Republik Sosialis Cekoslowakia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Republik Sosialis Cekoslowakia
Československá socialistická republika
1948–1989
Bendera Lambang
Semboyan
Pravda vítězí
(bahasa Indonesia: Kebenaran akan jaya)
Lagu kebangsaan
Kde domov můj dan Nad Tatrou sa blýska
Ibu kota Praha
Bahasa Ceko, Slowakia
Bentuk Pemerintahan Marxisme-Leninisme negara komunis federal partai tunggal
Presiden
 -  1948–1953 Klement Gottwald
 -  1975–1989 Gustáv Husák
Sekretaris Jenderal
 -  1948-1953 Klement Gottwald
 -  1989 Karel Urbánek
Era sejarah Perang Dingin
 -  Didirikan 1948
 -  Konstitusi 11 Juli 1960
 -  Pendirian federasi Maret 1989
Luas
 -  1992 127.900 km² (49.382 mil²)
Populasi
 -  Perk. 1992 15.600.000 
     Kepadatan 122 /km²  (315,9 /mil²)
Mata uang Koruna
Pendahulu
Pengganti
Republik Cekoslowakia Ketiga
Republik Federal Ceko dan Slowakia
Czechoslovakia.png

Republik Sosialis Cekoslowakia (Československá socialistická republika dalam bahasa Ceko dan Slowakia) adalah nama resmi Cekoslowakia sejak 1960 hingga akhir 1989, beberapa saat setelah pecahnya Revolusi Beludru. Negara ini merupakan negara satelit Uni Soviet di Blok Timur pada masa Perang Dingin.

Setelah Partai Komunis Cekoslowakia merebut kekuasaan melalui kudeta pada bulan Februari 1948 yang didukung oleh Uni Soviet, negara ini dideklarasikan sebagai republik rakyat pasca berlakunya Konstitusi Sembilan Mei. Nama lama Československá republika (Republik Cekoslowakia) diganti pada tanggal 11 Juli 1960 untuk menyesuaikan dengan Konstitusi Cekoslowakia 1960 sebagai lambang "kemenangan terakhir sosialisme" di negara tersebut dan bertahan hingga pecahnya Revolusi Beludru. Beberapa simbol negara lainnya juga diubah pada tahun 1960.

Keadaan geografis[sunting | sunting sumber]

Negara ini berbatasan langsung dengan Jerman Barat dan Jerman Timur, Republik Rakyat Polandia, Uni Soviet, Republik Rakyat Hongaria, serta Austria.

Sejarah Komunis di Cekoslowakia (1948-1989)[sunting | sunting sumber]

Latar Belakang dan Petarungan Kekuasaan[sunting | sunting sumber]

Sejarah Republik Sosialis Cekoslowakia dimulai dari naiknya rezim komunis pada tahun 1948, tetapi sesungguhnya pertarungan kekuasaan di dalam Partai Komunis Cekoslowakia (KSC) telah dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia ke-II.

Waktu itu kepemimpinan partai dipegang oleh Rudolf Slanský (Sekretaris Jenderal) dan Klement Gottwald (Ketua) yang juga menjabat Perdana Menteri Cekoslowakia. Selama Perang Dunia ke-II mereka memilih mengungsi ke Moskow dan mengkoordinir perlawanan terhadap Nazi Jerman dari sana. Di Moskow mereka termasuk pemimpin-pemimpin negara tetangga Soviet yang dekat dengan Joseph Stalin.

Sekembalinya ke Cekoslowakia mereka berdua berhasil membangun kembali partai KSC dan memenangkan pemilu pada 1946 dengan meraih sekitar 40% suara pemilih. Pemerintahan dijalankan oleh koalisi Front Nasional, sebuah koalisi 6 partai, di mana Partai Komunis Cekoslowakia (KSC) menduduki 2/3 kursi, sementara yang 5 partai lagi hanya memperoleh 1/3 bagian.

