Longkeyang, Bodeh, Pemalang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Longkeyang
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenPemalang
KecamatanBodeh
Kodepos
52365
Kode Kemendagri33.27.05.2001 Edit the value on Wikidata
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Longkeyang adalah desa di kecamatan Bodeh, Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia.Desa ini memiliki perjalanan panjang dari zaman Hindu -Budha sampai dengan zaman modern.

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Ada banyak versi mengenai asal mula Desa Longkeyang beberapa sesepuh menceritakan Longkeyang berasal dari kata Lo sejenis pohon ara atau Loa (ficus glomerata) yang banyak tumbuh di sebuah sungai kecil bernama Kali Keyang dinamakan demikian sebab jika musim hujan maka sungai tersebut akan tampak seperti melayang ( Kleyang - Kleyang ) diatas atap rumah jika dilihat dari bukit barat desa sehingga disebut desa LO - NG - KEYANG.

Pada versi lain disebutkan bahwa Long berasal dari kata Kalong yang berarti berkurang ( bahasa Jawa: tidak dimaksudkan Hewan Kalong / sejenis kelelawar besar) dan Kleyang artinya melayang barang siapa yang masuk wilayah ini dengan angkuh dan berniat jahat maka berkurang dan melayang kekuatannya.

Jika menurut sejarah masa lalu maka ada sebuah istiadat yang telah lama ditinggalkan adalah Ujungan yaitu keharusan bagi siapapun yang baru pertama kali memasuki desa tersebut maka harus melakukan ritual adu kaki yang di pukul dengan bambu sekeras mungkin, jika bambu tersebut patah atau pecah maka menandakan orang tersebut bukanlah orang jahat dan boleh memasuki desa, tetapi orang tersebut berniat jahat maka sesakti apapun pasti berkurang, atau Kalong dan kleyang kasektene seketika itu menjadi orang biasa dan dijamin patah kakinya serta dilarang memasuki desa. Untuk melakukan ritual tersebut harus dilakukan oleh sesepuh desa yang juga sakti dan mumpuni, meski ilmu tersebut sudah punah namun cerita itu masih ada.

Sebagai contoh adalah ada seorang pemuda bernama Sumadhi yang datang dari Desa Pagelaran untuk berkunjung ke rumah kakeknya di Longkeyang, ketika itu para pemuda antar desa setempat belum saling mengenal maka dia harus menjalani Ujungan adapun prosesnya adalah sebagai berikut: Pertama-tama kakinya diletakkan diatas dua buah batu, kemudian batu pertama digunakan untuk menyanggga mata kaki dan batu kedua diletakan di bawah tulang persendian dengkul sehingga bagian tengah kaki yaitu tulang kering mudah untuk dipatahkan sebab tidak ada penyangganya, setelah itu sesepuh desa membaca mantra tertentu dan mengambil tongkat bambu sebesar lengan anak - anak kemudian dipukulkan ke kakinya dengan sekuat tenaga, jika bambunya yang patah atau pecah maka orang tersebut boleh lewat, tetapi jika kakinya yang patah atau luka maka dia orang jahat dan tidak boleh lewat, tentu saja setelah disembuhkan oleh sesepuh desa dengan kesaktianya dapat sembuh seketika. Pada waktu itu Sumadhi lolos dan tidak mengalami cedera apapun sehingga dibiarkan lewat kerumah kakeknya lalu menikah dengan anak gadis Ki Lurah Cartiban dan menjadi Lurah Longkeyang dikemudian hari

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut catatan beberapa tokoh sepuh yang diceritakan secara turun temurun dan arsip catatan didesa serta dihubungkan dengan riwayat atau legenda kejadian lampau dapat disimpulkan bahwa desa tersebut pernah mengalami beberapa zaman yaitu:

Para Pemimpin Babad Awal Desa[sunting | sunting sumber]

  • 1. Kyai Pelabuhan
  • 2. Nyai Rantansari
  • 3. Kyai Tengkurak
  • 4. Singa Maruta
  • 5. Kyai Polos

Generasi Pemimpin Zaman Kerajaan Islam sampai Modern[sunting | sunting sumber]

  • 6. Ki Ageng Natas Angin
  • 7. Ki Ageng Lurah Longkeyang / Ki Belondho
  • 8. Ki Lurah Minten
  • 9. Ki Lurah Salam
  • 10. Ki Lurah Jaya Mertha / Jaga Mertha
  • 11. Ki Lurah Sutha Mertha

Lurah Zaman Belanda[sunting | sunting sumber]

  • 12. Ki Lurah Mertha Sutha
  • 13. Ki Lurah Cartiban
  • 14. Ki Lurah Wersan Katidjjah

