Gude

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Gude
Gude, Cajanus cajandari Ayotupas, Timor Tengah Selatan
Gude, Cajanus cajan
dari Ayotupas, Timor Tengah Selatan
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk) Eudicots
(tidak termasuk) Rosids
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Genus: Cajanus
Spesies: C. cajan
Nama binomial
Cajanus cajan
(L.) Millsp.[1]
Sinonim
  • Cytisus cajan L. (1753)[2]
  • Cytisus pseudocajan Jacq. (1772)[3]
  • Cajanus flavus DC. (1813), nom. illeg.
  • Cajanus indicus Spreng. (1826)[4]
  • Cytisus guineensis Schumach. & Thonn. (1827)[5]

Gude, kacang gude, atau kacang bali (Cajanus cajan) adalah sejenis tanaman kacang-kacangan yang bersifat tahunan (perenial). Bijinya dapat dimakan dan menjadi sumber pangan alternatif. Tanaman ini relatif tahan panas dan kering sehingga cocok sebagai tanaman penghijauan kawasan kering.

Di Indonesia, tumbuhan ini disebut binatung (Makassar),[6] fouhate (Ternate dan Tidore),[7] gude, kacang kayu, kacang gude (Jawa), kacang bali (Bahasa Melayu), kacang hiris (Sunda), kance (Bugis), kekace, undis (Bali), kacang iris, kacang turis, lebui, legui, puwe jai (Halmahera), tulis (Rote), tunis (Timor), dan ritik lias (Batak Karo).[8]

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Pelat botani menurut Blanco

Gude merupakan perdu dengan tinggi mencapai 3 m.[9] Tumbuhan ini juga merupakan kacang tahunan dengan umur yang tidak terlalu panjang, hanya 1-5 tahun.[7] Batangnya berbulu halus, dan bercabang banyak. Ia berbentuk bulat, beralur, berbulu, hijau kecokelatan. Daunnya ganda, beranak daun berjumlah tiga. Ada bulu-bulu halus baik pada bagian atas maupun bawahnya. Helai daun bulat telur sampai elips, tersebar, ujung dan pangkalnya runcing, tepinya rata, bentuk pertulangannya menyirip, dan warnanya hijau.[8] Tangkainya pendek berwarna hijau. Bunganya berbentuk kupu-kupu, berwarna jingga, ataupun kecoklat-coklatan.[9] berjumlah majemuk, karangan bunga sepanjang 15-30 cm, serbuk sarinya berwarna kuning, putiknya satu, bengkok, mahkotanya berwarna kuning dan juga berbentuk kupu-kupu.[6] Buahnya polong, dapat mencapai 7,5 cm,[9] lurus/membengkok seperti sabit, membulat, menjorong/agak persegi. Biji berwarna putih, krim, coklat, ungu kehitaman,[7] dan juga kecil. Akarnya tunggang, dan berwarna putih kotor.[6]

Polong yang memecah, memperlihatkan biji

Gude berkecambah 2-3 minggu setelah disemai di tanah. Apabila ditanam secara vegetatif, dia akan tumbuh secara lambat. Setelah 2-3 bulan, maka dia akan bertumbuh dengan akselerasi. Mulai berbunga 56-210 kemudian setelah penyemaian. Kacang gude berusia dewasa dalam waktu 95-256 hari dalam kondisi normal di waktu musim hujan pada waktu siang yang panjang. Apabila siangnya pendek, perpanjang tubuh tumbuhan akan melambat dan bunganya akan terakselerasi. Di Indonesia, musim berbunga dan berbuah mungkin terjadi sepanjang tahun.[10]

Persebaran & habitat[sunting | sunting sumber]

