaraan adalah “Pusat Pendidikan Ketentaraan” yang lazim di kenal dengan singkatan PPKKP.

Lembaga ini membawahi dan mengkoordinasikan lembaga-lembaga pendidikan yang ada pada waktu itu, diantaranya:

Lembaga-lembaga Pendidikan tersebut mengggunakan tenaga Guru, instruktur dan pelatih para personil yang telah berpengalaman dalam PETA, Heiho, KNIL dan lain-lainnya.

Periode 1950 - 1958[sunting | sunting sumber]

Setelah pengakuan kedaulatan, tepatnya pada tanggal 9 Mei 1950 dimulailah penyerahan lembaga-lembaga pendidikan dari Tentara Kerajaan Belanda kepada Direktorat Pendidikan Angkatan Darat (DPAD). Lembaga-lembaga yang diserahkan tersebut diantaranya; Sekolah Perwira Cadangan, Sekolah Dasar Infanteri, sekolah Perhubungan, Sekolah Pasukan Berlapis Baja, Sekolah Zeni, Sekolah Pengemudi Kendaraan Bermotor dan lain-lain. Dengan modal DPAD dan lembaga-lembaga yang diterima dari Belanda tersebut, pada bulan Agustus 1950 dibentuk:

  • Pusat Pendidikan Perwira angkatan Darat disingkat (P3AD) di Bandung, (P3AD) ini membawahi sekolah Perwira Cadangan, sekolah Pelatih dasar Infanteri (SPDI) dan pendidikan Guru dan Instruktur (PGI).
  • Pusat Pendidikan Infanteri disingkat PPI di Bandung dan Cimahi, yang membawahi sekolah Ulangan Perwira (SUP), Sekolah Senjata Berat Infanteri (SBI) dan Sekolah Pengemudi Kendaraan Bermotor (SPKB). Sejalan dengan perkembangan organisasi, maka untuk mengkoordinasikan kegiatan kegiatan pendidikan tingkat pusat dan daerah dibentuk Direktorat Infanteri yang membawahi Pusat Pendidikan Infanteri yang di Bandung dan Cimahi dan sekolah-sekolah Depot Infanteri (DBI) di teritorium-teritorium tertentu.

Periode 1959 - 1961[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 5 Agustus 1958 keluarlah penetapan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor TAP 0-5. dengan berlakunya TAP 0-5 ini maka Pusat-pusat Pendidikan dari cabang, Kesenjataan, Dinas dan Jawatan dirubah menjadi Resimen-Resimen Induk. Begitu pula untuk memenuhi kebutuhan Pendidikan dan latihan bagi personil cabang Infanteri di daerah dibentuklah Resimen Induk Infanteri (Rinif) dan Kodam-kodam, dengan SKI dan DBI sebagai jajaran bawahannya.

Sedang Pusat Pendidikan Infanteri (PPI) diubah menjadi Resimen Induk Infanteri Pusat (Rinifpus) yang bertugas mengendalikan Pendidikan/latihan yang diselenggarakan di Rinif-Rinif.

Jatuhnya kembali Kota Ambarawa ke tangan pasukan kita pada tanggal 15 Desember 1945 di bawah pimpinan seorang ahli strategi dan taktik yang ulung yaitu almarhum Jenderal Sudirman didahului oleh suatu manuver pasukan secara besar-besaran sebagai pemusatan tenaga. Dengan pengesahan Kasad dalam radiogram Nomor T/5179/1950 tanggal 21 Desember 1959 Rinifpus dirubah kembali menjadi “ Pusat Infanteri” dengan tugas pokoknya: Pembinaan Kesenjataan, Pembinaan Korps, dan pembinaan Pendidikan dan Latihan (Ketiga tupok ini selanjutnya menjadi “Fungsi-fungsi Utama” Pusif TNI AD.

Periode 1962 - 1967[sunting | sunting sumber]

Dengan adanya Revisi TAP 0-5 pada tahun 1961, dibentuklah Pusat Kesenjataan Infanteri (disingkat Pussenif) dan Pusat Pendidikan Infanteri (disingkat Pusdikif). Pengesahan organisasi Pussenif ini dinyatakan dalam radiogram KASAD Nomor T/709/1962 tanggal 16 Maret 1962. Dalam radiogram ini dinyatakan bahwa Pussenif merupakan bagian dari Koplat, namun Surat keputusan Men/Pangad Nomor Kep/1588/XI/1962 tanggal 15 Nopember 1982 kemudian dinyatakan pemisahan Pussenif secara organik dan administratif dari Koplat.

