Kerajaan Lamuri

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kesultanan Lamuri)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kesultanan Lamuri

Kesultanan Lamuri
800–1503
Ibu kotaLamreh
Agama
Islam
PemerintahanMonarki (Malik/Sultan)
Sultan/ Malik 
Sejarah 
• Didirikan
800
• Kemunculan Kesultanan Aceh
1503
Digantikan oleh
Kesultanan Aceh
Nisan makam seorang yang tidak disebut namanya, boleh jadi milik seorang ulama sufi yang meninggal pada tahun 839 H/1437 M

Kesultanan Lamuri adalah nama sebuah kerajaan yang terletak di daerah kabupaten Aceh Besar dengan pusatnya di Lam Reh, kecamatan Mesjid Raya. Kerajaan ini adalah kerajaan yang lebih dahulu muncul sebelum berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam, dan merupakan cikal bakal kesultanan tersebut.

Sumber asing menyebut nama kerajaan yang mendahului Aceh yaitu "Lamuri", "Ramni", "Lambri", "Lan-li", "Lan-wu-li". Penulis Tionghoa Zhao Rugua (1225) misalnya mengatakan bahwa "Lan-wu-li" setiap tahun mengirim upeti ke "San-fo-chi" (Sriwijaya). Nagarakertagama (1365) menyebut "Lamuri" di antara daerah yang oleh Majapahit diaku sebagai bawahannya. Dalam Suma Oriental-nya, penulis Portugis Tomé Pires mencatat bahwa Lamuri tunduk kepada raja Aceh.[1][2]

Catatan Sejarah[sunting | sunting sumber]

Secara umum, data tentang kesultanan ini didasarkan pada berita-berita dari luar, seperti yang dikemukakan oleh pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut asing (Arab, India, dan Cina) sebelum tahun 1500 M. Di samping itu, ada beberapa sumber lokal, seperti Hikayat Melayu dan Hikayat Atjeh, yang dapat dijadikan rujukan tentang keberadaan kesultanan ini.

Data tentang lokasi kesultanan ini juga masih menjadi perdebatan. W. P. Groeneveldt, seorang ahli sejarah Belanda, menyebut bahwa kesultanan ini terletak di sudut sebelah barat laut Pulau Sumatera, kini tepatnya berada di Kabupaten Aceh Besar. Ahli sejarah lainnya, H. Ylue menyebut bahwa Lambri atau Lamuri merupakan suatu tempat yang pernah disinggahi pertama kali oleh para pedagang dan pelaut dari Arab dan India. Menurut pandangan seorang pengembara dan penulis asing, Tome Pires, letak Kesultanan Lamuri adalah di antara Kesultanan Aceh Darusalam dan wilayah Biheue. Artinya, wilayah Kesultanan Lamuri meluas dari pantai hingga ke daerah pedalaman.[3]

Menurut T. Iskandar dalam disertasinya De Hikayat Atjeh (1958), diperkirakan bahwa kesultanan ini berada di tepi laut (pantai), tepatnya berada di dekat Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. H. M. Zainuddin, salah seorang peminat sejarah Aceh, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di Aceh Besar dekat dengan Indrapatra, yang kini berada di Kampung Lamnga. Peminat sejarah Aceh lainnya, M. Junus Jamil, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di dekat Kampung Lam Krak di Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Berdasarkan sejumlah data di atas, sejarah berdirinya dan letak kesultanan ini masih menjadi perdebatan di kalangan pakar dan pemerhati sejarah Aceh. Namun demikian, dapat diprediksikan bahwa letak Kesultanan Lamuri berdekatan dengan laut atau pantai dan kemudian meluas ke daerah pedalaman. Persisnya, letak kesultanan ini berada di sebuah teluk di sekitar daerah Krueng Raya. Teluk itu bernama Bandar Lamuri. Kata “Lamuri” sebenarnya merujuk pada “Lamreh” di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya). Istana Lamuri sendiri berada di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande sekarang ini dengan nama Kandang Aceh.[4]

Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kerajaan Lamuri telah ada sejak pertengahan abad ke-IX M. Artinya, kesultanan ini telah berdiri sejak sekitar tahun 900-an Masehi. Pada awal abad ini, Kerajaan Sriwijaya telah menjadi sebuah kerajaan yang menguasai dan memiliki banyak daerah taklukan. Pada tahun 943 M, Kesultanan Lamuri tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya. Meski di bawah kekuasaan Sriwijaya, Kesultanan Lamuri tetap mendapatkan haknya sebagai kerajaan Islam yang berdaulat. Hanya saja, kesultanan ini memiliki kewajiban untuk mempersembahkan upeti, memberikan bantuan jika diperlukan, dan juga datang melapor ke Sriwijaya jika memang diperlukan.[5]