Polong muda

Menurut Setijati Sastrapradja dkk. (1981), gude ditemukan di ditemukan di Afrika. Pusat keanekaragamannya yang kedua adalah berada di India. Sekarang, tumbuhan ini acapkali bisa ditemui di wilayah-wilayah tropis dan subtropis.[9] Menurut catatan Prosea, gude berasal dari India, dan menyebar hingga Asia Tenggara. Gude sampai ke Afrika 2000 SM atau lebih awal daripada itu, dan mencapai Amerika lewat jalan perdagangan budak-budak Afrika dan sejumlah penaklukan di sana, dan datangnya gude ini diperkirakan melalui Atlantik dan Pasifik. Ia kini tumbuh di seluruh wilayah tropis, termasuk Anakbenua India dan Afrika Selatan, kemungkinan abad ke-17 Masehi.[10][11]

Catatan-catatan lain menunjukkan bahwa kemungkinan ia memang datang dari India. Pusat persebarannya adalah bagian timur semenanjung India, termasuk wilayah Odisha, yang di sana ada kerabat liarnya (Mansi) yang dapat ditemui di hutan tropis.[12] Penemuan arkeologis terhadap kacang bali didapati dalam dua situs Neolitik di Odisha, Gopalpur dan Golbai Sassan yang bertanggal sekitar 3.400 dan 3.000 tahun lalu, dan sebuah situs di India Selatan, Sanganakallu dan Tuljapur Garhi, yang juga bertanggal 3,400 tahun lalu.[13] Dari India, ia sampai ke Afrika Timur dan Afrika Barat. Saat kacang ini didapati oleh orang Eropa, maka dari situlah kacang gude diberi nama Congo Pea (Kacang Kongo).[11]

Di Indonesia, gude paling tidak sudah dibudiayakan di Pulau Jawa Di Pulau Jawa sejak abad ke-6 Masehi. Budidaya gude secara luas belum pernah dilakukan, tapi kacang gude umumnya ditanam di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.[14] Terutama di Jawa bagian timur, banyak ditemukan di huma-huma maupun kebun-kebun hingga pada ketinggian 2000 mdpl.[9] Heyne mengatakan tumbuhan ini ditanam 1650 mdpl. Dia bisa dibudidayakan baik di negara-negara beriklim tropis maupun subtropis. Dahulu, di wilayah Sunda, tumbuhan ini ditanam baik di lahan kring ataupun tanggul untuk mengairi sawah.[15] Di Jawa, gude ditanam sebagai tanaman pangan atau sebagai pupuk hijau. Dapat tumbuh dari dataran rendah hingga pada ketinggian 2000 mdpl. Pertumbuhannya membutuhkan banyak cahaya matahari dan tidak tahan terhadap kondisi lembap.[16]

Kegunaan & manfaat[sunting | sunting sumber]

Biji-biji kacang gude
Kacang gude, biji kering
Nilai nutrisi per 100 g (3.5 oz)
Energi 1.450 kJ (350 kcal)
Karbohidrat 36-65.8 g
- Serat pangan 5-9.4 g
Lemak 1-9 g
Protein 1430 g
Air 7-10.3 g
Tautan ke entri Proseabase
Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.
Sumber: PROSEA

Polongnya yang masih muda dipergunakan sebagai lalap, sayur ataupun rujak. Bijinya yang sudah tua digoreng dan bisa pula digunakan sebagai obat.[9] Bisa pula polong tuanya ini dipergunakan untuk membuat tempe dan tahu sebagai pengganti kedelai, ataupun dipanggang.[10][a] Pada masa Heyne dahulu (1916), dhal dianggap kurang berguna; sehingga kacang gude dipergunakan sebagai makanan dessert dengan rasa manis dan gurih.[15] Daun muda bisa dimakan mentah sebagai lalab, direbus atau dikukus.[16] Di Anakbenua India, kacang gude diambil polongnya dan dijadikan suatu masakan bernama dhal, bijinya yang segar dan bahkan putiknya dipakai untuk sayor (=sayur, sup berrempah). Cabang dan batang dipakai untuk bahan bakar dan keranjang. Sering dipergunakan sebagai tanaman peneduh sekaligus tanaman pangan, penahan angin (windbreak), atau tanaman peneduh bagi vanila. Gude juga memperbaiki keadaan tanah karena sistem perakarannya yang lebar, mengikat nitrogen bersama Rhizobium dan yang disediakan oleh daun yang jatuh. Di Madagaskar, gude yang disebut gude ini pula digunakan untuk makanan ulat sutra dan pengusir kutu lak untuk di Bengal Utara, dan Thailand.[10]

