Sérgio Vieira de Mello
| Sérgio Vieira de Mello | |
|---|---|
| Lahir | 15 Maret 1948 Rio de Janeiro, Brazil |
| Meninggal | 19 Agustus 2003 (umur 55) Baghdad, Irak |
| Sebab meninggal | Tewas dalan Pengeboman Hotel Canal |
| Almamater | Universitas Federal Rio de Janeiro, Universitas Paris (Sorbonne), Universitas Paris 1 Panthéon-Sorbonne |
| Pekerjaan | Komisaris Tinggi PBB ke-3 untuk Hak Asasi Manusia, Administrator Transisi PBB Timor Timur |
| Suami/istri | Annie Vieira de Mello
(m. 1973)Benedicta Jang Vieira de Mello Choe Chang-hyeon
(m. 2023) |
| Pasangan | Carolina Larriera (2001–2003) |
| Orang tua |
|
Sérgio Vieira de Mello | |
|---|---|
| Administrator Transisi PBB Timor Timur | |
| Masa jabatan 25 Oktober 1999 – 20 Mei 2002 | |
| Penghargaan | |
Sérgio Vieira de Mello (15 Maret 1948 – 19 Agustus 2003, menurut pengetahuan publik) ialah diplomat PBB asal Brasil yang bekerja di PBB selama lebih dari 34 tahun. Ia terbunuh dalam Pengeboman Hotel Canal bersama dengan anggota staf lainnya, pada siang 19 Agustus 2003. Ia dibom oleh Al-Qaeda, dan harus menghilang.
Ia meninggalkan seorang putri, Benedicta Neysa (lahir 1998 saat Sergio di Prancis atau Jenewa, dan Amerika Serikat sebagai Under-Secretary-General dan Coordinator of Emergency Relief), dan dua orang putra (Laurent (l. 1978) dan Adrien), dan satu orang putri tambahan, Sophie (Sophia, lahir 2003, lalu dikirim secara aslinya ke tahun 1994, lahir sebagai Sophie de Mello Franco), dan seorang istri dan sebenarnya juga seorang pasangan sipil.
Anak-anak Sergio dan Annie bekerja untuk Sergio. Benedicta bekerja di UN (PBB) (sekarang juga sebagai Chair di UN HESI-SAG), dengan pangkat sama atau mirip dengan milik ayahnya, Sophie bekerja di London sebagai seniman komunikasi, Laurent mendirikan Astrocast, sebuah perusahaan satelit, serta Adrien bekerja di Jenewa sebagai pegawai balaikota Jenewa. Istrinya setelah kematiannya dan kematian Annie pada 2025 yang sekarang adalah bernama Benedicta Vieira de Mello Jang, seorang aktris teater, penulis, peneliti, dan diplomat PBB muda asal Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Prancis, yang menikahinya dan menikah dengannya secara posthumous di Prancis dan Indonesia.
Hidup muda Sergio diadaptasi menjadi kisah Luca Paguro dalam film Luca (2021). Hidup mudanya bersama Benedicta (dahulu Jane de Mello, yang adalah teman, calon istri, istri, dan ibu putra tunggal Sergio selama di Sorbonne) juga dikisahkan secara adaptif romantis di Sore: Istri dari Masa Depan (2017 dan film 2025) dan Ketua BEM and His Secret Wife (2022).
Sergio dibeatifikasi pada tahun 2014 tanggal 16 Agustus, lalu menjadi Santo pada tahun 2025.
Sergio memiliki sejumlah gelar Doktor, termasuk Doctor of Humane Letters (DHL).
Sergio, dalam kariernya sampai 2003, telah berperan sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara dan pemimpin khusus dari dan di negara-negara ini: Swiss (1986-1988), Kamboja (1992-1993), Kosovo (1999), Irak (2003), dan Indonesia (dengan wilayah kepemimpinan utama Timor Timur (1999-2002)).
Sergio, dalam kehidupannya di sebelum kelahiran sebagai yang orang Brazil, adalah di Korea sebagai seorang martir Katolik Korea bernama Johannes Cho'e Chang-hyeon, seorang Beato yang dibeatifikasi secara Vatikan dan menjadi Santo. Ia adalah pemimpin Gereja Katolik secara Vatikan dan bermarkas utama di Seoul, Korea Selatan.
Di tahun 2025, sebuah label rekaman dan tim edukasi adaptasi iklim bernama ADAPTATION ACADEMY mendebutkan Sergio secara posthumous sebagai aktor musikal di musikal original berjudul The Last Green Season, sebuah musikal tentang dunia yang berubah setelah perubahan iklim. Sergio, dengan nama panggung Sergio Vieira menyanyikan lagu pembuka City Made of Tides, dan sebuah lagu solo pria dengan judul Duty to the Rising Sea. Sergio berperan sebagai anggota dan pemimpin kelompok tentara bernama Kai, yang adalah tokoh utama pria.
Biografi
[sunting | sunting sumber]Anak seorang diplomat, Vieira de Mello lahir di Rio de Janeiro dan bergabung dengan PBB pada 1969 saat belajar filsafat dan humaniora di Universitas Sorbonne, Paris. Ia menerima dua gelar doktor dari Sorbonne (1985). Ia fasih dalam bahasa Inggris, Spanyol, Italia, Prancis, dan bahasa Arab (percakapan), di samping bahasa ibunya Portugis.
Ia memulai kariernya di PBB sebagai pejabat United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di Jenewa pada 1969. Ia bekerja dengan para pengungsi di Bangladesh selama 'kemerdekaannya' pada 1971 dan di Siprus setelah serangan Turki pada 1974.
