Kaca (mitologi)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Dalam mitologi Hindu, Kaca (bahasa Sanskerta: कच; Kacha) adalah murid Sukracarya, guru para Detya dan Asura. Riwayatnya muncul sekilas dalam kitab Mahabharata pertama yaitu Adiparwa, dan dituturkan oleh Bagawan Wesampayana kepada Maharaja Janamejaya.

Riwayat [sunting]

Karena Wrehaspati ingin mengetahui mantra amertasanjiwani yang dimiliki oleh Bagawan Sukra, maka ia mengutus Sang Kaca untuk berguru kepada Bagawan Sukra agar mantra tersebut bisa diwariskan. Sebelum Sang Kaca mendapatkan mantra tersebut, Bagawan Sukra meminta Sang Kaca agar mengabdi padanya. Sang Kaca disuruh mengembala lembu, dan pekerjaan tersebut dilakoninya selama lima tahun. Karena pelayanan Sang Kaca, Bagawan Sukra sayang kepadanya. Namun sebaliknya, hal itu membuat iri para Detya dan Asura, yaitu murid-murid Bagawan Sukra. Karena rasa cemburu yang berlebihan, para Detya dan Asura membunuh Sang Kaca pada saat ia sedang mengembala lembu. Jenazahnya dibuang di tengah hutan.

Ketika malam tiba, lembu-lembu yang digembala Sang Kaca pulang dengan sendirinya tanpa dikawal oleh Sang Kaca. Melihat hal itu, Dewayani, puteri Bagawan Sukra merasa cemas lalu meminta ayahnya agar memanggil Sang Kaca. Karena Sang Kaca tak kunjung datang, maka Bagawan Sukra menggunakan mantra amertasanjiwani sambil memanggil Sang Kaca. Akhirnya Sang Kaca hidup kembali dan keluar dari semak belukar, dimana jenazahnya dibuang. Ia pulang ke asrama Bagawan Sukra.

Saat para Detya dan Asura tahu bahwa Sang Kaca hidup kembali, maka mereka berniat membunuh Sang Kaca dengan cara yang lebih sadis. Mereka membakar jenazah Sang Kaca sampai menjadi abu, lalu mencampurkan abu tersebut bersama dengan makanan dan minuman, kemudian disuguhkan kepada Bagawan Sukra. Ketika Bagawan Sukra selesai menyantap hidangan tersebut, Dewayani meminta agar Sang Kaca dipanggil. Karena Sang Kaca tak kunjung datang, maka mantra amertasanjiwani digunakan. Kemudian terdengarlah suara Sang Kaca dari dalam perut Bagawan Sukra.

Setelah mendengarkan penjelasan Sang Kaca, Bagawan Sukra menjadi tahu bahwa ulah para Detya dan Asura sangat jahat. Mereka mencampur abu jenazah Sang Kaca ke dalam makanan dan minuman yang disantap Bagawan Sukra. Untuk mengeluarkan Sang Kaca, Bagawan Sukra rela perutnya dibedah. Sebelum keluar, Sang Kaca diberi mantra amertasanjiwani agar kelak Bagawan Sukra mampu dihidupkan kembali setelah dibedah perutnya oleh Sang Kaca. Setelah Sang Kaca membedah perut Bagawan Sukra, ia menghidupkan kembali gurunya tersebut dengan mantra amertasanjiwani. Karena sudah mendapatkan mantra yang selama ini ia cari, ia mohon pamit kepada Bagawan Sukra untuk kembali ke kahyangan.

Sebelum Sang Kaca terbang ke kahyangan, Dewayani meminta agar Sang Kaca menikahinya, namun Sang Kaca menolak karena ia enggan untuk menikahi puteri gurunya sendiri. Atas penolakan tersebut, Dewayani mengutuk Sang Kaca agar kelak ilmu yang diperolehnya tidak sempurna, tetapi Sang Kaca membalas Dewayani dengan mengutuk bahwa kelak Dewayani akan dimadu oleh budaknya sendiri (Sarmista). Adapun kutukan yang diberikan oleh Dewayani tidak akan mempan sebab Dewayani memaksa menikah karena didasari nafsu sementara Sang Kaca tidak bersedia.

Lihat pula [sunting]

Pranala luar [sunting]