Sumali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Sumali (Sanskerta: सुमली; Sumalī) adalah nama seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana yang dikenal sebagai kakek Rahwana, tokoh antagonis dalam kisah tersebut. Sumali memiliki kakak bernama Mali dan adik bernama Maliyawan. Ketiganya mendapat anugerah Dewa Brahma sehingga memiliki kesaktian yang luar biasa. Namun kesaktian tersebut disalahgunakan untuk menaklukkan kahyangan. Akhirnya, mereka pun dikalahkan oleh Dewa Wisnu dan terusir dari Kerajaan Alengka.

Raja Alengka[sunting | sunting sumber]

Dikisahkan pada suatu ketika Sumali dan kedua saudaranya, yaitu Mali dan Maliyawan bertapa memohon memohon anugerah agar mereka bertiga saling menyayangi sehingga rasa persaudaraan mereka tidak pernah putus. Serta mereka juga memohon agar memiliki kesaktian luar biasa sehingga tidak ada orang yang mampu menaklukkan mereka. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Brahma, sang dewa pencipta.

Akan tetapi kesaktian tersebut justru disalahgunakan untuk menyerbu kahyangan. Sumali dan kedua saudaranya menaklukkan para dewa dan daitya. Dengan kekuasaannya, Sumali meminta Wiswakarma agar membuatkan sebuah kota indah dan megah. Wiswakarma terpaksa memenuhi permohonan tersebut dan membangun sebuah kota bernama Alengka.

Sejak saat itu Sumali dan kedua saudaranya hidup dalam kemewahan di Kerajaan Alengka. Sumali sendiri memiliki sepuluh orang putra, bernama Prahasta, Akampana, Wikata, Kalikamuka, Dumraksa, Dandha, Suparswa, Sanadi dan Barkarna. Selain itu ia juga memiliki seorang putri bernama Kaikesi.

Terusir dari Alengka[sunting | sunting sumber]

Masa kejayaan Sumali akhirnya berakhir. Pada suatu hari ia berhasil dikalahkan oleh para Dewa yang dipimpin Wisnu. Setelah kehilangan kedua saudaranya, Sumali pun melarikan diri dan bersembunyi di dasar bumi. Wisnu kemudian menyerahkan Kerajaan Alengka kepada Kubera putra Wisrawa.

Sumali menyusun siasat untuk merebut kembali negerinya. Ia menikahkan putrinya, yaitu Kaikesi, dengan Wisrawa sehingga lahir seorang putra perkasa bernama Dasamuka. Setelah dewasa, Dasamuka berhasil merebut kembali takhta Alengka dari tangan Kubera, kakak tirinya. Dasamuka ini kelak terkenal dengan nama Rahwana, yang merupakan tokoh antagonis utama dalam naskah Ramayana.

Versi pewayangan[sunting | sunting sumber]

Versi pewayangan, terutama yang berkembang di Jawa mengisahkan cerita yang sedikit berbeda. Sumali versi ini disebut putra Puksara, keturunan Hiranyakasipu, pendiri Kerajaan Alengka. Sumali memiliki permaisuri bernama Danuwati dari Kerajaan Mantili, yang darinya lahir dua orang anak bernama Sukesi dan Prahasta.

Meskipun Sumali berwujud raksasa, namun Sukesi dan Prahasta berwujud manusia seperti ibu mereka. Sukesi yang gemar sastra tertarik untuk mempelajari Sastrajendra Hayuningrat, sebuah sastra keramat yang sangat langka. Pada saat itu datang seorang resi yang tidak lain adalah kakak seperguruan Sumali sendiri, bernama Wisrawa. Kedatangan Wisrawa adalah untuk melamar Sukesi sebagai istri putranya yang bernama Danapati.

Sumali menyampaikan keinginan Sukesi yang hanya bersedia menikah jika ada orang yang bisa mengajarinya Sastrajendra Hayuningrat. Wisrawa mengaku menguasai sastra tersebut namun ia tidak berani sembarangan mengajar karena sastra tersebut sangat keramat. Barangsiapa yang mendengarnya akan memperoleh pencerahan dan kebahagiaan sejati.

Sumali penasaran dan memohon agar diajari sastra tersebut. Wisrawa pun mengabulkannya. Akibat mendengar pembacaan sastra tersebut, Sumali pun berubah wujud menjadi manusia, bukan lagi raksasa. Sementara itu, Prahasta yang mengintai tanpa izin justru berubah wujud menjadi raksasa.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]