Lompat ke isi

Komando Daerah Militer IV/Diponegoro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Komando Daerah Militer IV/Diponegoro
Lambang Kodam VII/Diponegoro
Dibentuk5 Oktober 1950[1]
NegaraIndonesia Indonesia
Tipe unitKomando Daerah Militer
Bagian dariTNI Angkatan Darat
MarkasSemarang, Jawa Tengah
MotoSirnaning Yakso Katon Gapuraning Ratu, Dipo Pratomo Tumbal Negoro
Baret HIJAU 
HimneMars Diponegoro
Situs webkodam4.mil.id
Tokoh
PanglimaMayor Jenderal TNI Deddy Suryadi
Kepala StafBrigadir Jenderal TNI Budi Irawan
InspekturBrigadir Jenderal TNI Yudi Pranoto
Kepala Kelompok Staf AhliBrigadir Jenderal TNI Bambang Sujarwo

Komando Daerah Militer IV/Diponegoro (disingkat Kodam IV/DIP) merupakan Komando kewilayahan pertahanan militer yang meliputi provinsi Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Markas Komando berada di Jl. Perintis Kemerdekaan, Watugong, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kelahiran Kodam 04 Diponegoro tidak dapat dipisahkan dari jiwa dan semangat Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, karena Proklamasi merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia dalam rangkaian sejarah perjuangan nasional. Untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru berdiri tersebut, maka dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 22 Agustus 1945, dibentuklah suatu badan yang bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang merupakan bagian dari badan lainnya yaitu Badan Penolong Keloearga Korban Perang (BPKKP). Rakyat Indonesia menyambut dengan gembira pembentukan BKR tersebut, termasuk pula rakyat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang segera membentuk BKR.

Dalam perkembangannya pada tanggal 5 Oktober 1945 BKR ditingkatkan menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sejalan dengan itu di wilayah Jawa Tengah dibentuk organisasi pejuang kemerdekaan bersenjata yang merupakan embrio dari Kodam VII/Diponegoro dan terdiri dari empat Divisi, yaitu:

  1. TKR Divisi 04 Di bawah pimpinan Kolonel GPH Djatikoesoemo, meliputi daerah Karesidenan Pekalongan, Semarang dan Pati dengan Markas Divisi di kota Salatiga.
  2. TKR Divisi 05 Di bawah pimpinan Kolonel Soedirman, meliputi daerah Karesidenan Kedu dan Banyumas, Markas Divisi di Kota Poerwokerto.
  3. TKR Divisi 09 Di bawah pimpinan Kolonel Soedarsono meliputi daerah Yogyakarta dengan Markas Divisi di kota Jogjakarta.
  4. TKR Divisi 10 Di bawah pimpinan Kolonel Soetarto meliputi daerah Surakarta dengan Markas Divisi di Kota Soerakarta.

Sementara pembentukan Organisasi TKR Jawa Tengah sedang berjalan, di beberapa kota terjadi pertempuran untuk menegakkan kemerdekaan yaitu merebut senjata dari pihak Jepang. Organisasi TKR mengalami perkembangan menjadi Tentara Keselamatan Rakyat (TKR), dengan penetapan Pemerintah Nomor: 2 / S.D / 1946 tanggal 7 Januari 1946. Selanjutnya disempurnakan lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dengan maklumat pemerintah tanggal 25 Januari 1946 dan akhirnya pada tanggal 3 Juni 1947 TRI diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dengan diresmikannya TNI, maka semua laskar perjuangan dilebur menjadi satu dan masuk ke dalam TNI. Organisasi TNI Jawa Tengah dan sekitarnya disusun sebagai berikut:

  1. Divisi 02 Sunan Gunung Jati, dipimpin oleh Mayor Jenderal Gatot Soebroto, meliputi daerah Cirebon, Tegal/Brebes dan Banyumas.
  2. Divisi 03 Pangeran Diponegoro, dipimpin oleh Mayor Jenderal R. Soesalit, meliputi daerah Pekalongan, Kedu, Yogyakarta, Pemalang dan Kendal.
  3. Divisi 04 Panembahan Senopati, dipimpin oleh Mayor Jenderal Soetarto, meliputi daerah Semarang, Surakarta dan Pacitan.
  4. Divisi 05 Ronggolawe, dipimpin oleh Mayor Jenderal GPH Djatikoesoemo, meliputi daerah Pati, Bojonegoro dan Madiun.

