Sunjaya Purwadi Sastra

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Sunjaya Purwadi Sastra
Kang Sunjaya.jpg
Bupati Cirebon
(Nonaktif)
Masa jabatan
19 Maret 2014 – 25 Oktober 2018
Pendahulu Drs. H. Dedi Supardi, M.M.
Pengganti Drs. H. Rahmat Sutrisno, M.Si.
(Pelaksana Harian)
Informasi pribadi
Lahir 1 Juni 1965 (umur 53)
Bendera Indonesia Beberan, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat
Partai politik PDIPLogo.png Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (Dipecat)
Pasangan Hj. Wahyu Tjiptaningsih, S.E., M.Si.
Anak Satria Robi Saputra
Sela Syahvira Amalia
Resyah Prima Hanjaya
Ramadani Syahputra
Alma mater Universitas Indonesia
Institut Pemerintahan Dalam Negeri
Pekerjaan Politikus Militer
Dinas militer
Pihak  Indonesia
Dinas/cabang Lambang TNI AD.png TNI Angkatan Darat
Masa dinas 1998 - 2008
Pangkat Pdu lettutni staf.png Letnan Satu
Satuan Korps Ajudan Jenderal (CAJ)

Letnan Satu Caj (Purn.) Dr. Drs. H. Sunjaya Purwadi Sastra, M.M., M.Si. (lahir di Beberan, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, 1 Juni 1965; umur 53 tahun) adalah Bupati Cirebon periode 2014 - 2019. Bersama wakilnya H. Tasiya Soemadi atau yang akrab biasa "Gotas", mereka berhasil memenangkan Pemilihan umum Bupati Cirebon 2013 yang berlangsung dua putaran. Dia juga adalah seorang purnawirawan TNI-AD. Ayahnya Bernama H. Sobana bin Tarkasih (alm) Asli keturunan Trusmi, Plered, Cirebon. ia Seorang Kepala Desa Desa Beberan yang dikenal dan disegani dari unsur TNI AU. Ibunya Bernama Hj. Sumaeni binti Kaban Purwadi Sastra putra seorang Kepala Sekolah yang juga Kepala Desa Slendra, Gegesik, Cirebon.

Pada Pemilihan umum Bupati Cirebon 2013 Sunjaya maju sebagai calon Bupati Cirebon periode 2013 - 2018, ia didampingi oleh H. Tasiya Soemadi Al Gotas Ketua DPRD Kabupaten Cirebon yang juga Ketua DPC PDIP Kabupaten Cirebon. mereka diusung oleh satu partai yaitu PDIP dengan jargon "JAGO-JADI". Pada pemilu bupati sebelumnya tahun 2008, ia juga maju menjadi calon Bupati Cirebon dari jalur Independen, namun gagal.[1]. dan akhirnya pada Pemilu tahun ini, dia terpilih menjadi Bupati Cirebon.

Pada tanggal 19 Maret 2014 setelah penantian sekian lama akhirnya pasangan Sunjaya-Gotas resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung DPRD Kabupaten Cirebon, Pelantikan dan pengucapan sumpah jabatan digelar dalam rapat paripurna istimewa DPRD Kabupaten Cirebon..[2].

Pada tanggal 25 Oktober 2018 Sunjaya terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK atas dugaan korupsi suap jual beli jabatan dan penerimaan gratifikasi terkait proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cirebon dan ditetapkan sebagai tersangka bersamaan dengan Gatot Rachmanto Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Cirebon yang diduga sebagai pemberi suap atas jual beli jabatan[3] dan pada 26 Oktober 2018 Mendagri melalui Pemerintah Provinsi Jawa Barat melantik Rahmat Sutrisno Sekretaris Daerah Kabupaten Cirebon sebagai Pelaksana Harian (Plh.) Bupati Cirebon.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Sunjaya adalah anak ke tujuh dari sembilan bersaudara. Akibat konflik politik di era 1965, Hj. Sumaeni sebagai istri Kepala Desa sangat disibukan dengan kegiatan-kegiatan organisasi untuk mendukung kegiatan suaminya Pak Kuwu Sobana. Maka pada usia dua bulan Sunjaya dititipkan kepada Mbok Jenah (pembantu) dan disusui oleh anak Mbok Jenah bernama Bi Tuminah. Sunjaya semenjak berusia dua bulan sudah tidak tinggal bersama kedua orangtuanya melainkan dengan pembantunya Mbok Jenah yang kebetulan punya anak laki-laki seusia Sunjaya sehingga semenjak itu Sunjaya tidak lagi menyusu Pada Ibu Kandungnya melainkan pada Ibu dari anak Pembantunya. Sunjaya semenjak kecil dibesarkan di keluarga Mbok Jenah (pembantu) dan bahkan tidak mengenal saudara-saudaranya, karena merasa dirinya seorang anak pembantu. Pada usia enam atau tujuh tahun Sunjaya mulai ingat tentang perjalanan hidupnya di mana hampir setiap hari digendong Mbok Jenah yang datang kerumah Kuwu Sobana (majikannya) dan sore harinya pulang kerumah Mbok Jenah.

