Elizabeth I dari Inggris

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Elizabeth I dari Inggris
Lukisan Elizabeth I tahun 1600
Lukisan Elizabeth I tahun 1600
Memerintah 17 November 155824 Maret 1603
Koronasi 15 Januari 1559
Pendahulu Mary I
Pengganti James I
Ayah Henry VIII
Ibu Anne Boleyn
Lahir 7 September 1533
Greenwich, England
Meninggal 24 Maret 1603 (umur 69)
Richmond, England
Dikubur Westminster Abbey

Elizabeth I (7 September 1533 – 24 Maret 1603) adalah ratu Kerajaan Inggris dan Irlandia dari 17 November 1558 hingga kematiannya. Ia kadang-kadang dijuluki "The Virgin Queen" (Ratu Perawan), "Gloriana", atau "Good Queen Bess". Elizabeth adalah monark kelima dan terakhir dari Dinasti Tudor. Ia merupakan putri dari Henry VIII dan Anne Boleyn, namun ibunya dihukum mati dua setengah tahun setelah kelahirannya, dan pernikahan Anne dengan Henry VIII dibatalkan, sehingga Elizabeth dianggap sebagai anak yang tidak sah. Saudara tirinya, Edward VI, menjadi raja hingga kematiannya pada tahun 1553, dan sebelum meninggal ia menyerahkan tahta kepada Lady Jane Grey, yang bertentangan dengan undang-undang yang berlaku saat itu dan menyingkirkan Elizabeth dan Mary. Namun, keinginan Edward diabaikan; Mary menjadi ratu dan Lady Jane Grey dihukum mati. Pada tahun 1558, Elizabeth menggantikan saudara tirinya, walaupun sebelumnya Elizabeth dipenjara hampir selama setahun karena diduga mendukung pemberontak Protestan.

Elizabeth mencoba memerintah berdasarkan nasihat yang tepat,[1] sehingga ia sangat bergantung pada penasihat-penasihat terpercayanya yang dipimpin oleh William Cecil, Baron Burghley. Salah satu tindakan pertamanya adalah mendirikan kembali gereja Protestan Inggris, dengan Elizabeth sebagai Gubernur Tertinggi (Supreme Governor). Gereja ini akan berkembang menjadi Gereja Inggris saat ini. Elizabeth diharapkan akan menikah dan menghasilkan keturunan sehingga melanjutkan garis keturunan Tudor. Namun, ia tidak pernah menikah, walaupun beberapa kali berpacaran. Elizabeth kemudian dikenal akan keperawanannya, dan muncul kultus yang dapat dilihat dalam bentuk potret, arak-arakan, dan sastra.

Saat memerintah, Elizabeth lebih moderat dari ayah dan saudara-saudaranya.[2] Salah satu slogannya adalah "video et taceo" ("Saya melihat dan tidak mengatakan apa-apa").[3] Ia relatif toleran terhadap kepercayaan lain dan tidak melakukan penganiayaan atas dasar tersebut. Setelah tahun 1570, saat paus menyatakan bahwa ia adalah penguasa yang tidak sah dan bawahan-bawahannya tidak harus patuh kepadanya, beberapa konspirasi mengancam nyawanya. Namun, semua upaya untuk menjatuhkan Elizabeth digagalkan berkat agen rahasia menteri-menterinya. Dalam urusan luar negeri, Elizabeth cukup berhati-hati dan berpindah-pindah antara Perancis dan Spanyol. Ia setengah hati dalam mendukung sejumlah kampanye militer yang tidak efektif dan kurang dibiayai di Belanda, Perancis, dan Irlandia. Pada pertengahan tahun 1580-an, perang dengan Spanyol tak dapat lagi dihindari, dan ketika Spanyol memutuskan akan menaklukan Inggris pada tahun 1588, Armada Spanyol dikalahkan oleh Inggris, dan kemenangan ini menjadi salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah Inggris.

Masa kekuasaan Elizabeth disebut era Elizabeth dan dikenal karena perkembangan drama Inggris oleh beberapa pujangga seperti William Shakespeare dan Christopher Marlowe. Selain itu, penjelajah-penjelajah Inggris seperti Francis Drake juga tersohor. Namun, beberapa sejarawan menyatakan bahwa Elizabeth mudah marah, kadang-kadang tidak tegas,[4] dan hanya beruntung saja. Menjelang akhir kekuasaannya, akibat berbagai masalah ekonomi dan militer, popularitasnya berkurang. Namun, ia tetap dikenal sebagai seorang reformis yang karismatik dan berhasil bertahan pada masa ketika pemerintahan Inggris hampir roboh dan saat penguasa di negara-negara tetangga menghadapi masalah internal yang mengancam kekuasaannya. Hal ini terjadi pada musuh Elizabeth, Mary, Ratu Skotlandia, yang dipenjara oleh Elizabeth pada tahun 1568 dan akhirnya dihukum mati pada tahun 1587. Empat puluh empat tahun masa kekuasaan Elizabeth telah membawa stabilitas pada Inggris dan membantu membentuk identitas nasional.[2]

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Elizabeth adalah satu-satunya anak dari pasangan Henry VIII dan Anne Boleyn. Anne Boleyn akan dihukum mati dalam waktu dua setengah tahun setelah kelahiran Elizabeth.

Elizabeth lahir di Istana Greenwich dan dinamai dari kedua neneknya, Elizabeth dari York dan Elizabeth Howard.[5] Ia adalah anak kedua raja Henry VIII dari Inggris. Ibunya, Anne Boleyn, adalah istri kedua Henry. Saat lahir, ia menjadi calon penerus tahta Inggris. Kakak tirinya, Mary, tidak menjadi penerus yang sah karena Henry telah membatalkan pernikahannya dengan ibu Mary, Catherine dari Aragon, agar dapat menikahi Anne dan memperoleh penerus laki-laki.[6][7] Elizabeth dibaptis pada tanggal 10 September; Kepala Uskup Thomas Cranmer, Marquess Exeter, Adipati Wanita Norfolk, dan Dowager Marchioness Dorset menjadi empat sponsor pembaptisannya.

Saat Elizabeth berusia dua tahun dan delapan bulan, ibunya dihukum mati pada tanggal 19 Mei 1536.[8] Elizabeth dinyatakan sebagai anak yang tidak sah dan tidak lagi menjadi calon penerus.[9] Sebelas hari setelah kematian Anne Boleyn, Henry menikahi Jane Seymour, namun ia meninggal segera setelah melahirkan anak laki-laki yang bernama Edward pada tahun 1537. Semenjak kelahirannya, Edward menjadi calon penerus tahta yang tak terbantahkan. Elizabeth ditempatkan di rumah tangganya dan membawa chrisom (kain baptis) saat Edward dibaptis.[10]

Putri Elizabeth sekitar tahun 1546, oleh pelukis yang tak dikenal.

