Kabupaten Aceh Barat Daya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Aceh Barat Daya
Lambang-abdya.jpg
Lambang Kabupaten Aceh Barat Daya
Moto: Sapeu Kheun Sahoe Langkah


Lokasi Aceh Kabupaten Aceh Barat Daya.svg
Peta lokasi Kabupaten Aceh Barat Daya
Koordinat: 3°47′28″LU 96°55′00″BT / 3,7911°LU 96,9166°BT / 3.7911; 96.9166
Provinsi Aceh
Dasar hukum UURI Nomor 4 Tahun 2002
Tanggal 10 April 2002
Ibu kota Blangpidie
Pemerintahan
 - Bupati Ir. Jufri Hasanuddin, MM (2012-2017)
 - DAU Rp. 362.624.746.000,-(2013)[1]
Luas 2.334,01 km2
Populasi
 - Total 126.036 jiwa (2010)[2]
 - Kepadatan 54 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0659
Pembagian administratif
 - Kecamatan 9
 - Kelurahan 132
 - Situs web http://acehbaratdayakab.go.id/

Koordinat: 3°48′LU 96°52′BT / 3,8°LU 96,867°BT / 3.800; 96.867

Kabupaten Aceh Barat Daya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten ini resmi berdiri setelah disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2002.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten yang sering disingkat dengan singkatan "ABDYA" ini merupakan kabupaten hasil kerja keras para tokoh pendiri kabupaten ini.

Aceh Barat Daya sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata. Meskipun perubahan pemerintahan nasional saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an.

Kabupaten ini memiliki banyak sebutan diantaranya: Tanoh Breuh Sigupai, Bumoe Teungku Peukan, Bumi Persada, Tanoh Mano Pucok, Bumi Cerana, Alue Maleem Dewa dan sebagainya.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Wilayah ini termasuk dalam gugusan pegunungan Bukit Barisan.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Kabupaten Gayo Lues
Selatan Kabupaten Aceh Selatan dan Samudra Indonesia
Barat Kabupaten Nagan Raya
Timur Kabupaten Gayo Lues

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Aceh Barat Daya mengandalkan sektor pertanian dan perdagangan untuk kelangsungan perekonomiannya. Hal ini ditunjang dengan posisinya yang sangat strategis di jalur dagang kawasan barat Aceh, khususnya kota Blangpidie yang sejak dulu menjadi pusat perdagangan di pantai barat Aceh.

Sebenarnya bila kondisi keamanan semakin membaik, banyak sekali potensi yang dapat digali di kawasan ini, seperti pariwisata, karena posisinya yang merupakan paduan antara pantai Samudera Hindia dan Bukit Barisan yang hijau.

Selain itu Aceh Barat Daya dapat dikembangkan sebagai kawasan agroindustri, agribisnis dan peternakan terpadu serta sektor lain yang akan berkembang.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk Aceh Barat Daya didominasi oleh Suku Aceh (80%) diikuti oleh Suku Aneuk Jamee (12%). Sedangkan sisanya adalah pendatang dari berbagai suku (8%).[3]

Di Aceh Barat Daya ini pula lahir pejuang kemerdekaan Indonesia yaitu Teungku Peukan.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Bupati[sunting | sunting sumber]

Bupati saat ini adalah Ir.Jufri Hasanuddin,MM dari Partai Aceh didampingi Wakil Bupati Erwanto, SE MA untuk masa bakti tahun 2012-2017. Wakil Bupati Erwanto mendampingi Bupati Abdya Jufri Hasanuddin sampai berakhir masa jabatan, 3 Agustus 2017. Mantan aktivis mahasiswa yang mengenyam pendidikan S2 di Belanda ini, menggantikan alm Yusrizal Razali yang meninggal dunia pada 27 Juni 2014 lalu. Bupati definitif pertama hasil pemilihan kepala daerah secara langsung yaitu Akmal Ibrahim, SH didampingi oleh Wakil Bupati Syamsurizal untuk masa bakti tahun 2007-2012. Pasangan ini dilantik oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk menggantikan Penjabat Bupati Azwar Umri. Sebelum Azwar Umri menjadi Penjabat Bupati, dia didahului oleh Drs.H.Teungku.Teuku Burhanuddin Sampe,MM. Sedangkan Teuku Burhanuddin Sampe didahului oleh Nasir Hasan yang sebelumnya menggantikan Baharuddin sebagai bupati perdana yang dilantik Gubernur Aceh Azwar Abubakar tanggal 18 Februari 2006.

