Roeslan Abdulgani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Prof. Dr. [HC]. H. Roeslan Abdulgani
Menteri Penerangan ke-15
Masa jabatan
13 November 1963 – 27 Agustus 1964
Presiden Soekarno
Didahului oleh Mohammad Yamin
Digantikan oleh Achmadi
Menteri Luar Negeri ke-9
Masa jabatan
24 Maret 1956 – 9 April 1957
Presiden Soekarno
Didahului oleh Ide Anak Agung Gde Agung
Digantikan oleh Soebandrio
Rektor IKIP Bandung ke-1
Masa jabatan
2 Mei 1964 – 12 Juni 1966
Presiden Soekarno
Didahului oleh Periode PTPG Bandung dan FKIP UNPAD
Digantikan oleh Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, S.H., M.PA.
Informasi pribadi
Lahir 24 November 1914
Bendera Belanda Surabaya, Jawa Timur, Hindia Belanda
Meninggal 29 Juni 2005 (umur 90)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Profesi Diplomat
Agama Islam

Prof. Dr. [HC]. H. Roeslan Abdulgani (lahir di Surabaya, 24 November 1914 – meninggal di Jakarta, 29 Juni 2005 pada umur 90 tahun) adalah negarawan dan politikus Indonesia yang merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia pada tahun 1956-1957. Dia akrab dipanggil Cak Roes. Dia juga pernah menjadi Rektor IKIP Bandung yang pertama periode 1964-1966, dan tercatat sebagai Pimpinan ke 3 Kampus Bumi Siliwangi sejak bernama PTPG Bandung.

Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Roeslan Abdulgani lahir di Surabaya pada 24 November 1914. Saat remaja ia bergabung dengan Natipy, kepanduan yang berhaluan nasional. Ia juga menjadi anggota Jong Islamieten Bond serta Indonesia Muda. Waktu itu Indonesia Muda dianggap sebagai organisasi yang berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah tamat dari HBS (setingkat sekolah lanjutan sekarang), Roeslan diterima di Openbare Europese Kweekschool, sekolah guru untuk orang Eropa, namum ia dikeluarkan karena ketahuan menjadi anggota Indonesia Muda. Ia juga pernah menjadi Ketua Pedoman Besar Indonesia Muda, setelah ketuanya yang lama, Sukarni menghilang karena dikejar-kejar Belanda. Dijaman penjajahan Jepang, ia memimpin gerakan Angkatan Muda, ia ikut merebut kekuasaan dari Jepang, saat Proklamasi Kemerdekaan.

Ketika pasukan sekutu mendarat di Surabaya, ia terlibat beberapa pertempuran dan sesudah 10 November 1945, ia terpaksa menyingkir ke Malang. Disana ia bekerja di Kementerian Penerangan, ia pun diangkat menjadi Seketaris Jenderal Kementerian Penerangan, yang waktu itu berkedudukan di Yogyakarta. Pada saat Agresi Militer ke-2, tanggal 19 Desember 1945, ia tertembak pada tangan kanan dan beberapa jari tangannya terpaksa dipotong [1]

Setelah penyerahan kedaulatan, ia ikut pindah ke Jakarta, kariernya terus menanjak, ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri pada tahun 1954-1956. Setahun kemudian, dia menjadi Sekretaris Jenderal Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955. Setelah jabatan Menteri Luar Negeri pada Kabinet Ali Sastromidjojo II , ia menjadi Menteri Penerangan pada tahun 1962-1966, dan Wakil Perdana Menteri pada tahun 1966-1967. Saat itu pula ia dipercaya menjadi Rektor IKIP Bandung dan Ketua Jurusan Sejarah Budaya IKIP Bandung (1964-1966). Setelah tampuk kepresidenan berganti dari Soekarno ke Soeharto, Roeslan dipercaya menjadi Duta Besar RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa (1967-1971) dan menjabat Ketua Tim Penasihat Presiden mengenai Pancasila selama 20 tahun sejak tahun 1978.

Roeslan juga mempunyai gelar Jenderal TNI Kehormatan Bintang Empat, Bintang Mahaputra. Semasa hidupnya, dia dikenal mempunyai hubungan yang dekat dengan Presiden Soeharto. Dari pernikahannya dengan Sihwati Nawangwulan, dia memperoleh lima anak.

Riwayat Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Karier Akademik dan Politik[sunting | sunting sumber]

  1. Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan RI (1947-1949);
  2. Menteri Luar Negeri, (1956-1957);
  3. Ketua Jurusan Sejarah Budaya IKIP Bandung, (1962-1966);
  4. Menko Hubungan Rakyat, (1962-1965);
  5. Menteri Penarangan, (1962-1965);
  6. Rektor IKIP Bandung, (1964-1966);
  7. Duta Besar RI untuk PBB, (1967-1971);
  8. Kepala BP7 Pusat, (1978-1992)

Karya Ilmiah [2][sunting | sunting sumber]

  1. Mendajung dalam Taufan: Politik Luar Negeri Indonesia, 1956-1967 (Djakarta: Kementerian Luar Negeri, 1958);
  2. Penggunaan Ilmu Sedjarah (Djakarta: B.P. Prapantja, 1962);
  3. Nationalism, Revolution, and Guided Democracy in Indonesia (Australia: Monash University, 1973);
  4. Konferensi Asia-Afrika, Bandung: Sejarah, Cita-cita, dan Pengaruhnya (Jakarta: Yayasan Idayu, 1975);
  5. Asia Tenggara di Tengah Raksasa Dunia (Jakarta: Lembaga Studi Pembangunan, 1978);
  6. Indonesia Menatap Masa Depan (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1987)

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ensiklopedi Nasional Indonesia, Penerbit PT. Delta pamungkas, 2004
  2. ^ Buku: Suwita, Andi dan Zulkabir. 2010. "Membangun Pendidikan Guru Tingkat Universitas: Pemikiran dari Mas Sadarjoen Siswomartojo hingga Sunaryo Kartadinata, 1954-2010" Bandung: UPI Press Halaman 72

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Lambertus Nicodemus Palar
Duta Besar RI untuk PBB
1967 - 1971
Diteruskan oleh:
Yoga Soegomo
Jabatan politik
Didahului oleh:
Ida Anak Agung Gde Agung
Menteri Luar Negeri Indonesia
1956 - 1957
Diteruskan oleh:
Subandrio
Didahului oleh:
Mohammad Yamin
Menteri Penerangan Indonesia
1963-1964
Diteruskan oleh:
Achmadi
Jabatan akademik
Didahului oleh:
Periode PTPG Bandung dan FKIP UNPAD
Rektor IKIP Bandung
1964-1966
Diteruskan oleh:
Achmad Sanusi