Tetapi kekompakan dan kerjasama antara kedua pemimpin Cekoslowakia tersebut tidak berlangsung lama. Menjelang tahun 1950an Joseph Stalin yang menjalankan kekuasaan ‘tangan besi’ di Uni Soviet, mencurigai orang-orang partai komunis di negara-negara Eropa Tengah dan Timur dan terutama orang-orang sosialis-komunis keturunan Yahudi, sebagai tidak loyal kepada Uni Soviet.

Stalin segera melakukan gerakan pembersihan terhadap orang-orang tersebut, yang berdampak pada timbulnya pertentangan internal dan saling mencurigai di berbagai partai di negara setempat antara yang mendukung dan menentang Stalin

Di Uni Soviet sendiri, Stalin mengadakan pembersihan terhadap orang-orang yang dituduh tidak loyal, terutama yang dicap sebagai pengikut-pengikut Trotsky.

Sementara itu di Yugoslavia, Josip Broz Tito (yang kemudian dicap Trotskyis oleh rezim Stalin) sedang membangun sistem sosialis sendiri dan tidak mau bergabung dengan Blok Uni Soviet.

Gottwald adalah pengikut setia dari cara kepemimpinan Stalin. Sebaliknya Slanský yang keturunan Yahudi, bertentangan dengan Stalin, menyebabkan ia  kemudian dicurigai, ditangkap dan diadili dengan tuduhan sebagai Titois dan Zionis. Dia disidang dalam serial ‘pengadilan politik’ bersama 13 orang lainnya dan dijatuhi hukuman mati, yang dilaksanakan pada Desember 1952.

Kembali ke tahun 1948, setelah memenangkan pemilu 1946 Perdana Menteri Klement Gottwald berhasil membentuk kabinet Front Nasional, yang melibatkan juga tokoh-tokoh dari 5 partai non-komunis. Tetapi kabinet koalisi tersebut tidak berjalan lama. Melalui berbagai intrik yang dilakukan oleh orang-orang partai KSC (Partai Komunis Cekoslowakia), terutama melalui menteri-menteri komunis yang ada di dalam kabinet, 12 orang menteri non-komunis akhirnya mengundurkan diri dari kabinet, yang menyebabkan Kepala Negara Edvard Beneš mengambil keputusan untuk  membubarkan kabinet.

Gottwald kemudian membentuk kabinet baru, yang didominasi oleh menteri-menteri dari partai komunis, dan dengan demikian terciptalah pemerintahan satu partai. Peristiwa inilah yang kemudian disebut orang sebagai ’kudeta-tak-berdarah’ atau ’kudeta-konstitusional’ Februari 1948, yaitu pengambil-alihan kekuasaan negara sepenuhnya oleh partai komunis.

Pada tahun-tahun berikutnya Gottwald dan pengikut-pengikutnya melakukan  pembersihan, mula-mula dengan menyingkirkan orang-orang non-komunis yang dicurigai sebagai ‘agen-agen Barat’, baru kemudian pembersihan terhadap orang-orang partai KSC sendiri. Di zaman itu berlangsung penangkapan-penangkapan berdasarkan tuduhan-tuduhan yang belum tentu benar dan banyak orang partai yang harus menjalani pengadilan-pengadilan politik, dihukum mati atau dipenjara, tanpa melalui proses peradilan yang layak. Selama 5 tahun Gottlwad berkuasa, sebanyak 230 orang dijatuhi hukuman mati dan sekitar 200.000 orang dikirim menjalani hukuman di penjara-penjara atau kamp-kamp kerja-paksa.

Perubahan-perubahan politik selanjutnya di Cekoslowakia, baru terjadi setelah Stalin dan Gottwald meninggal pada tahun 1953. Sebagai pengganti Gottwald, partai ditunjuk Antonín Novotný yang menduduki jabatan Sekretaris Jenderal Partai Komunis (KSC) dan Antonín Zápotocký yang menduduki jabatan Presiden Republik Cekoslowakia.

