Utari

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Utari
उटरा
Lukisan Utari dan Pangeran Abimanyu
Lukisan Utari dan Pangeran Abimanyu
Tokoh dalam mitologi Hindu
Nama Utari
Ejaan Dewanagari उटरा
Ejaan IAST Uttarā
Kitab referensi Mahabharata
Asal Kerajaan Wirata
Anak Parikesit

Utari (Dewanagari: उटरा,IASTUttarā, उटरा) (disebut Utarā dalam bahasa Sanskerta) adalah nama putri bungsu Wirata dari Kerajaan Matsya. Ketika naskah Mahabharata disadur ke dalam bahasa Jawa Kuna, tokoh Utarā pun diganti namanya menjadi Utari, misalnya dalam naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis tahun 1157. Ketika kisah Mahabharata dipentaskan dalam pewayangan, para dalang lebih suka memakai nama Utari daripada Utarā.

Dalam kitab keempat Mahabharata yaitu Wirataparwa dikisahkan bahwa Utari berlatih seni tari kepada Arjuna yang saat itu sedang menjalani hukuman penyamaran sebagai seorang waria bernama Wrehanala.

Ketika masa penyamaran kelima Pandawa dan Dropadi di Kerajaan Matsya berakhir, Wirata merasa bersalah karena telah memperlakukan mereka dengan kurang baik. Ia pun menyerahkan Utaraa kepada Arjuna sebagai tanda penyesalan dan minta maaf. Namun Arjuna sudah terlanjur menganggap Utari sebagai anak. Maka, Utari pun diambil sebagai menantu untuk dinikahkan dengan Abimanyu, putranya yang tinggal di Dwaraka.

Abimanyu sendiri akhirnya gugur pada hari ke-13 dalam perang besar di Kurukshetra atau perang Baratayuda, dan meninggalkan Utari dalam keadaan mengandung. Putra hasil perkawinan mereka tersebut setelah lahir diberi nama Parikesit.

Utari dalam pewayangan[sunting | sunting sumber]

Perkawinan Abimanyu dan Utari dalam pewayangan dihiasi dengan tipu muslihat. Ketika keduanya masih pengantin baru, paman Gatutkaca dari pihak ibu yang bernama Kalabendana datang menjemput Abimanyu untuk dibawa pulang karena istri pertamanya, yaitu Sitisundari putri Kresna merindukannya. Mendengar ajakan itu, Abimanyu langsung bersumpah di hadapan Utari bahwa dirinya masih perjaka dan belum pernah menikah. Ia bahkan menyatakan jika ucapannya adalah dusta maka kelak ia akan mati dikeroyok senjata.

Gatutkaca yang membela Abimanyu memukul Kalabendana. Pukulan tidak sengaja itu justru menewaskan pamannya tersebut. Kelak dalam perang Baratayuda, Abimanyu benar-benar tewas dalam keadaan dikeroyok musuh. Sementara itu, arwah Kalabendana juga datang menjemput keponakannya dengan cara memegang senjata Konta milik Karna dan menusukkannya ke pusar Gatutkaca.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]