Makanan siap saji

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
California Fried Chicken atau disingkat CFC merupakan restoran ayam cepat saji pertama produk Indonesia. Restoran ini berdiri sejak tahun 1983, dengan gaya restoran Amerika Serikat.[1]

Makanan siap saji adalah makanan yang dihidangkan dan dilayankan dengan waktu yang cepat. Dengan kata lain makanan siap saji merupakan makanan yang disiapkan dengan segera. Biasanya makanan siap saji dapat ditemukan di restoran atau toko dengan persiapan mutu yang rendah, yang dihidangkan dalam sebuah paket untuk dibawa pergi oleh pembeli.[2] Makanan siap saji bisa secara cepat dihidangkan karena sudah dipersiapkan terlebih dahulu, hingga waktu penyajian hanya mencapai durasi 5-10 menit setelah pembeli memesan makanan tersebut.[3] Berdasarkan hasil penelitian, jumlah masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi makanan siap saji sebanyak 69%. Rinciannya, sebanyak 33% memilih makanan siap saji untuk makan siang. Sebanyak 25% memilih makanan siap saji untuk makan malam. Sebanyak 9% memilih makanan siap saji untuk selingan, dan 2% untuk makan pagi.[4] Kandungan yang ada dalam makanan siap saji di antaranya karbohidrat, lemak, gula, dan garam tambahan. Kandungan tersebut tidak mampu memenuhi asupan nutrisi sehari-hari. Apabila setiap hari terus mengkonsumsi makanan siap saji akan menghambat pertumbuhan.[5] Selain itu, mengkonsumsi makanan siap saji secara rutin bisa menimbulkan risiko obesitas dan peningkatan berat badan. Oleh karena itu, makanan siap saji sering dikatakan tidak ramah, tapi juga tidak sehat. Namun, masyarakat sering tidak peduli terhadap kandungan gizi yang ada di dalam makanan siap saji, yang memiliki risiko terhadap gangguan kesehatan.[6] Makanan siap saji diminati oleh masyarakat dikarenakan lebih cepat dan praktis. Hal ini dikarenakan masyarakat urban sibuk bekerja, dan tidak memiliki waktu yang lama untuk memilih makanan. Perkembangan perekonomian juga turut berpengaruh terhadap perubahan gaya dan budaya makan yang ingin cepat saji. Makanan siap saji mudah ditemukan di daerah pertokoan elit, dengan akses yang nyaman dan menarik.[7] Agar tidak terlalu bergantung terhadap makanan siap saji, hal pertama yang dilakukan yaitu menyediakan makanan sehat di rumah, seperti buah-buahan, cemilan protein (protein bar), sayur-sayuran dan yoghurt. Selain itu, mulai membiasakan untuk memasak masakan sendiri.[8]

Perkembangan[sunting | sunting sumber]

Rumah makan atau restoran yang menawarkan dan menjual makanan secara umum kepada masyarakat sudah ada sejak zaman dahulu. Pada tahun 512 SM di kota Mesir terdapat tempat makan pertama yang ditujukan untuk masyarakat umum. Daftar makanan yang ditawarkan masih terbatas, hanya gandum dan sereal. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap budaya makan di luar rumah. Di zaman Romawi, budaya tersebut sudah ada. Hal ini dibuktikan dengan adanya penjual makanan di pinggir jalan menuju Gunung Vesuvius. Makanan yang dijual di antaranya kacang, keju, roti, dan sebagainya. Di Kota London dan Paris, pada tahun 1200 muncul rumah-rumah yang menjual dan menawarkan makanan kepada masyarakat umum. Penjual tidak menawarkan tempat duduk untuk pembeli. Di tahun 1916 muncul restoran pertama siap saji pertama yang menjual hamburger. Restoran tersebut bernama White Castle. Di tahun 1919, muncul restoran siap saji bernama A&W yang merupakan singkatan dari nama pendirinya Roy W. Allen dan Frank Wright. Restoran tersebut menyediakan layanan pemesanan tanpa turun dari kendaraan. Lokasi restoran A&W pertama ada di Sacramento, California.[9]

