Masjid Raya Sumatra Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 0°55′26″S 100°21′44″E / 0.92380°S 100.3623°E / -0.92380; 100.3623

Masjid Raya Sumatra Barat
مسجد راي سومترا بارت
Pekarangan Masjid Raya Sumbar 2018.jpg
Informasi umum
LetakKota Padang, Sumatra Barat, Indonesia
KepemimpinanPemerintah Provinsi Sumatra Barat
Deskripsi arsitektur
ArsitekRizal Muslimin
Peletakan batu pertama21 Desember 2007
Tahun selesai4 Januari 2019
Biaya pembangunanSekitar Rp325–330 miliar
Spesifikasi
Kapasitas5.000–6.000 orang
Tinggi (maks)47 meter (154 kaki)
Menara1
Tinggi menara85 meter (279 kaki)

Masjid Raya Sumatra Barat (Jawi: مسجد راي سومترا بارت) adalah masjid terbesar di Sumatra Barat yang terletak di Jalan Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Diawali peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007, pembangunannya tuntas pada 4 Januari 2019 dengan total biaya sekitar Rp325–330 miliar, sebagian besar menggunakan dana APBD Sumatra Barat. Pengerjaannya dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran dari provinsi.

Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang salat terletak di lantai atas, memiliki teras yang melandai ke jalan. Denah masjid berbentuk persegi yang melancip di empat penjurunya, mengingatkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau rumah gadang.

Masjid Raya Sumatra Barat menurut rencana dibangun dengan biaya sedikitnya Rp500 miliar karena rancangannya didesain dengan konstruksi tahan gempa. Kerajaan Arab Saudi pernah mengirim bantuan sekitar Rp500 miliar untuk pembangunan masjid, tetapi karena terjadi gempa bumi pada 2009, peruntukan bantuan dialihkan oleh pemerintah pusat untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatra Barat. Pada 2015, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meminta anggaran pembangunan dipangkas.[1][2] Pemangkasan anggaran membuat desain masjid berubah di tengah jalan, termasuk jumlah menara dari awalnya empat menjadi satu.[3][4]

Pembangunan[sunting | sunting sumber]

Peletakan batu pertama[sunting | sunting sumber]

Kompleks Masjid Raya Sumatra Barat menempati area seluas 40.343 meter persegi di perempatan Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan Ahmad Dahlan. Bangunan utama yakni masjid terdiri dari tiga lantai dengan denah seluas 4.430 meter persegi. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan dilakukan pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatra Barat Gamawan Fauzi.

Meski belum rampung, Masjid Raya Sumbar telah diperkenalkan kepada publik untuk kegiatan terbatas sejak 2012

Sampai 2012, pengerjaan pembangunan masjid telah melewati empat tahap. Tahap pertama untuk menyelesaikan struktur bangunan menghabiskan waktu dua tahun sejak dimulai pada awal tahun 2008. Tahap kedua dilanjutkan dengan pengerjaan ruang salat dan tempat wudu pada 2010. Tahap ketiga selama tahun berikutnya meliputi pemasangan keramik lantai dan eksterior masjid. Tiga tahap pertama berjalan dengan mengandalkan akomodasi APBD Sumatra Barat sebesar Rp103,871 miliar, Rp15,288 miliar, dan Rp31 miliar.[5] Memasuki tahap keempat yang dimulai pada pertengahan 2012, pengerjaan menggunakan kontrak tahun jamak. Tahap keempat menggandalkan anggaran sebesar Rp25,5 miliar untuk menyelesaikan ramp, teras yang melandai ke jalan. Pekerjaan pembangunan sempat terhenti selama tahun 2013 karena ketiadaan anggaran dari provinsi.

Terkait keterbatasan pendanaan, alokasi APBD Sumatra Barat untuk pembangunan masjid semula direncanakan hanya sebagai dana stimulan. Pada awalnya, panitia pembangunan yang diketuai oleh Marlis Rahman sempat menghimpun sumbangan masyarakat untuk membantu pembangunan masjid disamping melakukan kerja sama dengan pihak swasta dan negara Timur Tengah. Bantuan dari masyarakat dan perantau, termasuk donasi via nada sambung hanya berjalan untuk tahap pertama pembangunan.

