Lompat ke isi

Tataka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tataka
ततका
Ilustrasi pertarungan Tataka melawan Rama dan Laksmana didampingi Resi Wiswamitra, produksi Ravi Varma Press (1910-an).
Ilustrasi pertarungan Tataka melawan Rama dan Laksmana didampingi Resi Wiswamitra, produksi Ravi Varma Press (1910-an).
Tokoh Ramayana
NamaTataka
Ejaan Dewanagariततका
Ejaan IASTTatakā
Nama lainTaraka, Tadaka
Kitab referensiRamayana
Kediamanhutan Dandaka
Rasraksasa
AyahSuketu
SuamiSunda
AnakMarica, Subahu

Dalam wiracarita Ramayana, Tataka (Dewanagari: ततका; ,IASTTatakā, ततका) alias Taraka (Dewanagari: तरका; ,IASTTarakā, तरका) adalah seorang raksasi, putri seorang yaksa bernama Suketu, dan merupakan ibu dari raksasa Marica dan Subahu. Ia dikutuk oleh Resi Agastya agar rupanya buruk. Ia tinggal di hutan Dandaka di wilayah India Selatan bersama dengan anaknya. Setelah meneror para resi, ia dibunuh oleh pangeran Rama dan Laksmana dari Ayodhya yang sedang melakukan perjalanan ke Sidhasrama bersama Resi Wiswamitra.[1][1][2]

Asal usul

[sunting | sunting sumber]

Dalam Ramayana diceritakan bahwa pada mulanya, yaksa Suketu tidak memiliki keturunan, lalu ia bertapa untuk memohon anugerah Dewa Brahma. Brahma kemudian memberi anugerah bahwa Suketu tidak akan memiliki putra, melainkan seorang putri saja, tetapi kekuatannya setara dengan kekuatan gajah. Putri tersebut diberi nama Tataka.

Tataka menikah dengan seorang raksasa bernama Sunda, dan memiliki putra bernama Subahu dan Marica.[3] Karena suaminya tewas akibat kutukan Resi Agastya, Tataka dan anak-anaknya hendak membunuh resi tersebut tetapi tidak berhasil. Sang resi yang marah kemudian mengutuk agar mereka bermuka buruk dan hidup dengan memakan daging manusia.[4]

Teror di hutan Dandaka

[sunting | sunting sumber]

Tataka dan Marica hidup di hutan Dandaka dan meneror kehidupan para resi. Mereka sering memangsa daging para resi dan mengotori upacara mereka dengan darah dan daging. Karena mengutuk seseorang akan mencemari kemurnian tapa para resi, akhirnya Resi Wiswamitra memohon bantuan pangeran Rama dan Laksmana dari Ayodhya untuk mengamankan hutan Dandaka dari teror Tataka.[1]

Saat Tataka melihat kedatangan kedua pangeran tersebut, nafsu makannya bangkit untuk melahap mereka tanpa sisa. Tataka melakukan penyerangan, tetapi Rama dan Laksmana mampu menangkis serangan Tataka. Akhirnya pertarungan berlangsung dengan sengit. Ketika hari menjelang malam, Resi Wiswamitra menyuruh Rama agar tidak menunda waktu untuk mengakhiri riwayat Tataka karena pada malam hari kekuatan bangsa raksasa bertambah besar. Dengan senjata panah sakti sambil mengucapkan mantra, Rama memanah Tataka sampai tewas. Setelah Tataka dikalahkan, Rama dan Laksmana mengikuti Resi Wiswamitra ke Sidhasrama.[2]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b c Gibbs, Laura. "Mythology and Folklore UN-Textbook: Ramayana: Vishwamitra, Rama's Teacher". Mythology and Folklore UN-Textbook. Diakses tanggal 2019-12-26. 
  2. ^ a b "Rama and Lakshmana Slay the mighty tataka". The New Indian Express. Diakses tanggal 2020-09-05. 
  3. ^ Mittal, J. P. (2006). History Of Ancient India (a New Version) : From 7300 Bb To 4250 Bc (dalam bahasa Inggris). Atlantic Publishers & Dist. ISBN 978-81-269-0615-4. 
  4. ^ Mittal, J. P. (2006). History Of Ancient India (a New Version) : From 7300 Bb To 4250 Bc (dalam bahasa Inggris). Atlantic Publishers & Dist. hlm. 192. ISBN 978-81-269-0615-4. 

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]