Lompat ke isi

Muara Kaman, Kutai Kartanegara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Muara Kaman
Kantor kecamatan Muara Kaman
Kantor kecamatan Muara Kaman
Peta lokasi Kecamatan Muara Kaman
Peta lokasi Kecamatan Muara Kaman
Negara Indonesia
ProvinsiKalimantan Timur
KabupatenKutai Kartanegara
Pemerintahan
  CamatNadi Baswan[1]
Populasi
 (30 Juni 2025)[2]
  Total48.107 jiwa
Kode Kemendagri64.02.11 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS6403150 Suntingan nilai di Wikidata
Luas3.410,10 km²
Kepadatan14/km²
Desa/kelurahan20
Peta
PetaKoordinat: 0°15′4″N 117°2′15″E / 0.25111°N 117.03750°E / 0.25111; 117.03750

Muara Kaman merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kecamatan ini memiliki luas wilayah mencapai 3.410,10 km2 yang dibagi dalam 20 desa.

Muara Kaman merupakan daerah cikal bakal berdirinya Kerajaan Kutai Martadipura pada abad ke-4 masehi, kerajaan Hindu pertama dan tertua di Indonesia yang pertama didirikan oleh Kudungga, dengan rajanya yang terkenal yakni Mulawarman (yang adalah cucu dari Kudungga). Salah satu bukti bekas peninggalan Kerajaan Kutai Martadipura yang masih dapat dijumpai di Muara Kaman adalah sebuah batu berbentuk balok panjang yang disebut Lesong Batu. Batu ini lah yang menjadi bahan untuk membuat prasasti yupa pada masa kejayaan kerajaan Hindu tertua di Indonesia tersebut.

Penduduk Muara Kaman adalah orang Melayu yang sejak awal memiliki kehidupan sebagai pencari emas, madu lebah, dan madu lilin, serta pekebun dengan tanaman pohon kahoi sebagai penghasil damar dan pohon tengkawang sebagai penghasil minyak tengkawang.

Mereka juga memiliki kebun rotan sebagai hasil penghidupan masyarakat sejak era Tahani, yaitu raja-raja di era Sadiva Malaya.Tentang asal usul penduduk Muara Kaman ini sangat jelas kalau kita melihat sekarang keberadaan masyarakat yang mendiami daerah ini yang rata-rata merupakan keturunan raja-raja dan bercampur dengan pendatang baru.

Hal ini diperkuat dengan pemukiman orang yang masih ada darah bangsawan dari mereka ini mendiami daerah yang ada di Muara Kaman seperti Kampung Muara Kaman di Berubus, Sabintulung, dan Menamang. Sedangkan masyarakat penduduk di jaman Kerajaan Kutai yang pada waktu masih berkuasa di daerah Muara Kaman hanya dimulai dengan adanya suatu kegiatan pemerintahan raja-raja di zaman Tahani sampai era Sagara (Bakulapura).

Penduduk di zaman itu berasal dari kedatangan orang-orang Hindu ke daerah ini. Jadi, menurut catatan sejarah, kedatangan orang Hindu ke daerah Indonesia dimulai pada awal abad ke-2 M.Menurut sarjana Heine Geldern, kedatangan orang Hindu ke tanah India dimulai pada abad ke-1 M. Jadi, menurut pengamatan, Kerajaan Kutai di Muara Kaman ini adalah negara kerajaan yang tertua di Indonesia, berasal dari masyarakat asli Nusantara namun juga menerima pengaruh dari Hindu.

Hal ini diperkuat dengan adanya tulisan dalam Prasasti Batu Yupa yang ditemukan di daerah ini. Jadi berawal dari berita diatas kita dapat menyimpulkan bahwa pada sekitar abad ke- II M, adanya kedatangan para brahmana hindu serta kaum Keturunan Raja dan Bangsawan: Disebut kasta Ksatria (atau Satria). Kasta ini merupakan golongan penguasa, raja, menteri, hingga tentara, dan Kaum Pedagang, Petani, dan Pengusaha: Disebut kasta Waisya (atau Wesia).

Secara hierarki, Ksatria menempati posisi kedua setelah Brahmana, sedangkan Waisya menempati posisi ketiga, mereka berasal dari champa dan india selatan datang ke muara kaman dan meninggalkan sipat perladangan (Pertanian) selanjutnya menjadi para Saudagar.

"Bagaimana selanjutnya dari semua ini marikita lihat dalam sebuah Buku tidak mempunyai judul yang saya dapat dari Bapak Adji Imalluddin mengatakan sebagai berikut ; Adapun Maharaja Sri Mulawarman Naladewa anak dari Maharaja Acwawarman dan cucu dari Maharaja Kundungga yang berasal dari kerajaan CHAMPA terletak kira-kira di Kamboja sekarang". Ini semua belum dapat kita pastikan benar tentang asal usul orang Muara Kaman karena kita hanya memperkirakan dan marilah kita kembali kepada patokan Batu Yupa sebagai sumber sejarah yang lebih dapat dipercaya untuk memahami asal usul penduduk Muara Kaman.

