Perenialisme agama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pandangan perenial membawa harapan terhadap tradisi dialog antarumat beragama karena melalui metode ini diharapkan umat beragama tidak saja menemukan transcendent unity of religion, tetapi juga mendiskusikannya secara lebih mendalam (Nurcholish & Dja'far 2015, hlm. 69).

Perenialisme agama adalah sebuah sudut pandang dalam filsafat agama yang meyakini bahwa setiap agama di dunia memiliki suatu kebenaran yang tunggal dan universal, serta menjadi dasar bagi semua pengetahuan dan doktrin religius. Gagasan ini sudah ada sejak zaman kuno dan dapat ditemui dalam berbagai agama dan filsafat dunia. Namun, sudut pandang gagasan tersebut bertentangan dengan saintisme dalam masyarakat sekuler modern. Istilah philosophia perennis (filsafat perenial) sendiri pertama kali digunakan oleh Agostino Steuco (1497–1548), yang mendasarkannya dari tradisi filosofis sebelumnya, yaitu dari Marsilio Ficino dan Giovanni Pico della Mirandola.[1] Pada akhir abad ke-19, gagasan ini dipopulerkan oleh pemimpin masyarakat teosofis seperti H.P. Blavatsky dan Annie Besant dengan nama "kebijaksanaan agama" atau "kebijaksanaan kuno". Selanjutnya, gagasan ini dipopulerkan oleh Aldous Huxley pada abad ke-20 melalui bukunya berjudul The Perennial Philosophy, serta juga tulisan dari para pemikir yang saat ini dikenal dengan nama mazhab tradisionalis.[2]

Perenialisme[sunting | sunting sumber]

Filsafat perenial (bahasa Latin: philosophia perennis) dalam definisi teknisnya adalah pengetahuan yang selalu ada dan akan selalu ada. Frithjof Schuon mengatakan “The timeless metaphysical truth underlying the diverse religion, whose written source are the revealed scriptures as well as writtings of the great spiritual masters”. Definisi yang lebih jelas dikemukakan oleh Aldous Huxley, yang menyebutkan bahwa filsafat perenial adalah metafisika yang memperlihatkan suatu hakikat kenyataan ilahi dalam segala sesuatu, yaitu kehidupan dan pikiran; suatu psikologi yang memperlihatkan adanya sesuatu di dalam jiwa manusia identik dengan kenyataan illahi itu; serta etika yang meletakkan tujuan akhir manusia dalam pengetahuan yang bersifat imanen maupun transenden mengenai seluruh eksistensi.[3]

Diskursus mengenai filsafat ini kembali mengemuka di Indonesia sejak 20 tahun terakhir. Sebelumnya, mereka yang pernah mempelajari tema filsafat di sebuah jurusan filsafat, tidak mengenal materi ini. Kalau toh mengenal, hanya sepintas lalu saja dan tidak secara mendalam dibahasnya. Filsafat ini nyaris tidak pernah diperkenalkan dalam karena merupakan sebuah pseudo philosophy (filsafat semu), sebagaimana pernah disinggung oleh Budhy Munawar Rachman, sehingga para ahli filsafat pada era modern ini tidak membicarakannya sama sekali dan menjadikannya sebagai sebuah perspektif. Filsafat tersebut sebenarnya populer di kalangan Zaman Baru. Secara metodologis, pandangan perenial membawa harapan terhadap tradisi dialog antarumat beragama karena melalui metode ini diharapkan umat beragama tidak saja menemukan transcendent unity of religion, tetapi juga mendiskusikannya secara lebih mendalam.[4]

Elemen-elemen religiositas yang partikular tidak diberi ruang dalam filsafat perenial, tetapi perenialisme secara holistik tidak menegasikan keberadaan pluralitas beragama (Nurcholish & Dja'far 2015, hlm. 70).