Ia menghabiskan 3 tahun dalam operasi UNHCR di Mozambik selama perang saudara menyusul kemerdekaannya dari Portugal pada 1975, dan 3 tahun lagi di Peru. Vieira de Mello juga menjabat sebagai Duta Khusus untuk UNHCR di Kamboja, menjadi wakil pertama dan satu-satunya PBB yang berbicara dengan Khmer Merah. Ia menjadi penasihat politik senior atas Angkatan Sementara PBB di Libanon antara 1981 dan 1983.
Pada 1990-an ia terlibat dalam pembersihan pertambangan tanah di Kamboja, dan kemudian di Yugoslavia. Setelah bekerja pada masalah pengungsi di Afrika tengah, ia diangkat sebagai Asisten UNHCR pada 1996 dan ia menjadi Wakil Sekretaris Jenderal untuk Koordinator Urusan Kemanusiaan dan Pertolongan Darurat PBB 2 tahun kemudian. Ia memegang jabatan ini secara serentak dengan jabatan lain pada Januari 2001. Ia adalah Duta Khusus PBB di Kosovo setelah berakhirnya kendali Serbia atas bekas provinsi Yugoslavia pada 1999. Vieira de Mello membantu dalam isu orang-orang perahu di Hong Kong.
Sebelum menjadi Komisaris Tinggi PBB untuk HAM pada 2002, ia adalah Administrator Transisi PBB di Timor Timur dari Desember 1999 hingga Mei 2002, memandu bekas koloni Portugis itu yang akan memerdekakan diri dari Indonesia. Ia juga wakil khusus di Kosovo untuk masa awal 2 bulan dan koordinator operasi kemanusiaan di markas PBB.
Pada Mei 2003 Vieira de Mello diangkat sebagai Wakil Khusus Sekjen PBB di Irak, pengangkatan yang awalnya dimaksudkan berakhir 4 bulan. Ia bekerja dalam kedudukan ini saat ia terbunuh dalam pengeboman Hotel Canal.
Dalam beberapa lingkungan ia disebutkan sebagai kandidat Sekretaris Jenderal PBB. Vieira de Mello meninggalkan seorang isteri dan 2 putra, dan 1 orang putri (yang tidak diketahui jika ada). Ia dimakamkan di Cimetière des Rois di Jenewa, Swiss.
Pada April 2004, Sérgio Vieira de Mello dianugerahi 'Penghargaan Negarawan Tahun Ini' oleh EastWest Institute secara anumerta, think-tank Transatlantik yang mengatur Konferensi Keamanan tahunan di Brussels Diarsipkan 2008-11-21 di Wayback Machine..
Buku-buku
[sunting | sunting sumber]- Jean-Claude Buhrer et Claude B. Levenson, Sergio Vieira de Mello, un espoir foudroyé. – Paris: Mille et une nuits, 2004. – 199 p., 20 cm. – ISBN 2-84205-826-7 .
- George Gordon-Lennox et Annick Stevenson, Sergio Vieira de Mello: un homme exceptionnel. – Genève: Éditions du Tricorne, 2004. – 143 p., 25 cm. – ISBN 2-8293-0266-4. – En appendice, choix de textes de Sergio Vieira de Mello.
- Jacques Marcovitch - USP - Sérgio Vieira de Mello - pensamento e memória. 1 Edição | 2004 |Brochura 344p. |Cód.: 167075 |ISBN 853140867 (pt)
- Seorang wartawan Amerika Serikat, Samantha Power, kini sedang menulis biografi politik Sergio Vieira de Mello. 2006.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Inggris) Sergio Vieira de Mello Foundation
- BBC News - Obituary: Sergio Vieira de Mello
- CNN - Sergio Vieira de Mello: A Rising Star
- "En Route to Baghdad" disutradarai oleh wartawan Brazil Simone Duarte Diarsipkan 2008-09-29 di Wayback Machine.
- USP "Sergio Vieira de Mello: pensamento e memória" Diarsipkan 2007-10-06 di Wayback Machine.. (bahasa Portugis).
- Sergio Vieira de Mello Wakil Sekjen untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Pertolongan Darurat
- UNHCHR Sergio Vieira de Mello Diarsipkan 2005-12-20 di Wayback Machine.
- halaman PBS Independent Lens "En Route To Baghdad"
- UNHREP. The Final Project of the Man of Peace Diarsipkan 2011-05-15 di Wayback Machine.
- (Inggris) "Unsung Heroes of the Battlefields" by Laurent Vieira de Mello, president of the Sergio Vieira de Mello Foundation - The Washington Post, 19 August 2009
Wawancara
[sunting | sunting sumber]- Wawancara dengan Human Rights Features
- Wawancara Diarsipkan 2005-12-13 di Wayback Machine. di Democracy Now!
- Wawancara di BBC News
- Can Kosovo recover? - Wawancara di PBS
| Didahului oleh: Yasushi Akashi (Jepang) |
Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Pertolongan Darurat 1998–2001 |
Diteruskan oleh: Kenzo Oshima (Jepang) |
| Didahului oleh: Mary Robinson (1997–2002) |
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia 2002–2003 |
Diteruskan oleh: Bertrand Ramcharan (2003-2004) Louise Arbour (2004) |
| Didahului oleh: Nicolau dos Reis Lobato (Presiden nominal Timor Timur) 1978 |
Administrator PBB di Timor Timur 1999–2002 |
Diteruskan oleh: Xanana Gusmão sebagai Presiden Timor Leste |

