Nadia Murad

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Nadia Murad
Nadia Murad dengan Sekretaris-Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon di World Humanitarian Summit di Istanbul pada 24 Mei 2016
LahirNadia Murad Basee Taha
1993
Kocho, Sinjar
 Irak
PekerjaanAktivis HAM
Tahun aktif2014-sekarang
PenghargaanNobel Perdamaian (2018)
Etnis Yazidi

Nadia Murad Basee Taha (bahasa Arab: نادية مراد‎; bahasa Kurdi: نادیە موراد; kelahiran 1993) adalah seorang aktivis hak asasi manusia Yazidi,[1][2] nominee Nobel Perdamaian[3][4] dan sejak September 2016 menjadi Goodwill Ambassador pertama untuk Martabat Korban Perdagangan Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.[5] Ia diculik dan diambil oleh Negara Islam pada Agustus 2014.[6]

Pada tahun 2018 dia dan dokter Denis Mukwege mendapat anugerah Penghargaan Nobel Perdamaian karena "upaya mereka untuk mengakhiri penggunaan kekerasan seksual dalam situasi perang dan konflik bersenjata."

Penculikan Nadia Murad[sunting | sunting sumber]

Saat ditangkap oleh ISIS pada 15 Agustus 2014, Nadia masih berusia 19 tahun. Ia berasal dari Sinjar, sebuah desa yang terletak di wilayah Irak utara yang sebagian besar dihuni oleh komunitas Yazid dan Kurdi.[7] Komunitas Yazidi memeluk sebuah kepercayaan kuno yang meyakini satu Tuhan dan pemimpin malaikat yang digambarkan dalam wujud seekor burung merak.[8]

ISIS melakukan penyerangan di desa tersebut dan dalam satu jam, lebih dari 300 pria, wanita, dan anak-anak menjadi korban. Enam saudara laki-laki Nadia dibunuh dalam peristiwa itu karena mereka menolak masuk Islam. Ibunya pun dibunuh oleh ISIS.[7]

Orang-orang yang selamat dalam peristiwa tersebut diculik dan dibawa ke Mosul, markas ISIS. Nadia menjadi salah satu orang dalam penculikan tersebut. Selama tiga bulan, ia menjadi tawanan ISIS.[7] Ia kerap disiksa dengan cara dipukuli dan diperkosa. Para perempuan Yazid yang menjadi tawanan itu dijual di pasar budak yang diselenggarakan oleh ISIS. Nadia juga dipaksa untuk menikah dengan salah satu anggota ISIS, memakai make up dan pakaian yang ketat, seperti banyak wanita ISIS lainnya.[8]

Pelarian Nadia Murad[sunting | sunting sumber]

Nadia pernah melarikan diri melalui jendela, tetapi ia tertangkap oleh milisi ISIS yang sedang bertugas. Kemudian, Nadia dimasukkan ke dalam sebuah sel lalu diperkosa oleh semua milisi ISIS yang berada di sana. Sejak saat itu, Nadia tidak ingin lagi meloloskan diri. Namun, saat seorang milisi ISIS berkata bahwa Nadia akan dijual, Nadia berpikir bahwa itu kesempatan yang ia punya untuk meloloskan diri.[9]

Saat milisi itu keluar, Nadia memutuskan untuk meninggalkan rumah tempat ia akan dijual. Ia mendatangi rumah salah satu tetangga yang ternyata tidak ada kaitannya dengan ISIS. Keluarga muslim asal Mosul tersebut menolong Nadia dengan memberikannya sebuah abaya hitam dan kartu identitas yang baru. Mereka pun membawanya ke perbatasan.[9]

Nadia berhasil melewati perbatasan dan selamat  wilayah Kurdi. Di sana ia bergabung dengan pengungsi Yazid lainnya. Ia pun diberitahu bahwa keenam saudara laki-laki dan ibunya telah dibunuh. Dengan bantuan organisasi yang membantu orang-orang Yazid, Nadia berhasil bertemu salah satu saudaranya di Jerman.[9]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "نادية مراد حكاية ضحية ام خطة مخفية". وكالة سكاي برس. December 29, 2015. 
  2. ^ Khudida, Ahmed (18 August 2016). "A Statement by Nadia Murad and Yazda`s Communication Team on Nadia and Yazda Visit to Australia". Yazda: A Global Yazidi Organization. Diakses tanggal 17 September 2016. 
  3. ^ Editorial Staff in Yazidis (6 January 2016). "Iraq nominates Islamic State Yazidi victim Nadia Murad for Nobel prize". Ekurd Daily. Baghdad. Diakses tanggal 22 September 2016. 
  4. ^ Mogul, Priyanka (8 January 2016). "Yazidi woman Nadia Murad: Former Isis sex slave could win next Nobel Peace Prize". International Business Times. Diakses tanggal 17 September 2016. 
  5. ^ del Campo, Carlos Gomez (16 September 2016). "Human trafficking survivor Nadia Murad named UNODC Goodwill Ambassador". United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). Diakses tanggal 17 September 2016. 
  6. ^ Westcott, Lucy (19 March 2016). "ISIS sex slavery survivor on a mission to save Yazidi women and girls". Newsweek. Diakses tanggal 22 September 2016. 
  7. ^ a b c Welle (www.dw.com), Deutsche. "Nadia Murad: One woman's fight against 'Islamic State' | DW | 10.12.2018". DW.COM (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-12. 
  8. ^ a b Media, Kompas Cyber (2018-10-05). "Nadia Murad, Bekas Budak Seks ISIS yang Raih Nobel Perdamaian Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-06-12. 
  9. ^ a b c "Nadia Murad, bekas budak seks ISIS yang dianugerahi Nobel Perdamaian". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2021-06-12. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]