Secara etimologis, filsafat ini dikenal dengan filsafat perenialisme (bahasa Latin: philosophia[a] perenialis), yang berarti "kekal", "selama-lamanya", dan "abadi". Konsep perenial bisa diartikan juga sebagai Imago Dei (pandangan Kristen), Dharma (dalam agama Hindu dan Buddha), atau Tao dalam pandangan Taoisme.[5] Filsafat ini berbicara tentang Tuhan, Wujud yang Absolut, dan sumber dari segala wujud. Tuhan Yang Maha Besar adalah satu, sehingga semua agama muncul dari Yang Satu – prinsipnya sama karena datang dari sumber yang sama.[4] Filsafat tersebut adalah sebuah sudut pandang dalam filsafat agama yang meyakini bahwa setiap agama di dunia sesungguhnya memiliki suatu kebenaran tunggal dan universal. Filsafat itu juga meyakini bahwa semua pengetahuan dan doktrin religius, apa pun itu dan tanpa kecuali, pasti bermuara kepada titik temu realitas yang satu dan tertinggi.[6]

Selain itu, filsafat perenial membahas fenomena pluralisme agama secara kritis dan komprehensif. Filsafat ini menelusuri akar-akar kesadaran religioisitas seseorang atau kelompok melalui simbol-simbol, ritus dan pengalaman keberagaman.[7] Elemen-elemen religiositas yang partikular tidak diberi ruang dalam filsafat ini, tetapi perenialisme secara holistik tidak menegasikan keberadaan pluralitas beragama karena agama dalam seluruh dimensinya tetap mempunyai keunikan dan ekspresi yang dihasilkan dalam pengalaman dengan realitas absolut.[3]

Keseluruhan ekspresi yang ditampilkan tidak menjadi sebuah paradigma tertutup, tetapi tetap terintegrasi dengan realitas yang menjamin keterkaitan antara berbagai aspek yang membentuk pluralitas. Dengan demikian, keberadaan setiap bagian dalam dirinya sendiri adalah sebuah keseluruhan yang membentuk suatu lingkaran yang tidak akan putus dan diilhami oleh Yang Kudus.[3]

Substansi[sunting | sunting sumber]

Semua agama bersifat parsial karena lahir dari konteks dan tradisi tertentu. Bentuk-bentuk agama apa pun tidak pernah mencapai final atau kesempurnaan.[8] Radikalisasi agama di sisi lain seringkali disebabkan oleh fanatisme agama yang sempit dan terdistorsi oleh legalisme agama yang antagonistik.[9] Ketertindasan yang dialami manusia mendistorsi peran agama yang terperangkap dalam ideologi tertentu, yang hendak membahasakan universalitas agama dalam bahasa agamaku, agama saya.[7][10]

Marginalisasi agama juga disebabkan oleh cara pandang agama secara tekstual dan literer yang statis dan kaku, serta cenderung membuat para pengikutnya resisten terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi. Menurut kaum perenialis, filsafat ini membahas autensitas subtansi keberadaan agama yang bersumber dari realitas absolut dan yang berproses dalam kesadaran akal budi manusia yang historis. Psikologi primordial yang dimiliki manusia ini menginisiasi keterbukaan imanen sekaligus transenden, dengan wujud tertinggi di antara sesama manusia.[11]

Manusia hanya mampu memahami hakikat Tuhan dalam keterbatasan rasio, tanpa bisa mendefinisikan eksistensi-Nya. Namun, dikotomi ini mengakibatkan manusia mengalami keterguncangan antara bersatu atau berpisah dari realitas absolut.[12] Menurut kaum perenialis, manusia memiliki suatu kerinduan dalam dirinya yang tetap eksis untuk terus-menerus mengarahkan diri kepada Tuhan.[13] Manusia adalah makhluk rasional yang memiliki intelegensi untuk mengerti dan memahami pengetahuan secara unitif tentang hakikat ilahi (emanasi). Pancaran alamiah ini mendorong manusia untuk melakukan kebajikan-kebajikan karena bersumber dari Tuhan sendiri.[14]

