Kabupaten Aceh Tengah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Aceh Tengah
Lambang Kabupaten Aceh Tengah.png
Lambang Kabupaten Aceh Tengah
Moto: Keramat Mupakat


Lokasi Aceh Kabupaten Aceh Tengah.svg
Peta lokasi Kabupaten Aceh Tengah
Koordinat: 4°10”-4°58” LU dan 96°18”–96°22” BT
Provinsi Aceh
Ibu kota Takengon
Pemerintahan
 - Bupati Ir. H. Nasaruddin, MM
 - DAU Rp. 513.863.035.000.-(2013)[1]
Luas 445.405.13 km2
Populasi
 - Total 175,527 Jiwa (2010)[2]
 - Kepadatan 41 Jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0643
Pembagian administratif
 - Kecamatan 14
 - Kelurahan 268
 - Situs web www.acehtengahkab.go.id

Koordinat: 4°31′LU 96°52′BT / 4,517°LU 96,867°BT / 4.517; 96.867

Kabupaten Aceh Tengah adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Ibu kotanya adalah Takengon, sebuah kota kecil berhawa sejuk yang berada di salah satu bagian punggung pegunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatera.

Daftar isi

Geografi [sunting]

Kabupaten Aceh Tengah berada di kawasan Dataran Tinggi Gayo. Kabupaten lain yang berada di kawasan ini adalah Kabupaten Bener Meriah serta Kabupaten Gayo Lues. Tiga kota utamanya yaitu Takengon, Blang Kejeren, dan Simpang Tiga Redelong. Jalan yang menghubungkan ketiga kota ini melewati daerah dengan pemandangan yang sangat indah. Pada masa lalu daerah Gayo merupakan kawasan yang terpencil sebelum pembangunan jalan dilaksanakan di daerah ini.

Kabupaten Aceh Tengah memiliki 14 kecamatan yang terdiri dari 295 kampung (dusun) yaitu: [3]

No. Kecamatan Jumlah Desa Kode Pos
1 Atu Lintang 9 24563
2 Bebesen 27 24552
3 Bies 11 24561
4 Bintang 23 24571
5 Celala 16 24562
6 Jagong Jeget 7 24563
7 Kebayakan 19 24517 - 24519
8 Ketol 25 24562
9 Kute Panang 18 24568
10 Linge 24 24563
11 Lut Tawar 15 24511 - 24516
12 Pegasing 30 24561
13 Rusip Antara 14 24562
14 Silih Nara 33 24562


Batas wilayah [sunting]

Utara Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Bireuen
Selatan Kabupaten Gayo Lues
Barat Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Pidie dan Kabupaten Nagan Raya
Timur Kabupaten Aceh Timur

Sejarah [sunting]

Zaman Penjajahan Belanda [sunting]

Kedatangan kaum kolonial Belanda sekitar tahun 1904, tidak terlepas dari potensi perkebunan Tanah Gayo yang sangat cocok untuk budidaya Kopi Arabika, Tembakau dan Damar. Pada periode itu wilayah Kabupaten Aceh Tengah dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai ibukotanya. Dalam masa kolonial Belanda tersebut di kawasan Takengon didirikan sebuah perusahaan pengolahan Kopi dan Damar. Sejak saat itu pula kawasan Takengon mulai berkembang menjadi sebuah pusat pemasaran hasil bumi Dataran Tinggi Gayo, khususnya Sayuran dan Kopi.

Zaman Penjajahan Jepang [sunting]

Sebutan Onder Afdeeling Takengon di era kolonial Belanda, berubah menjadi Gun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Gun dipimpin oleh Gunco.

Zaman Kemerdekaan [sunting]

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, sebutan tersebut berganti menjadi wilayah yang kemudian berubah lagi menjadi kabupaten. Aceh Tengah berdiri sebagai satuan administratif pada tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-Oendang Nomor 10 Tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-Undang Nomor 7 (Darurat) Tahun 1956. Wilayahnya meliputi tiga kawedanan, yaitu Kawedanan Takengon, Kawedanan Gayo Lues, dan Kawedanan Tanah Alas.

Radio Rimba Raya [sunting]

Radio Rimba Raya (Desember 1948 - ... 1949) adalah Radio Republik Indonesia Darurat yang disiarkan dari Takengon, Aceh Tengah oleh Tentara Republik Indonesia Divisi X/Aceh pimpinan Kolonel Husin Yusuf. Radio ini mulai bersiaran sejak terjadinya Agresi Belanda I sampai dengan Konferensi Meja Bundar berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari Indonesia.

Potensi [sunting]

Pendidikan [sunting]

Kabupaten Aceh Tengah memiliki sebuah universitas yang bernama Universitas Gajah Putih.