Pada HUT ke-1 Angkatan Perang Republik Indonesia tanggal 5 Oktober 1946 diadakan parade di alun‑alun Yogyakarta. Dalam upacara tersebut Presiden RI memberi nama dan menyerahkan Panji-panji kepada Divisi-divisi di Jawa Tengah. Panji Diponegoro untuk Divisi 03 yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Divisi Diponegoro. Dalam rangka meningkatkan kemampuan TNI, maka berdasarkan Penetapan Presiden 1949 No.: 14 tanggal 4 Mei 1948, pemerintah melakukan Rekonstruksi dan Rasionalisasi (RE‑RA) dengan sasaran penyusunan personil menjadi pasukan tempur dan pasukan teritorial. Dengan adanya RE‑RA tersebut, maka Divisi 02 Sunan Gunung Jati, Divisi 03 Pangeran Diponegoro dan Divisi 05 Ronggolawe digabung menjadi satu divisi di bawah pimpinan Kolonel Bambang Soegeng. Sedangkan Divisi 04 Panembahan Senopati menjadi Komando Pertempuran Panembahan Senopati. Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan Penetapan Presiden Nomor: 23 tahun 1948 Divisi Jawa Tengah dibagi menjadi dua Daerah Militer Istimewa (DMI), yaitu DMI 02 di bawah Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto dan DMI 03 di bawah Gubernur Militer Kolonel Bambang Soegeng.

Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Nomor: 5/D/AP/49 tanggal 31 Oktober 1949 kedua Divisi tersebut digabungkan menjadi satu dengan nama Divisi 03 dan Kolonel Gatot Soebroto ditetapkan sebagai Panglima. Setelah berakhirnya Perang kemerdekaan, TNI memasuki masa konsolidasi. Dalam masa konsolidasi terjadi perubahan organisasi karena wilayah RI disusun menjadi 7 Tentara Teritorium (TT). Daerah Jawa Tengah termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta, disusun menjadi satu Tentara Teritorium (TT) dan selanjutnya sebagai realisasi dari Penetapan Kasad Nomor: 83/KSAD/PNTP/1950 tanggal 20 Juli 1950 menjadi Tentara Teritorium 04 Djawa Tengah dengan Panglima Kolonel Gatot Soebroto yang berkedudukan di Semarang. Dalam rangka memelihara kesatuan jiwa, sikap dan korps, berdasarkan Keputusan Panglima TT 04 Jawa Tengah Nomor: 34/B-4/D-03/1950 tanggal 5 Oktober 1950 diresmikan pemakaian satu-satunya badge Divisi Diponegoro untuk seluruh TNI di Provinsi Jawa Tengah.

Panglima[sunting | sunting sumber]

Saat ini, Kodam IV/Diponegoro dipimpin oleh seorang Panglima Kodam (Pangdam) yang berpangkat Mayor Jenderal. Saat ini jabatan Pangdam diduduki oleh Mayjen TNI Deddy Suryadi.

Satuan[sunting | sunting sumber]

Satuan Wilayah[sunting | sunting sumber]

Satuan Tempur dan Bantuan Tempur[sunting | sunting sumber]

Satuan Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • Sekolah Calon Tamtama (SECATA A)
  • Sekolah Calon Bintara (SECABA)
  • Depo Pendidikan dan Latihan Tempur (DODIKLATPUR)
  • Depo Pendidikan Kejuruan (DODIKJUR)
  • Depo Pendidikan Bela Negara (DODIKBELNEG)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro (1968). Semdam VII/Diponegoro. Komando Daerah Militer VII/Diponegoro. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]