Tembakau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Perkebunan tembakau

Tembakau adalah hasil bumi yang diproses dari daun tanaman yang juga dinamai sama. Tanaman tembakau terutama adalah Nicotiana tabacum dan Nicotiana rustica, meskipun beberapa anggota Nicotiana lainnya juga dipakai dalam tingkat sangat terbatas.

Tembakau adalah produk pertanian semusim yang bukan termasuk komoditas pangan, melainkan komoditas perkebunan. Produk ini dikonsumsi bukan untuk makanan tetapi sebagai pengisi waktu luang atau "hiburan", yaitu sebagai bahan baku rokok dan cerutu. Tembakau juga dapat dikunyah. Kandungan metabolit sekunder yang kaya juga membuatnya bermanfaat sebagai pestisida dan bahan baku obat[1].

Tembakau telah lama digunakan sebagai entheogen di Amerika. Kedatangan bangsa Eropa ke Amerika Utara memopulerkan perdagangan tembakau terutama sebagai obat penenang. Kepopuleran ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat bagian selatan. Setelah Perang Saudara Amerika Serikat, perubahan dalam permintaan dan tenaga kerja menyebabkan perkembangan industri rokok. Produk baru ini dengan cepat berkembang menjadi perusahaan-perusahaan tembakau hingga terjadi kontroversi ilmiah pada pertengahan abad ke-20.

Dalam Bahasa Indonesia tembakau merupakan serapan dari bahasa asing. Bahasa Spanyol "tabaco" dianggap sebagai asal kata dalam bahasa Arawakan, khususnya, dalam bahasa Taino di Karibia, disebutkan mengacu pada gulungan daun-daun pada tumbuhan ini (menurut Bartolome de Las Casas, 1552) atau bisa juga dari kata "tabago", sejenis pipa berbentuk y untuk menghirup asap tembakau (menurut Oviedo, daun-daun tembakau dirujuk sebagai Cohiba, tetapi Sp. tabaco (juga It. tobacco) umumnya digunakan untuk mendefinisikan tumbuhan obat-obatan sejak 1410, yang berasal dari Bahasa Arab "tabbaq", yang dikabarkan ada sejak abad ke-9, sebagai nama dari berbagai jenis tumbuhan. Kata tobacco (bahasa Inggris) bisa jadi berasal dari Eropa, dan pada akhirnya diterapkan untuk tumbuhan sejenis yang berasal dari Amerika.

Jenis dan daerah penghasil tembakau[sunting | sunting sumber]

Dua orang pegawai perusahaan perkebunan tembakau "Deli-Maatschappij" di awal abad ke-20 di Deli.

Tembakau adalah produk yang sangat sensitif terhadap cara budidaya, lokasi tanam, musim/cuaca, dan cara pengolahan. Karena itu, suatu kultivar tembakau tidak akan menghasilkan kualitas yang sama apabila ditanam di tempat yang berbeda agroekosistemnya. Produk tembakau sangat khas untuk suatu daerah tertentu dan kultivar tertentu. Akibatnya, macam-macam produk tembakau biasanya dinamai sesuai lokasi tanam.

Indonesia[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia, macam-macam tembakau komersial yang baik hanya dihasilkan di daerah-daerah tertentu. Kualitas tembakau sangat ditentukan oleh kultivar, lokasi penanaman, waktu tanam, dan pengolahan pascapanen. Akibatnya, hanya beberapa tempat yang memiliki kesesuaian dengan kualitas tembakau terbaik, tergantung produk sasarannya.

Berdasarkan cara pengolahan pascapanen, dikenal tembakau kering-angin (air-cured), kering-asap (fire-cured), kering-panas (flue-cured), dan kering-jemur (sun-cured).

Macam-macam tembakau kualitas tinggi di Indonesia
Macam/tipe Daerah Kegunaan
Deli Deli wrapper cerutu
Srintil Temanggung Temanggung, Parakan, Ngadirejo rokok (rajangan), kunyah
Virginia-Vorstenlanden Klaten, Sleman, Boyolali, Sukoharjo sigaret
Vorstenlanden Klaten, Sleman filler, binder, dan wrapper cerutu
Madura Madura rajangan rokok
Besuki Voor-Oogst
(VO, "sebelum panen padi")
Jember, ditanam musim hujan,
panen awal kemarau
rajangan rokok
Besuki Na-Oogst
(NO, "setelah panen padi")
Jember, ditanam akhir musim hujan,
panen akhir kemarau
filler, binder, dan wrapper cerutu
Virginia-Lombok Timur rajangan sigaret

Selain itu, terdapat beberapa daerah penghasil tembakau kualitas menengah ke bawah, biasanya ditanam untuk pasar domestik atau rokok kualitas rendah, tingwe ("linting dhewe"), atau tembakau kunyah, seperti tembakau Kaponan dari Ponorogo.

Biologi[sunting | sunting sumber]

Nikotin adalah senyawa candu yang ada pada tembakau

Terdapat beberapa spesies dalam genus Nicotiana yang bisa disebut tembakau. Genus ini merupakan bagian dari famili Solanaceae.

Berbagai tumbuhan mengandung nikotin, senyawa neurotoksin yang mampu mematikan serangga. Tembakau adalah tumbuhan yang mengandung jumlah nikotin tertinggi dibandingkan tumbuhan lainnya. Namun tidak seperti tumbuhan dari famili Solanaceae lainnya, tembakau tidak mengandung senyawa tropan alkaloida yang beracun bagi manusia.

