Jan II Kazimierz

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Jan II Kazimierz
Lukisan karya Bacciarelli
Lukisan karya Bacciarelli
Raja Polandia
Haryapatih Lituania
Berkuasa November 1648 – 16 September 1668
Penobatan 19 Januari 1649
Pendahulu Władysław IV Vasa
Pengganti Michał I
Lahir 22 Maret 1609
Kraków, Polandia
Mangkat 16 Desember 1672 (umur 63)
Nevers, Perancis
Pemakaman 31 Januari 1676
Katedral Wawel, Kraków
Wangsa Vasa
Ayah Sigismund III Vasa
Ibu Konstanz dari Austria
Pasangan Marie Louise Gonzaga
Claudine Françoise Mignot
Anak
Jan Sigismund Vasa
Putri Maria Anna
Agama Katolik Roma
Tanda tangan Tanda tangan Jan II Kazimierz

Jan II Kazimierz (bahasa Jerman: Johann II. Kasimir Wasa; bahasa Lituania: Jonas Kazimieras Vaza; 22 Maret 1609 – 16 Desember 1672) adalah Raja Polandia dan Haryapatih Lituania[1] dari tahun 1648 hingga 1668 pada masa Persemakmuran Polandia-Lituania. Ia juga menjabat sebagai Adipati Opole di Schleisen Hulu. Selain itu, ia memegang gelar Raja Swedia dari tahun 1648 hingga 1660. Orang tuanya adalah Sigismund III Vasa (1566–1632) dan Konstanz dari Austria (1588–1631). Kakak dan pendahulunya adalah Władysław IV Vasa.[2] Ia memiliki ikatan dengan penguasa-penguasa Habsburg dan juga merupakan raja Polandia ketiga dan terakhir dari Wangsa Vasa. Selain itu, ia adalah penguasa terakhir Persemakmuran yang memiliki hubungan darah dengan Dinasti Jagiellon.

Pada tahun 1638, ia berangkat dari Genoa ke Spanyol untuk menegosiasikan persekutuan melawan Perancis, tetapi kapalnya karam di pesisir Provence. Ia kemudian ditangkap dan dipenjara di Vincennes atas perintah Kardinal Richelieu. Ia mendekam di situ selama dua tahun, dan baru dilepaskan setelah kakaknya yang merupakan Raja Polandia berjanji tidak akan pernah berperang melawan Perancis. Ia kemudian berkelana di berbagai negara di Eropa Barat, bergabung dengan ordo Yesuit di Roma, dan dijadikan kardinal oleh Paus Innosensius X. Sekembalinya di Polandia, ia kembali menjadi rakyat jelata. Pada tahun 1648, ia menjadi penerus kakaknya dan menikahi istri kakaknya yang telah menjadi janda, Ratu Marie Louise Gonzaga. Awal masa kekuasaannya dihantui oleh kebingungan dan bencana yang dipicu oleh pemberontakan Cossack yang dipimpin Chmielnicki. Para Cossack ini telah memasuki wilayah-wilayah penting Polandia. Sementara itu, kekuasaan raja sudah semakin menyusut akibat membesarnya pengaruh para bangsawan.

Rusia dan Swedia yang merupakan musuh bebuyutan Polandia memanfaatkan kesempatan ini dan memulai kembali serangan mereka. György II Rakoczy dari Transilvania juga menyerbu wilayah Polandia, sementara majelis Persemakmuran terus menerus dibubarkan akibat penyalahgunaan liberum veto. Karl X Gustav dari Swedia berhasil memasuki wilayah Polandia dan menduduki Kraków (1655), sementara Jan II Kazimierz melarikan diri ke Schleisen. Namun, serangan pasukan Swedia secara tidak terduga berhasil dihentikan di Biara Jasna Góra, dan konfederasi para bangsawan telah dibentuk untuk melawan semua musuh Polandia. Stefan Czarniecki berhasil memenangkan beberapa pertempuran melawan Swedia, Transilvania, Cossack dan Rusia. Peperangan akhirnya dihentikan setelah Polandia menandatangani perjanjian-perjanjian yang menyerahkan provinsi-provinsi di wilayah Baltik dan Dnieper. Polandia juga kehilangan kendalinya atas kelompok Cossack, yang kemudian memperoleh perlindungan dari tsar. Selama periode kekacauan yang panjang ini, Jan II Kazimierz tetap dapat menunjukkan patriotisme dan keberaniannya meskipun ia sebenarnya lemah dan lebih suka berdamai.[3]

Istrinya ingin agar Henri Jules, adipati Enghien, menjadi penerus tahta, tetapi hal ini memicu pemberontakan yang dipimpin oleh Hetman Jerzy Sebastian Lubomirski dan perang saudara yang singkat tapi berdarah. Sang raja akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dan menyerahkan mahkotanya kepada majelis di Warsawa pada tanggal 16 September 1668. Pada tahun berikutnya, ia pensiun di Perancis dan diterima dengan ramah oleh Louis XIV. Istrinya sudah meninggal terlebih dahulu tanpa meninggalkan calon penerus.[3]

Masa kekuasaan Jan Kazimierz merupakan masa yang paling kacau dalam sejarah Polandia. Ia sendiri sudah memprediksi dalam pidatonya di hadapan majelis pada tahun 1661 bahwa Polandia akan dibagi-bagi oleh Moskwa, Brandenburg, dan Habsburg, dan peristiwa ini akan terjadi 100 tahun setelah kematiannya.[3]

Gelar kerajaan[sunting | sunting sumber]

Biografi[sunting | sunting sumber]

Kehidupan awal, keluarga dan naik ke tampuk kekuasaan[sunting | sunting sumber]

Raja Polandia[sunting | sunting sumber]

-====Abdikasi dan kematian====

Sumpah Lwów[sunting | sunting sumber]

Perubahan sosial dan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Warisan[sunting | sunting sumber]

Pelindung seni[sunting | sunting sumber]

Di dalam fiksi[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Jan II Kazimierz
Lahir: 22 Maret 1609 Wafat: 6 Desember 1672
Gelar pemerintahan
Didahului oleh:
Władysław IV
Raja Polandia
Adipati Agung Lituania

1648–1668
Diteruskan oleh:
Michał I
— TITULER —
Raja Swedia
1648–1660
Perjanjian Oliva