Welang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Welang
Bungarus fasciatus Edit the value on Wikidata
AB 054 Banded Krait.JPG
Edit the value on Wikidata
Status konservasi
Status iucn3.1 LC.svg
Risiko rendah
IUCN192063 Edit the value on Wikidata
Taksonomi
KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasReptilia
OrdoSquamata
FamiliElapidae
GenusBungarus
SpesiesBungarus fasciatus Edit the value on Wikidata
Schneider, 1801
Tata nama
Sinonim takson
  • Pseudoboa fasciata Schneider, 1801[1]
  • Boa fasciata - Shaw, 1802
  • Bungarus annularis - Daudin, 1803

Welang (Bungarus fasciatus) adalah spesies krait yang tersebar di Asia bagian selatan dan tenggara.[2] Welang adalah spesies krait yang terbesar, dengan panjang maksimum mencapai 2.1 meter.[3]

Penamaan dan Etimologi[sunting | sunting sumber]

Sebutan "welang" mengacu pada warna tubuhnya yang belang-belang hitam dan putih atau kekuningan. Selain welang, sebutan-sebutan lain untuk ular ini diantaranya: "ular belang" (Indonesia) dan "oray belang" (Sunda). Istilah "ular belang" sendiri juga sering digunakan untuk menyebut kerabat terdekat ular ini, yaitu weling (Bungarus candidus). Secara kasatmata, keduanya memiliki bentuk dan pola warna yang mirip. Istilah "welang" dan "weling" (dari bahasa Jawa) mengacu pada pola belang-belang berwarna hitam dan putih (atau hitam dan kekuningan) yang berselang-seling di tubuhnya. Perbedaannya, pada welang, belang-belang hitamnya utuh berupa "cincin" yang melingkar dari punggung hingga ke perut. Sedangkan pada weling, belang-belang hitamnya hanya ada di bagian atas tubuhnya (dorsal), sementara tubuh bagian bawah (ventral) berwarna putih seluruhnya.

Dalam bahasa Inggris, ular ini (welang) disebut Banded krait. Sedangkan nama ilmiahnya, Bungarus fasciatus, berasal dari kata bahasa Telugu (India): bungarum yang berarti "emas", mengacu pada belang-belang kekuningan di tubuhnya yang mengkilap,[4] dan nama spesifiknya: fasciata yang berarti "berbelang".[5]

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Welang adalah spesies krait yang terbesar ukurannya. Panjang tubuh ular dewasa umumnya sekitar 1.5 hingga 1.8 meter, termasuk ekor.[3][6] Penampang badannya berbentuk segitiga, ditandai dengan puncak punggung yang membentuk sudut. Tubuhnya berwarna khas belang-belang hitam dan putih, masing-masing belang memiliki lebar yang sama. Sering juga ditemukan spesimen dengan belang-belang hitam dan kekuningan. Belang-belang hitam juga bersambung ke bagian bawah tubuhnya, kecuali pada daerah kepala. Kepalanya berwarna hitam dengan sepasang corak berwarna putih kekuningan di bagian atas. Bibirnya berwarna kekuningan.[5][7]

Sisik-sisik dorsal (punggung) terdiri dari 15 deret di bagian tengah badan. Sisik-sisik vertebral (di atas tulang punggung) berukuran agak besar dan berbeda bentuk dibandingkan sisik-sisik dorsal yang lain. Sisik-sisik ventral (perut) berjumlah 200—234 buah dengan sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) sebanyak 23—39 buah dan tidak berpasangan, serta sisik anal tunggal. Sisik-sisik labial (bibir) atas berjumlah 7 buah dan sebagian terletak di tepian mata.[7]

Penyebaran[sunting | sunting sumber]

Welang termasuk jenis krait yang sebaran geografisnya cukup luas. Penyebarannya meliputi India bagian timur-laut (Assam, West Bengal, Bihar, Orissa, Uttar Pradesh, Maharashtra, Madhya Pradesh, Arunachal Pradesh, Andhra Pradesh, Tripura), Nepal, Bhutan, Bangladesh, Tiongkok bagian selatan (termasuk Hong Kong dan Hainan), Myanmar, laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Indonesia (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan), dan Brunei Darussalam.[8]

Ekologi dan perilaku[sunting | sunting sumber]

