Pengendalian hama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pesawat terbang pertanian menyemprotkan pestisida di atas lahan kedelai
Peringatan kepada pengunjung agar tidak memberi makan burung camar demi mengendalikan populasinya, di Ilfracombe, Inggris

Pengendalian hama adalah pengaturan makhluk-makhluk hidup pengganggu yang disebut hama karena dianggap mengganggu kesehatan manusia, ekologi, atau ekonomi.[1][2][3] Pengendalian merujuk pada pembunuhan hama hewan seperti rubah dan tikus, biasanya dilakukan oleh petugas atau departemen pengendalian hama.[4]

Hama di bidang pertanian dapat dikurangi baik melalui cara budaya, kimia, dan biologis termasuk membajak dan mengolah atau penggemburan tanah.[5][6] Pestisida sebagai pengendalian hama di era modern.[7] Hal ini dapat dicapai dengan memantau tanaman secara ketat, hanya menggunakan pestisida bila benar-benar diperlukan, dan membudidayakan jenis dan tanaman yang tahan hama. Metode biologis digunakan sedapat mungkin dengan mendorong musuh alami hama dan memperkenalkan pemangsa atau parasit yang sesuai.

Sejarah pengendalian hama sama tuanya dengan pertanian, lantaran petani perlu mempertahankan tanamannya dari serangan hama.[8] Untuk memaksimalkan hasil produksi, tanaman perlu dilindungi dari tanaman dan hewan pengganggu.[9]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kucing perunggu di Mesir kuno.

Sejarah pengendalian hama paling tidak setua atau sama kunonya dengan pertanian, karena selalu ada kebutuhan untuk menjaga tanaman bebas dari hama.[8] Sejak pada abad 3000 SM, pengendalian hama tikus pada gudang simpan biji-bijian yang dapat dikelola dengan memelihara kucing.[10] Pada abad 500 M di Eropa, ferret telah juga dianggap pengendali hama tikus. Orang di peradaban Mesir kuno kemudian membawa garangan ke rumah untuk mengendalikan tikus dan ular.[11][12]

Hama dan penyakit tanaman adalah salah satu masalah yang paling mengganggu karena kemampuan merusaknya dalam industri di bidang pertanian.[13] Serangan terhadap tanaman dapat terjadi dengan cepat dan bersifat eksplosif (meluas) dan dalam waktu singkat dan menyebabkan gagal panen sebagai akibat dari seluruh tanaman mati.[14] Pembasmian hama gulma akan mejadi relatif mudah, di mana gulma dapat dibakar dan dikubur, dan hama herbivor yang lebih besar dapat dibunuh.[15] Hal ini dikenal dengan strategi pendekatan tradisional. Strategi yang dapat digunakan seperti rotasi tanaman, penanaman pendamping atau penanaman kelompok (juga dikenal sebagai tanam campuran), dan pemilihan kultivar tahan hama semuanya telah ada untuk waktu lama.[16]

Sekitar 2500 SM, pestisida kimia pertama kali digunakan oleh bangsa Sumeria menggunakan senyawa belerang sebagai insektisida.[17] Penyebaran kumbang kentang Colorado di seluruh Amerika Serikat memicu pengendalian hama modern. Zat arsen digunakan untuk menekan dan kumbang setelah banyak perdebatan, dan keracunan yang diharapkan dari populasi manusia tidak terjadi.[18][11] Ini membuka jalan bagi insektisida untuk diterima secara luas di seluruh benua. Pengendalian hama kimia menjadi luas dengan industrialisasi dan mekanisasi pertanian pada abad kedelapan belas dan sembilan belas, serta diikuti dengan pengenalan insektisida piretrum dan tuba. Penemuan berbagai insektisida sintetik, termasuk sebagai DDT, dan herbisida pada abad kedua puluh mempercepat kemajuan ini.[19]

Rangrang digunakan sebagai pengendali hama dengan memakan siput.

