Pulau Galang
| Geografi | |
|---|---|
| Lokasi | Asia Tenggara |
| Koordinat | 0°45′N 104°14′E / 0.750°N 104.233°E |
| Kepulauan | Kepulauan Riau |
| Pemerintahan | |
| Negara | Indonesia |
| Provinsi | Kepulauan Riau |
| Lembaga Non Struktural | Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam |
| Pemerintah Kota | Kota Batam |
| Kependudukan | |
| Kelompok etnik | Melayu |
![]() | |
Pulau Galang adalah pulau di wilayah pemerintahan Kota Batam, provinsi Kepulauan Riau yang merupakan rangkaian pulau besar ketiga yang dihubungkan oleh enam buah jembatan Barelang. Pulau ini terkenal karena adanya tempat pengungsian Vietnam yang terjadi secara besar-besaran pada tahun 1979–1996 dan menjadi perhatian dari pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kalangan internasional. Kamp pengungsi Galang ini sekarang menjadi objek wisata dan sejarah kota Batam,[1] karena jaraknya yang relatif dekat dengan pulau Batam (sekitar 7 km).
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Sebuah kantor administrasi UNHCR didirikan di Galang untuk mengelola Kamp Pengungsi Galang selama periode 1979–1996.[2] Banyak manusia perahu Vietnam dan pencari suaka yang sementara ditampung di kamp Galang selama proses penentuan status pengungsi mereka dan pemukiman kembali mereka di Amerika Serikat, Australia, dan beberapa negara Eropa.[3] Banyak warga Vietnam dari negara tempat mereka menetap kemudian kembali berkunjung ke Galang.
Saat ini, Pulau Galang (dan bekas area pengungsi yang dikenal sebagai Kamp Sinam) dikelola oleh Badan Pengusahaan Batam (BIDA). Pada 1992, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 28/1992, wilayah kerja BIDA diperluas mencakup Pulau Rempang, Pulau Galang, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. BIDA membangun enam jembatan yang diresmikan pada 25 Januari 1998. Jembatan-jembatan tersebut menghubungkan daratan antara Pulau Batam – Pulau Tonton – Pulau Nipa – Pulau Setoko – Pulau Rempang – Pulau Galang – Pulau Galang Baru untuk mengembangkan seluruh pulau tersebut.[4]
Pada Agustus 2025, Indonesia mengumumkan bahwa pulau tersebut akan dialihfungsikan menjadi fasilitas medis untuk merawat sekitar 2.000 warga Palestina yang terluka selama Perang Gaza.[5]
Pengairan
[sunting | sunting sumber]Saat ini sedang dibangun Waduk Sei Gong di Desa Sijantung, Galang, Batam, yang dirancang berkapasitas 11,8 juta m3 dengan daya pasok air baku 400 l/detik.[6]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Galang, Eks Penampungan Pengungsi Vietnam"". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-08-18. Diakses tanggal 2018-08-18.
- ↑ "Pulau Galang". Vietnamese Heritage Museum (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 9 April 2025.
- ↑ "History of Displacement in Indonesia and the Role of UNHCR". UNHCR Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 9 April 2025.
- ↑ Tunawisma
- ↑ "Indonesia readies island medical facility for 2,000 wounded Gazans". Reuters. 7 Agustus 2025.
- ↑ "Proyek Strategis Nasional Waduk Sei Gong Dinilai Cacat Hukum". Penulis : Kontributor Batam, Hadi Maulana; Editor : Hilda B Alexander - Kompas.com - 13 Agustus 2018.
