Hiranyakasipu
| हिरण्यकश्यप | |
|---|---|
Lukisan Narasinga (berkepala singa) bertempur melawan Hiranyakasipu. | |
| Tokoh dalam mitologi Hindu | |
| Nama | Hiranyakasipu |
| Ejaan Dewanagari | हिरण्यकश्यप |
| Ejaan IAST | Hiranyakaśipu |
| Nama lain | Hiranyakasyapa |
| Kitab referensi | Purana; Mahabharata (sisipan) |
| Golongan | asura |
| Ras | detya |
| Ayah | Kasyapa |
| Ibu | Diti |
| Saudara | Hiranyaksa, Holika |
| Istri | Kayadu |
| Anak | Prahlada |
Hiranyakasipu (Dewanagari: हिरण्यकशिपु; IAST: Hiraṇyakaśipu) atau Hiranyakasyapa (Dewanagari: हिरण्यकश्यप; IAST: Hiraṇyakaśyapa) adalah seorang asura dan raja bangsa detya dalam mitologi Hindu.[1] Adiknya, Hiranyaksa, dibunuh oleh Waraha, salah satu awatara Wisnu. Semenjak saat itu, ia membenci Wisnu dan seluruh pengikutnya. Dia menaklukkan tiga dunia (alam bawah, Bumi, dan surga) serta merebut takhta Indra, raja para dewa.[2] Dia terbunuh di tangan Narasinga, penjelmaan Wisnu yang berwujud manusia berkepala singa.[3]
Mitologi
[sunting | sunting sumber]Sesuai dengan hasil pertapaannya, Hiranyakasipu mendapat anugerah dari Dewa Brahma, bahwa ia tidak bisa dibunuh oleh manusia, binatang ataupun Dewa; tidak bisa dibunuh saat pagi, siang, dan malam; tak bisa dibunuh di darat, laut, api, ataupun udara; tak bisa dibunuh di dalam dan di luar rumah, dan tak bisa dibunuh oleh segala senjata.
Hiranyakasipu memiliki seorang anak yang bernama Prahlada. Anaknya adalah seorang pemuja Wisnu yang taat. Oleh karena itu, ia sangat dibenci ayahnya. Namun meskipun berkali-kali berusaha dibunuh, Prahlada selalu selamat berkat kekuatan gaib dari Dewa Wisnu.
Atas berkah Dewa Brahma, ia sukar dibunuh jika tidak memilih wujud, waktu, tempat, dan senjata yang tepat. Ia bisa dibunuh jika:
- yang membunuh bukan manusia, binatang ataupun Dewa
- ia dibunuh bukan di darat, air, api, ataupun udara
- ia dibunuh bukan di dalam ataupun di luar rumah
- ia dibunuh bukan pada saat pagi, siang, ataupun malam
- ia dibunuh tanpa menggunakan senjata
Karena Wisnu berwujud Narasinga, berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku, Hiranyakasipu berhasil dibunuh oleh Narasinga, salah satu awatara Wisnu, yang berwujud manusia, berkepala singa, yang memiliki banyak tangan yang memegang senjata seperti Dewa. Ia dibunuh di atas pangkuannya dengan merobek-robek perutnya menggunakan kuku yang tajam, pada saat senja hari.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Nurturing Child and Adolescent Spirituality: Perspectives from the World's Religious Traditions, p. 20, Karen-Marie Yust, Aostre N. Johnson, Sandy Eisenberg Sasso, Rowman & Littlefield
- ↑ Hudson, D. Dennis (2008-09-25). The Body of God: An Emperor's Palace for Krishna in Eighth-Century Kanchipuram (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press, USA. hlm. 185. ISBN 978-0-19-536922-9.
- ↑ Gopal, Madan (1990). K.S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm. 734.