Pada 2009, Kerajaan Arab Saudi telah berencana mengirimkan bantuan untuk mendukung pembangunan masjid. Namun, bantuan dari Arab Saudi bernilai 50 juta dolar Amerika Serikat datang bersamaan dengan gempa bumi yang melanda Sumatra Barat sehingga pemerintah pusat melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengalihkan peruntukan bantuan untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana.[6][7][8][5]

Meski tidak rutin, Masjid Raya Sumbar telah mulai digunakan untuk ibadah sejak awal tahun 2012, terutama Salat Jumat dan Salat Ied. Masjid ini mulai menjadi tuan rumah kegiatan keagamaan tingkat Sumatera Barat seperti tablig akbar dan pertemuan diadakan. Pemerintah provinsi memusatkan kegiatan wirid rutin jajaran pegawai negeri sipil untuk memperkenalkan masjid.[9][10] Frekuensi pemakaian masih terbatas karena belum rampungnya fasilitas listrik dan ketiadaan air bersih.[11]

Pemakaian perdana[sunting | sunting sumber]

Masjid Raya Sumbar saat pemakaian perdana, 2014

Mengawali tahun 2014, Pemerintah Turki mengirimkan bantuan karpet permadani untuk mendukung penyelenggaran ibadah seiring kerja sama yang dibangun oleh pemerintah provinsi. Salat Jumat perdana menandai pembukaan Masjid Raya Sumatra Barat untuk salat rutin pada 7 Februari 2014. Masjid dibuka untuk umum dengan frekuensi terbatas, karena belum rampungnya fasilitas listrik dan air bersih. Masjid Raya Sumatra Barat untuk kali petama digunakan sepanjang malam bulan Ramadhan.

Pada tahun 2014, pemerintah provinsi kembali menganggarkan dana Rp17,19 miliar untuk pembangunan tahap kelima, meliputi pengerjaan interior kubah. Selama pengerjaan, kegiatan ibadah diselenggarakan di lantai dasar. Penyelesaian ramp yang diguanakan sebagai jalur evakuasi dikerjakan dengan memanfaatkan anggaran sebesar Rp14,5 miliar dari APBD provinsi pada tahun 2015.[12][13] Memasuki pertengahan 2016, penyelesaian fasad dan lantai atas masjid dilanjutkan dengan menggunakan alokasi dana Rp37,2 miliar dari pemerintah provinsi. Akibatnya, masjid ditutup untuk kegiatan ibadah sejak 19 September.[14][15] Sampai tahun 2016, ketujuh tahap pertama pembangunan Masjid Raya Sumatra Barat telah menghabiskan anggaran Rp240,751 miliar.[16]

Penyelesaian[sunting | sunting sumber]

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (tengah) dan Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno (kanan). Lewat kerja sama yang dibangun Pemrov Sumbar, Pemrov Jawa Barat ikut membantu penyelesaian pembangunan Masjid Raya Sumbar.

Pada 2016, pemerintah Sumatra Barat mendapat bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum RI sebesar Rp10,1 miliar yang digunakan untuk pembangunan pekarangan.[17][18] Pada tahap kedelapan, kelanjutan pembangunan dibiayai melalui penerimaan dana bantuan keuangan khusus dari dua provinsi yakni Jawa Barat dan Papua dengan total sebesar Rp12,5 miliar.[16] Anggaran bersumber dari pemerintah provinsi Papua sebesar Rp5 miliar dan Jawa Barat sebesar Rp7,5 miliar. Bantuan tersebut digunakan untuk penyelesaian lantai dasar masjid[19] yang akan dijadikan ruangan pertemuan, ruang penjagaan, pustaka, instansi listrik, dan lain-lain.[20]

Penyelesaian mihrab pada lantai atas dan area parkir menurut rencana akan didanai dari APBD Sumatra Barat 2017.[21] Setelah penetapan APBD 2017, Masjid Raya Su­matera Barat kembali mendapat penambahan anggaran sebesar Rp19,5 miliar untuk pembangunan satu menara, berubah dari rancangan awal sebanyak empat menara. Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum RI kembali memberi tambahan dana untuk penyelesaian taman dan area parkir masjid sebesar Rp31,4 miliar.[22][18][23][24]

