Setiawan Dalimartha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Setiawan Dalimartha
Seorang pria berkaca mata melihat ke arah kamera
Setiawan Dalimartha
Lahir 2 Agustus 1950
Jakarta
Meninggal 2 Juli 2012 (umur 61)
Kewarganegaraan Bendera Indonesia Indonesia
Nama lain Setiawan
Almamater Universitas Tarumanegara, Universitas Airlangga
Pekerjaan

Anggota IDI
Pendiri Himpunan Pengobatan Tradisional dan Akupunktur Indonesia

(HIPTRI), dan menjadi sekretaris umum di sana
Penulis dan pembicara terkenal

Dr. Alfonsus Setiawan Dalimartha (lahir di Jakarta, 2 Agustus 1950 – meninggal di Jakarta, 2 Juli 2012 pada umur 61 tahun) atau yang lebih dikenal dengan nama pena Setiawan Dalimartha adalah seorang dokter, anggota IDI, dan menjadi sekretaris umum di HITRI. Setiawan Dalimartha juga aktif menulis di majalah, koran, dan juga buletin, dia juga banyak menulis buku-buku terkenal seperti Atlas Tumbuhan Obat Indonesia lengkap dari jilid 1 (1999)-jilid 6 (2009). Selain aktif menulis, dia juga sering menjadi pembicara.

Biografi dan karier[sunting | sunting sumber]

Setiawan Dalimartha lahir dengan nama Alfonsus Setiawan Dalimartha lahir di Jakarta, pada tanggal 2 Agustus 1950. Ia mendapati gelar kesarjanaannya di Universitas Tarumanegara dan mengikuti ujian negara di Universitas Airlangga.[1]

Sebelum meninggal, ia bekerja sebagai PNS di Pemda DKI Jakarta dengan pangkat terakhir sebagai Pembina Utama Muda Golongan IV C. Awalnya, ia menjadi anggota IDI Jakarta Barat. Ia mulai memperdalam ilmu pengobatan tradisional, seperti akupunktur dan ramuan pengobatan tradisional sejak tahun 1983.[1] Pada tahun 1992, ia bersama beberapa rekannya mendirikan HIPTRI, dan jabatan terakhirnya adalah sebagai sekretaris umum. Pada Desember 1995, ia dilantik Menteri Kesehatan RI sebagai anggota Sentra P3T yang berkedudukan di RS dr. Cipto Mangunkusumo. Jabatan terakhirnya di sana sebagai Sekretaris Bidang Pelayanan dan Uji Coba.[1] Selain itu, Setiawan juga pernah bekerja sebagai staf ahli majalah Nirmala dan juga mengasuh rubrik "Sebelum ke Dokter" yang ada di majalah itu.[2]

Setiawan Dalimartha meninggal pada 2 Juli 2012 pada usia 61 tahun. Setiawan Dalimartha disemayamkan di Rumah Duka Abadi - Daan Mogot, Ruang VIP dan dimakamkan pada 5 Juli 2012, didahului dengan Misa Pelepasan pada pk. 08.00 WIB. Berangkat dari Rumah Duka pukul 09.00 WIB ke TPU Petamburan.[3]

Pendapat dan pemikiran[sunting | sunting sumber]

Buah ini, berjenis buni dengan posisi dibelah dua dan diletakkan di atas lantai
Tumbuhan ini, mahkota dewa, pernah dianggap sebagai tumbuhan obat yang mujarab selain keladi tikus yang padahal kedua tumbuhan tersebut beracun

Pada saat zaman krisis keuangan tahun 1997, masyarakat Indonesia kembali menggunakan tumbuhan obat tradisional sebagai pengobatan alternatif. Namun, minat ini tidak diiringi dengan pengetahuan masyarakat yang memadai tentang khasiat dan kandungan tanaman obat.[4] Maka, pada tahun 2001 yang lalu, muncullah sebuah tumbuhan obat yang beracun yang "didewa-dewakan", yaitu keladi tikus (Typhonium flagelliforme [Lodd.] Blume) dan mahkota dewa (Phaleria macrocarpa [Scheff.] Boerl).[a] yang pada saat itu Maka, Dalimartha berujar bahwasanya memakan tumbuhan obat, sekalipun racunnya kecil, apabila tidak diolah, maka akan merusak berbagai organ.[4]

