Kabupaten Aceh Tengah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Aceh Tengah
Lambang Kabupaten Aceh Tengah.png
Lambang Kabupaten Aceh Tengah
Moto: Keramat Mupakat


Lokasi Aceh Kabupaten Aceh Tengah.svg
Peta lokasi Kabupaten Aceh Tengah
Koordinat: 4°22'14,42”-4°42'40,8” LU dan 96°15'23,6”–96°22'10,76” BT
Provinsi Aceh
Ibu kota Takengon
Pemerintahan
 - Bupati Ir. H. Nasaruddin, M.M.
 - APBD Rp718.033.147.247
 - DAU Rp513.863.035.000.-(2013)[1]
Luas 445.404.13 km2
Populasi
 - Total 213,732 Jiwa (2010)[2]
 - Kepadatan 41 Jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0643
Pembagian administratif
 - Kecamatan 14
 - Situs web www.acehtengahkab.go.id

Koordinat: 4°31′LU 96°52′BT / 4,517°LU 96,867°BT / 4.517; 96.867 Kabupaten Aceh Tengah adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Ibu kotanya adalah Takengon, sebuah kota kecil berhawa sejuk yang berada di salah satu bagian punggung pegunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatera.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Aceh Tengah berada di kawasan Dataran Tinggi Gayo. Kabupaten lain yang berada di kawasan ini adalah Kabupaten Bener Meriah serta Kabupaten Gayo Lues. Tiga kota utamanya yaitu Takengon, Blang Kejeren, dan Simpang Tiga Redelong. Jalan yang menghubungkan ketiga kota ini melewati daerah dengan pemandangan yang sangat indah. Pada masa lalu daerah Gayo merupakan kawasan yang terpencil sebelum pembangunan jalan dilaksanakan di daerah ini.

Kabupaten Aceh Tengah memiliki 14 kecamatan yang terdiri dari 295 kampung yaitu: [3]

No. Kecamatan Jumlah Kampung Kode Pos
1 Atu Lintang 11 24563
2 Bebesen 28 24552
3 Bies 12 24561
4 Bintang 24 24571
5 Celala 17 24562
6 Jagong Jeget 10 24563
7 Kebayakan 20 24517 - 24519
8 Ketol 25 24562
9 Kute Panang 24 24568
10 Linge 26 24563
11 Laut Tawar 18 24511 - 24516
12 Pegasing 31 24561
13 Rusip Antara 16 24562
14 Silih Nara 33 24562

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Bireuen
Selatan Kabupaten Gayo Lues
Barat Kabupaten Pidie dan Kabupaten Nagan Raya
Timur Kabupaten Aceh Timur

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Zaman Hindia Belanda[sunting | sunting sumber]

Kedatangan kaum kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1904, tidak terlepas dari potensi perkebunan Tanah Gayo yang sangat cocok untuk budidaya kopi arabika, tembakau dan damar. Pada periode itu wilayah Kabupaten Aceh Tengah dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai ibukotanya. Dalam masa kolonial Hindia Belanda tersebut di kawasan Takengon didirikan sebuah perusahaan pengolahan kopi dan damar. Sejak saat itu pula kawasan Takengon mulai berkembang menjadi sebuah pusat pemasaran hasil bumi Dataran Tinggi Gayo, khususnya sayuran dan kopi.

Zaman penjajahan Jepang[sunting | sunting sumber]

Sebutan Onder Afdeeling Takengon di era Hindia Belanda, berubah menjadi Gun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Gun dipimpin oleh Gunco.

Zaman kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, sebutan tersebut berganti menjadi wilayah yang kemudian berubah lagi menjadi kabupaten. Aceh Tengah berdiri sebagai satuan administratif pada tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-Oendang Nomor 10 Tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-Undang Nomor 7 (Darurat) Tahun 1956. Wilayahnya meliputi tiga kawedanan, yaitu Kawedanan Takengon, Kawedanan Gayo Lues, dan Kawedanan Tanah Alas.

Radio Rimba Raya[sunting | sunting sumber]

Radio Rimba Raya (Desember 1948 - ... 1949) adalah Radio Republik Indonesia Darurat yang disiarkan dari Takengon, Aceh Tengah oleh Tentara Republik Indonesia Divisi X/Aceh pimpinan Kolonel Husin Yusuf. Radio ini mulai bersiaran sejak terjadinya Agresi Belanda I sampai dengan Konferensi Meja Bundar berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari Indonesia.

Potensi[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Aceh Tengah memiliki beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta, diantaranya, Sekolah Tinggi Agama Negeri Gajah Putih Takengon, universitas Universitas Gajah Putih Takengon, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah (STIHMAD, Sekolah Tinggi Ilmu Kependidikan Muhammadiyah, Perguruan Tinggi Al-Wasliyah.

Pariwisata, adat, dan budaya[sunting | sunting sumber]

Beberapa objek wisata di Kabupaten Aceh Tengah adalah Danau Laut Tawar, Pantan Terong (atraksi pemandangan), Taman Buru Linge Isak (berburu), Gua Loyang Koro, Loyang Pukes, Loyang Datu, Burni Klieten (hiking), Gayo Waterpark (wahana wisata keluarga) dan Krueng Peusangan arum jeram.

