Sunan Gunung Jati

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Sunan Gunung Djati)
Lompat ke: navigasi, cari
Syarif Hidayatullah
Masa kekuasaan (1479 - 1568)
Lahir 1448
Wafat 19 September 1569
Tempat wafat Flag of Cirebon Sultanate.jpg Keraton Pakungwati, Kesultanan Cirebon
Pemakaman Komplek makam Gunung Sembung, Gunung Jati, Cirebon.
Pendahulu Pangeran Cakrabuana
Pengganti Panembahan Ratu
Pasangan dari Nyai Ratu Dewi Pakungwati
Nyai Ratu Kawunganten
Nyai Babadan
Nyai Ageng Tepasari
Nyai Lara Baghdad
Ong Tien Nio
Anak
  • Sabakingking
  • Pasarean
  • Ratu Ayu
  • Winahon
  • Trusmi
  • Bratakelana
  • Jayalelana
Ayah Syarif Abdullah Umdatuddin
Ibu Rara Santang
Agama Sunni Islam

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah (Arabic: شريف هداية الله‎‎ Sharīf Hidāyah Allāh[1]) adalah salah seorang dari Walisongo, ia dilahirkan Tahun 1448 Masehi dari pasangan Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam (seorang Raja Champa yang berkuasa dari tahun 1471 - 1478[2][3]) dan Nyai Rara Santang, Putri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran (yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Syarifah Mudaim).[4]

Syarif Hidayatullah sampai di Cirebon pada tahun 1470 Masehi, yang kemudian dengan dukungan Kesultanan Demak dan Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana (Raja Cirebon pertama sekaligus uwak Syarif Hidayatullah dari pihak ibu), ia dinobatkan menjadi Raja Cirebon ke-2 pada tahun 1479 dengan gelar Maulana Jati.[5]

Nama Syarif Hidayatullah kemudian diabadikan menjadi nama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta di daerah Tangerang Selatan, Banten.[6] Sedangkan nama Gunung Jati diabadikan menjadi nama Universitas Islam negeri di Bandung, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati.[7]

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Syarif Hidayatullah adalah putera dari Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam yang menikah dengan puteri dari Sri Baduga Maharaja, Rara Santang. Ayahnya adalah seorang Raja Champa 1471 - 1478, putera dari Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Akbar al-Husaini, seorang keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan.

Sebagaimana yang tercatat dalam silsilah Syarif Hidayatullah di sebuah organisasi peneliti nasab Naqobatul Asyrof al-Kubro dan Rabithah Alawiyah, yang juga tercantum dalam kitab Syamsu Azh Zhahirah fi Nasabi Ahli al-Bait karya ulama Yaman, Sayyid Abdurrohman bin Muhammad al-Masyhur, silsilah lengkap Syarif Hidayatullah adalah sebagai berikut[4][8]:

  1. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati putera dari
  2. Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan bin
  3. Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan bin
  4. Sayyid Jamaluddin Akbar Azmatkhan al-Husaini (Syekh Jumadil Kubro) bin
  5. Sayyid Ahmad Jalal Syah Azmatkhan bin
  6. Sayyid Abdullah Azmatkhan bin
  7. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
  8. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadramaut) bin
  9. Sayyid Muhammad Shahib Mirbath (Hadramaut) bin
  10. Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
  11. Sayyid Alawi ats-Tsani bin
  12. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
  13. Sayyid Alawi Awwal bin
  14. Sayyid al-Imam ‘Ubaidillah bin
  15. Sayyid Ahmad al-Muhajir bin
  16. Sayyid ‘Isa Naqib ar-Rumi bin
  17. Sayyid Muhammad an-Naqib bin
  18. Sayyid al-Imam Ali Uradhi bin
  19. Sayyidina Ja'far ash-Shadiq bin
  20. Sayyidina Muhammad al-Baqir bin
  21. Sayyidina Ali Zainal Abidin bin
  22. Sayyidina Husain bin
  23. Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti
  24. Sayyidina Muhammad S.A.W.

Riwayat hidup[sunting | sunting sumber]

Proses belajar[sunting | sunting sumber]

Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya, Jamaluddin Akbar al-Husaini, sehingga ketika telah selesai menimba ilmu di pesantren Syekh Datuk Kahfi ia meneruskan pembelajaran agamanya ke Timur Tengah.

Babad Cirebon menyebutkan, ketika Pangeran Cakrabuwana membangun Kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun kota dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah Uwaknya wafat.

Pernikahan[sunting | sunting sumber]

Memasuki usia dewasa (sekitar tahun 1470 - 1480) ia menikahi adik dari Bupati Banten saat itu, Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini lahirlah Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin. Maulana Hasanuddin inilah yang kelak menjadi Raja Banten pertama.

Kesultanan Demak[sunting | sunting sumber]

Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487, yang mana Walisongo memberikan peranan penting dalam sejarah pendiriannya. Pada masa ini, Syarif Hidayatullah berusia sekitar 37 tahun (kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak pertama).

Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa (bukan hanya di Demak), maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian atau Vasal dari Kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.

Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling dituakan di Dewan Muballigh (Walisongo), bahwa agama Islam akan disebarkan di Pulau Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya.