Dalam kaitannya dengan pengalaman beragama, doktrin metafisika dalam filsafat perenial seringkali direduksi sebagai sesuatu yang abstrak dan tidak menyentuh realitas riil yang dihadapi oleh manusia.[15] Banyak para pelaku kejahatan beragama yang mengaku mendapat ilham dari Tuhan untuk membenarkan tindakan anarkis yang dilakukan. Selain itu, ada kecurigaan dari para pemikir lainnya bahwa konsepsi perenialis sering secara sengaja dipakai untuk mengembangkan sebuah inklusivisme yang sepihak. Namun, filsafat ini sebenarnya berperan membawa arah baru bagi perkembangan pengalaman keagamaan jika setiap orang menyadari diri sebagai subjek yang imanen maupun transenden, sehingga radikalisme agama dalam bentuk apa pun dapat dihindari.[16]

Setiap orang beragama seharusnya memiliki cara pandang agama secara kontekstual yang bersifat adaptif dan responsif terhadap perkembangan sosial, tanpa merelatifkan nilai-nilai luhur agama yang dianut. Psikologi primordial ini menuntut tugas dan tanggung jawab dari manusia untuk mengakui manusia lain sebagai tuntutan etis yang mesti ada dalam setiap manusia.[17]

Hakikat[sunting | sunting sumber]

Pengetahuan filsafat ini merekonstruksi seluruh eksistensi yang ada di alam semesta dengan realitas absolut.[18] Hal ini dikarenakan kehidupan manusia dan keberadaan alam semesta pada dasarnya bersumber dari realitas ilahi.[19] Sejak era Plotinus, dalam bukunya berjudul The Six Eneals, realisasi pengetahuan dalam diri manusia hanya bisa dicapai melalui soul/spirit (intelek), yang "jalannya" pun hanya dapat dicapai melalui tradisi-tradisi, ritual-ritual, simbol-simbol, dan sarana-sarana yang memang diyakini sepenuhnya oleh kalangan perenial ini sebagai bersumber dari Tuhan.[20] Dasar-dasar teoretis pengetahuan tersebut ada di dalam setiap tradisi keagamaan yang autentik dikenal dengan berbagai konsep.[21]

Contoh yang dapat dipaparkan dalam agama Hindu disebut Sanathana Dharma, yaitu kebijakan abadi yang harus menjadi dasar kontektualisasi agama dalam situasi apa pun, sehingga agama senantiasa memanifestasikan diri dalam bentuk etis keluhuran hidup manusia. Demikan halnya dalam Taoisme, diperkenalkan konsep Tao sebagai asas kehidupan yang harus diikuti apabila ingin menjadi manusia sesungguhnya. Taoisme di Tiongkok berusaha mengajak manusia untuk berpaling dari dunia kepada Tao (jalan) yang dapat membawa manusia kepada penyucian jiwa – dan kesalehan dalam bahasa Islam. Manusia dengan Tao dibawa kepada jati diri asli yang hanya dapat dicapai dengan sikap wu-wei (tidak mencampuri) jalan semesta yang sudah ditetapkan. Dengan demikian, Tao mengajak manusia untuk hidup secara alami atau suci – dalam Islam dikenal dengan istilah fitrah. Adapun dalam agama Buddha diperkenalkan konsep Dharma yang merupakan ajaran untuk sampai kepada The Buddha-nature – dalam Islam disebut al-Din, yang berarti "ikatan" yang harus menjadi dasar beragama bagi seorang muslim. Hal inilah yang diistilahkan dengan philosophia perennis pada Abad Pertengahan.[22]

Hakikat dari agama perenial adalah "mengikatkan manusia dengan Tuhannya". Kata ini sebenarnya biasa dan kerap didengar, tetapi menjadi verbal karena tidak adanya kesadaran perenial, padahal hal ini menjadi dasar kehidupan beragama sebagai jalan alamiah demi kebajikannya sendiri (Nurcholish & Dja'far 2015, hlm. 72).