Untuk kandungan kimia dan gizinya, diketahui bahwa: daun gude mengandung flavonoida, saponin, dan polifenol. Sedangkan batang mengandung flavonoida, saponin, dan tanin.[16] Menurut situs Globinmed.com, disebutkan lebih lengkap kandungan gizinya:2'-o-methylcajanone, 7-hydroxy-methoxyisolaflavone, alpha-copaene, beta-himachalene, cajaminose, cajanin, asam cajaninistilbene, cajaquinone, lupeol, orientin, asam fitat, pinostrobin, vitexin, dan lain-lain.[17] Energi yang terkandung berkisar 1450 kJ/100 g. Biji segar mengandung vitamin, terutama provitamin A dan vitamin B kompleks.[10]

Dalam pengobatan, gude juga sangat berguna; rebusan daun dari kacang gude dimanfaatkan dalam pengobatan.[9] Heyne mempelajari bahwa di Buitenzorg (sekarang Bogor) bahwa di sana ia dipergunakan untuk mengobati gatal-gatal.[15] Daun kacang gude dipergunakan untuk mengobati sakit kuning, sakit pada mulut, pernafasan, dan gangguan perut. Di Jawa, daun memang dipergunakan untuk mengobati demam, dan herpes. Akar dan biji juga tak kalah berguna; akar untuk mengobati cacingan, batuk berdahak, dan luka. Sementara, bijinya dipergunakan utnuk mengobati memar.[16][10] Di beberapa wilayah di Afrika, tumbuhan ini dipakai untuk mengobati masalah pencernaan. Malahan, di Madagaskar tumbuhan ini dipakai untuk membersihkan gigi. Selain itu pula, tumbuhan ini dipakai untuk mengobati infeksi mata, sakit telinga, dan akarnya dipakai untuk pengobatan sipilis.[17]

Penanaman[sunting | sunting sumber]

Sebagai tanaman pangan yang multifungsi, gude mungkin bisa dipergunakan sebagai tanaman yang bisa ditanam di tempat kering di Indonesia (Jawa Timur, dan Kepulauan Sunda) serta Filipina. Bisa ditanam di tepian perkebunan dan sawah-sawah. Kemudian, ia juga diperbanyak baik dengan biji maupun setek. Ia ditanam dengan jarak antar baris 30-50 cm × 75-150 cm. Bisa ditanam secara bersamaan dengan sorgum, kacang tanah dan kapas.[10] Penggunaan mesin dipergunakan hanya untuk kultivar berumur pendek. Hama kacang gude yang dikenal adalah spesies Heliothis dan lalat buah Agromyza. Sedangakan, di Sulawesi Selatan, kacang gude diganggu oleh hama perusak polong, yakni Maruca testulalis dan Helicoverpa sp. Padahal, hasil panen daripada kacang gude ini merupakan sumber nilai tambah pada petani di sana.[14] Yang menarik, setelah adanya musim hujan -sebagaimana kata Rumphius dikutip Heyne- bahwa "ulat akan datang menghinggap di buah dan daun. Tumbuhan ini berbuah setengah tahun setelah ditanam.[15] Setelah tumbuhan dipanen, dan dalam sekali panen, bisa menghasilkan 716 kg/ha -untuk di India-. Setelah panen, hendaknya ia harus diletakkan di tempat kedap udara. Di Hindia Barat, kacang gude dikalengkan dan dibekukan untuk dijual dan diekspor hingga ke Amerika Serikat; dari situ, bisa didapat keuntungan mencapai miliaran-juta dolar.[10]

Taksonomi[sunting | sunting sumber]

Menurut Heyne, gude terbagi menjadi beberapa forma, dan dibedakan berdasarkan warna kulit biji, terutama:[15]

  • abu-abu putih;
  • kuning;
  • coklat dan;
  • hitam.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan bawah

