Lompat ke isi

Wali Sanga (seri televisi)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Wali Sanga
Genre
Dibuat olehGenta Buana Pitaloka
Ditulis olehImam Tantowi
SkenarioImam Tantowi
Pemeran
Pengisi suaraSanggar Prathivi
Pencipta lagu temaDwiki Dharmawan
Lagu tema pembuka
  • Instrument Sholawat Badar
  • Instrument Madinatul 'Ilmi
Lagu tema penutupInstrument Ya Thoybah
Penata musikDwiki Dharmawan
Negara asalIndonesia
Bahasa asliBahasa Indonesia
Jml musim1
Jml episode52
Produksi
ProduserBudhi Sutrisno
Pengaturan kamera
  • Bambang Trimakno
  • Kholid Latief
Durasi60 menit
Rumah produksiGenta Buana Pitaloka
DistributorMNC Media
Rilis asli
JaringanRCTI
Rilis25 Oktober 2003 (2003-10-25) 
22 Februari 2004 (2004-2-22)

Wali Sanga adalah serial televisi kolosal Indonesia produksi Genta Buana Pitaloka yang ditayangkan perdana 25 Oktober 2003 di RCTI. Serial ini dibintangi oleh Choky Adriano, Errina GD dan Irman Heryana.[1]

Menjelang Ramadan 1424 H, RCTI menghadirkan sinetron kolosal-religius, Wali Sanga (Produksi PT Gentabuana Paramita). Berkisah tentang sembilan orang wali (Dewan Wali) yang hidup pada zaman Majapahit. Mereka adalah Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kalijaga. Sembilan Dewan Wali (Juru Dakwah) ini mengembangkan serta mengajarkan Agama Islam. Bahkan mendukung terbentuknya Kerajaan Islam Demak menjelang kehancuran Majapahit. "Kisah Wali Sanga ini bertutur tentang awal berdirinya Kerajaan Islam Demak dan Mataram,” ujar Imam Tantowi, penulis skenario Wali Sanga.

Sinetron Wali Sanga yang digarap dua sutradara, Ismail Soebardjo dan M.T. Risyaf ini didukung sederet artis yang selama ini memang aktif di peran-peran laga. Seperti Choky Adriano (berperan sebagai Arya Gading), Jill Carissa (Siti Jamilah), Aris K. Yulianto (Bondan Kayuwangi), Errina GD (Sekar Langit), Irman F. Heryana (Gan Khe Liong), Roy Jordy (Dyah Rana Wijaya), Hans Gunawan (Sunan Ampel), Chairil J.M (Sunan Kalijaga), Al-Indra (Sunan Kudus), Rizal Muhaimin (Sunan Gunung Jati), dan Husein Kalia (Sunan Giri). Dikisahkan tentang kehancuran Majapahit yang menjadi pembicaraan sidang para wali yang dihadiri 9 wali. Menurut Sunan Ampel, kemungkinan kebijakan penguasa Majapahit yang sekarang akan sangat berbeda. Sebab sebagai raja Gunung, Betara i Keling (yang berhasil menggulingkan trah Majapahit), masih kurang bersahabat dengan Islam. Sunan Kali Jaga mengusulkan untuk membantu sisa-sisa laskar Majapahit yang masih mengadakan perlawanan kepada kekuatan Batara i Keling. Tapi Sunan Giri menolak dan lebih baik menyusun kekuatan di Glagahwangi untuk secepatnya mendirikan sebuah negara. Sementara Raden Patah (Senopati Jin Bun) mengusulkan untuk lebih dulu mendirikan masjid sebagai tempat berkumpul, tempat pengembangan Islam. Maka mulailah para wali mendirikan Masjid Demak yang terkenal sebagai Mesjid Wali yang terletak di pesisir Jawa.

Selain bertutur tentang nilai-nilai religius, sinetron Wali Sanga juga berkisah tentang persoalan cinta. Salah seorang murid Megatruh bernama Arya Gading, memiliki kekuatan dan ilmu beladiri tinggi, sehingga disenangi para pemimpin juga putera-puteri bangsawan pesisir. Tapi yang diincar Arya adalah keluarga dekat Sultan yang bernama Siti Jamilah.

“Di sini kami tidak menampilkan kesaktian wali-wali. Yang ditampilkan hanya teman atau murid wali yang memiliki kesaktian tinggi,” imbuh Imam Tantowi yang mengaku skenario yang dibuatnya berdasarkan legenda dan juga buku-buku kuno.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Sinopsis Wali Sanga". SuaraMerdeka.com.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]