Menurut Prasasti Tanjore di India, pada tahun 1030 M, Kesultanan Lamuri pernah diserang oleh Kerajaan Chola di bawah kepemimpinan Raja Rayendracoladewa I. Pada akhirnya, Kesultanan Lamuri dapat dikalahkan oleh Kerajaan Chola, meskipun telah memberikan perlawanan yang sangat hebat. Bukti perlawanan tersebut mengindikasikan bahwa Kesultanan Lamuri bukan kerajaan kecil karena terbukti sanggup memberikan perlawanan yang tangguh terhadap kerajaan besar, seperti Kerajaan Chola.[6]

Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kesultanan Lamuri merupakan tempat pertama kali yang disinggahi oleh oleh pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut yang datang dari India dan Arab. Ajaran Islam telah dibawa sekaligus oleh para pendatang tersebut. Berdasarkan analisis W. P. Groeneveldt, pada tahun 1416 M semua rakyat di Kesultanan Lamuri telah memeluk Islam. Menurut sebuah historiografi Hikayat Melayu, Kesultanan Lamiri (maksudnya adalah Lamuri) merupakan daerah kedua di Pulau Sumatera yang diislamkan oleh Syaikh Ismail sebelum ia mengislamkan Kesultanan Samudera Pasai. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Kesultanan Lamiri jelas merupakan salah satu kerajaan Islam di Aceh.

Menurut Hikayat Atjeh, salah seorang sultan yang cukup terkenal di Kesultanan Lamuri adalah Sultan Munawwar Syah. Konon, ia adalah moyang dari salah seorang sultan di Aceh yang sangat terkenal, yaitu Sultan Iskandar Muda. Pada akhir abad ke-15, pusat pemerintahan Kesultanan Lamuri dipindahkan ke Makota Alam (kini dinamakan Kuta Alam, Banda Aceh) yang terletak di sisi utara Krueng Aceh. Pemindahan tersebut dikarenakan adanya serangan dari Kerajaan Pidie dan adanya pendangkalan muara sungai. Sejak saat itu, nama Kesultanan Lamuri dikenal dengan nama Kesultanan Makota Alam.

Dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tahun 1513 M, Kesultanan Lamuri beserta dengan Kerajaan Pase, Daya, Lingga, Pedir (Pidie), Perlak, Benua Tamiang, dan Samudera Pasai bersatu menjadi Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M). Jadi, bisa dikatakan bahwa Kesultanan Lamuri merupakan bagian dari cikal bakal berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam. Nama kesultanan ini berasal dari salah satu desa di Kabupaten Aceh Besar, yang pusat pemerintahannya berada di Kampung Lamreh.[7]

Cikal Bakal Pembentukan Kesultanan Aceh[sunting | sunting sumber]

H.M Zainuddin dalam buku Tarikh Aceh dan Nusantara menyebutkan kurang lebih pada 400 Masehi, Sumatera Bagian Utara dinamai orang Arab dengan nama Rami (Ramni = terletak di kampung Pande sekarang), orang Tionghoa menyebut LamLi, Lan-wu-li, dan Nan-Poli. Yang sebenarnya adalah sebutan Aceh Lam Muri, dan dalam sejarah Melayu disebut Lambri (Lamiri). Sesudah kedatangan bangsa Portugis dan Italia biasanya mengatakan Achem, Achen, Acen. Sementara orang Arab menyebutkan Asyi, atau juga Dachem, Dagin, Dacin. Penulis-penulis Perancis mengatakan : Atcheen, Acheen, Achin. Akhirnya orang Belanda menyebutkan: Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh sampai akhirnya menjadi Aceh. Orang Aceh sendiri mengatakan Atjeh. Begitupula nama daerah ini disebut dalam tarikh Melayu, undang-undang Melayu, di dalam surat Aceh lama (sarakata) dan pada mata uang Aceh.[8]

Menurut Gerini, nama Lambri (Rami, Ramni) adalah penganti Rambri (Negeri Rama) yang terdapat di Arakan (Birma), yang merupakan perubahan Rama-Bar atau Rama-bari, seperti yang terdapat di dalam bahasa-bahasa India Selatan. Kata ini diduga terbawa dari Pesisir India Selatan (Koromandel) ke Sumatera Utara.[9]

Menurut Rouffaer, asal kata dari al Ramni, atau al Rami adalah pengejaan yang salah dari kata Ramana = Arakan yang digunakan oleh orang Sinhala (Sri Lanka). Hubungan Aceh dengan Birma berdekatan erat, hal ini ditinjau dari berbagai nama kota di Aceh banyak yang menyerupai nama-nama kota di Birma.