Meskipun restoran siap saji sering dilihat sebagai representasi teknologi modern, konsep "makanan yang siap dibawa" sama tuanya dengan kota-kota sendiri. Variasi-variasi yang unik dapat ditemukan dalam sejarah berbagai kebudayaan. Kota-kota Romawi kuno memiliki stand-stand roti dan minyak zaitun. Budaya Asia Timur memiliki toko-toko mie. Roti pipih dan falafel banyak dijual di toko-toko seperti ini di Timur Tengah. Makanan siap saji populer di India termasuk Vada pav, Papri chaat, Bhelpuri, Panipuri dan Dahi vada. Di negara-negara berbahasa Prancis di Afrika Barat, sementara stand-stand kaki lima di dalam dan di sekitar kota-kota besar terus menjual berbagai jenis makanan siap saji, sate yang dibakar, yang dikenal sebagai "brochette" (jangan dikacaukan dengan roti snack dengan nama yang sama di Eropa).

Britania Raya[sunting | sunting sumber]

Makanan siap saji telah ada di Britania Raya sejak setidak-tidaknya zaman Romawi, meskipun perbedaan antara menu makanan siap saji dan restoran-restoran siap saji kasual kadang-kadang tidak jelas. Sebelum zaman modern, makanan siap saji di negara ini termasuk pie daging dan pastri serta gorengan dan berbagai jenis kue.

Pada Abad Pertengahan di berbagai kota besar bisa ditemukan toko pie atau dapur-dapur yang menjual makanan seperti ini. Pub dan kedai minuman setempat juga memberikan berbagai jenis "makanan siap saji", meskipun tidak selalu tersedia cepat.

Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

Pada 1867, Charles Feltman, seorang tukang daging Jerman, membuka tempat penjualan hot dog pertama di Coney Island di Brooklyn, New York City, meskipun asal usul istilah ini masih diperdebatkan. World's Columbian Exposition (Chicago 1893) dan St. Louis World's Fair pada 1904 disebut sebagai promosi massal pertama untuk sejumlah makanan yang siap dibawa, termasuk hot dog, kerucut es krim dan teh es.

McDonald's, rantai makanan siap saji terbesar di dunia dan merek yang paling sering dihubungkan dengan istilah "makanan d siap saji", didirikan sebagai sebuah restoran drive-in barbecue pada 1940 oleh Richard J. dan Maurice McDonald. Setelah menyadari bahwa keuntungan terbesar mereka berasal dari hamburger, kedua saudara ini menutup restoran mereka selama tiga bulan dan membukanya kembali pada 1948 sebagai sebuah stan dengan menu sederhana berupa hamburger, kentang goreng, milkshake, kopi, dan Coca-Cola, yang dilayankan dalam bungkusan kertas yang langsung dibuang. Hasilnya, mereka dapat memproduksi hamburger dan kentang goreng terus-menerus, tanpa menunggu pesanan pelanggan, dan menyajikannya dengan segera. Hamburger seharga 15 sen, sekitar setengah harga makanan lainnya. Metode produksi singkat ini, yang disebutnya "Sistem pelayanan kilat" (Speedee Service System) dipengaruhi oleh inovasi jalur produksi oleh Henry Ford.

Dampak[sunting | sunting sumber]

Makanan siap saji tidak baik dikonsumsi dalam jangka panjang, dan berdampak buruk bagi kesehatan. Makanan siap saji tidak perlu dihindari, namun cukup untuk dibatasi. Misalnya, boleh dikonsumsi dalam dua kali selama satu bulan.[10]

Badan lesu[sunting | sunting sumber]

Makanan siap saji biasanya mengandung kadar lemak yang tinggi. Contoh dari makanan siap saji yang memiliki kadar lemak yang tinggi yaitu hamburger, kentang goreng, dan minuman bersoda. Selain lemak yang tinggi, makanan siap saji juga mengandung kalori yang besar. Hal tersebut bedampak kepada konsumen akan merasa kenyang dan lesu secara bersamaan.[11]

Menimbulkan penyakit serius[sunting | sunting sumber]

Makanan cepat saji banyak mengandung gula, mengkonsumsi gula berlebihan berbahaya karena meningkatan kadar kolesterol. Akibatnya, seseorang yang mengkonsumsi gula dalam jumlah berlebih berisiko tinggi terkena penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan kanker.[12]