Lurah Zaman Jepang dan Agresi Militer I[sunting | sunting sumber]

  • 15. Ki Lurah Ngali Sastro Pramudja
  • 16. Ki Lurah Muharram
  • 17. Ki Lurah Recchomb

Kades Zaman Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

  • 18. Sumadhi
  • 19. Sumardjo
  • 20. Ki Wakil Mulap

Kades Zaman Modern[sunting | sunting sumber]

  • 21. Edy Suwarto
  • 22. Pjs. Suparto
  • 23. Sunarto
  • 24. Sunarto ( Periode Ke II )
  • 25. Pjs. Musoleh
  • 26. Sony Herdiyan Drayudjati
  • 27. Pjs. Musoleh
  • 28. Mahjun

Peranan R. Ngabehi Drayu atau Kyai Drayu atau Raden Ngabehi Kerta Yudha Gajah Wulung[sunting | sunting sumber]

Beliau adalah putra Raden Ngabehi Suntho Yudho II (putra IX dari Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar III Bintaro Demak (Raden Trenggono) putra dari Raden Fatah yang III. Putra dari Raden Ngabehi Suntho Yudho II adalah:

  1. Raden Suryan Taka (Lembu Jawa) Kalibening
  2. Raden Ngabehi Sekati (Banteng Malang) Pacitan
  3. Raden Ngabehi Caranu (Banteng Kuntet) Wonodadi
  4. Raden Ngabehi Cayuda (Macan Gunung) Karang Kobar
  5. Raden Ngabehi Kerta Yudha (Gajah Wulung) Drayu Paninggaran

Kyai Drayu mempunyai keturunan nomor 1 dan 2 di Desa Tuwarih, Mendelun, Sawangan, dan untuk nomor 3 berada di Desa Winduaji, Krandegan, dan Sitatah.

Keturunan beliau telah memimpin tanah Longkeyang diduga sejak dahulu, dugaan ini berkembang sebab konon para lurah di Desa Longkeyang dan sekitarnya banyak yang mengenal dan mengaku sebagai Drayu disebut demikian karena mereka adalah keturunan lurus garis Pria dari Adipati Drayu ( Raden Ngabehi Kerta Yudha Gadjah Wulung )

Hal ini dapat dilihat kekerabatan yang erat antara para pemimpin di wilayah sekitar perbatasan Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Pekalongan dikarenakan masih saudara satu keturunan.

Bahkan beberapa sesepuh menganjurkan untuk Ziarah ke makam Adipati Drayu atau Kyai Drayu.

Disebutkan bahwa pada era pendudukan Belanda ada seorang sakti yang bernama Sobrang Barang ( makamnya ada Di Bojong Koneng-Kandang Serang ) yang suka merampok dan membunuh. Setelah membunuh Wedhana Banyumas, beliau mampir dan mengganggu wilayah Telagasana dan sekitarnya, hal itu membuat kepanikan dan geger yang kemudian mengusik seorang Drayu ( Disebut demikian sebab setiap keturunan Laki - Laki dari Adipati Drayu disebut sebagai Drayu ).

Dalam duel Ilmu kanuragan yang sengit Ki Sobrangbarang dapat dikalahkan dan berjanji tidak akan mengusik desa - desa yang masih keturunan Adipati Drayu.

Ki Sobrang Barang bergabung dengan Brandal Mas Cilik ( antara Tegal - Pemalang ) dan mempunyai keturunan di wilayah sekitar Petarukan. Kisah petualangan Sobrangbarang dikenal dalam cerita wayang golek tegal-pemalangan termasuk perjuangan melawan Belanda dalam pemberontakan Brandal Mas Cilik.Cerita Kyai Drayu / Adipati Drayu terdapat dalam sejarah wilayah Paninggaran dan sekitarnya.

Kisah Seorang Prajurit Diponegoro: Raden Karya Wedana nama aslinya adalah Akhsan Sadhali keturunan dari Tuban (Sunan Bonang). Beliau bertempat tinggal di Yogyakarta. Beliau menjadi prajurit/tentara Pangeran Diponegoro (nama aslinya Raden Muhamad Anto Wiryo) putra dari Pakubuwana II.

Pada tahun 1854 Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado Sulawesi Utara. Pada tahun 1854 itu juga panglimanya Pangeran Diponegoro ditangkap. Kyai Mojo beserta 62 prajuritnya juga ditangkap. Akibat banyak prajurit Pangeran Diponegoro yang tertangkap, teman-teman prajurit yang belum tertangkap melarikan diri untuk menyusun kekuatan guna meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro. Mereka melarikan ke daerah pegunungan supaya tidak diketahui oleh Belanda.