Pengendalian hayati pertama kali tercatat di Cina sekitar tahun 300 M.[20] Untuk mengendalikan hama pada perkebunan jeruk, rangrang digunakan untuk mengendalikan kumbang dan ulat.[21][22] Hasil ini juga terlihat dalam seni gua kuno di Cina, di mana diperlihatkan bahwa bebek juga digunakan untuk memakan hama. Pada tahun 1762, seekor mynah India diangkut ke Mauritius untuk mengelola pengendalian hama belalang. Pada periode yang sama, bambu digunakan untuk menghubungkan pohon jeruk di Burma sehingga semut dapat bergerak di antara mereka dan membantu mengendalikan ulat. Kumbang pertama kali digunakan untuk mengendalikan serangga sisik di pertanian jeruk di California pada tahun 1880-an, dan kemudian terdapat uji coba pengendalian biologis lebih lanjut. Studi pengendalian hama biologis secara efektif berakhir setelah DDT diperkenalkan, karena molekul yang murah dan efektif. Pada 1960-an, kekhawatiran resistensi kimia dan degradasi lingkungan telah muncul, dan pengendalian biologis dipelajari kembali. Hal ini berkembang pada akhir abad kedua puluh dan berlanjut hingga hari ini, pengendalian hama kimia saat ini tetap merupakan jenis pengendalian hama yang paling umum.[23][24]

Ruang lingkup[sunting | sunting sumber]

Pengendalian hama menurut P. DeBach (1964) membedakan pengendalian menjadi dua bagian yakni pengendalian alami dan pengendalian hayati.[25]

Pengendalian alami[sunting | sunting sumber]

Pengendalian alami[26] adalah proses pengaturan kepadatan populasi dari suatu organisme pengganggu dengan fluktuasi antara batas bawah dan batas atas populasi pada selang waktu tertentu dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan baik itu abiotik atau biotik.[27] Pengendalian ini terlibat tanpa adanya unsur kesengajaan yang diciptakannya atau dapat dimanipulasi oleh manusia. Langkah-langkah dasar pengendalian hama biologis, yaitu importasi, augmentasi, dan konservasi.[28]

Importasi[sunting | sunting sumber]

Importasi (pemasukan) adalah proses pemasukan musuh alami hama dari lokasi lain ke lahan pertanian untuk pengendalian hama biologis.[29] Musuh alami ini biasanya tidak dapat muncul di lahan pertanian karena berbagai keadaan seperti lingkungan yang tidak menguntungkan yang disebabkan oleh meluasnya penggunaan pestisida dan pupuk kimia, atau pertimbangan geografis. Jika hama berupa spesies yang menyerang (spesies invasif), kemungkinan besar lawan alaminya tidak akan ada. Hewan yang merupakan predator hama alami mungkin disambut dengan cara tertentu. Misalnya, burung pemakan serangga bersarang, tapi burung lain tidak bisa, di mana burung yang paling berguna dapat ditarik dengan lubang yang cukup besar untuk spesies yang diinginkan.[30]

Musuh alami hama harus memiliki kemampuan berkoloni agar efektif dalam mengendalikan suatu hama sehingga dapat bertahan dari muncul dan hilangnya habitat (akibat pergantian musim tanam). Kemampuan ini memungkinkannya untuk mengikuti perubahan habitat melalui ruang dan waktu. Pengendalian paling baik jika spesies target tidak ada untuk sementara, yang berarti ia dapat mempertahankan populasinya, dan jika ia adalah pemburu oportunistik, yang berarti ia dapat dengan cepat mengeksploitasi populasi hama.[31]

Augmentasi[sunting | sunting sumber]

Hippodamia convergens, kini dijual secara komersial untuk pengendalian hama aphid.