Pengajar dan pengasuh pertama Elizabeth adalah Margaret Bryan.[11] Pada musim gugur tahun 1537, Elizabeth diurus oleh Blanche Herbert hingga ia pensiun pada akhir tahun 1545 atau awal tahun 1546.[12] Catherine Champernowne, yang lebih dikenal dengan nama Catherine "Kat" Ashley, menjadi pengajar dan pengasuh Elizabeth pada tahun 1537, dan ia tetap menjadi teman Elizabeth hingga kematiannya pada tahun 1565.[13] Champernowne mengajari Elizabeth empat bahasa: bahasa Perancis, Vlaams, Italia, dan Spanyol.[14] Pada saat William Grindal menjadi pengajarnya pada tahun 1544, Elizabeth dapat menulis dalam bahasa Inggris, Latin, dan Italia. Di bawah pengajaran Grindal, kemampuan bahasa Perancis dan Yunani Elizabeth juga mengalami kemajuan.[15] Setelah Grindal meninggal pada tahun 1548, Elizabeth dididik oleh Roger Ascham.[16] Pada saat pendidikan resminya berakhir pada tahun 1550, ia adalah salah satu perempuan paling terdidik pada generasinya.[17] Pada akhir hayatnya, Elizabeth juga diketahui dapat menuturkan bahasa Welsh, Kernowek, Scots,[18] dan Irlandia. Duta besar Venesia pada tahun 1603 menyatakan bahwa ia menguasai bahasa-bahasa tersebut hingga seolah bahasa tersebut merupakan bahasa aslinya.[19] Sejarawan Mark Stoyle menyatakan bahwa ia mungkin mempelajari bahasa Kernowek dari William Killigrew.[20]

Thomas Seymour[sunting | sunting sumber]

The Miroir or Glasse of the Synneful Soul, terjemahan dari bahasa Perancis oleh Elizabeth yang dipersembahkan kepada Catherine Parr pada tahun 1544. Jilid buku bordir dengan monogram KP yang merupakan singkatan dari "Katherine Parr" diyakini dibuat oleh Elizabeth.[21]

Henry VIII meninggal pada tahun 1547; saudara tiri Elizabeth, Edward VI, meninggal pada usia sembilan tahun. Catherine Parr, istri Henry yang akhirnya menjadi janda, kemudian menikahi Thomas Seymour dari Sudeley, paman Edward VI dan saudara dari Edward Seymour, Adipati Somerset. Mereka membawa Elizabeth ke rumah tangga mereka di Chelsea. Di situ Elizabeth mengalami krisis emosional yang diyakini memengaruhi hidupnya untuk selamanya.[22] Seymour, yang umurnya sudah mendekati 40 tahun namun masih memiliki "daya tarik seks yang kuat",[22] bermain-main dengan Elizabeth yang masih berusia 14 tahun, seperti memasuki kamar tidurnya, menggelitikinya, dan memukuli pantatnya. Parr tidak melarang suaminya melakukan hal tersebut dan malah turut serta. Dua kali ia ikut menggelitiki Elizabeth, dan pernah ia menahannya sementara Seymour memotong gaun hitam Elizabeth "menjadi seribu potongan."[23] Namun, setelah Parr memergoki Elizabeth dan Seymour sedang berpelukan, ia segera menghentikannya.[24] Pada Mei 1548, Elizabeth dikirim ke tempat lain.

Namun, Thomas Seymour sedang berencana menguasai keluarga kerajaan dan mencoba menjadikan dirinya gubernur raja.[25][26] Ketika Parr meninggal setelah melahirkan pada tanggal 5 September 1548, Seymour kembali tertarik pada Elizabeth dan berminat menikahinya.[27] Kabar mengenai tingkah lakunya terhadap Elizabeth terdengar,[28] dan saudaranya dan dewan-dewan merasa tidak tahan lagi akan kelakuannya.[29] Pada Januari 1549, Seymour ditangkap karena diduga berencana menikahi Elizabeth dan menjatuhkan saudaranya. Elizabeth yang tinggal di Hatfield House tidak mengakui apa-apa. Kekeraskepalaannya menggusarkan orang yang menginterogasinya, Sir Robert Tyrwhitt, yang melaporkan "saya lihat di wajahnya bahwa ia bersalah".[29] Seymour kemudian dipancung pada tanggal 20 Maret 1549.

Masa kekuasaan Mary I[sunting | sunting sumber]

Lukisan Mary I yang dibuat oleh Anthonis Mor pada tahun 1554.

Edward VI meninggal pada tanggal 6 Juli 1553 pada usia 15 tahun. Kehendak terakhirnya adalah menjadikan Lady Jane Grey, cucu dari saudara perempuan Henry VIII Mary Tudor, sebagai penggantinya. Kehendak yang menyingkirkan Mary dan Elizabeth ini bertentangan dengan Succession to the Crown Act 1543. Lady Jane kemudian dinyatakan sebagai ratu oleh Privy Council, namun setelah sembilan hari ia dijatuhkan. Mary memasuki London dengan Elizabeth di sisinya.[30]

Namun, solidaritas antar dua bersaudara ini tidak berlangsung lama. Mary adalah seorang penganut Katolik yang taat dan hendak menghancurkan iman Protestan yang merupakan latar belakang pendidikan Elizabeth. Mary memerintahkan semua orang wajib menghadiri misa Katolik, dan Elizabeth mau tidak mau harus patuh. Kepopuleran Mary berkurang pada tahun 1554 setelah ia mengumumkan akan menikahi Raja Philip dari Spanyol, yang merupakan putra dari Kaisar Karl V dan penganut Katolik yang taat.[31] Orang-orang yang tidak senang akan hal ini melirik Elizabeth untuk melawan kebijakan-kebijakan religius Mary.

Pada Januari dan Februari 1554, pemberontakan Wyatt meletus, namun segera dipadamkan.[32] Elizabeth dibawa ke pengadilan dan diinterogasi. Pada tanggal 18 Maret, ia dipenjarakan di Menara London. Elizabeth bersikeras bahwa ia tak bersalah.[33] Walaupun kemungkinan besar ia tidak bersekongkol dengan para pemberontak, beberapa pemberontakan telah mendekatinya. Orang kepercayaan terdekat Mary, yaitu Simon Renard yang merupakan duta Karl V, menyatakan bahwa tahta Mary tidak akan pernah aman selama Elizabeth masih hidup. Sementara itu, Kanselir Stephen Gardiner mencoba membawa Elizabeth ke pengadilan.[34] Pendukung Elizabeth di pemerintahan seperti William Paget meyakinkan Mary untuk mengampuni Elizabeth karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ia bersekongkol. Malahan, pada 22 Mei, Elizabeth dipindah dari Menara London ke Woodstock dan ia berada dalam tahanan rumah selama hampir setahun. Kerumunan massa menyorakinya di sepanjang jalan.[35][36]

Old Palace, Hatfield House. Di tempat ini Elizabeth mengetahui kabar kematian saudaranya pada November 1558.

Pada 17 April 1555, Elizabeth dipanggil kembali ke istana karena Mary diduga hamil. Jika Mary dan anaknya meninggal, Elizabeth akan menjadi ratu. Namun, bila Mary melahirkan anak yang sehat, kesempatan Elizabeth menjadi ratu akan hilang. Namun, Mary ternyata tidak hamil, sehingga tidak ada lagi yang percaya bahwa ia dapat melahirkan seorang anak.[37] Posisi Elizabeth sebagai penerus tampaknya telah terjamin.[38]

Raja Philip mulai berkuasa di Spanyol pada tahun 1556 dan menyadari situasi politik yang baru sehingga mencoba memperkuat hubungannya dengan Elizabeth. Elizabeth lebih dapat dijadikan sekutu daripada Mary, Ratu Skotlandia, yang dibesarkan di Perancis dan ditunangkan dengan Dauphin dari Perancis.[39] Ketika istrinya jatuh sakit pada tahun 1558, Raja Philip mengirim Count Feria untuk berkonsultasi dengan Elizabeth.[40] Tanya jawab ini dilakukan di Hatfield House, yang kembali menjadi tempat tinggal Elizabeth pada Oktober 1555. Pada Oktober 1558, Elizabeth sudah mulai merencanakan pemerintahannya. Pada 6 November, Mary mengakui Elizabeth sebagai penerusnya.[41] Mary meninggal pada tanggal 17 November 1558, dan Elizabeth akhirnya naik tahta.