Meski mengandung cukup nikotin dan senyawa psikoaktif lainnya (germakren, anabasin, dan alkaloida piperidin lainnya) untuk mengusir herbivora, namun sejumlah hewan telah berevolusi dan mampu memakan spesies daru genus Nicotiana tanpa mengalami gangguan. Tembakau masih tidak mampu dimakan oleh banyak spesies. Karena minimnya predator, tembakau liar seperti Nicotiana glauca telah menjadi spesies invasif.

Dampak tembakau[sunting | sunting sumber]

Sosial[sunting | sunting sumber]

Merokok di tempat umum telah sejak lama hanya dilakukan oleh pria. Wanita yang merokok dianggap telah merusak kesuciannya. Di Jepang pada jaman Edo, pelacur dan kliennya saling mendekati dengan berpura-pura menawarkan rokok. Hal yang sama juga dilakukan di Eropa pada abad ke-19.[2] Sejak Perang Sipil Amerika, penggunaan tembakau dikaitkan dengan maskulinitas dan kekuasaan, dan menjadi ikon pencitraan penguasa kapitalis.

Saat ini tembakau banyak ditentang karena mengakibatkan banyak masalah kesehatan[3] sehingga muncul kampanye anti rokok di beragai tempat di seluruh dunia. Bhutan adalah satu-satunya negara yang melarang penjualan tembakau.[4]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Tembakau hampir seluruhnya dijadikan rokok, dan pemanfaatan tembakau hampir seratus persen berupa rokok. Pada tahun 2000, merokok dilakukan oleh setidaknya 1.22 miliar orang dan sebagian besar merupakan laki-laki.[5] Namun selisih antar gender berkurang dengan meningkatnya usia.[6][7] Orang miskin memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk merokok, demikian pula masyarakat di negara miskin dan berkembang jika dibandingkan dengan masyarakat di negara maju.[8] Hingga tahun 2004, WHO melaporkan jumlah kematian sebesar 5.4 juta jiwa akibat rokok.[9]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Berdasakran WHO, tembakau merupakan penyebab terbesar kematian oleh penyakit-yang-dapat-dicegah.[10] Bahaya penggunaan tembakau mencakup penyakit yang terkait dengan jantung dan paru-paru seperti serangan jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, emfisema, dan kanker (terutama kanker paru-paru, kanker laring, dan kanker pankreas).

WHO memperkirakan bahwa tembakau menyebabkan kematian bagi 5.4 juta jiwa pada tahun 2004.[11] 100 juta kematian akibat tembakau telah terjadi akibat tembakau sepanjang abad ke 20.[12] Tembakau juga penyebab kematian bayi dan janin di seluruh dunia[13] karena orang tua perokok.

Perokok pasif meski tidak merokok, dapat mengalami kanker paru-paru. Di Amerika Serikat 3000 orang dewasa meninggal akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Setidaknya 46000 orang perkok pasif mengalami penyakit jantung dan meninggal.[14]

Jumlah perokok secara umum berkurang dengan meningkatnya kesejahteraan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) suatu negara. Dengan kata lain, jumlah perokok berkurang seiring dengan bergeraknya suatu negara menjadi negara maju. Di Amerika Serikat, jumlah perokok telah berkurang setengahnya secara persentase sejak tahun 1965, dari 42% menjadi 20.8%.[15] Sedangkan di negara miskin dan negara berkembang, jumlah perokok justru meningkat secara persentase per tahunnya.[16] India dan China, dengan penduduk yang sangat berlimpah dan IPM yang tidak terlalu tinggi menjadikan keduanya pasar bagi rokok dari seluruh dunia. China sendiri teah menjadi produsen rokok terbesar di dunia dengan memproduksi 2.4 triliun batang rokok per tahun atau setara dengan 40% produksi total dunia.[17]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ [1]
  2. ^ Timon Screech, "Tobacco in Edo Period Japan" in Smoke, pp. 92-99
  3. ^ Dampak kesehatan dari tembakau
  4. ^ The First Nonsmoking Nation, Slate.com
  5. ^ "Guindon & Boisclair" 2004, pp. 13-16.
  6. ^ Women and the Tobacco Epidemic: Challenges for the 21st Century 2001, pp.5-6.
  7. ^ Surgeon General's Report — Women and Smoking 2001, p.47.
  8. ^ "WHO/WPRO-Tobacco". World Health Organization Regional Office for the Western Pacific. 2005. Diakses 2009-01-01. 
  9. ^ The Global Burden of Disease 2004 Update 2008, p.23.
  10. ^ World Health Organization (2008). WHO Report on the Global Tobacco Epidemic 2008: The MPOWER Package. Geneva: World Health Organization. ISBN 92-4-159628-7. 
  11. ^ "WHO global burden of disease report 2008" (PDF). Diakses 2013-10-03. 
  12. ^ "WHO Report on the Global Tobacco Epidemic, 2008" (PDF). Diakses 2013-10-03. 
  13. ^ "Nicotine: A Powerful Addiction." Centers for Disease Control and Prevention.
  14. ^ Secondhand Smoke by BeTobaccoFree.gov
  15. ^ "Cigarette Smoking Among Adults - United States, 2006". Cdc.gov. Diakses 2013-10-03. 
  16. ^ WHO/WPRO-Smoking Statistics[pranala nonaktif]
  17. ^ Robert N. Proctor The history of the discovery of the cigarette-lung cancer link: evidentiary traditions, corporate denial, global toll, Tobacco Control, Tobacco Control 2012;21:87e91. doi:10.1136/tobaccocontrol-2011-050338

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]