Jatuhnya Sunda Kelapa[sunting | sunting sumber]

Setelah pendirian Kesultanan Demak, antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit baik bagi Syarif Hidayatullah maupun Raden Patah, karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari Kerajaan Sunda, Galuh (sekarang bagian dari Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) serta gangguan eksternal dari Portugis yang telah mulai melakukan ekspansi di wilayah Asia Tenggara.

Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayatullah yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayatullah berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten-Demak-Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara.

Kegagalan Ekspedisi Jihad II Pati Unus yang sangat fatal pada tahun 1521 kemudian memaksa Syarif Hidayatullah merombak pimpinan armada gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai sebagai Panglima berikutnya yang menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa, menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka. Di samping itu, sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi Kerajaan Pakuan Pajajaran yang sangat lemah di laut dan telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur. Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya, karena Kerajaan Pakuan Pajajaran sudah tidak memiliki pelabuhan di Pulau Jawa lagi setelah sebelumnya Banten dan Cirebon dikuasai oleh Islam dan menjadi kerajaan-kerajaan Islam. Namun, pada bulan Juni 1527, kedatangan Portugis disambut dengan hantaman dan serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang menyebabkan jatuhnya Sunda Kelapa secara resmi kepada Kesultanan Banten-Cirebon dan diubah nama menjadi Jayakarta, sedangkan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.

Perebutan pengaruh antara Kerajaan Sunda Galuh dengan Kesultanan Banten-Cirebon segera bergeser kembali ke darat. Tetapi Kerajaan Sunda Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran dan Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya.

Perundingan Yang Sangat Menentukan[sunting | sunting sumber]

Setelah Pakuan Pajajaran yang merupakan ibukota Kerajaan Sunda Galuh jatuh kepada Syarif Hidayatullah pada tahun 1568 (hanya satu tahun sebelum ia wafat pada tahun 1569 dalam usia yang hampir 120 tahun), kemudian terjadi perundingan terakhir antara Syarif Hidayatullah dengan para pegawai istana, Syarif Hidayatullah kemudian memberikan 2 opsi:

  1. Bagi para pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya, seperti gelar Pangeran-Putri atau Panglima akan tetap disandangnya, dan kemudian mereka dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing.
  2. Bagi para pembesar Istana Pakuan yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan Pajajaran untuk diberikan tempat di pedalaman Banten (wilayah Cibeo sekarang).

Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi pertama. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi kedua. Diyakini mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman yang hanya sebanyak 40 keluarga (karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan). Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar.

Dengan segala jasa Syarif Hidayatullah inilah yang kemudian umat Islam di Jawa Barat memanggilnya dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.[9]

Wafat[sunting | sunting sumber]

Makam Sunan Gunung Jati

Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati berpulang ke rahmatullah pada tanggal 26 Rayagung tahun 891 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1568 Masehi. Tanggal Jawanya adalah 11 Krisnapaksa bulan Badramasa tahun 1491 Saka. Meninggal dalam usia 120 tahun, sehingga putra dan cucunya tidak sempat memimpin Cirebon karena meninggal terlebih dahulu, melainkan cicitnya yang memimpin Kesultanan Cirebon setelah wafatnya Syarif Hidayatullah. Syekh Syarif Hidayatullah kemudian dikenal dengan Sunan Gunung Jati karena dimakamkan di Bukit Gunung Jati.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara. p. 72. ISBN 9798451163. ISBN 978-979-8451-16-4
  2. ^ "KELANT2". www.royalark.net. Diakses tanggal 2017-04-29. 
  3. ^ "4.1.1. Sunan Gunung Jati / Syarif Hidayatullah (Muhammad Nuruddin/Sri Mangana) b. 1448 d. 1568 - Rodovid ID". id.rodovid.org (dalam Indonesian). Diakses tanggal 2017-03-24. 
  4. ^ a b "Syamsu Azh Zhahirah fi Nasabi Ahli al-Bait oleh Sayyid Abdurrohman bin Muhammad al-Masyhur" (PDF). https://archive.org/. 2016-05-23. Diakses tanggal 2017-04-21. 
  5. ^ Wink. "Biografi Sunan Gunung Jati". BiografiKu.com | Biografi dan Profil Tokoh Terkenal Di Dunia. Diakses tanggal 2017-03-24. 
  6. ^ Jakarta, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. "Sejarah | UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Official Website". www.uinjkt.ac.id (dalam id-ID). Diakses tanggal 2017-03-24. 
  7. ^ Sulthonie, Ahmad Agus. "WELCOME TO UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG - PROFIL SEJARAH UIN". www.uinsgd.ac.id. Diakses tanggal 2017-04-29. 
  8. ^ "Silsilah Sunan Gunung Jati Cirebon / Syarif Hidayatullah dan Keturunannya di Cirebon & Banten | Ranji Sarkub". Ranji Sarkub (dalam id-ID). 2015-06-18. Diakses tanggal 2017-04-29. 
  9. ^ "Kisah Sunan Gunung Jati dan Misteri Hilangnya Istana Pakuan". SINDOnews.com (dalam id-ID). 2015-02-21. Diakses tanggal 2017-03-24. 
  10. ^ "Foto : Menengok makam Sunan Gunung Jati di Cirebon| merdeka.com". merdeka.com. Diakses tanggal 2017-03-24. 

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

Rujukan Kitab[sunting | sunting sumber]