Pada 2018, pemerintah daerah memberikan perpanjangan waktu kepada kontraktor untuk menyelesaikan menara karena molor dari target yang ditetapkan. Pembangunan menara sampai pada 31 Desember 2017 memakan biaya Rp14,4 miliar,[25] sementara sisa biaya sebesar Rp5,1 miliar dianggarkan kembali pada APBD 2018 yang digabungkan dengan biaya penyelesaian interior masjid dan menara. Biaya penyelesiaan pembangunan Masjid Raya Sumatra Barat yang dianggarkan pada APBD 2018 yakni sebesar Rp11,4 miliar.[26][27] Adapun dari pemerintah pusat, terdapat tambahan dana untuk pembangunan pagar yang belum selesai.[28][29]

Masjid Raya Sumbar pada Ramadan 2019 saat salat Tarawih (atas) dan salat Jumat (bawah)

Selama pengerjaan interior, kegiatan ibadah dipindahkan ke lantai dasar, terhitung sejak 16 Juli 2018.[30] Pada awal tahun 2019, lantai atas masjid kembali dibuka untuk umum yang ditandai dengan salat Jumat perdana pada 4 Januari 2019. Pembukaan ini sekaligus menandai tuntasnya pembangunan Masjid Raya Sumatra Barat.[31]

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Arsitektur Masjid Raya Sumatra Barat memakai rancangan yanng dikerjakan oleh arsitek Rizal Muslimin, pemenang sayembara desain yang diikuti oleh 323 peserta dari berbagai negara pada 2007. Pemenang utama sayembara mendapatkan hadiah Rp150 juta dari total hadiah Rp300 juta yang diberikan Pemprov Sumbar. 71 desain masuk sebagai nominasi dan diseleksi oleh tim juri yang diketuai oleh sastrawan Wisran Hadi.[32]

Masjid Raya Sumatra Barat menampilkan arsitektur modern yang tak identik dengan kubah. Atap bangunan menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad. Ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berselisih pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu Hajar Aswad ke tempat semula setelah renovasi Kakbah, Nabi Muhammad memutuskan meletakkan batu Hajar Aswad di atas selembar kain sehingga dapat diusung bersama oleh perwakilan dari setiap kabilah dengan memegang masing-masing sudut kain.

Konstruksi bangunan dirancang menyikapi kondisi geografis Sumatra Barat yang beberapa kali diguncang gempa berkekuatan besar. Masjid ini ditopang oleh 631 tiang pancang dengan pondasi poer berdiameter 1,7 meter pada kedalaman 7,7 meter. Dengan kondisi topografi yang masih dalam keadaan rawa, kedalaman setiap pondasi tidak dipatok karena menyesuaikan titik jenuh tanah tanah.

Ruang utama yang dipergunakan sebagai tempat salat terletak di lantai atas berupa ruang lepas. Lantai atas dengan elevasi tujuh meter terhubung ke permukaan jalan melalui ramp, teras terbuka yang melandai ke jalan. Dengan luas 4.430 meter persegi, lantai atas diperkirakan dapat menampung 5.000–6.000 jemaah. Adapun lantai dua berupa mezanin berbentuk leter U memiliki luas 1.832 meter persegi.

Mural di Pasar Raya Padang yang menampilkan Masjid Raya Sumbar. Masjid itu telah menjadi ikon sekaligus daya tarik wisata Sumatra Barat.

Konstruksi rangka atap menggunakan pipa baja. Gaya vertikal beban atap didistribusikan oleh empat kolom beton miring setinggi 47 meter dan dua balok beton lengkung yang mempertemukan kolom beton miring secara diagonal. Setiap kolom miring ditancapkan ke dalam tanah dengan kedalaman 21 meter, memiliki pondasi tiang bor sebanyak 24 titik dengan diameter 80 centimeter. Pekerjaan kolom miring melewati 13 tahap pengecoran selama 108 hari dengan memperhatikan titik koordinat yang tepat.[33]