Pada jilid ke tiga buku Atlas Tumbuhan Obat Indonesia jilid 3 (2005), dijelaskan bahwasanya penelitian dan pengembangan tumbuhan obat di dalam dan di luar negeri. Selain itu, uji toksikologi juga telah banyak dilakukan untuk mengetahui kiranya keamanan tumbuhan obat yang apabila dipakai dalam jangka panjang maupun jangka pendek.[7] Ia juga memberitahukan untuk mengantisipasi harga obat yang mahal, maka pemerintah membuat Sentra P3T. Selanjutnya, ia memberitahukan bahwasanya "Salah mengenali tumbuhan obat yang dimaksud juga tidak akan menyembuhkan penyakit... menggabungkan beberapa tumbuhan obat yang khasiatnya berlawanan."[8]

Kemudian, Setiawan mengabarkan Universitas Pengobatan Cina Beijing pada 2008 telah melakukan kerjasama dengan 4 universitas di Indonesia, yakni UI, IPB, UGM, dan Universitas Airlangga.[9] Jika dahulu Depertemen Kesehatan melarang dokter praktek dengan obat tradisional, maka sekarang ,-menurut penuturannya-, haruslah mendaftarkan prakteknya ke Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT).[9]

Setiawan Dalimartha juga memikirkan perihal pengembangan pengobatan tradisional lebih berkembang daripada obat-obatan kimia. Complementary and Alternative Medicine (CAM) juga berkembang dengan pesat. Ia menceritakan penyakit seperti diabetes, darah tinggi, ataupun rematik nampaknya kini cenderung progresif dan tidak dapat ditekan oleh obat-obat kimia konvensional.[10]

Setiawan Dalimartha berkomentar bahwa yang menyebabkan kematian seseorang itu bukan jamunya, akan tetapi masalah obat kimia yang terkandung di dalamnya. Selain itu, Setiawan mengatakan bahwa jamu herbal biasa, memang tidak memberikan efek instan, namun jika rutin dikonsumsi hasilnya bisa membuat badan bugar dan stamina meningkat.[11]

Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]

Dari obituarinya, barulah diketahui Setiawan meninggalkan 3 orang anak (Laurensia Kamelia Dalimartha, B. Sc., Patrisius Marvin Dalimartha., dan dr. Felix Adrian Dalimartha, B. Med. Sc.) dan seorang istri bernama Monika Sianty Suwanda. Ia punya seorang cucu bernama Althea Annabelle Tjahjadi.[3]

Karya terpilih[sunting | sunting sumber]

  • Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. (1999, cetak ulang tahun 2008) Jilid I. Jakarta:Trubus Agriwidya. (Google Buku)
  • Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. (2000) Jilid II. Jakarta:Trubus Agriwidya. (Google Buku)
  • Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. (2003, cetak ulang tahun 2007) Jilid III. Jakarta:Puspa Swara. (Google Buku)
  • Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. (2006, cetak ulang tahun 2007) Jilid IV. Jakarta:Puspa Swara. (Google Buku)
  • Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. (2008) Jilid V. Jakarta:Puspa Swara. (Google Buku)
  • Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. (2009) Jilid VI. Jakarta:Puspa Swara.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Dalimartha 2009, hlm. 182.
  2. ^ Dalimartha 2007, hlm. 124.
  3. ^ a b "Berita Duka:dr. ALFONSUS SETIAWAN DALIMARTHA". Kompas. 2 Juli 2012. Diakses 16 Februari 2013. 
  4. ^ a b c N.M., Evi (14 April 2001). "Dikira Obat, Ternyata Racun". Tempo. Diakses 17 Februari 2013. 
  5. ^ Dharma 1987, hlm. 145.
  6. ^ Dalimartha 2007, hlm. 73.
  7. ^ Dalimartha 2005, hlm. v.
  8. ^ Dalimartha 2005, hlm. v-vi.
  9. ^ a b Dalimartha 2008, hlm. v.
  10. ^ Dalimartha 2009, hlm. v.
  11. ^ "Jamu Herbal Tak Sebabkan Kematian". Kompas. 24 Agustus 2010. Diakses 17 Februari 2013. 

Catatan bawah

  1. ^ Kejadian yang sama pernah terjadi pada tahun 1980-an, yang mana pada saat itu komring (Symphytum officinale) yang dianggap dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Rupanya tumbuhan tersebut mengandung alkaloid pyrrolizidine,[4] yang merusak hati kodok.[5] Ia beracun dan merusak hati. Setiawan menambahkan tumbuhan yang sama beracun dengan komring adalah sambung nyawa.[6]

Bibliografi

Pranala luar[sunting | sunting sumber]