Pariwisata, adat, dan budaya [sunting]

Beberapa objek wisata di Kabupaten Aceh Tengah adalah Danau Laut Tawar, Pantan Terong (atraksi pemandangan), Taman Buru Linge Isak (berburu), Gua Loyang Koro, Loyang Pukes, Loyang Datu, Burni Klieten (hiking), Gayo Waterpark (wahana wisata keluarga) dan Krueng Peusangan (rafting).

Didong merupakan salah satu kesenian asli yang berasal dari daerah dataran tinggi ini. Sekelompok orang duduk bersila membentuk lingkaran. Salah seorang ceh akan mendendangkan syair-syair dalam bahasa Gayo dan anggota yang lain akan mengiringi dengan tepukan tangan dan tepukan bantal kecil dengan ritme yang harmonis.

Pertanian dan perkebunan [sunting]

Sebagian besar masyarakat Kabupaten Aceh Tengah berprofesi sebagai petani dan pekebun. Kabupaten Aceh Tengah menghasilkan salah satu jenis kopi arabika terbaik di dunia. Komoditas penting selain kopi adalah padi, sayur dan tembakau. Kegiatan perkebunan kopi dan tembakau dilakukan dengan membuka wilayah hutan yang ada di wilayah ini.

Demografi [sunting]

Sebagian besar penduduknya berasal dari suku Gayo. Selain itu terdapat pula suku-suku lainnya, seperti Suku Aceh dan Suku Jawa. 99 persen masyarakat Aceh Tengah beragama Islam. Masyarakat Aceh Tengah memiliki tradisi tahunan pada saat perayaan proklamasi Indonesia yaitu pacu kuda tradisional. Hal yang unik dari pacu kuda tradisional ini adalah jokinya yang muda berumur antara 10-16 tahun. Selain itu, joki juga tidak menggunakan sadel dan pacuan kuda diselengarakan pada 17 februari yaitu hari ulang tahun kota takengon.

Pada umumnya, orang Gayo, dikenal dari sifat mereka yang sangat menentang segala bentuk penjajahan. Daerah ini dulu dikenal sebagai kawasan yang sangat menentang pemerintahan kolonial Belanda. Masyarakat Gayo adalah penganut Islam yang kuat. Masyarakat di Gayo banyak yang memelihara kerbau, sehingga ada yang mengatakan jika melihat banyak kerbau di Aceh maka orang itu sedang berada di Gayo.

Pemerintahan [sunting]

Bupati [sunting]

  1. Abdul Wahab (1945-1949)
  2. Zaini Bakri (1949-1952)
  3. M. Husin (1952-1953)
  4. Mude Sedang (1953-1955)
  5. M. Sahim Hasimi (1955-1958)
  6. Abdul Wahab (1958-1964)
  7. M. Saleh Aman Sari (1964-1966)
  8. M. Isa Amin (1966-1969)
  9. Nyak Abas (1969-1970)
  10. Nurdin Sufi (1970-1975)
  11. M. Beni Banta Cut, BA (1975-1985)
  12. M. Jamil (1985-1990)
  13. Drs. Zainuddin Mard (1990-1991)
  14. Drs. T.M. Yoesoef Zainoel (1991-1992)
  15. Drs. Buchari Isaq (1982-1998)
  16. Drs. Mustafa M. Tamy, MM (1998-2004)
  17. Ir. H. Nasaruddin, MM (2004-2006)
  18. Drs. H. Syahbuddin. BP (2006-2007)
  19. Ir. Nasaruddin, MM (2007-2012)
  20. Mohd. Tanwier. MM (4 April 2012-27 Desember 2013)
  21. Ir.H.Nasaruddin, MM (27 Desember 2012- Sekarang)

Bupati yang sekarang adalah Nasaruddin menggantikan Ir.Mohd Tanwier.MM, sedangkan Wakil Bupati adalah Drs. H. Khairul Asmara. Mereka dilantik oleh Gubernur Aceh Dr. Zaini Abdullah pada tanggal 27 Desember 2012. Ir. H. Nasaruddin, MM lahir di Takengon, 17 Juli 1957. Meraih gelar Sarjana Pertanian (S-1) dan Magister Manajemen (S-2) dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Sekretaris Kabupaten [sunting]

  1. H. Darul Aman (1946-1955)
  2. M. Yacub Daud, BA (1955-1961)
  3. H. Mohd. Rizal, SH (1957-1961)
  4. Drs. H. Mahmud Ibrahim (1961-1985)
  5. Drs. M. Syarif (1985-1991)
  6. Drs. Buchari Isaq (1991-1992)
  7. Fauzi Abdullah, SE (1992-1994)
  8. Armia, SE (1994-1999)
  9. Drs. Ibnu Hadjar Laut Tawar (1999-2002)
  10. Ir. H. Nasaruddin (2002-2005)
  11. Muhammad Ibrahim, SE (2005-2009)
  12. Drs. Khauirul Asmara (2009 - 2012)
  13. Drs. H. Taufik. MM (2012 - Sekarang)

Referensi [sunting]

Sumber [sunting]

Pranala luar [sunting]

Lihat pula [sunting]