Masjid Raya Sumatra Barat membutuhkan biaya yang besar untuk perawatan dan operasional, meliputi mekanikal, perawatan kontruksi, dan petugas, dengan total kebutuhan dana Rp4,2 miliar per tahun.[31]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ https://sumbar.antaranews.com/berita/155751/masjid-raya-sumbar-mahal-karena-tahan-gempa
  2. ^ https://sumbar.antaranews.com/berita/155688/jk-minta-anggaran-masjid-raya-sumbar-direvisi
  3. ^ https://www.harianhaluan.com/news/detail/62961/rp19-miliar-untuk-menara-masjid-raya
  4. ^ https://www.antaranews.com/berita/631694/masjid-sumbar-akan-dilengkapi-menara-85-meter-untuk-lihat-pemandangan
  5. ^ a b http://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/3843/
  6. ^ "DPRD Akan Panggil BNPB terkait 500 M Dana Hibah Arab Saudi". 2 Agustus 2010.
  7. ^ "Rp 400 M Bantuan Gempa Arab Saudi Peruntukannya Ditentukan Bappenas". Republika. 12 Juni 2010.
  8. ^ "Arab Saudi akan Bantu Korban Gempa 50 Juta Dolar". Republika. 7 Oktober 2009.
  9. ^ "Masjid Raya Sumbar Alternatif Tempat Shalat Id". ANTARA. 14 Agustus 2012. Diakses tanggal 21 Desember 2014. 
  10. ^ "Melihat Efektivitas Pengajian di Masjid Raya Sumbar". Harian Haluan. 21 Maret 2012. Diakses tanggal 21 Desember 2014. 
  11. ^ "Pembangunan Masjid Raya Sumbar Dikebut". Padang Ekspres. 16 Juli 2012. Diakses tanggal 21 Desember 2014. 
  12. ^ "Butuh Rp148 Miliar untuk Penyelesaian Masjid Raya Sumbar". Harian Haluan.
  13. ^ Pembangunan Mesjid Raya Sumatra Barat.
  14. ^ "Bangunan Mesjid Raya Sumbar Unik dan Tinggi Nilai Seni, Pengerjaan Butuh Ketelitian".
  15. ^ Belanja Modal Pengadaan Bangunan Sarana Peribadahan (Pembangunan Mesjid Raya Tahap VII).
  16. ^ a b Agus Yulianto. "Pembangunan Masjid Raya Sumbar Habiskan Dana Rp 253,251 Miliar". Republika. 17 November 2016.
  17. ^ "Pembangunan Masjid Raya Sumbar Dilanjutkan". 4 Juni 2016. Harian Haluan.
  18. ^ a b VIVA, PT VIVA MEDIA BARU- (2018-05-01). "Mengintip Indahnya Kubah Masjid Raya Sumatra Barat – VIVA". www.viva.co.id. Diakses tanggal 2019-01-04. 
  19. ^ Biaya Finishing Lantai Dasar - Kegiatan Finishing Lantai Dasar Mesjid Raya Sumatra Barat.
  20. ^ Yudha Manggala P. Putra. "Masjid Raya Sumbar Bisa Digunakan Kembali Januari". '"Republika. 7 December 2016.
  21. ^ "Berubah, Menara Masjid Raya Sumbar Hanya akan Dibangun Satu Saja".
  22. ^ "Rp19 Miliar untuk Menara Masjid Raya". Harian Haluan. 20 Desember 2016.
  23. ^ https://lpse.pu.go.id/eproc/lelang/pemenang/30071064
  24. ^ https://lpse.pu.go.id/eproc/lelang/view/29591064
  25. ^ Pekerjaan Tak Rampung, Kontraktor Menara Masjid Raya Sumbar Dikenai Didenda. 12 Januari 2018. Harian Singgalang.
  26. ^ "Legislator: Menara Masjid Raya Sumbar Harus Selesai Sesuai Jadwal". ANTARA. Diakses tanggal 5 Februari 2018. 
  27. ^ http://lpse.sumbarprov.go.id/eproc4/lelang/11953016/pengumumanlelang
  28. ^ "Presiden Sholat Jumat di Masjid Raya Sumbar". 9 Februari 2018. ANTARA.
  29. ^ https://lpse.pu.go.id/eproc/lelang/view/42490064
  30. ^ "LPSE Provinsi Sumatra Barat: Informasi Lelang". LPSE Sumatra Barat. Diakses tanggal 2 Februari 2018.  line feed character di |title= pada posisi 30 (bantuan)
  31. ^ a b "Pembangunan Masjid Raya Sumatra Barat Tuntas". Portal Berita Singgalang. 2019-01-04. Diakses tanggal 2019-01-04. 
  32. ^ https://sumbar.antaranews.com/berita/268725/masjid-raya-sumbar-perpaduan-nilai-islam-dan-adat-minangkabau
  33. ^ Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (5 Maret 2009). "Dana Pembangunan Masjid Raya Sumbar Tahap II Rp150 M". Diakses tanggal 21 Desember 2014. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]