Naik tahta[sunting | sunting sumber]

Elizabeth I mengenakan jubah pemahkotaannya.

Elizabeth menjadi pada ratu pada umur 25 tahun dan mengutarakan niatan-niatannya kepada dewan dan rekan-rekan sejawatnya yang datang ke Hatfield untuk melakukan sumpah kesetiaan. Substansi pidatonya mengandung teologi politik abad pertengahan mengenai "dua badan" yang berdaulat, yaitu badan alami dan badan politik:[42]

Tuan-tuan, hukum alam menggerakan saya untuk berduka untuk saudara perempuan saya; beban yang menimpa saya membuat saya takjub, dan tetapi, mengingat saya adalah makhluk Tuhan, yang ditahbiskan untuk mematuhi penunjukan-Nya, saya akan berserah, menginginkan dari lubuk hati terdalam agar saya memperoleh bantuan dari kasih karunia-Nya agar dapat menjadi pelaksana kehendak surgawi-Nya dalam jabatan yang kini dipercayakan kepada saya ini. Dan karena saya hanya satu badan alami, walau melalui izin-Nya memerintah satu badan politik, maka saya ingin agar kalian semua ... agar membantu saya, agar saya dengan kekuasaan saya dan kalian dengan layanan kalian dapat melaksanakan dengan baik untuk Tuhan yang maha kuasa dan mewariskan beberapa kenyamanan untuk keturunan kita di bumi. Saya bermaksud mengarahkan tindakan saya berdasarkan anjuran dan nasihat yang baik.[43]

Sementara ia diarak-arak di kota pada malam upacara pemahkotaan, ia disambut oleh rakyat beserta orasi dan arak-arakan dengan unsur Protestan yang kuat. Tanggapan Elizabeth yang terbuka dan ramah menyenangkan para penontonnya yang "amat terpesona".[44] Pada hari berikutnya (15 Januari 1559), Elizabeth dimahkotai dan diurapi oleh Owen Oglethorpe, uskup Carlisle yang beragama Katolik, di Biara Westminster. Ia kemudian dipersembahkan kepada rakyat untuk diterima, sementara suara organ, seruling, drum, dan lonceng memekakkan telinga.[45]

Penyelesaian religius[sunting | sunting sumber]

Keyakinan agama Elizabeth telah diperdebatkan oleh para ahli. Ia adalah seorang Protestan, namun tetap menyimpan simbol-simbol Katolik (seperti salib) dan mengecilkan peranan khotbah (yang bertentangan dengan keyakinan utama Protestan).[46]

Terkait dengan kebijakan publik, ia cenderung pragmatis dalam masalah-masalah agama. Pertanyaan mengenai keabsahannya sebagai penguasa menjadi perhatian utama: walaupun secara teknis berdasarkan hukum Protestan dan Katolik ia dianggap tidak absah, ketidakabsahannya yang dinyatakan secara retroaktif oleh gereja Inggris tidak menjadi hambatan yang serius bila dibandingkan dengan ketidakabsahannya dari awal menurut klaim orang-orang Katolik. Maka dari itu, tidak diragukan lagi bahwa Elizabeth menganut iman Protestan.

Elizabeth dan penasihat-penasihatnya melihat adanya ancaman perang suci Katolik terhadap Inggris yang dianggap bidaah. Maka Elizabeth mencoba mencari solusi Protestan yang tidak akan terlalu menyinggung orang Katolik sementara memenuhi keinginan orang-orang Protestan Inggris; namun, ia tidak menoleransi orang-orang Puritan yang lebih radikal dan meminta reformasi yang lebih besar pengaruhnya.[47] Akibatnya, parlemen pada tahun 1559 mulai membuat undang-undang mengenai gereja berdasarkan penyelesaian Protestan Edward VI, dengan sang monark sebagai kepalanya, namun dengan banyak unsur Katolik seperti jubah keimaman.[48]

House of Commons sangat mendukung usulan ini, tetapi undang-undang supremasi tersebut ditentang House of Lords, terutama dari para uskup. Elizabeth beruntung karena banyak keuskupan yang sedang kosong saat itu, termasuk Uskup Agung Canterbury.[49][50] Akibatnya, pendukung undang-undang tersebut dapat mengalahkan suara para uskup dan kaum konservatif. Namun, Elizabeth terpaksa menerima gelar Gubernur Tertinggi Gereja Inggris daripada gelar Kepala Tertinggi yang banyak diperdebatkan karena dianggap tidak dapat dijabat oleh seorang perempuan. Undang-Undang Supremasi ditetapkan sebagai hukum pada tanggal 8 Mei 1559. Semua pejabat publik harus melakukan sumpah kesetiaan kepada gubernur tertinggi dan bila tidak berisiko didiskualifikasi dari jabatan. Undang-undang mengenai bidaah juga dicabut untuk menghindari terulangnya peristiwa penganiayaan yang dilancarkan oleh pendahulu Elizabeth, Mary. Pada saat yang sama, Undang-Undang Uniformitas diberlakukan, yang mewajibkan kehadiran di gereja dan penggunaan Book of Common Prayer versi 1552, walaupun sanksi untuk yang melanggar tidak berat.[51]

Pertanyaan mengenai pernikahan[sunting | sunting sumber]

Elizabeth dan orang tersayangnya, Robert Dudley, Earl Leicester, c. 1575. Miniatur sebesar perangko ini dibuat oleh Nicholas Hilliard.[52] Persahabatan sang ratu dengan Dudley berlangsung selama lebih dari tiga puluh tahun hingga Dudley meninggal.

Dari awal masa kekuasaan Elizabeth, ia diharapkan untuk segera menikah dan muncul pertanyaan mengenai siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya. Namun, ia tidak pernah menikah, walaupun ia menerima banyak tawaran. Alasan mengapa sang ratu tidak menikah masih belum jelas. Sejarawan memperkirakan bahwa Thomas Seymour membuatnya tidak menginginkan hubungan seksual lagi, atau mungkin Elizabeth tahu kalau dirinya mandul.[53][54] Ia mempertimbangkan beberapa peminang hingga ia berusia sekitar lima puluh tahun. Pacar terakhirnya adalah François, Adipati Anjou, yang lebih muda 22 tahun. Walaupun terdapat risiko kehilangan kekuasaan seperti yang terjadi pada saudara perempuan Elizabeth yang dijebak oleh Raja Philip II dari Spanyol, pernikahan dapat memberikan keturunan yang dapat menjadi calon penerus.[55] Namun, pilihan suami yang tidak tepat dapat memicu ketidakstabilan politik atau bahkan pemberontakan.[56]

Robert Dudley[sunting | sunting sumber]