Pada usia Sembilan Tahun Sunjaya sudah mandiri dengan jualan ES Lilin yang mengambilnya dari Pabrik Gula Gempol, dengan berjalan kaki kurang lebih 3 (tiga) kilo meter dengan teman-temannya yang sama-sama seprofesi berjualan ES Lilin. Sunjaya Kecil berjualan ES Lilin di Sekolah dan kampungnya berkeliling untuk mencari keuntungan dan hasilnya diserahkan Pada Mbok Jenah. Tentu hal ini dilakukannya hampir setiap hari dan bahkan ada beberapa orang mengatakan "Kok Anak Pak Kuwu Jualan ES Lilin". Hal inipun menjadi pertanyaan Sunjaya, kenapa saya dibilang anaknya Pak Kuwu. Padahal sehari-hari saya selalu hidup dengan Mbok Jenah. Sunjaya mulai sadar dan percaya setelah lulus Sekolah Dasar, yang mana di ijazah tercantum nama orangtuanya adalah Pak Kuwu Sobana.

Pada tahun 1996 Sunjaya menikah dengan gadis Surabaya pilihannya bernama Hj. Wahyu Tjiptaningsih, S.E., M.Si. (Ayu) Putri Tunggal dari pasangan H. Sukanto dan Hj. Mudjiasri. H. Sukanto adalah Purnawirawan ABRI yang sukses dengan usaha istrinya sebagai pengusaha beras antar pulau dan grosir sembako yang kemudian dilanjutkan oleh putrinya Hj. Ayu dengan mengembangkan usaha importir beras yang didatangkan dari Thailand, Jepang, China dan bahkan dari Amerika Serikat.

Kisah pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sunjaya sekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Beberan dan melanjutkan SMPN tersebut, Sunjaya langsung melanjutkan ke jenjang berikutnya Madrasah aliyah Negeri Babakan Ciwaringin sambil mesantren di PON PES Miftahul Muta'alimin Babakan Ciwaringin. Keadaan ini menjadi ujian kemandirian Sunjaya remaja, karena berpisah lagi dengan Bapak, Ibu dan Saudara-saudaranya selama mencari ilmu di pesantren. Hal ini membuat Sunjaya kurang begitu dekat hubungannya dengan keluarganya. Selepas lulus dari MAN Babakan Ciwaringin, Sunjaya melanjutkan kuliah Pada program Diploma III di Universitas Indonesia (UI). Pada masa-masa kuliahpun ujian dan perjuangan yang sangat berat masi selalu mengikuti arahnya, di mana orangtua dan saudara-saudaranya tidak ada yang menyetujui Sunjaya melanjutkan kejenjangkuliah, sehingga Sunjaya harus berjuang sendiri dalam menggapai cita-citanya tanpa dorongan dan bantuan keluarga.

Pertama kali berangkat kuliah Sunjaya hanya bermodalkan niat yang besar dan tulus serta materi yang hanya sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) dari hasil penjualan perhiasan kalung dan cincin yang dimiliki ibunya Hj. Sumaeni, yang merasa iba Pada kebesaran jiwanya Sunjaya. Alhamdulillah berawal dari itu semua Sunjaya mampu menyelesaikan kuliahnya selama 3 (tiga) tahun, walaupun tidak satupun keluarga yang hanya sekadar menengok ataupun menanyakan darimana makan dan darimana biaya kuliahnya selama ini. Sampai-sampai pada saat ayahnya (Bapak Kuwu Sobana) meninggal duniapun tidak ada yang memberi tahu. Itu terjadi pada tahun 1985 dan saat itu Sunjaya baru menginjak tingkat II. Pada tahun berikutnya Sunjaya di wisuda sebagai tanda lulus kuliah Diplomanya (D3) Pada Universitas Indonesia (UI) dan memberikan kabar gembira ini Pada Orang tua Hj. Sumaeni dan saudara-saudaranya dengan harapan agar bisa menghadiri hari bersejarah anak desa meraih gelar Diploma. Namun kenyataannya tidak ada seorangpun dari keluarganya yang datang menghadiri acara wisuda tersebut dan yang paling menyedihkan Sunjaya saat itu kehabisan dan ketidak adaan dana walau hanya untuk sekadar menebus foto-foto dokumentasi wisudanya.

Setelah itu Sunjaya menyelesaikan S2 bidang manajemen dan S2 bidang Sosial Politik di Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Pada tanggal 10 April 2017, Sunjaya berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor ilmu pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Sunjaya Purwadisastra dinyatakan lulus dengan predikat cum laude dengan disertasi berjudul "Pengaruh Reformasi Birokrasi Tatalaksana, Profesionalisme dan Strategi terhadap Inovasi Daerah Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat.". Berdasarkan hasil pernyataan atas nama Tim Promotor memandang layak disertasi promovendus sesuai dengan nilai ilmiah dan akademik, untuk dihadapkan pada sidang promosi doktor[4].