Apabila filsafat ini disebut dengan perennial religion berarti terdapat hakikat yang sama dalam setiap agama – dalam istilah sufi diistilahkan dengan religion of the heart, meskipun terbungkus dalam wadah yang berbeda. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Sri Ramakrishna, seorang filsuf India pada abad ke-19. Dia mengatakan bahwa Tuhan telah menciptakan berbagai agama untuk kepentingan berbagai pemeluk, berbagai waktu, dan berbagai negeri. Semua ajaran merupakan jalan. Sesungguhnya seseorang akan mencapai Tuhan, jika dia mengikuti jalan mana pun, asalkan dengan pengabdian yang sepenuhnya.[22]

Dengan demikian, hakikat dari agama perenial adalah "mengikatkan manusia dengan Tuhannya".[23] Kata ini sebenarnya biasa dan kerap didengar, tetapi menjadi verbal karena tidak adanya kesadaran perenial, padahal hal ini menjadi dasar kehidupan beragama sebagai jalan alamiah demi kebajikannya sendiri.[24] Religion berasal dari kata religio, yang berarti to bind with God. Istilah ini hakikatnya mengatasi aspek institusional dari agama, termasuk komunitas, sistem simbol, dan ritus pengalaman religius yang kini telah menjadi arti sempit dari agama itu sendiri.[25]

Berdasarkan pemahaman tersebut, memungkinkan manusia untuk mencapai "kesatuan transenden agama-agama” atau istilah asli yang digunakan Schuon adalah the transcendent unity of religion. Namun, yang harus dipahami pula adalah kesatuan agama-agama ini hanya berada dalam level “esoterik” (bahasa yang digunakan oleh Huston Smith), “esensial” (istilah yang digunakan oleh Baghavas Das), dan “transenden” (istilah yang digunakan oleh Schuon dan Sayyed Hossein Nashr). Faktor inilah yang menyebabkan kesatuan agama-agama tidak terjalin dalam ranah eksoterisme (lahiriah). Hal ini kerap disalahpahami oleh kalangan atau kelompok yang selalu mengkritik konsep pluralisme agama yang dipahaminya sebagai kesamaan atau penyamaan agama-agama, termasuk dalam hal ajaran, syariat, atau ritualnya.[26] Jadi, yang menandakan adanya kesatuan agama-agama itu "hanya" dalam level esensi atau subtansi ajaran, bukan dalam level tata cara ibadah, syariat, atau minhaj dalam berteologi.[27]

Apabila esoterisme adalah cahaya, setiap agama menangkap cahaya itu dalam berbagai warna (sebagai agama-agama) dan berbagai “daya terang” – ada yang sangat terang, terang biasa, dan redup samar. Hal ini adalah perumusan doktrin metafisikanya, tetapi adanya aneka warna cahaya beserta “daya terangnya” tidaklah penting dari sudut pandang filsafat perenial. Ada dua alasan yang menyebabkannya, sebagaimana dikemukakan Rachman.[28]

  • Pertama, meskipun ada berbagai macam cahaya (merah, kuning, hijau, hitam, dan sebagainya), semua itu tetap dinamakan cahaya. Apabila agama itu autentik, tetap ada inti yang sama. Kesamaan ini terletak di tataran esoterik, bukan di ranah eksoterik.
  • Kedua, meskipun cahaya memiliki daya terang yang beragam, semua cahaya (juga agama) akan mengantarkan manusia kepada sumber cahaya itu (Tuhan), sekalipun ada yang tipis dan remang-remang. Sebab, jika manusia terus menelusuri cahaya itu, dia akan tetap sampai kepada sumbernya. “Sampai kepada sumbernya” inilah yang paling penting dalam agama. Hakikat agama adalah adanya sense of the absolute dalam diri manusia, sehingga dia merasakan terus-menerus adanya Yang Absolut dalam dirinya. Kehadiran Yang Absolut inilah yang senantiasa mengawal manusia berada dalam jalan kebenaran-Nya, yaitu jalan suci yang diajarkan oleh semua agama.[29]