Pada musim semi tahun 1559, tampak jelas bahwa Elizabeth jatuh cinta kepada teman masa kecilnya, Robert Dudley.[57] Konon Amy Robsart yang merupakan istri Robert mengidap "penyakit di salah satu payudaranya", dan sang ratu hendak menikahi Dudley bila istrinya meninggal.[58] Pada musim gugur tahun 1559, beberapa pelamar dari luar negeri ingin meminang Elizabeth; beberapa utusan yang tidak sabar terlibat dalam perbincangan yang menimbulkan skandal dan melaporkan bahwa pernikahan dengan orang tersayang Elizabeth tidak disambut di Inggris:[59] "Tidak ada satupun laki-laki yang tidak berteriak pada mereka dengan kemarahan ... ia tidak akan menikahi siapapun selain Robert yang tersayang".[60] Amy Dudley kemudian meninggal pada September 1560 karena jatuh dari tangga. Walaupun pemeriksaan menunjukkan bahwa peristiwa tersebut merupakan kecelakaan, banyak yang curiga bahwa Dudley adalah dalangnya.[61] Elizabeth kadang-kadang sungguh mempertimbangkan pernikahan dengan Dudley. Namun, William Cecil, Nicholas Throckmorton, dan beberapa bangsawan konservatif lainnya menyatakan ketidaksetujuan mereka.[62] Bahkan terdapat rumor bahwa para bangsawan akan memberontak bila pernikahan tersebut berlangsung.[63]

Di antara pernikahan-pernikahan lain yang dipertimbangkan oleh sang ratu, Robert Dudley dianggap sebagai kandidat yang mungkin selama satu dasawarsa berikutnya.[64] Elizabeth sangat cemburu akan kasih sayangnya, bahkan saat ia sudah tidak ingin lagi menikahinya.[65] Pada tahun 1564, Elizabeth mengangkat Dudley menjadi Earl Leicester. Ia kemudian menikah lagi pada tahun 1578, sehingga sang ratu tidak senang dan bahkan membenci istri Dudley, Lettice Knollys.[66] Namun, seperti yang dideskripsikan oleh sejarawan Susan Doran, Dudley tetap "berada di tengah kehidupan emosional [Elizabeth]".[67] Dudley meninggal segera setelah Armada Spanyol dikalahkan. Setelah Elizabeth sendiri mangkat, catatan dari Dudley ditemukan di antara barang-barang pribadi Elizabeth, dan surat itu sendiri ditandai dengan tulisan tangan Elizabeth yang bertuliskan "surat terakhirnya".[68]

Aspek politik[sunting | sunting sumber]

François, Adipati Anjou, oleh Nicholas Hilliard. Elizabeth memanggilnya "katak"nya karena mendapati bahwa ia tidak "terlalu cacat" seperti yang ia perkirakan.[69]

Negosiasi pernikahan merupakan salah satu unsur utama dalam kebijakan luar negeri Elizabeth.[70] Ia menolak pinangan Philip II pada tahun 1559, dan melakukan negosiasi selama beberapa tahun untuk menikahi sepupunya Karl dari Austria. Pada tahun 1569, hubungan dengan Wangsa Habsburg memburuk, sehingga Elizabeth mempertimbangkan pernikahan dengan dua orang Perancis dari Wangsa Valois, yaitu Henri, Adipati Anjou dan nantinya (dari tahun 1572 hingga 1581) saudara laki-laki Henri, François, Adipati Anjou, yang sebelumnya memiliki gelar Adipati Alençon.[71] Usulan terakhir ini terkait dengan rencana aliansi melawan kekuasaan Spanyol di Belanda Selatan.[72] Elizabeth tampaknya mempertimbangkan pacaran dengan serius untuk beberapa waktu dan mengenakan anting berbentuk katak yang dikirim oleh Anjou.[73]

Pada tahun 1563, Elizabeth memberitahu seorang utusan imperial: "Jika saya mengikuti kecenderungan watak saya, itu adalah: wanita pengemis dan lajang, jauh dari ratu dan menikah".[70] Pada akhir tahun, karena Elizabeth mengidap penyakit variola, perbincangan mengenai calon penerus Elizabeth memanas di Parlemen. Mereka meminta agar sang ratu menikah atau menunjuk seorang penerus untuk mencegah perang saudara setelah kematiannya. Ia menolak untuk melakukan keduanya. Pada bulan April, ia menggunakan hak prorogasi, sehingga Parlemen tidak berkumpul kembali hingga Elizabeth membutuhkannya untuk memungut pajak pada tahun 1566. Karena sebelumnya telah berjanji untuk menikah, ia menyatakan bahwa:

Saya tidak pernah melanggar kata-kata yang diucapkan seorang pangeran di muka umum, demi kehormatan saya. Dan maka saya katakan sekali lagi, saya akan menikah sesegera mungkin bila saya dapat dengan mudah, jika Tuhan tidak mengambil orang yang ingin saya nikahi, atau diri saya sendiri, atau mungkin hal lain yang biarlah terjadi.[74]

Pada tahun 1570, tokoh-tokoh senior dalam pemerintahan secara pribadi menerima fakta bahwa Elizabeth tidak akan pernah menikah atau menamai seorang penerus. William Cecil sudah mencoba mencari solusi untuk masalah penerus.[70] Akibat kegagalannya dalam menikah, Elizabeth seringkali dituduh tidak bertanggung jawab.[75] Namun, kebungkamannya memperkuat keamanan politiknya: ia tahu bahwa bila ia menamai seorang penerus, ia dapat dikudeta kapanpun; ia mengingat bagaimana "orang kedua seperti saya sebelumnya" telah digunakan untuk bersekongkol melawan pendahulunya.[76]

Potret "Hampden" oleh Steven van der Meulen, ca. 1563. Potret ini dibuat sebelum munculnya potret simbolis yang melambangkan ikonografi "Ratu Perawan".[77]

Status Elizabeth yang masih lajang memicu tumbuhnya kultus keperawanan. Dalam puisi dan potret, ia digambarkan sebagai seorang perawan atau dewi atau keduanya, bukan sebagai perempuan biasa.[78] Pada awalnya, hanya Elizabeth yang memanfaatkan keperawanannya: pada tahun 1559, ia memberitahu House of Commons, "Dan, pada akhirnya, ini cukup bagi saya, bahwa sebuah batu marmer akan mendeklarasikan bahwa seorang ratu, yang telah berkuasa begitu lama, hidup dan meninggal sebagai seorang perawan".[79] Nantinya, penulis dan pujangga menggunakan tema tersebut dan mengubahnya menjadi ikonografi yang mengagungkan Elizabeth. Penghargaan publik terhadap sang Perawan pada tahun 1578 menunjukkan perlawanan terhadap negosiasi pernikahan sang ratu dengan Adipati Alençon.[80]

Untuk memberi makna positif pada status pernikahannya, Elizabeth bersikeras bahwa ia telah menikah dengan kerajaan dan bawahan-bawahannya, di bawah perlindungan ilahi. Pada tahun 1599, ia pernah mengatakan "semua suami saya, rakyatku yang baik".[81]

Mary, Ratu Skotlandia[sunting | sunting sumber]

Kebijakan pertama Elizabeth untuk Skotlandia adalah menentang keberadaan Perancis di sana.[82] Ia khawtir bahwa Perancis berencana menyerang Inggris dan menjadikan Mary, Ratu Skotlandia, sebagai ratu,[83] karena ia dianggap sebagai penerus tahta Inggris oleh banyak orang.[84] Elizabeth dibujuk untuk mengirim pasukan ke Skotlandia agar dapat membantu pemberontak Protestan, dan walaupun kampanye militer yang berlangsung cukup ganjil, Traktat Edinburgh pada Juli 1560 dapat menghilangkan ancaman dari Perancis di utara.[85] Saat Mary kembali ke Skotlandia pada tahun 1561 untuk berkuasa, gereja Protestan telah didirikan dan dijalankan oleh dewan bangsawan-bangsawan Protestan yang didukung oleh Elizabeth.[86] Mary menolak meratifikasi traktat tersebut.[87]