Sekretaris Kabupaten Aceh Barat Daya saat ini dijabat oleh Drs. Ramli Bahar

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Potensi[sunting | sunting sumber]

Perkebunan[sunting | sunting sumber]

Potensi wilayah 32.417 Ha, areal Taman 11.850 Ha, cadangan areal 20.567 Ha

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Potensi wilayah 21.296 Ha, areal taman 16.450 Ha, cadangan areal 4.846 Ha

Kehutanan[sunting | sunting sumber]

Hutan lindung 31.375 Ha, Taman Nasional Gunung Leuser 62.400 Ha, Hutan Produksi Terbatas 36.165 Ha

Perikanan[sunting | sunting sumber]

  • Darat: Budi Daya Air Payau 10 Ha, Budi Daya Air Tawar 20 Ha
  • Laut/Danau/Sungai: Kerambah 5 unit (sungai)

Produksi Perikanan Tangkap tahun 2010 : - Ikan Selar : 335,3 ton, ikan kwee : 748 ton, ikan layang : 440,4 ton, ikan talang-talang : 3,5 ton, - Ikan Lemuru : 368,5 ton, ikan teri : 1.080,6 ton, ikan kakap merah : 186,7 ton, ikan lisong : 516,8 ton, - Ikan Tongkol Krai : 889,8 ton, ikan tongkol komo : 833,3 ton, ikan cakalang : 3.642,9 ton, ikan kembung : 1.046,2 ton, - Ikan Tenggiri : 308,6 ton, ikan tuna mata besar : 423,1 ton, ikan kerapu karang : 136,1 ton, ikan layur : 387,5 ton, - Ikan Cucut Lanyam : 524,4 ton, ikan lainnya : 134,2 ton,

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Wisata Alam Pulau Gosong Sangkalan, Taman Wisata Cemara Indah, Wisata Pantai Ujong Manggeng, Wisata Pantai Lhok Pawoh, Wisata Pantai Jilbab, Wisata Pantai Bali, Wisata Pantai Kuala, Wisata Pantai Lama Muda dan Pantai Lama Tuha. Pariwisata Gunung: Bendungan irigasi Krueng Susoh Blang Pidie, Irigasi Krueng Baru Lembah Sabil Manggeng, Air terjun Kuala Batee Bahbah Rot, Marga Satwa Leuser (Pucuk Kila), Pucok Krueng Alue Sungai Pinang.

Tabel Objek Wisata[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Aceh Barat daya saat ini memiliki beberapa Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Barat Daya seperti wisata alam, wisata cagar budaya dan situs sejarah sampai wisata minat khusus seperti haiking dan arung jeram. Sampai tahun 2012 belum tercatat wisatawan dalam dan luar negeri yang berkunjung keberbagai pelosok Aceh Barat Daya. Diantara jenis wisata yang menonjol adalah wisata minat khusus hiking. Untuk mendukung kegiatan wisata tersebut terdapat pula 7 hotel/losmen yang tersebar di Kabupaten Aceh Barat Daya khususnya di Kota Blangpidie. Berikut ini adalah tabel yang memperlihatkan objek wisata yang terdapat di Kabupaten Aceh Barat Daya.

