Kabupaten Gayo Lues

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Gayo Lues
Lambang Gayo Lues.png
Lambang Kabupaten Gayo Lues
Moto: Musara


Lokasi Aceh Kabupaten Gayo Lues.svg
Peta lokasi Kabupaten Gayo Lues
Koordinat: 3°40'46,13" - 4°16'50,45" LU
96°43'15,65" - 97°55'24,29" BT
Provinsi Aceh
Dasar hukum UU No.4 Tahun 2002
Tanggal 10 April 2002
Ibu kota Blangkejeren
Pemerintahan
 - Bupati H. Ibnu Hasyim, S.Sos, MM
 - DAU Rp. 374.040.972.000,-(2013)[1]
Luas 5.719 km2
Populasi
 - Total 79.560 jiwa
 - Kepadatan 13,91 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0642
Pembagian administratif
 - Kecamatan 11
 - Kelurahan 144
 - Situs web http://www.gayolueskab.go.id

Koordinat: 3°58′LU 97°21′BT / 3,967°LU 97,35°BT / 3.967; 97.350

Kabupaten Gayo Lues adalah salah satu kabupaten di provinsi Aceh, Indonesia dan merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tenggara dengan Dasar Hukum UU No.4 Tahun 2002 pada tanggal 10 April 2002. Kabupaten ini berada di gugusan pegunungan Bukit Barisan, sebagian besar wilayahnya merupakan area Taman Nasional Gunung Leuser yang telah dicanangkan sebagai warisan dunia. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang paling terisolasi di Aceh.

Pada mulanya daerah Gayo dan Alas membentuk pemerintahan sendiri terpisah dari Kabupaten Aceh Tengah, maka terbentuklah Kabupaten Aceh Tenggara (UU No. 4/1974) namun karena kesulitan transportasi daerah Gayo ingin membentuk kabupaten tersendiri maka terbentuklah Kabupaten Gayo Lues (UU No. 4/2002) dengan ibukota Blangkejeren dan Penjabat Bupati ditetapkan Ir. Muhammad Ali Kasim, M.M.

Daftar isi

Geografi [sunting]

Gayo Lues memilki luas wilayah 5.719 km2 dan terletak pada koordinat 3°40'46,13" - 4°16'50,45" LU 96°43'15,65" - 97°55'24,29" BT.

Transportasi [sunting]

Rencana pembangunan Jalur Ladia Galaska (Samudera Indonesia, Gayo, Alas, dan Selat Malaka) yang menghubungkan Samudera Indonesia dengan Selat Malaka sangat diharapkan dapat memperbaiki tingkat perekonomian masyarakat Gayo Lues. Saat ini, lalu lintas dari Blangkejeren, pusat pemerintahan kabupaten, ke Banda Aceh harus melalui Medan, Sumatera Utara. Meskipun demikian, rencana ini banyak ditentang oleh kalangan pelestari lingkungan hidup karena memotong zona utama taman nasional.

Gayo Lues kemudian dikenal dengan nama Negeri Seribu Bukit. Nama ini ditabalkan dan dipopulerkan oleh Mohsa El Ramadan, wartawan senior, Pemimpin Redaksi Koran Rajapost Banda Aceh, dan editor buku Memadamkan Bara di atas Ladia Galaska. Buku yang ditulis oleh Muhammad Alikasim Kemaladerna ini adalah sebuah solusi penyelesaian konflik pembangunan jalan Ladia Galaska antara pemerintah dan pemerhati lingkungan di Aceh.

Suku [sunting]

penduduk Gayo Lues berasal dari berbagai etnik. suku Gayo yang berbahasa Gayo, suku Aceh, Alas, Minang, Batak, Pakpak, Devayan dan Jawa serta Batak

Pemerintahan [sunting]

Daerah Gayo Lues mencakup 57 persen dari wilayah lama Aceh Tenggara, dan dibagi menjadi 11 (sebelas) kecamatan dengan perincian sebagai berikut:

Bupati dan Wakil Bupati [sunting]

  • H. Ibnu Hasyim, S.Sos, MM, (2007-2012)
  • Letkol.(Inf) Firdaus Karim Ali (2007-2012)

Potensi Daerah [sunting]

Kabupaten yang berpenduduk kebanyakan Suku Gayo ini sedang berbenah diri untuk mengejar ketertinggalannya dalam pembangunan. Potensi pertanian menjadi prioritas utama pengembangan.

Pertambangan [sunting]

  • Timah di Kecamatan Pining
  • Emas di Kecamatan Putri Betung dan kecamatan pantan cuaca
  • tambang pasir keramik di kecamatan rikit gaib

Komoditas pertanian [sunting]

Beberapa komoditas potensial yang dimiliki kabupaten ini adalah:

  • Cabe merah besar di kecamatan pantan cuaca dan rikit gaib
  • Serai wangi, yang dikembangkan di hutan pinus
  • Tembakau virginia di kecamatan pantan cuaca
  • Kakao di kecamatan pantan cuaca
  • Kopi Arabika di kecamatan pantan cuaca

Pariwisata [sunting]

  • Pendakian Gunung Leuser
  • Pemandian air panas dikecamatan putri betung
  • Air terjun Akang siwah
  • wisata ekosistem louser di kecamatan pantan cuaca

Seni Budaya [sunting]

Referensi [sunting]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 

Pranala luar [sunting]