Pada tahun 1563, Elizabeth mengusulkan agar Robert Dudley menjadi suami Mary, tanpa meminta persetujuan kedua orang tersebut. Keduanya tampak tidak antusias,[88] dan pada tahun 1565 Mary menikahi Henry Stuart, Lord Darnley, yang juga memiliki klaim atas tahta Inggris. Pernikahan tersebut merupakan kesalahan pertama Mary yang membuatnya dikalahkan oleh Protestan Skotlandia dan Elizabeth. Darnley tidak populer di Skotlandia dan bernama buruk karena mendalangi pembunuhan sekretaris Italia Mary, David Rizzio. Pada Februari 1567, Darnley dibunuh oleh para konspirator yang hampir pasti dipimpin oleh James Hepburn, Earl Bothwell. Segera setelah itu, pada 15 Mei 1567, Mary menikahi Bothwell, sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa ia terlibat dalam pembunuhan suaminya. Elizabeth menulis kepadanya:

Seburuk-buruknya pilihan bagi kehormatanmu adalah menikahi secara terburu-buru bawahan semacam itu, yang selain memiliki kekurangan yang terkenal buruk dan lainnya juga dituduh publik atas pembunuhan suamimu yang telah wafat, selain juga menyentuh dirimu di beberapa bagian, walaupun kami salah dalam memercayai hal tersebut.[89]

Kejadian-kejadian ini membuat Mary dikalahkan dan dipenjara di Istana Loch Leven. Bangsawan-bangsawan Skotlandia memaksanya untuk mengundurkan diri dan membiarkan putranya James (yang lahir pada Juni 1566) naik tahta. James dibawa ke Istana Stirling untuk dibesarkan sebagai seorang Protestan. Mary melarikan diri dari Loch Leven pada tahun 1568, namun ia dikalahkan lagi sehingga melarikan diri ke Inggris karena Elizabeth pernah menjanjikan dukungannya. Insting Elizabeth mengarahkannya untuk mengembalikan Mary ke tahta; namun, ia dan penasihatnya malah memilih bermain aman. Daripada berisiko mengembalikan Mary ke Skotlandia dengan tentara Inggris atau mengirimnya ke Perancis dan musuh-musuh Inggris yang beragama Katolik, mereka menahannya di Inggris dan memenjarakannya selama sembilan belas tahun berikutnya.[90]

Mary dan persekongkolan Katolik[sunting | sunting sumber]

Sir Francis Walsingham, Sekretaris Utama 1573–1590. Sebagai kepala mata-mata Elizabeth, ia menyibak berbagai persekongkolan yang mengancam nyawa sang ratu.

Mary segera menjadi tujuan pemberontakan. Pada tahun 1569, meletus pemberontakan Katolik di Utara; tujuannya adalah untuk membebaskan Mary, menikahkannya dengan Thomas Howard, Adipati Norfolk Keempat, dan menjadikannya Ratu Inggris.[91] Setelah para pemberontak dikalahkan, lebih dari 750 di antaranya dihukum mati atas perintah Elizabeth.[92] Karena percaya pemberontakan tersebut berhasil, Paus Pius V mengeluarkan bulla kepausan pada tahun 1570 yang berjudul Regnans in Excelsis, yang menyatakan bahwa "Elizabeth, Ratu Inggris palsu dan budak kejahatan" diekskomunikasi dan merupakan seorang bidaah, sehingga semua bawahannya tidak harus patuh kepadanya.[93][94] Orang Katolik yang mematuhi perintahnya diancam akan diekskomunikasi.[93] Bulla kepausan tersebut memprovokasi Parlemen untuk melancarkan inisiatif-inisiatif legislatif terhadap orang Katolik, yang kemudian dikurangi berkat campur tangan Elizabeth.[95] Pada tahun 1581, upaya untuk membuat orang-orang Inggris menjadi Katolik dengan "maksud" untuk membuat mereka tidak patuh kepada Elizabth dijadikan kejahatan yang dapat diganjar hukuman mati.[96] Dari tahun 1570-an, misionaris-misionaris dari seminari kontinental datang ke Inggris untuk "mengembalikan" Inggris ke iman Katolik secara rahasia.[94] Banyak yang dihukum mati, sehingga memicu kultus kemartiran.[94]

Regnans in Excelsis memberi insentif yang kuat bagi orang Katolik di Inggris untuk menganggap Mary Stuart sebagai penguasa Inggris yang sesungguhnya. Mungkin tidak semua persekongkolan Katolik diberitahukan kepada Mary, namun dari Persekongkolan Ridolfi pada tahun 1571 (yang membuat Adipati Norfolk kehilangan kepalanya) hingga Persekongkolan Babington pada tahun 1586, kepala mata-mata Elizabeth Sir Francis Walsingham dan dewan kerajaan mengumpulkan bukti keterlibatannya.[97] Awalnya, Elizabeth enggan menghukum mati Mary. Pada akhir tahun 1586, Elizabeth telah diyakinkan untuk menyetujui pengadilan dan penghukuman mati Mary berdasarkan bukti surat-surat yang ditulis selama Persekongkolan Babington.[98] Berikut adalah proklamasi dakwaan Elizabeth: "Mary, yang mengklaim gelar tahta yang sama, telah merencanakan dan membayangkan (...) hal-hal yang condong pada luka, kematian, dan kehancuran tokoh kerajaan kita."[99] Maka, pada 8 Februari 1587, Mary dipancung di Istana Fotheringhay, Northamptonshire.[100] Setelah Mary dihukum mati, Elizabeth mengklaim bahwa ia tidak memerintahkan hal tersebut dan sebagian besar catatan menunjukkan bahwa ia memberitahu Sekretaris Davidson, yang memberinya surat perintah untuk ditandatangani, agar tidak mengirim surat perintah tersebut meskipun ia telah menandatanganinya. Kesungguhan penyesalan Elizabeth dan alasannya memberitahu Davidson untuk tidak melaksanakan surat perintah tersebut telah dipertanyakan oleh orang-orang semasanya dan sejarawan-sejarawan.

Peperangan dan perdagangan luar negeri[sunting | sunting sumber]

Elizabeth I di koin perak Inggris.

Kebijakan luar negeri Elizabeth sebagian besar bersifat defensif. Pengecualiannya adalah pendudukan Inggris di Le Havre dari Oktober 1562 hingga Juni 1563, yang berakhir dengan kegagalan karena sekutu Huguenot Elizabeth bergabung dengan orang Katolik untuk merebut kembali kota pelabuhan tersebut. Elizabeth sebelumnya bermaksud menukar Le Havre dengan Calais, yang direbut Perancis pada Januari 1558.[101] Elizabeth hanya melancarkan kebijakan agresif melalui armadanya, yang digunakan dalam perang melawan Spanyol, dengan 80% pertempuran berlangsung di laut.[102] Ia memberikan gelar ksatria kepada Francis Drake setelah ia berhasil mengelilingi dunia dari tahun 1577 hingga 1580, dan Drake menjadi terkenal karena menyerang pelabuhan dan armada Spanyol. Pembajakan dan pemerkayaan diri pun menjadi pendorong bagi para pelaut pada masa Elizabeth, dan sang ratu hanya memiliki sedikit kendali atas mereka.[103][104]

Ekspedisi Belanda[sunting | sunting sumber]

