Lompat ke isi

Kekayi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kekayi

Kekayi atau Kaikeyi (Sanskerta: कैकेयी; Kaikeyī) adalah permaisuri Raja Dasarata dalam wiracarita Ramayana. Ia merupakan wanita ketiga yang dinikahi Dasarata setelah dua permaisurinya yang lain tidak mampu memiliki putera. Pada saat Dasarata meminang dirinya, ayah Kekayi membuat perjanjian dengan Dasarata bahwa putera yang dilahirkan oleh Kekayi harus menjadi raja. Dasarata menyetujui perjanjian tersebut karena dua permaisurinya yang lain tidak mampu melahirkan putera. Namun setelah menikah dan hidup lama, Kekayi belum melahirkan putera. Setelah Dasarata melakukan upacara besar, akhirnya Kekayi dan premaisurinya yang lain mendapatkan keturunan. Kekayi melahirkan seorang putera bernama Bharata.

Kekayi merupakan istri dati Dasarata yang merupakan raja dari Kerajaan Ayodya. Keduanya memiliki seorang anak bernama Bharata.[1]

Janji Dasarata

[sunting | sunting sumber]

Pada suatu ketika di sebuah pertempuran, roda kereta perang Dasarata pecah. Dalam masa-masa genting tersebut, Kekayi yang berada di sana datang menyelamatkan Dasarata serta memperbaiki kereta tersebut sampai bisa dipakai lagi. Karena terharu oleh pertolongan Kekayi, Dasarata mempersilakan Kekayi untuk megajukan tiga permohonan. Namun Kekayi menolak karena ia ingin menagih janji tersebut pada saat yang tepat.

Tuntutan Kekayi

[sunting | sunting sumber]

Sebagai istri yang paling muda, Kekayi merasa cemas apabila Dasarata kurang mencintainya dibandingkan dua istrinya yang lain. Saat Rama hendak dinobatkan menjadi raja, pelayan Kekayi yang bernama Mantara datang dan menghasut Kekayi agar mengangkat Bharata menjadi raja sekaligus menyingkirkan Rama ke hutan selama 14 tahun. Dengan mengangkat Bharata menjadi raja, Mantara berharap bahwa Kekayi akan menjadi ibu suri dan statusnya berada di atas permaisuri yang lain. Kekayi menolak usul Mantara karena ia tahu bahwa Rama lebih pantas menjadi raja, dan setelah itu Bharata akan menggantikannya.

Mendengar alasan Kekayi, Mantara berkata bahwa tidak ada alasan bagi Bharata untuk menjadi raja menggantikan Rama karena jika Rama menjadi raja sampai akhir hayatnya, maka tidak ada kesempatan bagi Bharata untuk menggantikannya karena tahta diserahkan kepada keturunan Rama. Setelah Mantara menghasut Kekayi dengan berbagai alasan, Kekayi mengambil tindakan. Ia menemui Raja Dasarata dan meminta dua permohonan sesuai dengan kesempatan yang telah diberikan sebelumnya. Pertama ia memohon Bharata untuk menjadi raja, dan yang kedua ia memohon agar Rama diasingkan ke hutan. Dengan berat hati, Raja Dasarata memenuhi permohonan tersebut.[butuh rujukan] Rama diasingkan ke hutan selama 13 tahun.[1] Tidak lama kemudian ia wafat dalam keadaan sakit hati.

Kehidupan selanjutnya

[sunting | sunting sumber]

Setelah Dasarata wafat, Kekayi mulai menyesali tindakannya dan memarahi dirinya sendiri atas kematian Sang Raja. Rakyat Ayodhya pun marah dan menghujat Kekayi. Bharata juga marah dan berkata bahwa ia tidak akan menyebut Kekayi sebagai ibunya lagi. Pelayan Kekayi yang bernama Mantara hendak dibunuh oleh Satrugna karena menghasut Kekayi dengan lidahnya yang tajam, tetapi ia diampuni oleh Bharata.

Setelah Rama menghabiskan masa pengasingannya di hutan selama 14 tahun, Kekayi dan Bharata menyambutnya dan merestui Rama untuk menjadi raja.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b Haricahyono, Cheppy (1987). Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional. hlm. 69. 

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
  • Haricahyono, Cheppy (1987). Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional.