Lompat ke isi

Rara Santang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Nyai Mas Rara Santang
GelarSyarifah Mudaim
Nasabbin Sri Baduga Maharaja
LahirRara Santang
1426
Galuh, Kerajaan Sunda
MeninggalKesultanan Cirebon
Dimakamkan diAstana Gunung Sembung
KebangsaanKerajaan Sunda
Kesultanan Cirebon
DenominasiSunni
Murid dariDatuk Kahfi, Qurotul Ain, Dan Guru-guru lainnya
IstriSyarif Abdullah Umdatuddin
Keturunan
Orang tuaSri Baduga Maharaja (ayah) Nyi Mas Subang larang (ibu)

Hajjah Syarifah Mudaim atau Rara Santang (Dewi Rara Santang, Nyi Mas Rara Santang) adalah anak ke-2 dari Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda dengan istrinya Nyai Subang Larang. Rara Santang merupakan Ibu dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang dikenal dalam sejarah Cirebon sebagai Raja Cirebon pertama sekaligus salah satu anggota Walisongo yang mendakwahkan Islam di Cirebon dan Jawa Barat.[1]

Masa Kecil

[sunting | sunting sumber]

Nyi Mas Rara Santang yang lahir pada tahun 1426 masehi, merupakan putri dari Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang. ia memiliki 2 orang anak saudara laki-laki, kakaknya bernama Raden Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana) dan adiknya bernama Raja Sengara (Raden Kian Santang).[2]

Sejak kecil beliau sudah memeluk Agama Islam mengikuti agama ibundanya, meskipun pada waktu itu ayah dan saudara-saudara tirinya memeluk Agama Hindu-Buddha. Masa anak-anak Nyi Mas Rara Santang dihabiskan di Istana Galuh Kawali, akan tetapi setelah ayahnya diangkat menjadi Raja seluruh tanah Sunda, beliau kemudian hijrah ke Istana baru Kerajaan Pajajaran di Pakuan.

Setelah ditinggal ibunya, Rara Santang beserta saudaranya mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari ibu-ibu suri lainnya. Hal ini dugaan karena keturunan laki-laki dari Nyai Subang Larang yang akan diangkat sebagai putra mahkota dan menjadi pewaris Kerajaan Sunda. Sebab itulah yang diduga membuat Walangsungsang gundah dan tidak tahan sehingga berkeinginan untuk pergi dari istana dan memelajari ilmu agama Islam lebih dalam. Pada 1442 M, ia nekat perdi dari istana secara sembunyi-sembunyi dan masuk ke hutan belantara. Selang beberapa waktu, Rara Santang pun menyusul kakaknya, pergi dari istana[2]

Dalam Sedjarah Cirebon karya Mahmud Rais disebutkan, bahwa keluarnya Rara Santang dari keraton disebabkan ia mendapat petunjuk dari Nabi Muhammad SAW. agar menyusul kakaknya melalui mimpi. Sedangkan menurut Serat Carub Kandha yang ditulis tahun 1260 H/1844 M, Raras Santang keluar dari istana dikarenakan ia sangat bersedih setelah ditinggal minggat oleh sang kakak, Walangsungsang. Setiap hari Rarasantang meratap hingga tidak tahan dan pergi dari istana Kerajaan Sunda.[2]

Ketika dalam perjalanannya, setibanya di Gunung Tangkuban Parahu, ia bertemu dengan Nyi Andjar Saketi. Dari pertemuannya itu, ia diberi pakaian sakti sehingga ketika pakaian itu ia kenakan, ia dapat berjalan dengan cepat. Nyi Andjar Saketi menyuruh Rara Santang agar segera berangkat lagi ke gunung Merapi untuk menemui Walangsungsang yang ketika itu telah menikah dengan Nyi Êndang Ayu (Nyi Êndang Geulis), putri pertapa hyang Danuwarsi (Ki Ageng Danuwarsih).[2]

