Kabupaten Aceh Tamiang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Aceh Tamiang
Lambang Kabupaten Aceh Tamiang
Lambang Kabupaten Aceh Tamiang
Berkas:Locator kab aceh tamiang.png
Peta lokasi Kabupaten Aceh Tamiang
Koordinat : 03° 53 - 04° 32' LU sampai 97° 44'- 98° 18' BT
Motto: Kaseh pape setie mati
Semboyan:
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Ibu kota Karang Baru
Luas 1.939 km²
Penduduk  
 · Jumlah 34.146 [1]
 · Kepadatan 18 jiwa/km²
Pembagian administratif  
 · Kecamatan 12
 · Desa/kelurahan 128
Dasar hukum UU No.4 Tahun 2002
Tanggal 10 April 2002
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati Drs. H. Abdul Latief
Kode area telepon 0641
APBD {{{apbd}}}
DAU -
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: www.bappedatamiang.go.id

Kabupaten Aceh Tamiang adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

Kabupaten ini adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur. Kabupaten yang mempunyai semboyan: Kaseh pape setie mati ini terletak dekat dengan perbatasan Sumatera Utara. Berasal dari kata Da Miang. Sejarah menunjukkan tentang eksistensi wilayah Tamiang seperti prasasti Sriwijaya, kemudian ada riwayat dari Tiongkok karya Wee Pei Shih yang mencatat keberadaan negeri Kan Pei Chiang (Tamiang), atau Tumihang dalam Kitab Nagarakretagama. Daerah ini juga dikenal dengan nama Bumi Muda Sedia, sesuai dengan nama Raja Muda Sedia yang memerintah wilayah ini selama 6 tahun (1330-1336). Raja ini mendapatkan Cap Sikureung dan hak Tumpang Gantung dari Sultan Aceh atas wilayah Karang dan Kejuruan Muda di masa itu.

Kabupaten ini berada di jalur timur Sumatera yang strategis dan hanya berjarak lebih kurang 250 km dari Kota Medan sehingga akses serta harga barang di kawasan ini relatif lebih murah daripada daerah Aceh lainnya. Disamping itu, kawasan ini relatif lebih aman semasa GAM berjaya dahulu. Ketika seruan mogok oleh GAM diberlakukan di seluruh Aceh, hanya kawasan ini khususnya Kota Kuala Simpang yang aktivitas ekonominya tetap berjalan.

Daftar isi

[sunting] Potensi daerah

Kabupaten Aceh Tamiang merupakan kawasan kaya minyak dan gas, meski jumlahnya tidak sebesar Aceh Utara, dan kawasan ini juga merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit di NAD. Disamping itu, Aceh Tamiang juga mengandalkan sektor angkutan karena posisinya yang strategis, dan angkutan air merupakan salah satu primadona alternatif karena kabupaten ini dialiri dua sungai besar yakni Sungai Tamiang (yang terpecah menjadi Simpang Kiri dan Simpang Kanan) dan Sungai Kaloy. Aceh Tamiang selain diatas juga mengandalkan sektor pertanian, industri pengolahan dan perdagangan. Kabupaten Aceh Tamiang juga memiliki beberapa tempat wisata yang hingga saat ini perlu penataan yang serius dan dikelola dengan baik. Air Terjun Tujuh Tingkat, Bendungan, Gua Walet, Pantai Seruway adalah beberapa contoh tempat wisata di Aceh Tamiang yang perlu mendapatkan perhatian untuk dapat dikelola menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah.

[sunting] Pemerintahan

Aceh Tamiang merupakan pecahan dari Kabupaten Aceh Timur dan merupakan satu-satunya kawasan di Aceh yang didominasi oleh etnis Melayu. Selain orang Melayu, juga terdapat orang Aceh, Gayo, Jawa, Karo dan lain sebagainya.

[sunting] Bupati

Pejabat Bupati Ishak Djuned menggantikan Abdul Latief yang dilantik gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdullah Puteh tanggal 28 Agustus 2004. Bupati yang sekarang adalah Drs. H. Abdul Latief bersama wakilnya H.Awaluddin.SH.MH sebagai hasil Pilkada untuk masabakti 2007 - 2012.

[sunting] Kecamatan

[sunting] Referensi

[sunting] Sumber

[sunting] Lihat pula

[sunting] Pranala luar

Wikisource
Wikisumber memiliki naskah atau teks asli yang berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002
Peralatan pribadi
Buat buku
Bahasa lain