Setelah pendudukan dan lepasnya Le Havre pada 1562–1563, Elizabeth tidak melakukan ekspedisi militer di Benua Eropa hingga tahun 1585, ketika ia mengirim tentara Inggris untuk membantu pemberontak Belanda yang beragama Protestan dalam peperangan melawan Philip II.[105] Hal ini dilakukan setelah kematian Willem van Oranje dan François, Adipati Anjou, pada tahun 1584, dan diserahkannya beberapa kota Belanda kepada Alexander Farnese, Adipati Parma, yang merupakan gubernur Philip di Belanda Spanyol. Pada Desember 1584, aliansi antara Philip II dengan Liga Katolik Perancis di Joinville menjatuhkan kemampuan saudara Anjou, Henri III dari Perancis, dalam mengimbangi dominasi Spanyol di Belanda. Aliansi tersebut juga menyebarkan pengaruh Spanyol di pesisir utara Perancis, yang merupakan tempat kekuatan Liga Katolik, sehingga Inggris rentan terhadap invasi.[105] Pengepungan Antwerpen pada musim panas tahun 1585 oleh Adipati Parma juga mengharuskan adanya tanggapan dari Inggris dan Belanda. Maka ditandatanganilah Traktat Nonsuch pada Agustus 1585, dan dalam traktat tersebut Elizabeth menjanjikan dukungan militer kepada Belanda.[106] Traktat tersebut menandai dimulainya Perang Inggris-Spanyol, yang berlangsung hingga ditandatanganinya Traktat London pada tahun 1604.

Ekspedisi Inggris di Belanda dipimpin oleh Robert Dudley, Earl Leicester. Elizabeth dari awal tidak terlalu mendukung kebijakan ini. Strateginya yang tampak mendukung Belanda dengan mengirim tentara Inggris sementara secara rahasia memulai negosiasi perdamaian dengan Spanyol beberapa hari setelah Leicester tiba di Belanda[107] bertentangan dengan Leicester yang menginginkan dan mengharapkan agar orang Belanda bertempur secara aktif. Di sisi lain, Elizabeth ingin agar Leicester "sebisa mungkin menghindari tindakan mutlak terhadap musuh".[108] Ia membuat Elizabeth marah dengan menerima jabatan Gubernur-Jenderal dari Staten-Generaal der Nederlanden. Elizabeth melihat hal tersebut sebagai rencana Belanda untuk memaksanya menerima kedaulatannya atas Belanda,[109] yang sejauh ini selalu ia tolak. Ia menulis kepada Leicester:

Kami tidak pernah membayangkan (bila kita tidak melihatnya berlangsung) bahwa seseorang yang dibesarkan oleh kami sendiri dan sangat diistimewakan oleh kami, di atas bawahan-bawahan lain di negeri ini, akan dengan amat hina melanggar perintah kami dalam kepentingan yang sangat menyentuh kehormatan kami ... Dan maka kesenangan dan perintah singkat kami adalah, dengan mengesampingkan semua penundaan dan dalih, agar anda segera berdasarkan kewajiban kepatuhan anda mematuhi dan memenuhi apapun yang diarahkan oleh pemegang jabatan atas nama kami. Agar anda tidak gagal, karena anda akan menjawab yang bertentangan atas risiko anda sendiri.[110]

"Perintah" Elizabeth adalah agar utusannya membacakan surat-surat ketidaksetujuannya secara terbuka di hadapan Staten-Generaal der Nederlanden, dan Leicester harus berdiri di dekatnya.[111] Permaluan "Letnan Jenderal" Elizabeth di muka umum diperburuk dengan dilanjutkannya negosiasi perdamaian dengan Spanyol,[112] yang sangat menjatuhkan posisinya di mata orang Belanda. Kampanye militer di Belanda sendiri amat terhambat karena Elizabeth terus menolak mengirim dana yang telah dijanjikan untuk tentaranya yang kelaparan. Keengganannya untuk berkomitmen, keterbatasan Licester sebagai pemimpin politik dan militer, serta situasi politik Belanda yang kacau dan terpecah menjadi sebab kegagalan kampanye militer Inggris di Belanda.[113] Leicester akhirnya mengundurkan diri pada Desember 1587.

Armada Spanyol[sunting | sunting sumber]

Sementara itu, Sir Francis Drake melancarkan serangan terhadap pelabuhan dan kapal Spanyol di Karibia pada tahun 1585 dan 1586, dan pada tahun 1587 ia berhasil menyerang Cadiz dan menghancurkan kapal-kapal Spanyol yang bermaksud menyerang Inggris[114] (Philip II telah memutuskan untuk berperang melawan Inggris).[115]

Potret Elizabeth yang merayakan dikalahkannya Armada Spanyol (1588) yang digambarkan di belakang. Tangan Elizabeth menyentuh bola dunia, yang melambangkan kekuatan internasionalnya.

Pada 12 Juli 1588, Armada Spanyol berlayar ke Selat Inggris untuk mengangkut tentara Spanyol yang dipimpin oleh Adipati Parma dari Belanda ke pesisir tenggara Inggris. Akibat kesalahan perhitungan,[116] ketidakberuntungan, dan serangan kapal api Inggris pada 29 Juli di Gravelines yang memencarkan kapal-kapal Spanyol ke timur laut, Armada Spanyol dikalahkan.[117] Kapal-kapal Spanyol yang terpencar berjuang untuk kembali ke Spanyol; beberapa kapal mencoba kembali melalui Laut Utara dan kemudian melewati pesisir barat Irlandia, namun banyak yang karam.[118] Karena belum mengetahui nasib Armada Spanyol, milisi Inggris dikerahkan untuk mempertahankan negara di bawah komando Earl Leicester. Ia mengundang Elizabeth untuk menginspeksi tentaranya di Tilbury, Essex, pada tanggal 8 Agustus. Dengan mengenakan plastron perak di atas gaun beludru putih, ia berpidato:

Rakyatku yang tercinta, kami telah diyakinkan oleh beberapa orang yang berhati-hati akan keamanan kita, agar memperhatikan bagaimana kita mempercayai orang-orang bersenjata karena ketakutan akan pengkhianatan; namun saya pastikan kepada kalian, saya tidak bermaksud untuk tidak memercayai rakyatku yang setia dan tercinta ... Saya tahu saya memiliki tubuh perempuan yang lemah, namun saya memiliki hati dan perut seorang raja, dan Raja Inggris juga, dan memikirkan cemoohan busuk bila Parma atau Spanyol atau Pangeran Eropa manapun berani menyerang perbatasan kerajaanku.[119]

Saat invasi tidak terjadi, rakyat bersuka cita. Prosesi Elizabeth ke misa syukur di Katedral Santo Paulus menyaingi upacara pemahkotaannya.[118] Dikalahkannya Armada Spanyol menjadi propaganda kemenangan yang ampuh, baik untuk Elizabeth maupun kaum Protestan di Inggris. Inggris memandangnya sebagai lambang kemurahan hati Tuhan dan inviolabilitas Inggris di bawah seorang ratu perawan.[102] Namun, kemenangan ini tidak menjadi titik balik perang karena Spanyol tetap unggul.[120] Spanyol masih menguasai Belanda dan ancaman invasi masih ada.[115] Sir Walter Raleigh mengklaim setelah kematian Elizabeth bahwa sifat Elizabeth yang berhati-hati menghalangi perang melawan Spanyol:

Bila ratu yang telah meninggal memercayai tentaranya seperti ia memercayai penulisnya, pada masanya kita akan mengalahkan imperium besar itu menjadi kepingan-kepingan dan membuat raja-raja mereka dari ara dan jeruk seperti pada masa lampau. Tetapi yang Mulia melakukan semuanya setengah hati, dan melalui invasi kecil-kecilan mengajarkan orang Spanyol bagaimana mempertahankan diri dan melihat kelemahan mereka sendiri.[121]