Sedang surat keputusan Men/Pangad Nomor Kep/826/VI/1962 tanggal 20 Juni 1962 menjadi dasar lahir Pusat Pendidikan Infanteri yang merupakan bagian dari Pussenif.

Sementara itu, Sekolah Para dan Komandan angkatan darat (SPKAD) yang menurut TAP 0-5 menjadi organik Pussenif/Pusdikif dialihkan ke dalam Komando Angkatan darat (RPKAD). Surat keputusan Men/Pangad Nomor Kep/271/III/1963 yang terbit tanggal 20 Maret 1963 memberikan kejelasan tentang kedudukan, tugas pokok dan fungsi utama Pussenif.

Periode 1968 - 1984[sunting | sunting sumber]

Selanjutnya dengan perkembangan organisasi TNI AD, dikeluarkan surat keputusan Kasad Nomor Skep/664/XI/1970 tanggal 7 Nopember 1970 sebagai dasar Penyelenggaraan dan pelaksanaan organisasi dan tugas Pussenif sejak tahun 1970. Syarat keputusan Kasad Nomor Skep/33/XI/1978 tanggal 15 Nopember 1978 tentang organisasi dan tugas pokok Pusifad yang merupakan suatu komando pelaksanaan yang secara organik dan administratif berada di bawah kobang diklat; dan keputusan Kasad Nomor Kep/39/VI/1979 tanggal 15 Juni 1979 tentang DAF/DSPP Pusifad merupakan dasar Penyelenggaraan dan pelaksanaan organisasi dan pelaksanaan organisasi dan tugas Pusifad hingga sekarang. Untuk menyusun dan mengatur pengorganisasian Pusifad sesuai dengan Keputusan-keputusan Kasad tersebut Danpussenif mengeluarkan Surat Perintah Nomor Sprin/106/I/1980 tanggal 22 Januari 1980.

Periode 1985 - 2006[sunting | sunting sumber]

Sejalan dengan perkembangan Organisasi TNI AD, dikeluarkan Surat Keputusan Kasad Nomor Kep/21/V/1985 tanggal 21 Mei 1985 sebagai dasar penyelenggara dan pelaksanaan organisasi dan tugas pokok Pussenif yang merupakan badan pelaksanaan Pusat di tingkat Mabesad.

Periode 2006 - sekarang[sunting | sunting sumber]

Pussenif Kodiklat TNI AD adalah Staf Khusus Kasad di bidang Pembinaan Kesenjataan dan Penelitian serta Pengembangan Infanteri dan sebagai badan pelaksana Kodiklat TNI AD di bidang Doktrin, Pendidikan dan Latihan yang berkedudukan langsung di bawah Dankodiklat TNI AD.

Lahirnya Hari Infanteri[sunting | sunting sumber]

Latar belakang historis lahirnya hari Infanteri tidak terlepas dari keberhasilan perang gerilya yang dilakukan TNI di bawah komando Panglima Besar Jenderal Sudirman, seperti serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogya, serangan offensif 4 hari 4 malam (7 s.d 10 Agusrus 1949) di Solo dan keberhasilan lainnya diseluruh wilayah tanah air.

Perang gerilya ini dilakukan berdasarkan Keputusan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang tertuang dalam Perintah Kilat No. 1/PB/D/48 tanggal 19 Desember 1948 maka satuan-satuan Angkatan Perang yang didukung oleh masyarakat melaksanakan Perang Gerilya di seluruh daerah, karena persenjataan dan perlengkapan yang sangat terbatas tidak ada jalan lain kecuali menggunakan cara-cara Infanteri dalam menghadapi Tentara Belanda sehingga setiap pertempuran dapat dimenangkan, oleh karena itu tidak berlebihan bila tanggal 19 Desember 1948 merupakan hari kebanggaan Korp Infanteri.

Infanteri di TNI AD[sunting | sunting sumber]

Lambang Korps Infanteri TNI Angkatan Darat
Infanteri Baret Merah

Walaupun Indonesia adalah negara kepulauan, sebagian besar tentara Indonesia terdiri dari pasukan Infanteri, hal ini terjadi karena pengadaan pasukan Infanteri adalah hal yang paling mudah dan murah. Infanteri adalah korps yang terbesar dan menjadi tulang punggung di jajaran TNI-AD. TNI AD Memiliki lebih dari 100 Batalyon Infanteri atau sering juga disebut Yonif dan 1 Pusat Pendidikan Infanteri. Setiap tanggal 15 Desember dalam lingkungan TNI-AD diadakan peringatan Hari Juang Kartika TNI-AD atau dulu biasa disebut sebagai hari Infanteri TNI-AD. Selain Batalyon Infanteri yang berada di bawah Komando TNI AD, masih terdapat 10 Batalyon Infanteri Marinir yang berada di bawah komando Korps Marinir TNI AL.