Karya Wedana (Akhsan Sadhali) menyelamatkan diri ke daerah Gununglangit. Dalam pelariannya beliau bertemu dengan adiknya yang bernama Darjan dan istrinya yang bernama Daliyah. Selanjutnya anak dari istrinya diperistri oleh seorang pemuda dari Gununglangit. Karya Wedana dan adiknya kemudian melanjutkan perjalanan sampai ke pedukuhan Plumbon Desa Winduaji dan menetap di sana. Karya Wedana memperistri seorang Putri Drayu yang bernama Bekti binti Raden Ngabehi Kerto Yudho Gajah Wulung, bin Raden Ngabehi Suntho Yudho II Kartosuro, bin Kanjeng Sultan Syeh Alam Akbar III Bintaro Demak. Bekti adalah putri Adipati Drayu (Ky. Drayu) yang bertempat tinggal di Dukuh Losari, Desa Tuwarih. Adipati Drayu (Raden Ngabehi Kerta Yudha Gajah Wulung) adalah putra Raden Ngabehi Suntho Yudho II (putra IX dari Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar III Bintaro Demak (Raden Trenggono) putra dari Raden Fatah yang III. Putra dari Raden Ngabehi Suntho Yudho II

Perbatasan Majapahit - Pajajaran[sunting | sunting sumber]

Menurut Hikayat pada saat Rombongan Dyah Pitaloka putri Kerajaan Pajajaran diantar ke Majapahit telah terjadi peperangan di Lapangan Bubat yang mengakibatkan gugurnya seluruh rombongan terkecuali beberapa senapati yang berhasil meloloskan diri dari kepungan prajurit Majapahit di antara yang lolos tersebut adalah Senapati Singa Maruta.

Setelah berhari hari berjalan melalui darat akhirnya dia sampai di perbatasan wilayah kerajaan Majapahit - Pajajaran di sebuah desa bernama Ujungnegoro ( di wilayah Kecamatan Kesesi - Kabupaten Pekalongan ).

Kemudian dia melanjutkan perjalanan sampai di Desa Longkeyang ( Kecamatan Bodeh - Kabupaten Pemalang ) dan disebut sebut sebagai salah satu sesepuh desa itu.

Istilah Longkeyang Sendiri ada sebuah desa di Kabupaten Sumedang - Jawa Barat yang menggunakan nama Longkeyang

Ada beberapa indikasi yang mengarah bahwa wilayah tersebut merupakan perbatasan dua kerajaan besar dengan banyaknya istilah bahasa sunda yang terdapat di wilayah tersebut misalnya:

  • 1. Sarangkadu  = Sarang = tempat. Kadu = Durian ( sekarang masuk wilayah Desa Longkeyang ) Yang jelas di wilayah tersebut masih terdapat Istilah Wong Pejajaran ( Orang Pajajaran ) hingga sekarang. Ada beberapa peninggalan Purba Berupa Gamelan Batu dan Cap Telapak Kaki yang sekarang sudah memprihatinkan akibat di jarah warga.
  • 2.Desa  Cikadu Kec. Watukumpul - Kabupaten Pemalang, berasal dari bahasa sunda Ci = air, Kadu = durian
  • 3.Desa  Luragung Kec.Kandang serang memiliki nama yang sama dengan Luragung di wilayah Kuningan
  • 4.Pesahangan  ( dari bahasa sunda, Pe = tempat, sahang = lada ) sekarang masuk wilayah Desa Medayu Kecamatan Watukumpul
  • 5.Desa  Bodas dari bahasa sunda = Putih ( di desa tersebut banyak tanah kaolin berwarna putih ) - Kecamatan Watukumpul Kabupaten Pemalang dan ada satu lagi Desa Bodas disekitar Kecamatn Kalibening Kabupaten Banjarnegara yang berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan
  • 6.Desa Cibiyuk Kecamatan Petarukan - Kabupaten Pemalang dan masih banyak lagi.

Dengan demikian ada besar kemungkinan bahwa wilayah perbatasan antara kerajaan Pajajaran dan Majapahit wilayah utara terdapat di sekitar Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Pekalongan.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Sumber:

Secara turun temurun di riwayatkan Oleh:

  • Moenawar Alm
  • Kades Edy Suwarto Alm
  • Kades Supardi ( Pagelaran )Alm
  • Syai'lun Alm ( Pagelaran )
  • Mbah Tarno ( Pagelaran )
  • H.M Yunus Alm
  • Duryat Alm
  • Sudjo Marjuki Alm
  • Sumaryo ( Bengkulu )
  • Sumitro
  • Calim
  • Sony Herdiyan Drayudjati