Berdasarkan arah ini pula manusia merasakan makna simbolis kehadiran Sang Pemilik Kehidupan. Wujud hakikat agama itu sejatinya merupakan pengetahuan, sekaligus kebijaksanaan.[30] Hal ini dapat diistilahkan dengan sophia (menurut orang Yunani Kuno), spientia (menurut istilah orang Kristen pada Abad Pertengahan), jnana (ungkapan dalam agama Hindu), dan al-ma’rifah atau al-hikmah (menurut konsep sufi). Itulah sebabnya, hakikat agama kerap disebut sebagai scientia sacra, yang berarti pengetahuan suci. Pengetahuan ini dialami dan bukan sekadar diyakini berasal dari “alam surgawi,” yang kemudian diturunkan sebagai wahyu dengan berbagai metode. Oleh karena itu, kesatuan agama-agama berada dalam “langit ilahi” (esoterik dan transenden), bukan dalam “atmosfir bumi” (eksoteris), yang kerap memantik perdebatan.[31]

Dengan demikian, filsafat perenial menguraikan keanekaragaman “jalan keagamaan” yang ada dalam kenyataan historis setiap agama dan dapat diterima dengan lapang dada dengan toleransi. Hal ini disebabkan karena pada hakikatnya ajaran (perenial) Tuhan – seperti Tuhan itu sendiri – hanya satu, tetapi diungkapkan dengan banyak nama dan ajaran yang diturunkan melalui para nabi dan rasul. “Yang Satu” ini dalam perspektif perenial adalah “Yang Tidak Berubah” dan merupakan fitrah. Mengembalikan keanekaragaman yang ada dalam kehidupan sehari-hari kepada "Yang Tidak Berubah", merupakan pesan dasar dari filsafat perenial, yang pada dasarnya adalah pesan keagamaan – sebagaimana disebut dalam terminologi Islam adalah al-din-u ‘l-nashihah (agama itu nasihat). Pesan ini tersurat dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat ke-30 berikut.[32]

Secara metodologis, pandangan perenial membawa harapan terhadap tradisi dialog antarumat beragama karena melalui metode ini diharapkan umat beragama tidak saja menemukan transcendent unity of religion, tetapi juga mendiskusikannya secara lebih mendalam, yang selanjutnya membuat kebenaran dan kesesatan menjadi terbuka di lingkup langit kearifan.[33] Keduanya mungkin saja terjadi dalam sikap seseorang atau suatu kelompok tertentu yang seakan berada di posisi paling atas, sehingga yang lain diklaim berada di bawah. Secara teoretis, pendekatan perenial memberikan harapan, tetapi belum secara luas dipahami dan diterima, kecuali oleh kalangan terbatas. Pendekatan ini mampu mewarnai cakrawala berpikir seseorang dalam memandang agama di tengah keberadaan agama-agama atau keyakinan milik orang lain.[32]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Selain dari teoremanya tentang segitiga siku-siku, banyak yang tahu tentang diri Phytagoras – belakangan para pengikutnya cenderung menisbahkan penemuan mereka sendiri kepada gurunya – tetapi mungkin dialah yang menemukan istilah philosophia, "cinta hikmah". Filosofi bukanlah sebuah disiplin rasional yang dingin, melainkan pencarian spiritual yang akan mengubah pencarinya (Armstrong 2011, hlm. 121).