Tak lama setelah Stalin meninggal segera timbul gelombang Destalinisasi di berbagai negara sosialis di Eropa Timur yang dimulai oleh Nikita Khrushchev di Uni Soviet, dengan pidato-pidatonya yang mengutuk ‘kultus individu’ di zaman Stalin.

Namun di Cekoslowakia, Novotný tidak begitu tanggap dalam menjalankan perubahan-perubahan di bidang politik. Destalinisasi berlangsung lambat dibandingkan negara-negara sosialis lainnya dan baru dimulai pada tahun 1956. Sementara itu Novotný sendiri (yang sejak tahun 1957 juga merangkap jabatan Presiden) menjalankan kekuasaannya dengan cara konservatif dan masih tetap menjalankan sentralisme selama kira-kira 10 tahun. Terutama ia masih melakukan pengekangan di bidang seni dan media-massa, walau sebenarnya pengendoran konservatisme di negara-negara komunis lain telah dimulai sejak Stalin meninggal.

Walau akhirnya Novotný menyetujui liberalisasi dalam batas-batas tertentu dan mendekritkan rehabilitasi terhadap tokoh-tokoh partai yang telah dihukum mati di zaman Gottwald, Novotný masih tetap membina hubungan baik dengan Moskow. Sikapnya yang kaku dan otoriter menyebabkan ia kurang populer di mata rakyat dan terlebih-lebih di kalangan mahasiswa. Pada tahun 1967, Novotný mulai kehilangan kontrol, terutama setelah menguatnya suara-suara yang menuntut langkah-langkah perubahan dan pertanggung-jawaban para pemimpin serta segera diadakannya pemilihan-pemilihan yang bebas dan wajar.

Pada waktu bersamaan, di dalam tubuh partai mulai timbul gerakan-gerakan yang menuntut adanya perubahan politik dan diperlonggarnya kendali Uni Soviet. Di pihak lain, golongan konservatif di dalam partai berusaha keras mempertahankan sistem yang ada dan mencurigai arah tuntutan perubahan-perubahan tersebut sebagai anti-pemerintah.

Sementara itu keadaan politik yang bergejolak, diperparah pula oleh perkembangan di bidang ekonomi negara yang semakin memburuk. Pada akhir tahun 1967 pertarungan di dalam tubuh Partai Komunis Cekoslowakia (KSC) semakin memuncak. Dalam kongres partai tanggal 5 Januari 1968, setelah Novotný melihat dukungan terhadap dirinya semakin berkurang, terpaksa meletakkan jabatan dan menyerahkan kekuasaan kepada penggantinya, Alexander Dubček.

Dubček dan kelompok yang tidak puas dengan kondisi politik dan ekonomi pada waktu itu, segera memulai gerakan reformasi dan liberalisasi melalui Musim Semi Praha (yang kemudian terkenal dengan istilah Pražské jaro 1968 (‘The Prague Spring 1968’)). Mereka memperkenalkan ide-ide alternatif tentang sosialisme yang diberi nama Sosialisme berwajah manusia, yang dicurigai dan ditentang oleh kubu konservatif.

Dubček mendapat dukungan luas di masyarakat karena ia berusaha meninggalkan watak represif rezim komunis, memberikan berbagai kebebasan kepada masyarakat dan memberi kebebasan kepada terbentuknya organisasi-organisasi sosial dan politik di luar kontrol Partai Komunis Cekoslowakia (KSC). Kalangan cendekiawan dan terutama pengarang turut bersuara lantang dan menuntut lebih banyak lagi liberalisasi dan demokratisasi.

