Ratu Wulung Ayu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ratu Wulung Ayu adalah salah satu puteri Sunan Gunung Jati dari istri Nyai Ageng Tepasari, yang lahir pada 1493 M.[1] Ia dinikahkan dengan seorang ulama dari Pasai bernama Fatahillah yang dikirim Sultan Trenggana membantu Sunan Gunung Jati berperang melawan penjajah Portugis di Sunda Kelapa, kota itu kemudian oleh Fatahillah diubah namanya menjadi Jayakarta yang sekarang dikenal sebagai Jakarta.[2] [3]

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Salah satu turunan Sunan Gunung Jati bernama Syarifah Khodijah Bangil Pasuruan (Mbah Ratu Ibu). Menurut riwayat, Syarifah Khodijah telah menikah dengan seorang Sayyid (keturunan Nabi atau Alawiyin) dari keluarga besar Ba Alawi yang telah berhijrah dari Balqeum, Karnataka, India yang bernama Sayyid Abdul Rahman Basyeiban. Silsilah lengkapnya adalah: Sayyid Abdul Rahman Tajudin bin Abu Hafs Umar @Umar Al-Aydrus (meninggal 1645 M, Balqeum) bin Abdullah bin Abdul Rahman bin Umar Al-Faqih (meninggal 1524 M Qasam) bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Basyeiban bin Muhammad Asadullah bin Hasan At-Turabi bin bin Ali bin Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Sohib Mirbath yang silsilahnya bersambung kepada Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Al-Hussain putera Sayyidatina Fatimah binti Muhammad Rasulullah dan Sayyidina Ali bin Abu Talib.

Silsilah Syarifah Khodijah bertemu dengan Sayyid Abdul Rahman pada kakeknya Muhammad Sohib Mirbath. Banyak para muballigh (pendakwah) di Indonesia dari keluarga Basyeiban bernasab kepada Sayyid Abdul Rahman dan Syarifah Khodijah. Ayah Sayyid Abdul Rahman Tajudin yaitu Abu Hafs Sayyid Umar Basyeban juga di kenali dengan Sayyid Umar al-Aydrus karena adalah mursyid Tariqah Al-Aydrus dan memimpin majelis Ratib Al-Aydrus menjadi Guru dari Syaikh Nur al-Din Ar-Raniri yang menjadi penasihat Sultan Iskandar Thani di kerajaan Aceh.

Referensi[sunting | sunting sumber]