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Schmitt (1966), hlm. 507
  2. ^ Blavatsky (1997), hlm. 7
  3. ^ a b c Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 70
  4. ^ a b Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 69–70
  5. ^ I’anati, Elivia (3 Oktober 2020). "Perenialisme Agama-Agama". Peace News. Diakses tanggal 6 Juli 2021. 
  6. ^ Portal Informasi Indonesia (7 Maret 2019). "Siwa-Buddha, Sebuah Praktik Filsafat Perenialisme". Portal Informasi Indonesia. Diakses tanggal 5 Juli 2021. 
  7. ^ a b Hidayat & Nafis (2003), hlm. 39–40
  8. ^ Armstrong (2019), hlm. 27–29
  9. ^ Engineer (1999), hlm. 287–288
  10. ^ Fuller (2010), hlm. 59
  11. ^ Hidayat & Nafis (2003), hlm. 40
  12. ^ Davies (2012), hlm. 1–3
  13. ^ Darwin (2015), hlm. 36
  14. ^ Hidayat & Nafis (2003), hlm. 40–41
  15. ^ Davies (2012), hlm. 303–304
  16. ^ Wora (2006), hlm. 136
  17. ^ Wora (2006), hlm. 136–137
  18. ^ Nurchaliza, Angelina (19 April 2021). "Perenialisme Agama-Agama". Kabar Damai. Diakses tanggal 5 Juli 2021. 
  19. ^ Fuller (2010), hlm. 156–158
  20. ^ Fuller (2010), hlm. 155
  21. ^ Rachman (2001), hlm. 86
  22. ^ a b Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 71
  23. ^ Kuswanjono (2006), hlm. 18
  24. ^ Pals & (2011), hlm. 234–235
  25. ^ Rachman (2001), hlm. 88
  26. ^ Engineer (1999), hlm. 201–203
  27. ^ Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 72
  28. ^ Rachman (2001), hlm. 88–89
  29. ^ Rachman (2001), hlm. 89
  30. ^ Sujarwa (2001), hlm. 32–33
  31. ^ Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 73–74
  32. ^ a b Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 74
  33. ^ Kuswanjono (2006), hlm. 42–44

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku

  • Armstrong, Karen (2011). Masa Depan Tuhan: Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme. Bandung: Mizan. ISBN 978-979-4335-89-5. 
  • Armstrong, Karen (2019). Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan dalam Agama-Agama Manusia. Bandung: Mizan. ISBN 978-602-4410-48-3. 
  • Blavatsky, Helena Petrovna (1997). The Key to Theosophy. Mumbay: Theosophy Company. ISBN 978-091-1500-07-3. 
  • Darwin (2015). Filsafat dan Cinta yang Menggebu. Yogyakarta: The Phinisi Press. ISBN 978-602-7250-62-8. 
  • Davies, Paul (2012). Membaca Pikiran Tuhan: Dasar-Dasar Ilmiah dalam Dunia yang Rasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 978-979-9483-87-4. 
  • Engineer, Asghar Ali (1999). Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 978-979-9289-01-8. 
  • Fuller, Graham E. (2010). Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam? Sebuah Narasi Sejarah Alternatif. Bandung: Mizan. ISBN 978-979-4338-55-1. 
  • Kuswanjono, Arqom (2006). Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perenial: Refleksi Pluralisme Agama di Indonesia. Yogyakarta: Badan Penerbitan Filsafat Universitas Gadjah Mada. ISBN 978-979-2536-82-9. 
  • Nurcholish, Ahmad; Dja'far, Alamsyah Muhammad (2015). Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-Agama. Jakarta: Elex Media Komputindo. ISBN 978-602-0265-30-8. 
  • Pals, Daniel L. (2011). Seven Theories of Religion: Tujuh Teori Agama Paling Komprehensif. Yogyakarta: Ircisod. ISBN 978-602-9789-08-9. 
  • Rachman, Budhy Munawar (2001). Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman. Jakarta: Raja Grafindo Persada. ISBN 978-979-8321-60-3. 
  • Sujarwa (2001). Manusia dan Fenomena Budaya: Menuju Perspektif Moralitas Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 978-979-9075-69-7. 

Buku lama

  • Hidayat, Komaruddin; Nafis, Muhammad Wahyudi (2003). Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perenial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 
  • Wora, Emanuel (2006). Perenialisme: Kritik Atas Modernisme dan Postmodernisme. Yogyakarta: Kanisius. 

Jurnal

Pranala luar[sunting | sunting sumber]