Di pihak lain, perkembangan yang terjadi di masyarakat, membuat kubu konservatif atau ‘garis keras’ partai, serta pimpinan Uni Soviet dan Pakta Warsawa semakin khawatir dan berusaha menekan Dubček agar mengurungkan niatnya melanjutkan liberalisasi. Mereka mengkhawatirkan Dubček tidak mampu dan akan kehilangan kendali atas situasi politik dan ekonomi Cekoslowakia.

pemimpin Uni Soviet Leonid Brezhnev dan pemimpin-pemimpin Blok Timur lainnya berusaha keras membatasi arus liberalisasi di Cekoslowakia dengan melakukan berkali-kali perundingan dengan pihak Dubček dan kawan-kawan. Dalam perundingan-perundingan tersebut, Dubček dan tokoh reformis Partai Komunis Cekoslowakia (KSC) lainnya berusaha meyakinkan Uni Soviet bahwa dirinya adalah tetap sekutu terpercaya Uni Soviet dan reformasi adalah masalah dalam negeri yang bisa ia atasi.

Walau Dubček dalam perundingan-perundingan menerima saran-saran dari sekutunya, tetapi yang terjadi di lapangan adalah perkembangan yang semakin memprihatinkan bagi Uni Soviet. Di pihak lain, kubu garis keras Partai Komunis Cekoslowakia (KSC), yang semakin tak didengarkan oleh pendukung-pendukung reformasi, mengusulkan kepada Uni Soviet agar segera bertindak untuk mengatasi keadaan.

Akhirnya pada 20 Agustus 1968 malam, pasukan-pasukan Uni Soviet dan Pakta Warsawa menyerbu negara Cekoslowakia dari segala pintu perbatasan dan menduduki Cekoslowakia dalam waktu 24 jam. Dubček dan pejabat-pejabat Cekoslowakia yang lainnya diculik dan diterbangkan ke Moskow untuk berunding dengan pemimpin-pemimpin Uni Soviet. Pimpinan Partai Komunis Cekoslowakia (KSC) lainnya juga didatangkan pula ke Moskow, baik dari kubu reformis, konservatif maupun yang sentris (tengah).

Dubček dan kawan-kawannya setelah 6 hari perundingan yang melelahkan, akhirnya terpaksa menerima dan menandatangani kesepakatan yang bernama Protokol Moskow tersebut dan pulang kembali ke Praha pada tanggal 27 Agustus 1968.

Perombakan besar-besaran kemudian segera terjadi di dalam partai dan pemerintahan, di bawah tekanan dan kontrol dari penasehat-penasehat politik dan militer Uni Soviet. Segera setelah perombakan dilakukan, menyusul  pembersihan besar-besaran di dalam partai. Seluruh pengikut-pengikut Dubček diganti secara bertahap dengan orang-orang Partai Komunis Cekoslowakia (KSC) yang pro-Soviet di bawah pimpinan Gustáv HusákDubček sendiri masih dibiarkan berkuasa sampai April 1969 namun semua hasil-hasil reformasi yang telah dicapai, dianulir atau dikembalikan oleh rezim baru ke kondisi sebelum Reformasi 1968.[1]

Stabilisasi Kekuasaan dan Terpilihnya Gustáv Husák sebagai Sekretaris Jenderal[sunting | sunting sumber]

Sebagai pengganti Dubček, terpilihlah Gustáv Husák seorang tokoh Partai Komunis Cekoslowakia (KSC) asal Slowakia sebagai Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Cekoslowakia (KSC) yang pernah dipenjara pada masa zaman pemerintahan Slowakia yang pro-Nazi Hitler di bawah pimpinan Jozef Tiso maupun pada zaman Stalinisme melanda Cekoslowakia, di mana ia dikenai hukuman seumur hidup, tapi kemudian Husák dibebaskan pada tahun 1963.

Husák mengambil sikap moderat pada waktu terjadi euforia Musim Semi Praha 1968. Pada era kepemimpinan Dubček, ia dipercayai menjabat Wakil Perdana Menteri, orang kedua di pemerintahan. Dalam perundingan 21-26 Agustus 1968 di Moskow Husák mengambil posisi tengah (sentris), berada di antara 2 kubu Alexander Dubček dan Vasil Biľák yang berseberangan.

Kenaikan Husák pada April 1969 menjadi Sekretaris Pertama partai, merupakan keputusan kompromis yang diambil dengan memperhatikan kepentingan Uni Soviet maupun kubu-kubu yang bertentangan.