Augmentasi adalah peningkatan populasi musuh alami hama yang telah ada, dengan melepaskan varietas yang telah dikendalikan sifatnya. Pelepasan populasi musuh alami hama dapat dilakukan dengan periode tertentu dan dalam jumlah tertentu tergantung siklus hidupnya dan siklus pertanaman.[32] Augmentasi dibagi atas dua yaitu secara inokulasi dan Inundasi.[32] Inokulasi adalah pelepasan musuh alami yang dilakukan bertujuan untuk menyiapkan predator agar siap di musim berikutnya sedangkan inundasi adalah pelepasan musuh alami segera ketika terdapat OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) yang muncul hingga OPT tersebut tidak ada.

Konservasi[sunting | sunting sumber]

Konservasi adalah pengelolaan hama biologis dengan mempertahankan musuh alami hama, yang sudah ada dalam suatu ekosistem atau habitat dan telah beradaptasi dengan baik.[33] Menambahkan fasilitas tertentu, seperti penahan angin, tanaman pagar, kolam, kompos, atau mulsa, dapat membantu mempertahankan populasi. Berbagai musuh alami hama dapat memiliki habitat yang beragam. Misalnya, burung hantu hidup di lubang pohon, katak berenang di kolam, dan landak hidup di lubang tanah dan kayu. Sisa tanaman pertanian yang relatif keras dan berkayu dapat dipertahankan di musim dingin sebagai sarana untuk mempertahankan diri dari cuaca dingin.[34]

Pengendalian hayati[sunting | sunting sumber]

Secara ekologis, pengendalian hayati[26] adalah aksi dari parasit(oid), pemangsa dan patogen dalam proses pemeliharaan kepadatan populasi dari suatu organisme lain dengan rata-rata populasi ini lebih rendah daripada yang akan terjadi jika musuh alami tersebut tidak ada.[35][36]

Metode[sunting | sunting sumber]

Pengendalian hama biologis[sunting | sunting sumber]

Pengendalian hama biologis dilakukan dengan menggunakan pemangsa dan parasit alami hama tersebut. Tujuan pengendalian hama biologis adalah mengeliminasi hama dengan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia yang sesedikit mungkin.

Contoh, nyamuk dikendalikan dengan menebarkan bakteri Bacillus thuringiensis subspesies israelensis (dikenal dengan bubuk abate) untuk membunuh larva nyamuk di perairan. Metode ini diketahui tidak menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia, bahkan aman diminum.[37]

Berbagai organisasi lingkungan dan hewan liar mendorong penggunaan predator untuk membunuh hama hewan pengerat.[38] Berbagai spesies burung hantu yang mulai terancam punah dapat dikembang biakan sambil membantu para petani membunuh tikus di lahan pertanian.

Minyak dari pohon Abies balsamea telah disetujui oleh EPA sebagai penangkal rodent yang bersifat non-toksik.[39][40] Akar dari pohon Acacia polyacantha subspesies campylacantha diketahui mengeluarkan senyawa yang mampu mengusir berbagai jenis hewan seperti buaya, ular dan tikus.[41][42]

Secara mekanis[sunting | sunting sumber]

Budidaya dengan membajak untuk mengendalikan hama
Ulat pucuk cemara (ulat dewasa dan kepompong) dipantau denganperangkap feromon .

Pengendalian hama secara mekanis dilakukan secara langsung dengan menggunakan tangan maupun dengan bantuan alat dan mesin pertanian.[43] Gulma bisa hilang dari suatu lahan pertanian dengan melakukan pengolahan tanah seperti pembajakan. Hal inilah yang dianggap sebagai metode pengendalian gulma.[44] Pembajakan mengangkat tanah beserta tanaman liar di atasnya lalu membalikkan, sehingga akar tanaman dapat memperoleh udara dan sinar matahari, serta daun gulma akan tertimbun tanah.[44][45] Beberapa hama lain seperti wireworm, larva kumbang spesies click beetle, adalah hama yang juga sangat merusak di padang rumput yang baru dibajak, dan penanaman berulang kali memaparkan mereka pada pemangsa yang memakannya, seperti burung dan pemangsa lainnya.[46]