Akan tetapi, kalau kita melihat dari segi bahasa penduduk Sabintulung sekarang, sangat sulit kita memahami, karena gaya bahasa mereka terlalu berlagu, tidak seperti bahasa Kutai biasa yang digunakan suku Kutai pesisir. Misalnya, penambahan kata "apa" menjadi "apa-ha" dan seterusnya menggunakan kata tambahan "ha" di belakang kata bahasa yang dipakai suku Kutai pesisir sekarang ini.

Sedangkan bahasa penduduk Muara Kaman sendiri sama logatnya dengan bahasa Kutai Tenggarong (Kutai Pesisir), yang hanya ada perbedaan dari tekanan nada suara saja. Bahasa Kutai Tenggarong agak bersuara kecil, misalnya kata "Mandik ada" menjadi "Mandikda", artinya "Tidak Ada!" dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini, saya tidak mempersoalkan karena saya bukanlah ahli ilmu bahasa. Jadi, kesimpulan terakhir bahwa penduduk Muara Kaman sekarang adalah orang Kutai Puak Pantun selaku Masyarakat Asli Kalimantan.

Berbicara tentang Suku Kutai adalah suku asli yang mendiami wilayah Kalimantan Timur. Suku Kutai berdasarkan jenisnya adalah termasuk suku Melayu Tua, sebagaimana suku-suku Dayak di Kalimantan Timur. Diperkirakan suku Kutai masih serumpun dengan suku Dayak, khususnya Dayak Rumpun Ot-Danum.

Suku Kutai memiliki kesamaan dengan suku Dayak dalam hal adat-istiadat, bahasa, dan fisik. Adat-istiadat lama suku Kutai banyak kesamaan dengan adat-istiadat suku Dayak Rumpun Ot-Danum, seperti Erau, Belian, Memang, dan lain-lain.

Puak Pantun, yang merupakan suku tertua di Kalimantan Timur. Suku Kutai terdiri dari 5 puak, yaitu:Puak Pantun, Puak Punang (Puak Kedang) Puak Pahu, Puak Sendawar (Puak Tulur Djejangkat), Puak Melani (Melanti), Puak-puak ini kemudian berkembang menjadi suku Kutai yang memiliki bahasa yang mirip namun berbeda dialek.

Suku Kutai memiliki hubungan kekerabatan dengan suku Dayak, khususnya Dayak Tunjung dan Benuaq yang memiliki Kerajaan Pinang Sentawar di Rara Kutaq. Nama "Kutai" sendiri mungkin berasal dari bahasa Tunjung dan Benuaq, yaitu "Kutaq", yang berarti "tuan rumah". Dalam sejarahnya, suku Kutai memiliki kerajaan-kerajaan yang terkenal, seperti Kerajaan di Muara Kaman, dan Kesultanan Kutai Kartanegara di Tenggarong, dan lain-lain. Suku Kutai juga memiliki bahasa yang kaya dan unik, dengan banyak kata-kata yang mirip dengan bahasa Dayak.

Mari kita melihat Kota Muara kaman di tahun 1905-1906 M, Muara Kaman dijadikan kampung di dalam pemerintahan Hindia Belanda dan diangkatlah seorang bernama Ibrahim (1905) memerintah di Muara Kaman dan orang-orang semula tinggal di lanting mulai membangun rumah panggung yang menjadi Kota Muara Kaman sekarang ini.

1. Ibrahim (1905).

Tahun 1906-1942 M, pemerintahan Muara Kaman disebut wilayah Onderdistrict Keresidenan Oost-Borneo Kalimantan di zaman penjajahan Hindia Belanda berpusat di Banjarmasin dan pejabat Onderdisrict Muara Kaman:

2. Aji Raden Ario Sastro (1906),

3. Aji Raden Amiseno (1907),

4. Aji Raden Arionegoro (1908),

5. Aji Raden Ariowidjojo (1909),

6. Aji Raden Djokolati,

7. Aji Raden Atmokesumo,

8. Aji Raden Djojosukno,

9. Aji Raden Mangliwan (1927),

10. Aji Bambang Daud,

11. Aji Bambang Ali,

12. Aji Bambang Hasan,

13. Kijai Sanuddin,

14. Aji Raden Amidjojo,

15. Aji Bambang Daud,

16. Aji Bambang Kudo (1939),

17. Aji Raden Menggala.

Tahun 1942-1945 M, Muara Kaman merupakan ibu kota wilayah Son dalam pemerintahan Ken dalam wilayah Syu di zaman penjajahan Jepang Moh. Seman gelar Mas Jaya Muda sebagai Son di bawah pemerintahan Jepang.