Bagi kubu reformis pilihan itu lebih baik daripada membiarkan kepemimpinan partai dipegang oleh Biľák atau Kolder, yang juga pengikut garis keras di dalam partai KSC.

Husák segera melaksanakan Protokol Moskow dan mendapatkan kepercayaan dari Brezhnev dan Pakta Warsawa untuk segera melakukan pembersihan di tubuh partai dan birokrasi secara bertahap dan juga mengembalikan garis-partai kepada program-program partai sebelum naiknya Dubček. Seluruh kebijakan reformis yang diputuskan di zaman Dubček dianulir, terkecuali satu yaitu federalisasi negara bagian Ceko dan Slowakia.

Dalam waktu 2 tahun (1969)-(1971) Husák berhasil mengganti seluruh pengikut-pengikut Dubček di pemerintahan dan di partai dan menaikkan orang-orang non-reformis, termasuk kelompok Biľák, turut menduduki jabatan-jabatan penting.

Husák menjalankan kekuasaannya dengan pragmatis, setia kepada PKUS dan partai-partai sekawan tetapi juga tidak menempuh cara-cara represif seperti yang dilakukan pada masa pemerintahan Gottwald dan Novotný.

Husák adalah seorang dosen dan orator ulung, dia pintar membaca situasi dan berusaha menjalankan kekuasaannya dengan menjaga keseimbangan antara berbagai faksi dan kelompok, baik di dalam maupun di luar partai. Ia menjalankan kebijakan Normalisasi dibidang politik, ekonomi dan sosial sehingga dengan demikian ia ‘memerintah’ dengan stabil selama 20 tahun lebih, tanpa adanya guncangan-guncangan yang berarti di partai dan di masyarakat, terkecuali pada tahun-tahun terakhir kekuasaannya.

Dalam awal-awal masa Normalisasi dan Stabilisasi (yang disebut juga ‘masa status quo’) tersebut, keadaan ekonomi negara sedang mengalami pertumbuhan yang baik. Masyarakat memperoleh kesempatan untuk menikmati standard-hidup yang lebih tinggi, sehingga sebagian orang yang berpenghasilan baik, mulai terjerumus kedalam gaya-hidup materialisme dan konsumerisme. Mereka diberikan kesempatan untuk menikmati hidup yang sejahtera dengan diberikannya kemudahan-kemudahan untuk berbelanja barang-barang mewah termasuk memiliki rumah dan mobil baru. Rakyat yang terlena dan sudah melepaskan harapan atas enyahnya tentara pendudukan Soviet, akhirnya juga tidak begitu peduli lagi pada masalah-masalah politik yang terjadi di negerinya.

Pada akhir tahun 70-an dan awal tahun 80-an, keadaan status quo politik mulai mencair. Timbul gerakan Piagam 77 atau lebih dikenal dengan nama Charta 77 pada tahun 1977 yang dimotori oleh pengarang Václav Havel dan kawan-kawan.

Gerakan ini segera mendapat dukungan luas, dari 243 penandatangan pada tahun 1977, pada pertengahan tahun 80-an telah mencapai 12.000 orang penandatangan. Para pimpinan partai komunis KSC kewalahan menghadapi gejolak-gejolak baru di masyarakat, yang ternyata bukan berasal dari pertentangan-internal  di dalam partai. Berbagai lapisan masyarakat di luar partai masih tetap menganggap kehadiran pasukan Rusia sebagai okupasi suatu negara oleh negara lain, dan bahwa perjuangan untuk kebebasan dan perlindungan HAM adalah bentuk kelanjutan dari semangat patriotisme dan reformasi 1968.

Gerakan lain yang timbul pada tahun 80-an adalah kegiatan kelompok penganut agama Katolik, terutama di kalangan kaum muda, yang selama puluhan tahun mengalami penekanan dan pembatasan. Mereka berbicara senada dengan Charta 77 dan organisasi lainnya serta menuntut kebebasan yang lebih besar bagi kegiatan keagamaan.