Rotasi tanaman dapat membantu dalam pengelolaan hama dengan menghilangkan serangga dari tanaman inangnya. Rotasi tanaman menjadi taktik utama dalam mengendalikan hama cacing akar jagung, dan telah terbukti mengurangi insiden kumbang kentang Colorado hingga 95% di awal musim.[47]

Mengganggu siklus perkembangbiakan[sunting | sunting sumber]

Serangga dan hama dapat hidup dan berkembang biak di tempat selain lahan pertanian, misal di saluran irigasi (siput). Drainase dan manajemen sumber daya air yang baik mampu mengganggu perkembang biakan hama yang hidup di air.

Sampah sisa pertanian diketahui dapat menjadi sumber makanan bagi hama tikus, sehingga tikus masih dapat hidup meski musim tanam telah berakhir. Pascapanen yang baik dapat mencegah hal ini.

Cahaya dari LED dengan spektrum tertentu diketahui dapat mengganggu perkembang biakan serangga.[48]

Tanaman perangkap[sunting | sunting sumber]

Tanaman perangkap adalah tanaman yang menarik hama dan mengalihkannya dari tanaman lain.[49] Tanaman perangkap dengan penggunaan tanaman alternatif digunakan dalam penanaman perangkap untuk menjauhkan hama dari tanaman utama. Nasturtium (Tropaeolum majus), misalnya, merupakan tanaman pangan bagi beberapa ulat yang kebanyakan memakan kubis (brassica).[50] Pestisida merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama yang telah berkumpul pada tanaman perangkap.[51] Namun, tanpa penggunaan pestisida, penanaman perangkap seringkali gagal menurunkan tingkat hama pada skala komersial yang besar, karena kemampuan hama dapat menyebar kembali di suatu lahan utama.[51]

Pestisida[sunting | sunting sumber]

Penyemprotan pestisida merupakan metode untuk mengelola hama, pestisida diberikan pada tanaman menggunakan bidang pertanian, penyemprot tanaman yang dipasang di traktor, semprotan udara dengan pesawat kontemporer, atau pembalut benih.[52][53] Namun, pengelolaan pestisida tidak langsung; formulasi yang tepat harus dipilih, waktu biasanya penting, metode aplikasi sangat penting, dan cakupan yang memadai dan retensi tanaman diperlukan. Musuh alami hama sasaran harus dibunuh sesedikit mungkin. Petani progresif menggunakan pupuk untuk menumbuhkan jenis tanaman unggul, yang seringkali lebih rentan terhadap kerusakan serangga, tetapi pestisida yang digunakan tanpa pandang bulu dapat berbahaya dalam jangka panjang.[53]

Fumigasi adalah penyemprotan pestisida dalam wujud gas di ruangan tertutup sehingga hama dan pestisida tidak keluar dari lingkungan dalam jumlah yang signifikan. Fumigasi menyerang hama pada berbagai tahap perkembangannya, mulai dari telur sampai serangga dewasa.[54]

Memburu[sunting | sunting sumber]

Manajemen pengendalian hama sebagai gangguan juga dapat dilakukan dengan cara melibatkan pemburu (penjerat buatan manusia) untuk secara fisik melacak atau memantau, membunuh, dan menyingkirkan hewan pengganggu.[55] Pemantauan berkala diperlukan pada pengendalian hama.[56] Pencatatan diperlukan untuk memantau perilaku perkembangan populasi hama. Berbagai serangga telah memiliki dokumentasi permodelan siklus hidupnya. Biasanya mamalia atau burung liar kecil hingga sedang penghuni ekologi dan wilayah di dekat peternakan, padang rumput, atau pemukiman manusia lainnya.[57][58] Hewan yang dikenal sebagai hama ini dimusnahkan dan menjadi sasaran karena dianggap berbahaya bagi tanaman, ternak, atau fasilitas. Selain itu, mereka dapat berfungsi sebagai inang atau vektor patogen sebagai transmisi antarspesies atau ke manusia. Mereka juga dapat digunakan untuk pengendalian populasi guna melindungi spesies dan ekosistem rentan lainnya.