Pergi Berhaji dan Menikah

[sunting | sunting sumber]

Semenjak keluar Istana bersama kakaknya, Rara Santang berguru agama Islam pada Syekh Nurjati (Datuk Kahfi), seorang ulama yang memiliki pesantren di Giri Amparan Jati (Gunung Jati).[1] Setelah berguru kepada Syekh Nurjati selama tiga tahun dan dianggap telah memiliki fondasi agama Islam, Walangsungsang dan Rarasantang diperintahkan untuk menyempurnakan ilmu agamanya dengan cara pergi haji ke baitullah, Makkah. Walangsungsang dan Rarasantang tiba di Makkah pada malam Jum’at, 25 Rajab.[2]

Kedua kakak beradik ini selama berada di tanah suci Mekah, bermukim beberapa bulan di rumah Syekh Bayanullah sambil menambah ilmu agama Islam. Pada waktu itulah, Ratu Rarasantang dipinang, kemudian dinikahkan dengan seorang bemama Syarif Abdullah bin Nurul Alim dari suku Bani Hasyim.[3] Prosesi lamaran pun dilaksanakan di rumah Syekh Bayanullah, dengan perundingan yang disepakati oleh kedua belah pihak. Pernikahan keduanya dilangsungkan di Kerajaan Bani Israil, disaksikan oleh Syekh Bayanullah, Walangsungsang, para ulama, serta para pembesar kerajaan.[2] Untuk lebih mudah diterima oleh lingkungannya, Syarif Abdullah mengganti nama Rara Santang dengan nama Syarifah Muda'im.[3] Dari perkawinan itu kemudian dikaruniai dua orang putra yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.[3] Dua tahun setelah pernikahannya, yaitu pada 1448 M, Rara Santang melahirkan putra pertamanya yang diberi nama Syarif Hidayatullah. Dua tahun kemudian pada 1450 M, Rara Santang melahirkan seorang putra lagi, yang diberi nama Syarif Nurullah.[3][2]

Setelah selesai menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama Islam, Walangsungsang kembali ke Cirebon, sementara Rara Santang tetap menetap bersama suaminya.

Meskipun berdiam di negeri orang, Rara Santang tidak pernah lupa pada tanah kelahirannya, ia bercita-cita mengislamkan ayahnya dan rakyat dari kerajaan ayahnya, oleh karena itulah ia mempersiapkan Syarif Hidayatullah untuk membantu Walangsungsang berdakwah di Cirebon. Setelah Syarif Hidayatullah sukses berdakwah Islam di Cirebon dan Jawa Barat, bahkan berhasil mendirikan Kesultanan Cirebon bersama Walangsungsang, Syarif Hidayatullah membawa Ibunya pulang ke Cirebon.[1]

Nama Hubungan Orang Tua
Pangeran Walangsungsang Kakak Kandung Nyai Subang Larang
Prabu Kian Santang Adik Kandung Nyai Subang Larang
Banyak Catra Kakak Tiri (1) Nyai Ambetkasih
Banyak Ngampar Kakak Tiri (2) Nyai Ambetkasih
Nyai Ratna Pamekas Adik Tiri Nyai Ambetkasih
Nama Hubungan Orang Tua
Maulana Hasanuddin Cucu Sunan Gunung Jati
Ratu Wulung Ayu Cucu Sunan Gunung Jati

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 "Rara Santang, Ibu Sunan Gunung Jati". 2020-07-05. Diakses tanggal 2026-03-20.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 Hernawan, Wawan; Kusdiana, Ading (2020). BIOGRAFI SUNAN GUNUNG DJATI: Sang Penata Agama di Tanah Sunda. Bandung: LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung. ISBN 978-623-93720-1-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 3 4 Bochari, M. Sanggupri; Kuswiah, Wiwi (2001). SEJARAH KERAJAAN TRADISIONAL CIREBON. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional. Pemeliharaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)