Welang hidup di daerah dataran rendah hingga ketinggian 2500 meter DPL. Habitat utamanya adalah hutan, rawa-rawa, lahan pertanian, perkebunan. Ular ini kadang-kadang berkeliaran di sekitar pemukiman atau dekat perairan.[9] Aktif pada malam hari (nokturnal) dan berkelana di tanah (terestrial). Makanan utamanya adalah ular lain, termasuk ular tikus dan ular pucuk. Selain ular lain, welang juga memangsa kadal dan beberapa hewan kecil lainnya.[10]

Welang termasuk ular yang tidak agresif. Jika merasa terganggu, ular ini tidak membalas dengan menyerang, melainkan menyembunyikan kepalanya di bawah gulungan badannya.[5][7][10]

Welang berkembangbiak dengan bertelur (ovipar). Jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 4 sampai 14 butir dan akan menetas setelah di inkubasi selama 61 hari. Anak ular yang baru menetas berukuran panjang antara 24 sampai 40 cm.[10]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Bisa[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana layaknya Elapidae, welang adalah ular yang berbisa tinggi. Bisa ular ini bersifat neurotoksin (melumpuhkan saraf).[11][12] Gejala yang timbul akibat gigitan welang di antaranya adalah kesulitan bernapas atau pusing. Jika tidak segera ditangani dengan benar, dapat mengakibatkan kematian.[13]

Sebuah penelitian toksikologi menyebutkan rasio kematian akibat gigitan welang sebesar 1-10%, kemungkinan karena sedikitnya kasus gigtan yang terjadi. Di Indonesia, telah tersedia antibisa polivalen untuk mengobati gigitan welang.[2]

Dalam budaya populer[sunting | sunting sumber]

Nama ular ini, "welang", digunakan sebagai nama salah satu kapal perang TNI-AL, yakni KRI Welang.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Schneider, J.G. 1801. Historia Amphibiorum naturalis et literariae. 2: 283
  2. ^ a b "Clinical Toxinology-Bungarus fasciatus". 
  3. ^ a b Smith, Malcolm A. Fauna of British India...Vol III - Serpentes, pages 411 to 413
  4. ^ Daniel, J.C. 1992. The Book of Indian Reptiles. Bombay Nat. Hist. Soc. and Oxford Univ. Press. Bombay. pp. 109-110. ISBN 0-19-562168-9
  5. ^ a b c Stuebing, R.B. & R.F. Inger. 1999. A Field Guide to The Snakes of Borneo. Natural History Publications (Borneo). Kota Kinabalu. p. 189-191. ISBN 983-812-031-6
  6. ^ Boulenger, George A., (1890), The Fauna of British India including Ceylon and Burma, Reptilia and Batrachia. page 388.
  7. ^ a b c Tweedie, M.W.F. 1983. The Snakes of Malaya. The Singapore National Printers. Singapore. p.38.
  8. ^ Bungarus fasciatus di Reptarium.cz Reptile Database. Diakses Januari 2020.
  9. ^ David, P and G. Vogel. 1996. The Snakes of Sumatra. An annotated checklist and key with natural history. Edition Chimaira. Frankfurt. p.143-144. ISBN 3-930612-08-9
  10. ^ a b c Ular Asli Indonesia: Ular Welang (Bungarus fasciatus)
  11. ^ "LD50". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-02-01. 
  12. ^ "LD50 menu". 
  13. ^ Davidson, Terence. "IMMEDIATE FIRST AID for bites by Kraits". Snakebites First Aid. University of California, San Diego. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 April 2012. Diakses tanggal 25 December 2011. 

  • Boulenger, George A., (1890), The Fauna of British India including Ceylon and Burma, Reptilia and Batrachia. Taylor and Francis, London.
  • Daniels, J.C. (2002), Book of Indian Reptiles and Amphibians. BNHS. Oxford University Press. Mumbai.
  • Knierim, Tyler., Barnes, Curt H., Hodges, Cameron., (2017), Natural History Note: Banded Krait (Bungarus fasciatus) diet. Herpetological Review 48(1):204 · March 2017
  • Smith, Malcolm A. (1943), The Fauna of British India, Ceylon and Burma including the whole of the Indo-Chinese Sub-region, Reptilia and Amphibia. Vol I - Loricata and Testudines, Vol II-Sauria, Vol III-Serpentes. Taylor and Francis, London.
  • Whitaker, Romulus. (2002), Common Indian Snakes: A Field Guide. Macmillan India Limited, ISBN 0-333-90198-3.