Pengendalian hama dengan berburu, seperti semua jenis panen, menempatkan tekanan selektif buatan pada spesies yang ditargetkan. Sementara perburuan berpotensi dilakukan dengan memilih untuk perubahan perilaku dan demografi yang diinginkan (misalnya, hewan menghindari daerah yang dihuni manusia, tanaman, dan ternak), itu juga berpotensi menghasilkan hasil yang tidak terduga, seperti spesies hewan yang ditargetkan beradaptasi dengan siklus reproduksi yang lebih cepat.[59]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ghooshchi, Farshad; Omidvar, Lia (2012). Teaching Agricultural Concepts. Bloomington : AuthorHouse. hlm. 92. ISBN 9781468576931. 
  2. ^ Edelstein, Sari (2008). Managing Food and Nutrition Services For the Culinary, Hospitality, and Nutrition Professions. Canada: Jones and Bartlett Publishers. hlm. 330. ISBN 9780763740641. 
  3. ^ Mulyono, Mugi; Ritonga, Lusiana Br (2019). Yumna, Asy Syafa, ed. Kamus Akuakultur: Budidaya Perikanan. Jakarta Selatan: STP Press. hlm. 88. ISBN 9786029156508. 
  4. ^ "pest control". collinsdictionary.com. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  5. ^ "Kebiasaan Gunakan Pestisida Dapat Merusak Lingkungan". umy.ac.id. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  6. ^ "Pengolahan lahan mencegah penyakit tanaman sayuran". distan.bulelengkab.go.id. Pengolahan lahan mencegah penyakit tanaman sayuran. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  7. ^ Dinisari, Mia Chitra (2019). "Bisnis Pengendalian Hama Modern Lebih Berprospek". ekonomi.bisnis.com. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  8. ^ a b Steele, Pablo; Gibbs, Marley (2018). Crop Diseases and Their Control. London, New York: ED-Tech Press. hlm. 43. ISBN 9781839471858. 
  9. ^ "Empat Prinsip Dasar Dalam Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT)". balitsa.litbang.pertanian.go.id. 2015. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  10. ^ Ware, Daxton (2019). Biotechnology and Insect Pest Management. London, New York: ED-Tech Press. hlm. 271. ISBN 9781839471797. 
  11. ^ a b Steele, Pablo; Gibbs, Marley (2018). Crop Diseases and Their Control. London, New York: ED-Tech Press. hlm. 44. ISBN 9781839471858. 
  12. ^ Sherman, David M. (2007). Tending Animals in the Global Village: A Guide to International Veterinary Medicine. New York: John Wiley & Sons. hlm. 45. ISBN 9780470292105. 
  13. ^ Nugroho, Faozan Tri (2021). "Jenis-Jenis Hama dan Penyakit pada Tumbuhan yang Perlu Diketahui". bola.com. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  14. ^ Ratnasari, Dewi (2017). "Mengendalikan Hama dan Penyakit Secara Alami". kalteng.litbang.pertanian.go.id. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  15. ^ Schlegel, Rolf H. J. (2020). Dictionary of Plant Breeding. Boca Raton, Amerika Serikat: CRC Press. ISBN 9781000066982. comparatively easy to destroy weeds by burning them or plowing them under, and to kill larger competing herbivores... 
  16. ^ Ghooshchi, Farshad; Omidvar, Lia (2012). Teaching Agricultural Concepts. Bloomington : AuthorHouse. hlm. 45. ISBN 9781468576931. 
  17. ^ "The History of Integrated Pest Management". Cornell University. Diakses tanggal 27 August 2017.  which cites Orlob, G.B. (1973). "Ancient and medieval plant pathology". Pflanzenschutz-Nachrichten. 26: 65–294. 
