Kesultanan Lamuri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Nisan makam seorang yang tidak disebut namanya, boleh jadi milik seorang ulama sufi yang meninggal pada tahun 839 H/1437 M

Kesultanan Lamuri adalah nama sebuah kerajaan yang terletak di daerah kabupaten Aceh Besar dengan pusatnya di Lam Reh, kecamatan Mesjid Raya. Kerajaan ini adalah kerajaan yang lebih dahulu muncul sebelum berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam, dan merupakan cikal bakal kesultanan tersebut.

Sumber asing menyebut nama kerajaan yang mendahului Aceh yaitu "Lamuri", "Ramni", "Lambri", "Lan-li", "Lan-wu-li". Penulis Tionghoa Zhao Rugua (1225) misalnya mengatakan bahwa "Lan-wu-li" setiap tahun mengirim upeti ke "San-fo-chi" (Sriwijaya). Nagarakertagama (1365) menyebut "Lamuri" di antara daerah yang oleh Majapahit diaku sebagai bawahannya. Dalam Suma Oriental-nya, penulis Portugis Tomé Pires mencatat bahwa Lamuri tunduk kepada raja Aceh.

Raja-raja[sunting | sunting sumber]

Batu nisan tipe plak pling yang merupakan ciri khas nisan dari Kerajaan Lam Reh

Dari lebih kurang 84 batu nisan yang tersebar di 17 komplek pemakaman, terdapat 28 batu nisan yang memiliki inskripsi. Dari ke-28 batu nisan tersebut diperoleh sebanyak 10 raja yang memerintah Lamuri, 8 orang bergelar malik dan 2 orang bergelar sultan.[1]

  • Malik Syamsuddin (wafat 822 H/1419 M)
  • Malik 'Alawuddin (wafat 822 H/1419 M)
  • Muzhhiruddin. Diperkirakan seorang raja, tanggal wafat tidak diketahui.
  • Sultan Muhammad bin 'Alawuddin (wafat 834 H/1431 M)
  • Malik Nizar bin Zaid (wafat 837 H/1434 M)
  • Malik Zaid (bin Nizar?) (wafat 844 H/1441 M)
  • Malik Jawwaduddin (wafat 842 H/1439 M)
  • Malik Zainal 'Abidin (wafat 845 H/1442 M)
  • Malik Muhammad Syah (wafat 848 H/1444 M)
  • Sultan Muhammad Syah (wafat 908 H/1503 M)[2][3]

Di Lam Reh terdapat makam Sultan Sulaiman bin Abdullah (wafat 1211), penguasa pertama di Indonesia yang diketahui menyandang gelar "sultan". Penemuan arkeologis pada tahun 2007 mengungkapkan adanya nisan Islam tertua di Asia Tenggara yaitu pada tahun 398 H/1007 M. Pada inskripsinya terbaca: Hazal qobri [...] tarikh yaumul Juma`ah atsani wa isryina mia Shofar tis`a wa tsalatsun wa tsamah […] minal Hijri[4]. Namun menurut pembacaan oleh peneliti sejarah Samudra Pasai, Teungku Taqiyuddin Muhammad, nisan tersebut berangka tahun 839 H/1437 M.[5][6]

Situs[sunting | sunting sumber]

Situs Kerajaan Lamuri di kampung Lam Reh kecamatan Mesjid Raya saat ini terancam musnah dikarenakan adanya rencana pembangunan lapangan golf oleh investor.[7]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lamuri dan Sekilas Usaha MAPESA untuk Menyelamatkannya
  2. ^ Lamuri dan Sekilas Usaha MAPESA untuk Menyelamatkannya
  3. ^ Kawasan Situs Sejarah Lamuri untuk Anak Cucu
  4. ^ Evidence of the Beginning of Islam in Sumatera: Study on the Acehnese Tombstone hal. 139
  5. ^ Lamuri dan Sekilas Usaha MAPESA untuk Menyelamatkannya
  6. ^ Universitas Syiah Kuala pamerkan prasasti kerajaan Islam Lamuri
  7. ^ Situs Kerajaan Lamuri Nyaris Musnah

Sumber[sunting | sunting sumber]

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]