Perubahan nama dari Lamuri menjadi Aceh belum dapat dipastikan bagaimana proses terjadinya. Dalam Tarikh Kedah (Marong Mahawangsa) tahun 1220 M (517 H), nama Aceh sudah disebutkan sebagai satu negeri di pesisir pulau Perca (Pulau Sumatera). Orang Portugis Barbosa (1516 M / 922 H) sebagai orang Eropa pertama yang menyebut nama Achem dan buku-buku Tionghoa (1618 M) menyebutkan Aceh dengan nama A-Tse.[10][11][12]

Periode[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Lamuri berumur sekitar lebih dari 6 abad karena terhitung sejak tahun 900-an hingga tahun 1513. Kesultanan ini berakhir setelah menyatu bersama dengan beberapa kerajaan lain di Aceh ke dalam Kesultanan Aceh Darussalam.[13]

Wilayah[sunting | sunting sumber]

Wilayah kekuasaan Kesultanan Lamuri mencakup daerah yang kini dikenal sebagai wilayah administratif Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Indonesia.

Struktur Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Struktur pemerintahan Kesultanan Lamuri tidak jauh berbeda dengan struktur pemerintahan yang berlaku di Kesultanan Samudera Pasai karena kedua kesultanan ini memiliki pola pemerintahan yang berdasarkan pada konsep Islam dan konsep maritim (kelautan). Dalam struktur pemerintahan Kesultanan Lamuri, sultan merupakan penguasa yang tertinggi. Ia dibantu oleh sejumlah pejabat lainnya, yaitu seorang perdana menteri, seorang bendahara, seorang komandan militer Angkatan Laut (dengan gelar laksamana), seorang sekretaris, seorang kepala Mahkamah Agama (atau disebut sebagai qadhi), dan beberapa orang syahbandar yang bertanggung jawab pada urusan pelabuhan (biasanya juga berperan sebagai penghubung komunikasi antara sultan dan pedagang-pedagang dari luar).[14]

Kehidupan Sosial Budaya[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Lamuri merupakan kerajaan laut agraris. Artinya, dasar kehidupan masyarakat di kesultanan ini di samping mengandalkan hasil pertanian juga mengandalkan hasil perdagangan yang dilakukan masyarakat sekitar dengan pedagang-pedagang dari luar, seperti dari Arab, India, dan Cina. Hasil perdagangan yang dimaksud berupa lada dan jenis rempah-rempah lain, emas, beras, dan hewan ternak. Hasil-hasil perdagangan tersebut memang telah mengundang perhatian banyak perdagangan dari luar untuk datang ke Lamuri dan wilayah Aceh secara keseluruhan.[15]

Silsilah Raja-raja[sunting | sunting sumber]

Batu nisan tipe plak pling yang merupakan ciri khas nisan dari Kerajaan Lam Reh

Dari lebih kurang 84 batu nisan yang tersebar di 17 komplek pemakaman, terdapat 28 batu nisan yang memiliki inskripsi. Dari ke-28 batu nisan tersebut diperoleh sebanyak 10 raja yang memerintah Lamuri, 8 orang bergelar malik dan 2 orang bergelar sultan.[16]

  • Malik Syamsuddin (wafat 822 H/1419 M)
  • Malik 'Alawuddin (wafat 822 H/1419 M)
  • Muzhhiruddin. Diperkirakan seorang raja, tanggal wafat tidak diketahui.
  • Sultan Muhammad bin 'Alawuddin (wafat 834 H/1431 M)
  • Malik Nizar bin Zaid (wafat 837 H/1434 M)
  • Malik Zaid (bin Nizar?) (wafat 844 H/1441 M)
  • Malik Jawwaduddin (wafat 842 H/1439 M)
  • Malik Zainal 'Abidin (wafat 845 H/1442 M)
  • Malik Muhammad Syah (wafat 848 H/1444 M)
  • Sultan Muhammad Syah (wafat 908 H/1503 M)[17][18]

Di Lam Reh terdapat makam Sultan Sulaiman bin Abdullah (wafat 1211), penguasa pertama di Indonesia yang diketahui menyandang gelar "sultan". Penemuan arkeologis pada tahun 2007 mengungkapkan adanya nisan Islam tertua di Asia Tenggara yaitu pada tahun 398 H/1007 M. Pada inskripsinya terbaca: Hazal qobri [...] tarikh yaumul Juma`ah atsani wa isryina mia Shofar tis`a wa tsalatsun wa tsamah […] minal Hijri[19]. Namun menurut pembacaan oleh peneliti sejarah Samudra Pasai, Teungku Taqiyuddin Muhammad, nisan tersebut berangka tahun 839 H/1437 M.[20][21]