Riwayat Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • SD Negeri Beberan (1976)
  • SMP Negeri Palimanan (1980)
  • MAN Babakan Ciwaringin (1983)
  • S-1 STIA YAPPAN Jakarta (1995)
  • S-2 Magister Manajemen STIE Jakarta (2000)
  • S-2 Magister Sains UI Jakarta Lulus (2001)
  • S-3 Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN (2017)

Terpilih bupati[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 12 Oktober 2013 KPUD Kabupaten Cirebon melakukan rekapitulasi suara putaran pertama di Asrama Haji Watubelah Cirebon. Dari hasil rekapitulasi pemilihan Bupati Cirebon akan dilaksanakan dua putaran karena tidak ada satu pasangan calon yang meraih angka 30%[5]. Pasangan yang akan bersaing pada putaran kedua adalah pasangan Sunjaya - Gotas/Soemadi (Jago-Jadi) yang mendapatkan perolehan suara 27,89% pada putaran pertama, dan pasangan Heviyana bareng Rakhmat (Hebat) yang mendapatkan perolehan suara 20,24% pada putaran pertama[6].

Pada tanggal 4 Januari 2014 akhirnya dilakukan rekapitulasi suara Pemilihan Bupati putaran kedua, hasilnya pasangan Sunjaya–Gotas memenangi pemilihan Bupati dan menjadi Bupati dan Wakil Bupati terpilih untuk periode 2013 - 2018 dengan perolehan suara 403.933 (53,43 %) mengalahkan pasangan Heviyana-Rakhmat yang mendapatkan perolehan suara 352.056 (46,57 %).[7].

Pada tanggal 19 Maret 2014 setelah sekian lama akhirnya pasangan Sunjaya-Gotas resmi dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung DPRD Kabupaten Cirebon, Pelantikan dan pengucapan sumpah jabatan digelar dalam rapat paripurna istimewa DPRD Kabupaten Cirebon..[8].

Sunjaya mengikuti Pilkada Kabupaten Cirebon 2018 untuk menjadi Bupati Cirebon untuk periode 2019 - 2024 untuk periode yang kedua berpasangan dengan Imron Rosyadi Kepala kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon. Pasangan Sunjaya-Imron mendapatkan nomor urut dua. Pasangan Sunjaya-Imron berhadapan dengan 3 Pasangan lain. Pada 10 Agustus 2018, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Cirebon menetapkan pasangan Sunjaya-Imron sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih dengan perolehan 319.630 suara. Penetapan dilakukan pasca MK menolak gugatan sengketa pilkada[9].

Kasus Korupsi[sunting | sunting sumber]

Pada hari Rabu tanggal 24 Oktober 2018, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan kepada Bupati Cirebon Sunjaya, Sunjaya ditangkap di Pendopo Kabupaten Cirebon di Jalan Siliwangi Cirebon. Sunjaya langsung ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK setelah diperiksa oleh KPK. Sunjaya diduga menerima uang suap dari Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Cirebon Gatot Rachmanto yang juga ditetapkan sebagai tersangka. Sebelum mendatangi kediaman Sunjaya, tim KPK sebelumnya mendatangi kediaman ajudan Bupati dan menemukan uang Rp 116 juta dalam pecahan uang Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu serta bukti setoran senilai total Rp 6,425 miliar. Setelah itu tim OTT KPK mendatangi kediaman Gatot Rachmanto dan mengamankannya. Secara bersamaan, tim KPK lain bergerak ke kantor pendopo dan mengamankan Sunjaya. Selain mengamankan Sunjaya dan Gatot, tim OTT KPK juga mengamankan 6 orang lain terkait dugaan suap ini.

Dalam rangkaian operasi tangkap tangan itu, KPK mengamankan bukti uang dengan total sebesar Rp 385.965.000. Adapun rincian bukti itu Rp 116 juta dari ajudan bupati dan Rp 296,965 juta dari sekretaris Sunjaya. KPK juga menemukan bukti transaksi perbankan berupa bukti setoran dan transfer senilai Rp 6,425 miliar. KPK menduga Sunjaya juga menerima pemberian dari pejabat lain di Pemkab Cirebon sebesar Rp 125 juta melalui ajudan dan sekretaris pribadi bupati. Modus yang diduga digunakan adalah pemberian setoran pada bupati selaku pejabat yang dilantik. Nilai suap terkait mutasi diduga telah diatur mulai dari jabatan lurah, camat, hingga posisi lain di Pemkab Cirebon. Bupati Cirebon itu juga diduga menerima fee lain dengan nilai total Rp 6,4 miliar, uang tersebut tersimpan dalam rekening atas nama orang lain yang digunakannya sebagai rekening penampungan.[10].

Sunjaya langsung di nonaktifkan dari jabatannya sebagai Bupati Cirebon dan pada 26 Oktober 2018 Mendagri melalui Pemerintah Provinsi Jawa Barat melantik Rahmat Sutrisno Sekretaris Daerah Kabupaten Cirebon sebagai Pelaksana Harian (Plh.) Bupati Cirebon[11]. Padahal Sunjaya sudah terpilih untuk periode kedua dalam Pilkada Kabupaten Cirebon 2018 berpasangan dengan Imron Rosyadi dan belum sempat dilantik.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Drs. H. Dedi Supardi, M.M.
Bupati Cirebon
19 Maret 2014 – sekarang
Diteruskan oleh:
Nonaktif