  1. ^ Catatan penggunaan kacang gude sudah lebih awal dibuat oleh Karel Heyne (1916 dalam De nuttige planten van Nederlandsch-Indië [Tumbuhan berguna dari Hindia Belanda]), dia mengutip pernyataan H.C.H. De Bie (Januari 1915) dari Pemimpin Pengoesaha Tanah (EYD:Pemimpin Pengusaha Tanah) yang mempergunakan daun kacang gude yang direbus dan polong mudanya yang dipakai untuk semacam tempe.[15]

Rujukan

  1. ^ Millspaugh, C.F. 1900. Publications of the Field Columbian Museum. Botanical series. 2(1): 53. Chicago, IL.
  2. ^ Linne, C. von. 1753. Species plantarum :exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, ... 2: 739. Holmiae : Impensis Laurentii Salvii
  3. ^ Jacquin, N.J. von. 1772. Hortus Botanicus Vindobonensis v. 2: 54. Vindobonae : Typis Leopoldi Joannis Kaliwoda, aulae imperialis typographi.
  4. ^ Sprengel, C.P.J.. 1826. Systema vegetabilium [Caroli Linnaei ... ]. Editio decima sexta. vol. III: 248. Gottingae, Sumtibus Librariae Dieterichianae.
  5. ^ Schumacher, H.C.F. 1827. Beskrivelse af Guineeiske Planter som ere Fundne af Danske Botanikere, Isaet af Etatsraad Thonning ved F. C. Schumacher. Kjöbenhavn p.349
  6. ^ a b c "Cajanus cajan Millspaugh.". Departemen Kesehatan. 14 November 2001. Diakses 27 April 2013. 
  7. ^ a b c "Cajanus cajan Druce.". Prosea - Prohati. Diakses 27 April 2013. 
  8. ^ a b "Gude". IPTEKnet. Diakses 27 April 2013. 
  9. ^ a b c d e f g Sastrapradja, Setijati; Lubis, Siti Harti Aminah; Djajasukma, Eddy; Soetarno, Hadi; Lubis, Ischak (1981). Proyek Penelitian Potensi Sumber Daya Ekonomi:Sayur-Sayuran 6:36 – 37. Jakarta: LIPI bekerja sama dengan Balai Pustaka. OCLC 66307472.
  10. ^ a b c d e f g h van der Maesen, L.J.G. (1989)."Cajanus cajan (L.) Millsp". In: van der Maesen, L.J.G. & Somaatmadja, S. (Editor). "Plant Resources of South-East Asia No. 1: Pulses." Pudoc, Wageningen, The Netherlands, hal. 39-42 dalam "Cajanus cajan". E-Prosea Detail. Diakses 1 Agustus 2013. 
  11. ^ a b Carney, J. A.; Rosomoff, R. N. (2009). In the Shadow of Slavery. Africa’s Botanical legacy in the Atlantic World. Berkeley:University of California Press.
  12. ^ Van der Maeson, L. J. G. (1995). "Pigeonpea Cajanus cajan", hal. 251–5 dalam Smartt, J.; Simmonds, N. W. (eds.), Evolution of Crop Plants. Essex:Longman.
  13. ^ DOI:10.1179/174963106x123232
    Rujukan ini akan diselesaikan secara otomatis dalam beberapa menit. Anda dapat melewati antrian atau membuat secara manual
  14. ^ a b Mas'ud, Syharir Kajian Perusak Polong Sebagai Hama Utama pada Kacang Gude di Sulawesi Selatan hal.373 – 379. dalam Prosiding Pekan Serealia Nasional. ISBN 978-979 8940-29-3.
  15. ^ a b c d e f Heyne, Karel (1916). De nuttige planten van Nederlandsch-Indië [Tumbuhan berguna dari Hindia Belanda]. 2:332. Batavia:Ruygrok.
  16. ^ a b c d Dalimartha, Setiawan (1999). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia 1:65 – 67. Jakarta:Trubus Agriwidya. ISBN 979-661-051-5.
  17. ^ a b "Cajanus cajan". Globinmed. Diakses 21 November 2013. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]