Didong merupakan salah satu kesenian asli yang berasal dari daerah dataran tinggi ini. Sekelompok orang duduk bersila membentuk lingkaran. Salah seorang ceh akan mendendangkan syair-syair dalam bahasa Gayo dan anggota yang lain akan mengiringi dengan tepukan tangan dan tepukan bantal kecil dengan ritme yang harmonis.

Masyarakat Aceh Tengah memiliki tradisi tahunan pada saat perayaan proklamasi Indonesia yaitu pacu kuda tradisional. Hal yang unik dari pacu kuda tradisional ini adalah jokinya yang muda berumur antara 10-16 tahun. Selain itu, joki juga tidak menggunakan sadel dan mulai tahun 2011, Pacuan Kuda diselengarakan 2 kali dalam setahun, di bulan Agustus pada saat perayaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan bulan Februari untuk memperingati hari ulang tahun kota Takengon yang jatuh pada tanggal 17 Februari setiap tahunnya

Pertanian dan perkebunan[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar masyarakat Kabupaten Aceh Tengah berprofesi sebagai petani dan pekebun. Kabupaten Aceh Tengah menghasilkan salah satu jenis kopi arabika terbaik di dunia dengan luas lahan mencapai 48.300 Hektar, dengan rata-rata produksi per hektare sebanyak 720 kilogram. Komoditas penting selain kopi adalah tebu dengan luas areal 8.000 Hektar, serta kakao seluar 2.322 hektare, kemudian terdapat pula tanaman sayur mayur dan palawija.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar penduduknya berasal dari suku Gayo. Selain itu terdapat pula suku-suku lainnya, seperti Suku Aceh, Suku Jawa, Suku Minang, Suku Batak, Suku Tionghoa. 99 persen masyarakat Aceh Tengah beragama Islam.

Pada umumnya, orang Gayo, dikenal dari sifat mereka yang sangat menentang segala bentuk penjajahan. Daerah ini dulu dikenal sebagai kawasan yang sangat menentang pemerintahan kolonial Belanda. Masyarakat Gayo adalah penganut Islam yang kuat. Masyarakat di Gayo banyak yang memelihara kerbau, sehingga ada yang mengatakan jika melihat banyak kerbau di Aceh maka orang itu sedang berada di Gayo.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Bupati[sunting | sunting sumber]

  1. Abdul Wahab (1945-1949)
  2. Zaini Bakri (1949-1952)
  3. M. Husin (1952-1953)
  4. Mude Sedang (1953-1955)
  5. M. Sahim Hasimi (1955-1958)
  6. Abdul Wahab (1958-1964)
  7. M. Saleh Aman Sari (1964-1966)
  8. M. Isa Amin (1966-1969)
  9. Nyak Abas (1969-1970)
  10. Nurdin Sufi (1970-1975)
  11. M. Beni Banta Cut, BA (1975-1985)
  12. M. Jamil (1985-1990)
  13. Drs. Zainuddin Mard (1990-1991)
  14. Drs. T.M. Yoesoef Zainoel (1991-1992)
  15. Drs. Buchari Isaq (1982-1998)
  16. Drs. Mustafa M. Tamy, M.M. (1998-2004)
  17. Ir. H. Nasaruddin, M.M. (2004-2006)
  18. Drs. H. Syahbuddin, B.P. (2006-2007)
  19. Ir. Nasaruddin, M.M. (2007-2012)
  20. Ir. Mohd. Tanwier. M.M. (4 April 2012-27 Desember 2012)
  21. Ir. H. Nasaruddin, M.M. (27 Desember 2012- sekarang)

Bupati yang sekarang adalah Nasaruddin menggantikan Ir. Mohd Tanwier, MM, sedangkan Wakil Bupati adalah Drs. H. Khairul Asmara. Mereka dilantik oleh Gubernur Aceh Dr. Zaini Abdullah pada tanggal 27 Desember 2012. Nasaruddin lahir di Takengon, 17 Juli 1957. Meraih gelar Sarjana Pertanian (S-1) dan Magister Manajemen (S-2) dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Sekretaris kabupaten[sunting | sunting sumber]

  1. H. Darul Aman (1946-1955)
  2. M. Yacub Daud, B.A. (1955-1961)
  3. H. Mohd. Rizal, S.H. (1957-1961)
  4. Drs. H. Mahmud Ibrahim (1961-1985)
  5. Drs. M. Syarif (1985-1991)
  6. Drs. Buchari Isaq (1991-1992)
  7. Fauzi Abdullah, S.E. (1992-1994)
  8. Armia, S.E. (1994-1999)
  9. Drs. Ibnu Hadjar Laut Tawar (1999-2002)
  10. Ir. H. Nasaruddin (2002-2005)
  11. Muhammad Ibrahim, SE (2005-2009)
  12. Drs. H. Khairul Asmara (2009 - 2012)
  13. Drs. H. Taufik. MM (2012 - Sekarang)

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]