Johannes Leimena

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Johannes Leimena
Wakil Perdana Menteri Indonesia
Masa jabatan
9 April 1956 – 9 Juli 1959
Presiden Soekarno
Didahului oleh Mohamad Roem
Digantikan oleh Tidak ada
Menteri Sosial Republik Indonesia ke-13
Masa jabatan
9 April 1957 – 10 Juli 1959
Presiden Soekarno
Didahului oleh Fatah Jasin
Digantikan oleh Muljadi Djojomartono
Menteri Kesehatan Republik Indonesia ke-3
Masa jabatan
3 Juli 1947 – 4 Agustus 1949
Presiden Soekarno
Didahului oleh Darma Setiawan
Digantikan oleh Surono
Masa jabatan
6 September 1950 – 30 Juli 1953
Presiden Soekarno
Didahului oleh Sutopo
Digantikan oleh F.L. Tobing
Masa jabatan
12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956
Presiden Soekarno
Didahului oleh Lie Kiat Teng
Digantikan oleh Handrianus Sinaga
Informasi pribadi
Lahir 6 Maret 1905
Bendera Belanda Ambon, Maluku, Hindia Belanda
Meninggal 29 Maret 1977 (umur 72)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Partai politik Partai Kristen Indonesia
Agama Protestan

Dr. Johannes Leimena (lahir di Ambon, Maluku, 6 Maret 1905 – meninggal di Jakarta, 29 Maret 1977 pada umur 72 tahun) adalah salah satu pahlawan Indonesia. Ia merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

Riwayat hidup[sunting | sunting sumber]

Leimeina dilahirkan di Kota Ambon. Pada tahun 1914, Leimena hijrah ke Batavia (Jakarta) dimana ia meneruskan studinya di ELS (Europeesch Lagere School), namun hanya untuk beberapa bulan saja lalu pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Dari sini ia melanjutkan pendidikannya ke MULO Kristen, kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) - cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Keprihatinan Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada "Gerakan Oikumene". Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Leimena terus mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk pada tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.

Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu.

Setelah menempuh pendidikan kedokterannya di STOVIA Surabaya (1930), ia melanjutkan pendidikan di Geneeskunde Hogeschool (GHS - Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 1939. Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)

Leimena mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930. Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di "CBZ Batavia" (kini RS Cipto Mangunkusumo). Tak lama ia dipindahtugaskan di Karesidenan Kedu saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Immanuel Bandung. Di rumah sakit ini ia bertugas dari tahun 1931 sampai 1941.

Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) terbentuk dan pada tahun 1950, ia terpilih sebagai ketua umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957. Selain di Parkindo, Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga pada tahun 1950. Di lembaga ini Leimena terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara.

Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya seperti Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Leimena diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI, dan pernah pula menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini.

Pada tanggal 29 Maret 1977, J. Leimena meninggal dunia di Jakarta.

Diangkat menjadi Pahlawan Nasional[sunting | sunting sumber]

Sebagai penghargaan kepada jasa-jasanya, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden No 52 TK/2010 pada tahun 2010 memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Dr. Leimena.[1]

Jabatan[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ [1]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
Darma Setiawan
Menteri Kesehatan
1947–1949
Diteruskan oleh:
Sitompul
Didahului oleh:
Surono
Menteri Kesehatan
1949–1950
Diteruskan oleh:
Sutopo
Didahului oleh:
Sutopo
Menteri Kesehatan
1950–1953
Diteruskan oleh:
F.L. Tobing
Didahului oleh:
Lie Kiat Teng
Menteri Kesehatan
1955-1956
Diteruskan oleh:
Handrianus Sinaga
Didahului oleh:
Fatah Jasin
Menteri Sosial
1957-1959
Diteruskan oleh:
Muljadi Djojomartono