18. Moh. Seman gelar Mas Jaya Muda,

19. Aji Raden Daud. Tahun 1945-1950 M,

Pemerintahan Muara Kaman merupakan wilayah ibu kota pemerintahan penjawat dalam pemerintahan Afdeeling (Recinentie) Keresidenan Kalimantan Timur masa Republik Indonesia Serikat dalam wilayah Istimewa Kepatihan Kutai.

20. M. Saleh gelar Entje Kapitan,

21. Moh. Seman gelar Mas Jaya Muda,

22. Aji Raden Daud,

23. Kijai M. Tjorong,

24. Aji Raden Hassan,

25. Amir Hussen. Tahun 1950-1957 M,

Pemerintahan Muara Kaman merupakan ibu kota wilayah kewedanaan dan keresidenan di Kaltim Indonesia.

26. Aji Raden Sjerif Nilo (1950-1957).

Tahun 1957-2019 pemerintahan Muara Kaman sebagai ibu kota kecamatan dalam wilayah kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur Negara Republik Indonesia.

27. Aji Bambang Oemar Rachman (1957 1960),

28. Aji Bambang Oemar Sastro (1960-1962),

29. M. Ishak Ali (1962-1966),

30. Aji Bambang Badaruddin (1966-1968),

31. Idris Said, B.A. (1968),

32. Aji Bambang Hassan Basri (1969),

33. Idris Said, B.A. (1970),

34. Aji Aboe Bakar Baboed, B.A. (1970-1973),

35. Hamiddin,

36. Kusbini Dipuro,

37. Idrus D.

38. Hamiddin,

39. Imansyah Achmad, B.A.,

40. Iskandar Z., B.A.,

41. H. Bachtar Ganie. BA.

42. Drs. Rusli Rahim,

43. Drs. H. Aspian Jafar,

44. Asmuni S., S.sos.,

45. Erlian, S.Pd., S.Sos., M.M.,

46. Izhar Noor, S.E.,

47. H. Surya Agus, S.E.

48. Barlian. S.Sos.

49. Nadi Baswan.

Saatnya Kerajaan Sagara di Muara Kaman yang merupakan warisan dikenal dengan nama Kerajaan Kutai Mulawarman bangkit menata kebudayaan di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila sebagai dasar hukum berbangsa dan bernegara dan turut serta mencerdaskan kehidupan menjadi wadah tatanan moral adat istiadat dalam rangka melestarikan, mengembangkan, memelihara dan melindungi aset bangsa Indonesia. Khazanah budaya Indonesia Kerajaan Kutai Mulawarman adalah khazanah negara kerajaan pertama di Indonesia yang menjadi sumber kesatuan moral bangsa Indonesia menjalin kesatuan dan persatuan dari Sabang sampai Merauke sebagai negara yang beraneka ragam suku dan bangsa menjadi kesatuan yang kokoh di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pembagian administratif

[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Muara Kaman terdiri dari 20* Desa yakni:

  1. Benua Puhun
  2. Bukit Jering
  3. Bunga Jadi
  4. Kupang Baru
  5. Lebaho Ulaq
  6. Liang Buaya
  7. Menamang Kanan
  8. Menamang Kiri
  9. Muara Kaman Ilir
  10. Muara Kaman Ulu
  11. Muara Siran
  12. Panca Jaya
  13. Puan Cepak
  14. Rantau Hempang
  15. Sabintulung
  16. Sedulang
  17. Sidomukti
  18. Teratak
  19. Tunjungan
  20. Cipari Makmur

Demografi

[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Muara Kaman pada semester pertama tahun 2025 sebanyak 48.107 jiwa. Mayoritas penduduknya menganut agama Islam yakni sebanyak 94,49%. Kemudian, penduduk yang menganut agama Kekristenan sebanyak 5,10% (Katolik sebanyak 2,96% dan Protestan sebanyak 2,14%). Sebagian kecil lainnya menganut agama Hindu sebanyak 0,41%.[2][3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Langkah Baru Kukar, Pejabat Strategis Resmi Dilantik". beritaborneo.com. 6 Februari 2026. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
  2. 1 2 "Data Jumlah Kependudukan Berdasarkan Pemeluk Agama Kabupaten Kutai Kartanegara Semester 1 Tahun 2025". www.siruka.kukarkab.go.id. Diakses tanggal 8 Februari 2026.
  3. "Kutai Kartanegara - www.kukarkab.go.id". kukarkab.go.id. Diakses tanggal 2023-12-19.