Situs[sunting | sunting sumber]

Situs Kerajaan Lamuri di kampung Lam Reh kecamatan Mesjid Raya saat ini terancam musnah dikarenakan adanya rencana pembangunan lapangan golf oleh investor.[22][23]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Setyadi, Agus. "Lamuri, Kerajaan Pertama di Aceh yang Beragama Hindu". detiknews. Diakses tanggal 2020-06-12. 
  2. ^ Zuhdi, Susanto (1997-01-01). Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutra :Kumpulan Makalah Diskusi. Direktorat Jenderal Kebudayaan. 
  3. ^ tengkuputeh (2018-06-24). "SEJARAH KERAJAAN LAMURI". Tengkuputeh (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-06-12. 
  4. ^ Seto, Wiyonggo (Sabtu, 31 Oktober 2015). "Sejarah Akan Terus Jadi Inspirasi: Sejarah Kerajaan Lamuri Yang Terlupakan". Sejarah Akan Terus Jadi Inspirasi. Diakses tanggal 2020-06-12. 
  5. ^ "Adakah Kerajaan Lamuri?". Serambi Indonesia. Diakses tanggal 2020-06-12. 
  6. ^ "Platform Media Berita Kolaboratif, Terkini Indonesia Hari Ini - kumparan.com". kumparan. Diakses tanggal 2020-06-12. 
  7. ^ "Jejak Kerajaan Lamuri di Lamreh Aceh Besar, Lintas Peradaban dari Prasejarah, Hindu, Hingga Islam". Serambi Indonesia. Diakses tanggal 2020-06-12. 
  8. ^ BeritaSatu.com. "Jejak Kerajaan Hindu di Aceh". beritasatu.com. Diakses tanggal 2020-06-12. 
  9. ^ "Sejarah Berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam". WAWASANKU. Diakses tanggal 2020-06-12. 
  10. ^ "Penemuan Ratusan Makam Kuno Ungkap Jejak Kerajaan Lamuri di Aceh - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2020-06-12. 
  11. ^ Usman, Abdul Rani. Sejarah Peradaban Aceh: Suatu Analisis Interaksionis, Integrasi dan Konflik. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-602-433-359-1. 
  12. ^ Riezal, Chaerol (4 Februari 2014). "Bunga Rampai Aceh: Dari Kerajaan Lamuri ke Kerajaan Aceh Darussalam". Bunga Rampai Aceh. Diakses tanggal 2020-06-12. 
  13. ^ Meuko, Nurlis E. "Keurajeun Lhee Sagoe; Jejak Jati Diri Orang Aceh – Universitas Abulyatama" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-06-12. 
  14. ^ Utomo, Bambang Budi. Pengaruh kebudayaan India dalam Bentuk Arca di Sumatra. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-602-433-422-2. 
  15. ^ MA, Prof Dr Amirul Hadi (2010). Aceh: Sejarah, Budaya, dan Tradisi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-773-1. 
  16. ^ Lamuri dan Sekilas Usaha MAPESA untuk Menyelamatkannya
  17. ^ Lamuri dan Sekilas Usaha MAPESA untuk Menyelamatkannya
  18. ^ Kawasan Situs Sejarah Lamuri untuk Anak Cucu
  19. ^ Evidence of the Beginning of Islam in Sumatra: Study on the Acehnese Tombstone hal. 139
  20. ^ Lamuri dan Sekilas Usaha MAPESA untuk Menyelamatkannya
  21. ^ Universitas Syiah Kuala pamerkan prasasti kerajaan Islam Lamuri
  22. ^ Situs Kerajaan Lamuri Nyaris Musnah
  23. ^ Kompasiana.com. "Lamuri, Situs Sejarah yang Nyaris Mati". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2020-06-12. 

Sumber[sunting | sunting sumber]

  • Keat Gin Ooi, Southeast Asia: a historical encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor, 2004, ISBN 1-57607-770-5
  • Ricklefs, M. C., A History of Modern Indonesia since c. 1200, Palgrave MacMillan, New York, 2008 (terbitan ke-4), ISBN 978-0-230-54686-8Sejarah Melayu oleh Abdullah Munshi;
  • Hikayat Aceh;
  • Hikayat Merong Mahawangsa (Negeri Kedah);
  • De Hikajat Aceh oleh T. Iskandar;
  • Tarikh Aceh dan Nusantara oleh H.M. Zainuddin;

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]