  18. ^ "Leptinotarsa decemlineata (Colorado potato beetle)". cabi.org. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  19. ^ van Emden, Helmut F (1991). Pest Control. Cambridge University Press. hlm. 3–4. ISBN 978-0-521-42788-3. 
  20. ^ S. Djoewari (2020). Mengenal Serangga di Sekitar Kita. Alprin. hlm. 58. ISBN 9786232634978. 
  21. ^ McPherson, J.E. (2018). Invasive Stink Bugs and Related Species (Pentatomoidea) - Biology, Higher Systematics, Semiochemistry, and Management. Boca Raton, Amerika Serikat: CRC Press. hlm. 732. ISBN 9781498715102. 
  22. ^ "The History of Integrated Pest Management". Cornell University. Diakses tanggal 2022-01-27.  Dikutip dalam Orlob, G.B. (1973). "Ancient and medieval plant pathology". Pflanzenschutz-Nachrichten. 26: 65–294. 
  23. ^ van Emden, H.F.; Service, M.W. (2004). Pest and Vector Control. Cambridge University Press. hlm. 147. ISBN 978-0-521-01083-2. 
  24. ^ Fisher, Matthew R. "Environmental Biology" (PDF). uilis.unsyiah.ac.id. hlm. 171–175. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  25. ^ Sopialena (2018). Pengendalian Hayati dengan Memberdayakan Potensi Mikroba (PDF). Samarinda: Mulawarman University Press. hlm. 27. 
  26. ^ a b Sopialena (2018). Pengendalian Hayati dengan Memberdayakan Potensi Mikroba (PDF). Samarinda: Mulawarman University Press. hlm. 4. 
  27. ^ Sopialena (2018). Pengendalian Hayati dengan Memberdayakan Potensi Mikroba (PDF). Samarinda: Mulawarman University Press. hlm. 11. 
  28. ^ "Biological control: Approaches and Applications". University of Minnesota. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-05-02. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  29. ^ "Biological Control: Approaches and Applications". ipmworld.umn.edu. Diakses tanggal 2022-01-28. 
  30. ^ "Invasive Species". nationalgeographic.org. Diakses tanggal 2022-01-28. 
  31. ^ Polosky, Zane (2015). 21st Century Homestead, Biological Pest Control. Lulu.com. hlm. 1. ISBN 9781312937390. 
  32. ^ a b White, Bret (2019). Biological Control of Insects Pests. Scientific e-Resources. hlm. 74. ISBN 9781839474453. 
  33. ^ "Conservation of Natural Enemies: Keeping Your "Livestock" Happy and Productive". University of Wisconsin. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-18. Diakses tanggal 2022-01-28. 
  34. ^ "Biological Control: Approaches and Applications". ipmworld.umn.edu. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  35. ^ Purnomo, Hari (2010). Pengantar Pengendalian Hayati. Yogyakarta: Penerbit Andi. hlm. 18. ISBN 9789792912746. 
  36. ^ Sopialena (2018). Pengendalian Hayati dengan Memberdayakan Potensi Mikroba (PDF). Samarinda: Mulawarman University Press. hlm. 12. 
  37. ^ "Bacillus thuringienis Factsheet". Colorado State University. Diakses tanggal 2010-06-02. 
  38. ^ Fitriani (2018). "Identifikasi Predator Tanaman Padi (Oryza sativa) Pada Lahan Yang Diaplikasikan Dengan Pestisida Sintetik" (PDF). Jurnal Ilmu Pertanian Universitas Al Asyariah. 3 (2): 65. ISSN 2541-7460. 
  39. ^ Balsam fir oil (129035) Fact Sheet | Pesticides | US EPA
  40. ^ Hesperia Pest Control
  41. ^ PlantzAfrica
  42. ^ "World AgroForestry Centre". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-09-28. Diakses tanggal 2014-01-10. 
