Tataka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Dalam wiracarita Ramayana, Tataka (Sanskerta: ततका ; Tatakā) alias Taraka (Sanskerta: तरका; Tarakā) adalah seorang rakshasi, puteri seorang yaksa bernama Suketu, dan merupakan ibu dari raksasa Marica. Ia dikutuk oleh Resi Agastya agar rupanya buruk. Ia tinggal di hutan Dandaka di wilayah India Selatan bersama dengan anaknya. Setelah meneror para resi, ia dibunuh oleh pangeran Rama dan Laksmana dari Ayodhya yang sedang melakukan perjalanan ke Sidhasrama bersama Resi Wiswamitra.

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Dalam Ramayana diceritakan bahwa pada mulanya, yaksa Suketu tidak memiliki keturunan, lalu ia bertapa untuk memohon anugerah Dewa Brahma. Brahma kemudian memberi anugerah bahwa Suketu tidak akan memiliki putera, melainkan seorang puteri saja, namun kekuatannya setara dengan kekuatan gajah. Puteri tersebut adalah Tataka. Tataka menikah dengan seorang raksasa, dan memiliki putera bernama Subahu dan Marica. Karena suaminya tewas akibat kutukan Resi Agastya, Tataka dan Marica hendak membunuh resi tersebut namun tidak berhasil. Sang Resi yang marah kemudian mengutuk agar mereka bermuka buruk dan hidup dengan memakan daging manusia.

Salah satu legenda mengatakan bahwa suami Tataka adalah raksasa Sunda, sedangkan versi lain mengatakan bahwa suaminya adalah Sumali.

Teror di hutan Dandaka[sunting | sunting sumber]

Tataka dan Marica hidup di hutan Dandaka dan meneror kehidupan para resi. Mereka sering memangsa daging para resi dan mengotori upacara mereka dengan darah dan daging. Karena mengutuk seseorang akan mencemari kemurnian tapa para resi, akhirnya Resi Wiswamitra memohon bantuan pangeran Rama dan Laksmana dari Ayodhya untuk mengamankan hutan Dandaka dari teror Tataka. Saat Tataka melihat kedatangan kedua pangeran tersebut, nafsu makannya bangkit untuk melahap mereka tanpa sisa. Tataka melakukan penyerangan, namun Rama dan Laksmana mampu menangkis serangan Tataka. Akhirnya pertarungan berlangsung dengan sengit. Ketika hari menjelang malam, Resi Wiswamitra menyuruh Rama agar tidak menunda waktu untuk mengakhiri riwayat Tataka karena pada malam hari kekuatan bangsa raksasa bertambah besar. Dengan senjata panah sakti sambil mengucapkan mantra, Rama memanah Tataka sampai tewas. Setelah Tataka dikalahkan, Rama dan Laksmana mengikuti Resi Wiswamitra ke Sidhasrama.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]