Sementara itu, pada waktu bersamaan muncul pula deru angin perubahan yang datangnya bukan dari Barat tetapi justru dari Timur, dari Uni Soviet yang waktu itu telah berada di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev, setelah Leonid Brezhnev turun dan digantikan sebentar oleh Yuri Andropov (1982-1984) dan Konstantin Chernenko (1984-1985). Angin puting beliung itu bukan hanya menerpa Cekoslowakia, tetapi hampir semua negara-negara sosialis di Eropa Tengah dan Timur.[1]

Tammatnya Kekuasaan[sunting | sunting sumber]

Setelah menggantikan Konstantin Chernenko sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) yang sudah wafat pada tanggal 10 Maret 1985, pada tgl 11 Maret 1985 (bertepatan dengan dilantiknya sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, Mikhail Gorbachev memperkenalkan program Glasnost (Keterbukaan) dan Perestroika (Restrukturisasi) yang memberikan dampak yang luas terhadap kehidupan politik, ekonomi dan sosial di masyarakat yang telah terbiasa dengan sistem yang lama. Dampak itu tidak hanya terjadi di Uni Soviet tetapi juga di negara-negara tetangganya. Rezim Husák dan KSC yang sudah mapan dengan kondisi status quo selama 20 tahun, tidak segera begitu saja menerima angin perubahan yang dilancarkan dari Moskow.

Sebaliknya para ex-anggota partai dari zaman reformasi Dubček pada 1968, maupun yang masih ada di dalam partai KSC, yang terpengaruh dan merasa mendapat angin dari garis baru-nya Gorbachev berusaha melakukan tekanan-tekanan untuk terjadinya perubahan di dalam organisasi dan kebijakan partai, agar tetap berkiblat dengan konsisten kepada Moskow (Yang notabene telah dipimpin oleh seorang Pemimpin Soviet yang moderat, Gorbachev), Namun kekuatan konservatif masih tetap kuat dalam tubuh Partai Komunis Cekoslowakia KSC, walaupun di Moskow kekuatan konservatif sudah digusur oleh kelompok kepemimpinan baru Gorbachev. Menghadapi tekanan-tekanan yang semakin gencar dari kekuatan-kekuatan liberalis, Gustav Husák akhirnya mau tidak mau harus bersikap mendukung angin perubahan tersebut dan pada bulan Maret 1987 ia menyatakan akan melaksanakan glasnost dan perestroika di Cekoslowakia, walaupun dengan setengah hati.

Hal lain yang menambah dinamisasi tuntutan perubahan di Cekoslowakia adalah timbulnya kembali gerakan-gerakan mahasiswa, yang dimulai dengan demonstrasi lilin pada 1988 di ibukota Slowakia, Bratislava yang berlanjut dengan gerakan-gerakan mahasiswa di Praha walaupun menyadari akan menghadapi tindakan-tindakan represif dari aparat pemerintah.

Krisis yang juga terjadi di berbagai negara sosialis lainnya, akibat dari munculnya gerakan-gerakan reformasi seperti Solidarnosc-nya Lech Walesa di Polandia dan Duna Kor di Hongaria, telah membuat mahasiswa Cekoslowakia termotivasi untuk juga turut bangkit menuntut perubahan.

Puncak pergerakan mahasiswa adalah demonstrasi spontan non-stop sejak 17 November 1989 di Praha, yang mendapat dukungan tidak hanya dari kaum cendekiawan dan politisi-politisi senior lainnya yang bergabung di dalam Charta 77, tetapi juga dari kalangan masyarakat luas penduduk ibukota. Bahkan pada saat-saat terakhir, buruh pabrik pun (yang merupakan basis keanggotaan partai KSC) ikut memihak gerakan oposisi dan turut melakukan aksi-aksi pemogokan dan bergabung dengan para demonstran.