  43. ^ Firmansyah, Amanda Patappari (2017). Pengantar Pelindungan Tanaman. Inti Mediatama. hlm. 40. ISBN 9786026024152. 
  44. ^ a b Mardinata, Zulias (2014). "Analisis Kapasitas Kerja dan Kebutuhan Bahan Bakar Traktor Tangan Berdasarkan Variasi Pola Pengolahan Tanah, Kedalaman Pembajakan dan Kecepatan Kerja" (PDF). Agritech. 34 (3): 355. doi:10.22146/agritech.9465. 
  45. ^ "Distanhorbun Pessel Tingkatkan Kegiatan Pengendalian Hama Terpadu untuk Maksimalkan Hasil Pertanian". Info Publik. 2019. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  46. ^ "Agriotes sputator L. - Common Click Beetle (Wireworm)". Interactive Agricultural Ecological Atlas of Russia and Neighboring Countries. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  47. ^ Wright, R. j (1984). "Evaluation of crop rotation for control of Colorado potato beetle (Coleoptera: Chrysomelidae) in commercial potato fields on Long Island". Journal of Economic Entomology. 77 (5): 1254–1259. doi:10.1093/jee/77.5.1254. 
  48. ^ Woody, Todd (2011). A Crop Sprouts Without Soil or Sunshine. http://green.blogs.nytimes.com/2010/09/20/a-crop-sprouts-without-soil-or-sunshine/?partner=rss&emc=rss
  49. ^ Shelton, A. M.; Badenes-Perez, F. R. (2006). "Concepts and applications of trap cropping in pest management" (PDF). Annual Review of Entomology. 51 (1): 285–308. doi:10.1146/annurev.ento.51.110104.150959. PMID 16332213. 
  50. ^ Shelton, A. M.; Badenes-Perez, F. R. (2006). "Concepts and applications of trap cropping in pest management" (PDF). Annual Review of Entomology. 51 (1): 285–308. doi:10.1146/annurev.ento.51.110104.150959. PMID 16332213. 
  51. ^ a b Holden, Matthew H.; Ellner, Stephen P.; Lee, Doo-Hyung; Nyrop, Jan P.; Sanderson, John P. (2012). "Designing an effective trap cropping strategy: the effects of attraction, retention and plant spatial distribution" (PDF). Journal of Applied Ecology. 49 (3): 715–722. doi:10.1111/j.1365-2664.2012.02137.x. 
  52. ^ "Pesticides". National Institute of Health Sciences. National Institute of Environmental Health. Diakses tanggal 5 April 2013. 
  53. ^ a b Hill, Dennis S. (1983). Agricultural Insect Pests of the Tropics and Their Control. CUP Archive. hlm. 4–5. ISBN 978-0-521-24638-5. 
  54. ^ Fred Baur. Insect Management for Food Storage and Processing. American Association of Cereal Chemists. ISBN 0-913250-38-4. 
  55. ^ "5 Cara Ampuh Mengusir Hama Burung". /distan.soppengkab.go.id. 2018. Diakses tanggal 2022-01-27. 
  56. ^ Marzuki, Ismail; Vinolina, Noverita Sprinse; Harahap, Rahmatia; Arsi; Ramdan, Evan Purnama; Simarmata, Marulam MT; Nirwanto, Yogi; Karenina, Tili; Inayah, Astrina Nur; Wati, Cheppy (2021). Budi Daya Tanaman Sehat Secara Organik. Yayasan Kita Menulis. hlm. 64. ISBN 9786236840306. 
  57. ^ Pimentel, David (2002). Encyclopedia of Pest Management. Taylor & Francis. hlm. 725. 
  58. ^ "Bulletin of the Atomic Scientists". Educational Foundation for Nuclear Science. 1981. ISSN 0096-3402. 
  59. ^ Allendorf, Fred W. (9987). "Human-induced evolution caused by unnatural selection through harvest of wild animals" (PDF). PNAS. 106 (1): 355. doi:10.1073/pnas.0901069106. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]