Batalyon Infanteri[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat terdiri dari pasukan Infanteri, hal ini terjadi karena pengadaan pasukan Infanteri adalah hal yang paling mudah dan murah. Infanteri adalah korps yang terbesar dan menjadi tulang punggung di jajaran TNI Angkatan Darat.

Komandan Pussenif[sunting | sunting sumber]

Komandan Pussenif saat ini dijabat oleh Mayjen TNI Winston Pardamean Simanjuntak (Akmil 1981) menggantikan Mayjen TNI I Made Agra Sudiantara (Akmil 1985) yang meninggal dunia.

  1. Letnan Kolonel Inf Soemitro (1959 - 1962)
  2. Brigadir Jenderal TNI Agus Siswadi (1962 - 1966)
  3. Brigadir Jenderal TNI R. Soenaryadi (1966 - 1970)
  4. Brigadir Jenderal TNI Mung Parahadimulyo (1970 - 1971)
  5. Brigadir Jenderal TNI R. Djohari (1971 - 1971)
  6. Brigadir Jenderal TNI Suprapto (1971 - 1973
  7. Brigadir Jenderal TNI Amir Yudowinano (1973 - 1975)
  8. Brigadir Jenderal TNI Kisrad Soetrisno (1975 - 1977)
  9. Brigadir Jenderal TNI M. Sanif (1977 - 1979)
  10. Brigadir Jenderal TNI Ngudiono (1979 - 1983)
  11. Brigadir Jenderal TNI H. Simanjuntak (1983 - 1983)
  12. Brigadir Jenderal TNI Feisal Tanjung (1983 - 1985)
  13. Brigadir Jenderal TNI Samsudin (1985 - 1987)
  14. Mayor Jenderal TNI Sintong Panjaitan (1987 - 1988)
  15. Mayor Jenderal TNI Suparman Achmad (1988 - 1992)
  16. Mayor Jenderal TNI Sofian Effendi (1992 - 1993)
  17. Mayor Jenderal TNI Yunus Yosfiah (1993 - 1994)
  18. Mayor Jenderal TNI Arifin Tarigan (1994 - 1995)
  19. Mayor Jenderal TNI HA Rivai (1995 - 1995)
  20. Mayor Jenderal TNI Rachmat HS. Mokoginta (1995 - 1996)
  21. Mayor Jenderal TNI Luhut Binsar Panjaitan (1996 - 1997)
  22. Mayor Jenderal TNI Sumardi (1997 - 1998)
  23. Mayor Jenderal TNI Sutardjo (1998 - 1999)
  24. Mayor Jenderal TNI H.A.Rachman Gaffar (1999 - 2000)
  25. Mayor Jenderal TNI Ismed Yuzairi (2000 - 2002)
  26. Mayor Jenderal TNI Songko Purnomo (2002 - 2003)
  27. Mayor Jenderal TNI Asril H. Tanjung (2003 - 2004)
  28. Mayor Jenderal TNI Arief Budi Sampurno (2004 - 2005)
  29. Mayor Jenderal TNI Bambang Darmono (2005 - 2006)
  30. Mayor Jenderal TNI Tri Subagio (2006 - 2008)
  31. Mayor Jenderal TNI Drs. Nartono, S.H (2008 - 2009)
  32. Mayor Jenderal TNI Soenarko (2009 - 2010)
  33. Mayor Jenderal TNI Siswondo, S.Ip (2010 - 2011)
  34. Mayor Jenderal TNI Wisnu Bawa Tenaya (2011 - 2011)
  35. Mayor Jenderal TNI Erwin Hudawi Lubis (2011 - 2011)
  36. Mayor Jenderal TNI Nugroho Widyotomo (2011 - 2012)
  37. Mayor Jenderal TNI Dedi Kusnadi Thamim (2012 - 2012)
  38. Mayor Jenderal TNI M. Nasir Majid (2012 - 2013)
  39. Mayor Jenderal TNI I Made Agra Sudiantara (2013 - 2013)
  40. Mayor Jenderal TNI Winston Pardamean Simanjuntak (2014 - 2014)
  41. Mayor Jenderal TNI Hinsa Siburian (2014 - 2015)
  42. Mayor Jenderal TNI Prihadi Agus Irianto (2015 - 2016)
  43. Mayor Jenderal TNI Surawahadi (2016 - 2018)
  44. Mayor Jenderal TNI Tri Soewandono (2018 - 2018)
  45. Mayor Jenderal TNI Teguh Pudjo Rumekso (2018 - Sekarang)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]