Potensi Wisata di Kabupaten Aceh Barat Daya[sunting | sunting sumber]
No Lokasi / Kecamatan Nama Tempat Wisata Objek Wisata Jenis Wisata
1. Lembah Sabil –      Pemandian Krueng Baru –       Pemandian Krueng Baru Wisata Alam
2. Manggeng –      Pantai Wisata Ujong Ketapang –       Teupin Batee-       Taman Laut Ujung Manggeng-       Pantai Ujung Manggeng-       Pasir Butiran Lhok Pawoh Wisata Alam
3. Tangan-Tangan –      Pantai Wisata Aron Tumpang –       Pantai Wisata Blang Padang-       Kuburan Batee Meuculek-       Air Terjun Alue Kareng-       Mon Jeue-       Panorama Alam Wisata Alam dan Sejarah
4. Blangpidie –      Pemandian Krueng Susoh –       Kolam Tgk. Malem-       Batee Permata-       Pemandian Kolam Putroe Hijau-       Gunong Cot Keummeunyan-       Panorama Gunong dan Irigasi Mata Ie-       MakamT. Awee Geutah-       Makam T. Peukan

–       Makam Tgk. Dilubuk

–       Makam Tgk. Sirah Panyang

–       Makam T. Ben Mahmud

–       Makam Syeh Mahmud

Wisata Alam, Budaya dan Sejarah
5. Susoh –      Pasir Putih Pantai Cemara Indah –       Kuala Katung-       Pantai Wisata Nelayan-       Pasir Ujong Keutapang-       Pulau Gosong-       Taman Laut Ujong Serangga Wisata Alam
6. Kuala Batee –      Pantai Wisata Lama Tuha-      Situs Kerajaan Kuala Batee –       Taman Laut Lama Tuha-       Pemandian Air Terjun-       Panton Cut-       Pantai Lama Muda-       Situs Peninggalan Bersejarah Portugis-       Makam Tgk. Djakfar Lailon Wisata Alam, Budaya dan Sejarah
7. Babahrot –      Krung Babahrot-      Wisata Perkebunan –       Raja Malaka-       Krueng Seumayam-       Perkebunan Sawit Wisata Alam dan Sejarah

Sumber : Draf RTRW Kabupaten Aceh Barat Daya, 2012

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Aceh Barat Daya memiliki potensi sumber daya mineral yang cukup kaya, diantaranya Bijih Besi, Emas, Batu-bara, Pasir Zirkon dan Galena. Juga terdapat batuan yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pupuk mineral. Namun hingga saat ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya dalam mempercepat pembangunan sektor energi dan sumber daya mineral, sesuai dengan Qanun No. 1 Tahun 2008 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah telah terbentuk SKPD Dinas Pertambangan dan Energi.

Seni Budaya[sunting | sunting sumber]

Tari Ratéb Meuseukat Aceh Barat Daya[sunting | sunting sumber]

Tari Rateb Meuseukat merupakan salah satu tarian Aceh yang berasal dari Aceh. Nama Ratéb Meuseukat berasal dari bahasa Arab yaitu rateb asal kata ratib artinya ibadat dan meuseukat asal kata sakat yang berarti diam.

Diberitakan bahwa tari Ratéb Meuseukat ini diciptakan gerak dan gayanya oleh anak Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya), sedangkan syair atau ratéb-nya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala, seorang ulama di Seunagan, yang hidup pada abad ke XIX. Isi dan kandungan syairnya terdiri dari sanjungan dan puji-pujian kepada Allah dan sanjungan kepada Nabi, dimainkan oleh sejumlah perempuan dengan pakaian adat Aceh. Tari ini banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro di kabupaten Aceh Barat Daya.Pada mulanya Ratéb Meuseukat dimainkan sesudah selesai mengaji pelajaran agama malam hari, dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah. Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Pada akhirnya juga permainan Ratéb Meuseukat itu dipertunjukkan juga pada upacara agama dan hari-hari besar, upacara perkawinan dan lain-lainnya yang tidak bertentangan dengan agama.Saat ini, tari ini merupakan tari yang paling terkenal di Indonesia. Hal ini dikarenakan keindahan, kedinamisan dan kecepatan gerakannya. Tari ini sangat sering disalahartikan sebagai tari Saman milik suku Gayo. Padahal antara kedua tari ini terdapat perbedaan yang sangat jelas.Perbedaan utama antara tari Ratéb Meuseukat dengan tari Saman ada 3 yaitu, pertama tari Saman menggunakan bahasa Gayo, sedangkan tari Ratéb Meuseukat menggunakan bahasa Aceh. Kedua, tari Saman dibawakan oleh laki-laki, sedangkan tari Ratéb Meuseukat dibawakan oleh perempuan. Ketiga, tari Saman tidak diiringi oleh alat musik, sedangkan tari Ratéb Meuseukat diiringi oleh alat musik, yaitu rapa’i dan geundrang