Walaupun beberaja sejarawan juga mengkritik Elizabeth dengan alasan yang serupa,[122] pernyataan Raleigh dianggap tidak adil. Elizabeth memiliki alasan yang baik dalam keputusannya untuk tidak terlalu memercayai komandan-komandannya, yang, seperti yang dikatakan oleh Elizabeth sendiri, cenderung "berperilaku sombong" dalam pertempuran.[123]

Mendukung Henri IV dari Perancis[sunting | sunting sumber]

Lambang Ratu Elizabeth I, dengan semboyan pribadinya: "Semper eadem" atau "selalu sama"

Saat Henry IV yang beragama Protestan mewarisi tahta Perancis pada tahun 1589, Elizabeth memberinya dukungan militer. Kampanye militer ini merupakan kampanye militer pertama di Perancis setelah mundurnya tentara Inggris dari Le Havre pada tahun 1563. Kekuasaan Henri ditentang oleh Liga Katolik dan Philip II, sehingga Elizabeth takut bahwa Spanyol akan mengambilalih pelabuhan-pelabuhan di selat. Namun, kampanye militer Inggris di Perancis tidak terorganisir dan tidak efektif.[124] Lord Willoughby yang cenderung mengabaikan perintah Elizabeth berkelana di Perancis Utara dengan 4.000 tentara tanpa memberikan banyak dampak. Ia mengundurkan diri dengan kacau pada Desember 1589 setelah kehilangan setengah tentaranya. Pada tahun 1591, kampanye militer John Norreys ke Bretagne yang terdiri dari 3.000 tentara malah berakhir lebih buruk. Elizabeth tidak mau memberi persediaan dan bantuan yang diminta oleh komandan ekspedisi militer tersebut, sehingga Norreys secara pribadi kembali ke London untuk memohon lebih banyak dukungan. Saat ia tidak ada, Liga Katolik hampir menghancurkan sisa tentaranya di Craon, Perancis barat laut, pada Mei 1591. Pada bulan Juli, Elizabeth mengirim ekspedisi lain di bawah pimpinan Robert Devereux, Earl Essex untuk membantu Henri IV mengepung Rouen. Hasilnya juga menyedihkan. Essex tidak berhasil mencapai apa-apa dan kembali pada Januari 1592, sementara Henri menghentikan pengepungan pada bulan April.[125] Seperti biasa, Elizabeth tidak memiliki kendali atas komandan-komandannya saat mereka berada di luar negeri. Elizabeth menulis mengenai Essex, "di mana dia, atau apa yang ia lakukan, atau apa yang akan ia lakukan, kami tidak tahu".[126]

Irlandia[sunting | sunting sumber]

Walaupun Irlandia adalah salah satu dari dua kerajaannya, Elizabeth menghadapi penduduk Irlandia yang bermusuhan, otonom,[127] menganut Katolik, serta bersedia menentang kekuasaannya dan berkomplot dengan musuh. Kebijakan Elizabeth di Irlandia adalah memberi tanah kepada orang-orang istananya dan memastikan agar pemberontak tidak memberi Spanyol basis untuk menyerang Inggris.[128] Dalam serangkaian pemberontakan, tentara kerajaan melancarkan taktik bumi hangus yang membakar tanah dan membunuh laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Selama pemberontakan di Munster yang dipimpin oleh Gerald FitzGerald, Earl Desmond pada tahun 1582, kurang lebih 30.000 orang Irlandia tewas karena kelaparan. Penyair dan kolonis Edmund Spenser menulis bahwa korban jiwa "dibawa ke keadaan yang amat menyedihkan seperti itu hingga siapapun yang berhati batu juga akan menyesalinya".[129] Elizabeth menasihati komandannya agar Irlandia, "bangsa kasar dan barbar itu", diperlakukan dengan baik; namun, ia tidak menyesal ketika kekerasan dan pertumpahan darah dianggap perlu.[130]

