Ali Sadikin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Ali Sadikin
Gubernur DKI Jakarta ke-9
Masa jabatan
1966 – 1977
Presiden Soekarno
Soeharto
Didahului oleh Dr. Soemarno
Digantikan oleh Tjokropranolo
Menteri Perhubungan Republik Indonesia ke-14
Masa jabatan
13 November 1963 – 28 Maret 1966
Presiden Soekarno
Didahului oleh R. Iskandar
Digantikan oleh Hidajat Martaatmadja
Ketua Umum PSSI ke-8
Masa jabatan
1977 – 1981
Presiden Soeharto
Didahului oleh Moehono
Digantikan oleh Sjarnoebi Said
Informasi pribadi
Lahir Ali Sadikin
7 Juli 1927
Bendera Belanda Sumedang, Jawa Barat, Hindia Belanda
Meninggal 20 Mei 2008 (umur 80)
Bendera Singapura Singapura
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Suami/istri Nani Sadikin
Agama Islam
Tanda tangan

Ali Sadikin (lahir di Sumedang, 7 Juli 1927 – meninggal di Singapura, 20 Mei 2008 pada umur 80 tahun)[1] adalah seorang letnan jenderal KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut) yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 1966. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan di bawah pimpinan Presiden Soekarno. Ali Sadikin menjadi gubernur yang sangat merakyat dan dicintai rakyatnya. Karena itu ia disapa akrab oleh penduduk kota Jakarta dengan panggilan Bang Ali, sementara istrinya, Ny. Nani Sadikin, seorang dokter gigi yang disapa Mpok Nani.

Gubernur Jakarta[sunting | sunting sumber]

Ali Sadikin di masa tuanya.

Ali Sadikin adalah gubernur yang sangat berjasa dalam mengembangkan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern. Di bawah kepemimpinannya Jakarta mengalami banyak perubahan karena proyek-proyek pembangunan buah pikiran Bang Ali, seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, dll. Bang Ali juga mencetuskan pesta rakyat setiap tahun pada hari jadi kota Jakarta, 22 Juni. Bersamaan dengan itu berbagai aspek budaya Betawi dihidupkan kembali, seperti kerak telor, ondel-ondel, lenong dan topeng Betawi, dsb.

Ia juga sempat memberikan perhatian kepada kehidupan para artis lanjut usia di kota Jakarta yang saat itu banyak bermukim di daerah Tangki, sehingga daerah tersebut dinamai Tangkiwood.

Selain itu, Bang Ali juga menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta yang saat ini lebih dikenal dengan nama Jakarta Fair, sebagai sarana hiburan dan promosi dagang industri barang dan jasa dari seluruh tanah air, bahkan juga dari luar negeri. Ali Sadikin berhasil memperbaiki sarana transportasi di Jakarta dengan mendatangkan banyak bus kota dan menata trayeknya, serta membangun halte (tempat menunggu) bus yang nyaman.

Di bawah pimpinan Bang Ali, Jakarta berkali-kali menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) yang mengantarkan kontingen DKI Jakarta menjadi juara umum selama berkali-kali.

Kebijakan kontroversial[sunting | sunting sumber]

Salah satu kebijakan Bang Ali yang kontroversial adalah mengembangkan hiburan malam dengan berbagai klab malam, mengizinkan diselenggarakannya perjudian di kota Jakarta dengan memungut pajaknya untuk pembangunan kota, serta membangun kompleks Kramat Tunggak sebagai lokalisasi pelacuran. Di bawah kepemimpinannya pula diselenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta.

Akhir jabatan[sunting | sunting sumber]

Masa jabatan Ali Sadikin berakhir pada tahun 1977, dan ia digantikan oleh Letjen. Tjokropranolo. Setelah berhenti dari jabatannya sebagai gubernur, Ali Sadikin tetap aktif dalam menyumbangkan pikiran-pikirannya untuk pembangunan kota Jakarta dan negara Indonesia. Hal ini membawanya kepada posisi kritis sebagai anggota Petisi 50, sebuah kelompok yang terdiri dari tokoh-tokoh militer dan swasta yang kritis terhadap pemerintahan mantan Presiden Soeharto.

Meninggal[sunting | sunting sumber]

Bang Ali meninggal di Singapura pada hari Selasa, 20 Mei 2008. Dia meninggalkan lima orang anak lelaki dan istri keduanya yang ia nikahi setelah Nani terlebih dahulu meninggal mendahuluinya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, anak sulung mantan presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana turut hadir melayat ke rumah duka. Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ali Sadikin Meninggal Dunia, Detik. Diakses pada 20 Mei 2008.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Soemarno
Gubernur Jakarta
19661977
Diteruskan oleh:
Tjokropranolo
Didahului oleh:
R. Iskandar
Menteri Perhubungan
19631966
Diteruskan oleh:
Hidajat Martaatmadja
Jabatan olahraga
Didahului oleh:
Moehono
Ketua Umum PSSI
19771981
Diteruskan oleh:
Sjarnoebi Said