Lompat ke isi

Kesultanan Palembang: Perbedaan antara revisi

20 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
Menolak perubahan teks terakhir (oleh Arya Mataram) dan mengembalikan revisi 15955534 oleh Arisdp
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
(Menolak perubahan teks terakhir (oleh Arya Mataram) dan mengembalikan revisi 15955534 oleh Arisdp)
 
=== Kuto Gawang ===
Pada awal abad ke-1617, Palembang menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang bernuansa Islam dengan pendirinya [[Ki Gede ing Suro]], bangsawan pelarian dari [[KerajaanKesultanan Demak]] akibat kemelut politik setelah mangkatnya Arya Penangsang [[Sultan Demak VTrenggana]] th 1554. Pada masa ini pusat pemerintahan di daerah sekitar Kelurahan 2-Ilir, di tempat yang sekarang merupakan kompleks PT Pupuk Sriwijaya. Secara alamiah lokasi keraton cukup strategis, dan secara teknis diperkuat oleh dinding tebal dari kayu unglen dan cerucup yang membentang antara Plaju dengan Pulau Kembaro, sebuah pulau kecil yang letaknya di tengah [[Sungai Musi]].
Keraton Palembang yang dibangunnya itu disebut Keraton Kuto Gawang yang bentuknya empat persegi panjang dibentengi dengan kayu besi dan kayu unglen yang tebalnya 30 x 30 cm/batangnya. Kota berbenteng yang di kemudian hari dikenal dengan nama Kuto Gawang ini mempunyai ukuran 290 Rijnlandsche roede (1093 meter) baik panjang maupun lebarnya. Tinggi dinding yang mengitarinya 24 kaki (7,25 meter). Orang-orang Tionghoa dan Portugis berdiam berseberangan yang terletak di tepi sungai Musi.
Kota berbenteng ini sebagaimana dilukiskan pada tahun 1659 (Sketsa Joan van der Laen), menghadap ke arah Sungai Musi (ke selatan) dengan pintu masuknya melalui Sungai Rengas. Di sebelah timurnya berbatasan dengan Sungai Taligawe, dan di sebelah baratnya ber¬batasan dengan Sungai Buah. Dalam gambar sketsa tahun 1659 tampak Sungai Taligawe, Sungai Rengas, dan Sungai Buah tampak terus ke arah utara dan satu sama lain tidak bersambung. Sebagai batas kota sisi utara adalah pagar dari kayu besi dan kayu unglen. Di tengah benteng keraton tampak berdiri megah bangunan keraton yang letaknya di sebelah barat Sungai Rengas. Benteng keraton mempunyai tiga buah [[selekoh|baluarti]] (bastion) yang dibuat dari konstruksi batu. Orang-orang asing ditempatkan/ber¬mukim di sebe¬rang sungai sisi selatan Musi, di sebelah barat muara sungai Komering (sekarang daerah Seberang Ulu, Plaju).
1.856

suntingan