Antara tahun 1594 hingga 1603, Elizabeth mengalami ujian terberat di Irlandia karena Perang Sembilan Tahun, pemberontakan yang berlangsung selama perang dengan Spanyol, yang mendukung pemimpin pemberontakan, Hugh O'Neill, Earl Tyrone.[131] Pada musim semi tahun 1599, Elizabeth mengirim Robert Devereux, Earl Essex Kedua, untuk memadamkan pemberontakan. Ia tidak membuat banyak kemajuan dan menentang perintah Elizabeth dengan kembali ke Inggris, sehingga Elizabeth frustrasi.[132] Essex kemudian digantikan oleh Charles Blount, Lord Mountjoy, yang membutuhkan tiga tahun untuk memadmkan pemberontakan. O'Neill akhirnya menyerah pada tahun 1603, beberapa hari setelah kematian Elizabeth.[133] Segera setelah itu, perjanjian perdamaian antara Inggris dengan Spanyol ditandatangani.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Saya bermaksud mengarahkan tindakan saya berdasarkan anjuran dan nasihat yang baik." Pidato pertama Elizabeth sebagai seorang ratu, Hatfield House, 20 November 1558. Loades, 35.
  2. ^ a b Starkey Elizabeth: Woman, 5.
  3. ^ Neale, 386.
  4. ^ Somerset, 729.
  5. ^ Somerset, 4.
  6. ^ Loades, 3–5
  7. ^ Somerset, 4–5.
  8. ^ Loades, 6–7.
  9. ^ Undang-Undang Juli 1536 menyatakan bahwa Elizabeth "tidak sah ... dan sama sekali tertutup, dikecualikan, dan dilarang dari klaim, keberatan, atau permintaan warisan sebagai pewaris yang sah...kepada [sang Raja] berdasarkan garis keturunan". Somerset, 10.
  10. ^ Loades, 7–8.
  11. ^ Somerset, 11. Jenkins (1957), 13
  12. ^ Richardson, 39–46.
  13. ^ Richardson, 56, 75–82, 136
  14. ^ Weir, Children of Henry VIII, 7.
  15. ^ Informasi mengenai pendidikan dan kematangan awal Elizabeth kebanyakan berasal dari memoir Roger Ascham, yang juga menjadi pendidik Pangeran Edward. Loades, 8–10.
  16. ^ Somerset, 25.
  17. ^ Loades, 21.
  18. ^ "Episode 2". contributor: Dr. Ivan Herbison. A Kist o Wurds. 18 August 2013. No. 2, seri 33. 9.10 menit.
  19. ^ "Venice: April 1603", Calendar of State Papers Relating to English Affairs in the Archives of Venice, Volume 9: 1592–1603 (1897), 562–570. Diakses 22 Maret 2012.
  20. ^ Stoyle, Mark. West Britons, Cornish Identities and the Early Modern British State, University of Exeter Press, 2002, hal. 220.
  21. ^ Davenport, 32.
  22. ^ a b Loades, 11.
  23. ^ Starkey Elizabeth: Apprenticeship, hal. 69
  24. ^ Loades, 14.
  25. ^ Haigh, 8.
  26. ^ Neale, 32.
  27. ^ Williams Elizabeth, 24.
  28. ^ Loades, 14, 16.
  29. ^ a b Neale, 33.
  30. ^ Elizabeth had assembled 2,000 horsemen, "a remarkable tribute to the size of her affinity". Loades 24–25.
  31. ^ Loades, 27.
  32. ^ Neale, 45.
  33. ^ Loades, 28.
  34. ^ Somerset, 51.
  35. ^ Loades, 29.
  36. ^ "The wives of Wycombe passed cake and wafers to her until her litter became so burdened that she had to beg them to stop." Neale, 49.
  37. ^ Loades, 32.
  38. ^ Somerset, 66.
  39. ^ Neale, 53.
  40. ^ Loades, 33.
  41. ^ Neale, 59.
  42. ^ Kantorowicz, ix
  43. ^ Dokumen lengkap direproduksi oleh Loades, 36–37.
  44. ^ Somerset, 89–90. The "Festival Book" account, from the British Library
  45. ^ Neale, 70.
  46. ^ Patrick Collinson, "Elizabeth I (1533–1603)" di Oxford Dictionary of National Biography (2008) diakses pada 23 Agustus 2011
  47. ^ Lee, Christopher (1995, 1998). "Disc 1". This Sceptred Isle 1547–1660. ISBN 978-0-563-55769-2. 
  48. ^ Loades, 46.
  49. ^ "It was fortunate that ten out of twenty-six bishoprics were vacant, for of late there had been a high rate of mortality among the episcopate, and a fever had conveniently carried off Mary's Archbishop of Canterbury, Reginald Pole, less than twenty-four hours after her own death". Somerset, 98.
  50. ^ "There were no less than ten sees unrepresented through death or illness and the carelessness of 'the accursed cardinal' [Pole]". Black, 10.
  51. ^ Somerset, 101–103.
  52. ^ "Stamp-sized Elizabeth I miniatures to fetch ₤80.000", Daily Telegraph, 17 November 2009 Diakses 16 May 2010
  53. ^ Loades, 38.
  54. ^ Haigh, 19.
  55. ^ Loades, 39.
  56. ^ Retha Warnicke, "Why Elizabeth I Never Married," History Review, Sept 2010, Issue 67, hal. 15–20
  57. ^ Loades, 42; Wilson, 95
  58. ^ Wilson, 95
  59. ^ Skidmore, 162, 165, 166–168
  60. ^ Chamberlin, 118
  61. ^ Somerset, 166–167. Most modern historians have considered murder unlikely; breast cancer and suicide being the most widely accepted explanations (Doran Monarchy, 44). The coroner's report, hitherto believed lost, came to light in The National Archives in the late 2000s and is compatible with a downstairs fall as well as other violence (Skidmore, 230–233).
  62. ^ Wilson, 126–128
  63. ^ Doran Monarchy, 45
  64. ^ Doran Monarchy, 212.
  65. ^ Adams, 384, 146.
  66. ^ Jenkins (1961), 245, 247; Hammer, 46.
  67. ^ Doran Queen Elizabeth I, 61.
  68. ^ Wilson, 303.
  69. ^ Frieda, 397.
  70. ^ a b c Haigh, 17.
  71. ^ Loades, 53–54.
  72. ^ Loades, 54.
  73. ^ Somerset, 408.
  74. ^ Doran Monarchy, 87
  75. ^ Haigh, 20–21.
  76. ^ Haigh, 22–23.
  77. ^ Anna Dowdeswell (28 November 2007). "Historic painting is sold for £2.6 million". bucksherald.co.uk. Diakses 17 December 2008. 
  78. ^ John N. King, "Queen Elizabeth I: Representations of the Virgin Queen," Renaissance Quarterly Vol. 43, No. 1 (Spring, 1990), pp. 30–74 in JSTOR
  79. ^ Haigh, 23.
  80. ^ Susan Doran, "Juno Versus Diana: The Treatment of Elizabeth I's Marriage in Plays and Entertainments, 1561–1581," Historical Journal 38 (1995): 257–74 in JSTOR
  81. ^ Haigh, 24.
  82. ^ Haigh, 131.
  83. ^ On Elizabeth's accession, Mary's Guise relatives had pronounced her Queen of England and had the English arms emblazoned with those of Scotland and France on her plate and furniture. Guy, 96–97.
  84. ^ Posisi Mary's position as heir derived from her great-grandfather Henry VII of England, through his daughter Margaret Tudor. In her own words, "I am the nearest kinswoman she hath, being both of us of one house and stock, the Queen my good sister coming of the brother, and I of the sister". Guy, 115.
  85. ^ Berdasarkan isi traktat, tentara Inggris dan Perancis harus mundur dari Skotlandia. Haigh, 132.
  86. ^ Loades, 67.
  87. ^ Loades, 68.
  88. ^ Simon Adams: "Dudley, Robert, earl of Leicester (1532/3–1588)" Oxford Dictionary of National Biography daring edisi Mei 2008 (langganan diperlukan) Diakses 3 April 2010
  89. ^ Letter to Mary, Queen of Scots, 23 June 1567." Quoted by Loades, 69–70.
  90. ^ Loades, 72–73.
  91. ^ Loades, 73
  92. ^ Williams Norfolk, hal. 174
  93. ^ a b McGrath, 69
  94. ^ a b c Collinson hal. 67
  95. ^ Collinson pp. 67–68
  96. ^ Collinson hal. 68
  97. ^ Loades, 73.
  98. ^ Guy, 483–484.
  99. ^ Loades, 78–79.
  100. ^ Guy, 1–11.
  101. ^ Frieda, 191.
  102. ^ a b Loades, 61.
  103. ^ Flynn and Spence, 126–128.
  104. ^ Somerset, 607–611.
  105. ^ a b Haigh, 135.
  106. ^ Strong and van Dorsten, 20–26
  107. ^ Strong and van Dorsten, 43
  108. ^ Strong and van Dorsten, 72
  109. ^ Strong and van Dorsten, 50
  110. ^ Letter to Robert Dudley, Earl of Leicester, 10 February 1586, delivered by Sir Thomas Heneage. Loades, 94.
  111. ^ Chamberlin, 263–264
  112. ^ Elizabeth's ambassador in France was actively misleading her as to the true intentions of the Spanish king, who only tried to buy time for his great assault upon England: Parker, 193.
  113. ^ Haynes, 15; Strong and van Dorsten, 72–79
  114. ^ Parker, 193–194
  115. ^ a b Haigh, 138.
  116. ^ Ketika komandan Spanyol Adipati Medina Sidonia mencapai pesisir di dekat Calais, ternyata pasukan Adipati Parma belum siap, sehingga ia terpaksa menunggu. Akibatnya, tentara Inggris mendapat kesempatan untuk melancarkan serangannya. Loades, 64.
  117. ^ Black, 349.
  118. ^ a b Neale, 300.
  119. ^ Somerset, 591; Neale, 297–98.
  120. ^ Black, 353.
  121. ^ Haigh, 145.
  122. ^ Misalnya, C. H. Wilson mengkritik Elizabeth karena hanya setengah hati dalam perang melawan Spanyol. Haigh, 183.
  123. ^ Somerset, 655.
  124. ^ Haigh, 142.
  125. ^ Haigh, 143.
  126. ^ Haigh, 143–144.
  127. ^ One observer wrote that Ulster, for example, was "as unknown to the English here as the most inland part of Virginia". Somerset, 667.
  128. ^ Loades, 55
  129. ^ Somerset, 668.
  130. ^ Somerset, 668–669.
  131. ^ Loades, 98.
  132. ^ In a letter of 19 July 1599 to Essex, Elizabeth wrote: "For what can be more true (if things be rightly examined) than that your two month's journey has brought in never a capital rebel against whom it had been worthy to have adventured one thousand men". Loades, 98.
  133. ^ Loades, 98–99.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
Mary I
Ratu Inggris & Irlandia
Wangsa Tudor

1558–1603
Diteruskan oleh:
James I