Tari Rapa'i Geleng[sunting | sunting sumber]

Rapa'i Geleng adalah sebuah tarian etnis Aceh yang berasal dari wilayah Aceh Bagian Selatan tepatnya Manggeng, yang sekarang masuk kawasan Kabupaten Aceh Barat Daya. Rapa'i Geleng dikembangkan oleh seorang anonim di Aceh Selatan. Permainan Rapa'i Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair yang dinyanyikan, kostum dan gerak dasar dari unsur Tari Meuseukat.

Jenis tarian ini dimaksudkan untuk laki-laki

Kuliner[sunting | sunting sumber]

Mie Kocok[sunting | sunting sumber]

Mi berwarna kuning dan putih dimasak menggunakan adonan berupa gayung dari aluminium bertangkai kayu. Lalu, dikocok-kocok selama beberapa detik dalam air mendidih sebelum dihidangkan. Setelah terjasi, menu dimaksud disebut mi kocok. Mi seperti itu memang mudah ditemukan di Provinsi Aceh, termasuk di daerah lain di Indonesia. Akan tetapi, mi kocok ala Abdya, menurut banyak kalangan, memiliki cita rasa berbeda dengan yang lain. Bicara mi kocok khas Abdya, tidak bisa lepas dari sosok almarhum Said Idrus.

Pada 1960, pria yang pernah merantau ke Negeri Cina itu membuka warung di deretan pertokoaan  kontruksi kayu di Jalan Selamat, Kota Blangpidie. Toko dimaksud diberi label “Warung Muslim”. Selain menyediakan minuman kopi, menu khas di warung itu disebut mi kuning dan mi putih yang dikenal dengan sebutan mi kocok.

Era 60-an, di Kota Blangpidie (saat itu masih wilayah Aceh Selatan), ada tiga warung menyediakan mi kocok: Warung Muslim, Warung Sayangan dan Warung Japaris. Dua lainnya milik warga Tionghoa. Warung Muslim milik Said Idrus terus berkembang. Bahkan, membuka cabang di Losmen Muslim, Jalan At-Taqwa, Blangpidie.

Kemudian, warung tersebut dikelola oleh salah seorang putranya, Said Tantawi. Mi kocok Warung Muslim di lantai dasar Losmen Muslim, masih bertahan hingga saat ini. Kini, gerai dimaksud dikelola Said Muswir (putra Said Tantawi atau cucu dari almarhum Said Idrus). Meski kondisi warung tampak sederhana, langganannya lumayan banyak. Sejak pagi hingga malam, ada saja penikmat mi kocok singgah di sana.

Warga Abdya di perantauan memang tidak bisa melupakan aroma khas mi kocok produk kampung halaman. Terutama mi putih yang khas itu. Berada jauh dirantau, tidak menjadi halangan untuk menikmati mi kocok. Sebab, dapat dipesan melalui anggota keluarga di kampung halaman di  Blangpidie. Said Muswir mengaku, banyak menerima pesanan mi kocok seperti itu. Caranya, mi kocok kuning dan putih yang belum dimasak, dibungkus terpisah dengan kuah sop ayam serta bumbunya.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

http://aceh.tribunnews.com/2015/04/14/erwanto-wakil-bupati-abdya

http://acehbaratdayakab.go.id/

Sumber: Rozal Nawafil (Masyarakat Sipil)dan Syakirullah SM (Pemuda Daerah ) Tokoh Pemuda Daerah: Syakirullah SM