Gerakan oposisi kemudian membentuk wadah baru bernama Občanské forum, yang menggabungkan Charta 77, VONS dan berbagai unsur oposisi lainnya untuk lebih kuat dan representatif dalam berunding dengan pihak Pemerintah.

Walaupun aksi demo para mahasiswa dicegah dengan penghadangan represif oleh aparat keamanan, semangat mereka tidak mengendor bahkan terus setiap hari mengadakan unjuk-rasa sampai Desember 1989. Pada 27 November 1989, sebuah pemogokan umum yang bertema "Akhiri pemerintahan satu partai!" dilakukan oleh penduduk Cekoslowakia sebagai pertanda mendukung gerakan mahasiswa.

Sementara itu beberapa pemerintahan komunis di negara tetangga mulai juga  dilanda krisis yang memuncak, yang secara psikologis berpengaruh pula pada kewibawaan partai KSC. Menghadapi situasi dalam dan luar negeri yang berkembang cepat, posisi pemimpin-pemimpin KSC menjadi semakin terpojok. Mereka menyadari bahwa kepercayaan rakyat kepada partai telah menurun drastis, demikian juga dukungan dari partai-partai sekawan di Eropa Timur tak dapat diharapkan lagi. Beberapa fungsionaris partai mulai bersikap netral dan berpihak kepada gerakan mahasiswa dan oposisi yang semakin lantang menuntut perubahan.

Dalam posisi yang semakin defensif demikian, partai KSC pada 28 November 1989 mengumumkan akan membagi kekuasaan dan mengakhiri sistem monopoli kepemimpinan  negara oleh partai KSC.

Pada 10 Desember 1989 atas desakan pihak oposisi, Presiden Husák untuk pertama kalinya dalam era negara komunis Cekoslowakia, mengangkat sebuah kabinet yang didominasi oleh menteri-menteri non-komunis, dengan Perdana Menteri Marián Čalfa, seorang tokoh KSC yang dapat diterima oleh Občanské fórum. Husák kemudian meletakkan jabatan sebagai Presiden hari itu juga.

Tiga minggu kemudian, pada 29 Desember 1989, rakyat Cekoslowakia kembali memiliki seorang presiden non-komunis, yaitu dramawan, budayawan dan aktivis Václav Havel, pemimpin tunggal gerakan oposisi yang pernah berkali-kali ditangkap dan dipenjarakan oleh rezim komunis yang berkuasa.

Pada saat euforia anti-partai komunis KSC) meluas di kalangan masyarakat Cekoslowakia, partai KSC harus mempersiapkan diri menghadapi pemilihan umum demokratis pertama pada bulan Juni 1990. Hasilnya, partai yang telah berganti baju menjadi [[Partai Komunis Bohemia dan Moravia (KSCM) di negara-bagian Ceko itu, hanya memenangkan 15% suara, sementara di negara-bagian Slowakia, Partai Komunis Slowakia (KSS) sama sekali tidak memenangkan satu kursi  pun di Parlemen.

Dengan demikian tammatlah riwayat hegemoni sebuah kekuasaan yang pernah bertakhta selama 41 tahun di bumi Cekoslowakia. Berakhirnya kekuasaan komunis di Cekoslowakia adalah anti-klimaks dari sebuah perjalanan panjang partai, yang pada awalnya dalam membangun sosialisme di Cekoslowakia, mendapat simpati dan dukungan penuh dari mayoritas rakyat Ceko dan Slowakia. Rezim ini runtuh sejalan dengan runtuhnya beberapa rezim komunis di negara-negara Eropa Tengah dan Timur lainnya, pada tahun 1989 seperti : Tumbangnya rezim Komunis di Polandia di bawah pimpinan Jenderal Wojciech Jaruzelski oleh seorang tokoh Buruh Solidaritas) di bawah pimpinan Lech Wałęsa, Runtuhnya Tembok Berlin, Jatuhnya pemimpin Komunis Bulgaria di bawah pimpinan Todor Zhivkov dan pemimpin Komunis Rumania di bawah pimpinan Nicolae Ceaușescu.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c [1].