Menyebabkan obesitas[sunting | sunting sumber]

Kalori dan lemak di dalam makanan siap saji memiliki kadar yang tinggi. Lemak yang tinggi akan berdampak terhadap kesehatan tubuh hingga menyebabkan obesitas, dan naiknya kolesterol di dalam tubuh.[12] Selain itu, kalori yang tinggi juga bisa menyebabkan obesitas, dan dampak buruk lainnya bisa menimbulkan penyakit kronis lainnya. Terlalu sering mengkonsumsi makanan siap saji berisiko terhadap bertambahnya berat badan, hingga terjadi obesitas.[12] Di Indonesia, tingkat obesitas mengalami peningkatan. Berdasarkan data, tingkat obesitas dari tahun 2007 hingga tahun 2018 mengalamai kenaikan sebesar 35,4%. Hal tersebut, dipengaruhi oleh pola makan yang tidak sehat.[13]

Kekurangan nutrisi[sunting | sunting sumber]

Terlalu sering mengkonsumsi makanan siap saji mengakibatkan kekurangan asupan gizi yang seimbang seperti nutrisi dan vitamin. Dampaknya tubuh akan mudah sakit, dan daya tahan tubuh akan menurun.[12] Kalori yang terkandung dalam makanan siap saji, berbanding terbalik dengan asupan gizi yang rendah di dalamnya. Nutrisi yang ada dalam makanan siap saji tidak lengkap dan seimbang bagi tubuh.[12] Di Indonesia, dalam pemenuhan nutrisi, sudah diatur dalam Angka Kecukupan Gizi. Angka kecukupan gizi pada saat pertama kali disusun mencakup dari energi, protein, 5 vitamin dan 2 mineral. AKG tahun 2018 mencakup energi, hingga gizi makro (protein, lemak dan karbohidrat serta air), vitamin, dan mineral termasuk elektrolit.[14]

Gangguan sistem pencernaan[sunting | sunting sumber]

Makanan siap saji berdampak terhadap gangguan sistem pencernaan. Kandungan makanan siap saji biasanya tanpa serat. Ketika sistem pencernaan mulai memecah makanan tersebut, karbohidrat yang terkandung di dalamnya dipecah menjadi glukosa (gula), dan dialirkan ke darah. Hal tersebut berdampak terhadap meningkatnya gula darah. Setelah itu, pankreas akan memberikan respon peningkatan gula, dengan cara melepaskan insulin. Insulin tersebut mengangkat gula ke seluruh tubuh, hingga ke sel-sel yang membutuhkan energi. Apabila prosesnya tidak terjadi gangguan, maka gula darah akan normal kembali. Namun, apabila karbohidrat memiliki kadar tinggi maka gula darah bisa meningkat kembali. Selain itu, akan mengakibatkan resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan penambahan berat badan.[15]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hidayat, Novi Amalia (2020). "5 Gerai Makanan Ini Asli Indonesia, Tapi Sering Dikira Punya Luar". IDN Times. Diakses tanggal 2022-01-07. 
  2. ^ Darmawan, Onky Wanda (2018). "Makanan Siap Saji". SMKKNPEKANBARU-LHK. Diakses tanggal 2022-01-07. 
  3. ^ Tiofani, Krisda (2021). Aisyah, Yuharrani, ed. "Apa Itu Makanan Cepat Saji, Hidangan Praktis yang Digoreng?". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-01-07. 
  4. ^ Al-Insyirah, Lppm (2016). "FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN POLA MAKAN SIAP SAJI (FAST FOOD) PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT STIKes HANGTUAH PEKANBARU". Al-Tamimi Kesmas: Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health Sciences) (dalam bahasa Inggris). 5 (2): 103. ISSN 2654-6485. 
  5. ^ Agustin, Sienny (2015). "Ketahui Risiko Mengonsumsi Makanan Cepat Saji secara Berlebihan". Alodokter. Diakses tanggal 2022-01-07. 
  6. ^ Anwar, Citra Rosalyn (2016). "Fast Food: Gaya Hidup dan Promosi Makanan Siap Saji | ETNOSIA : Jurnal Etnografi Indonesia". Jurnal Etnografi Indonesia (dalam bahasa Inggris). 1 (2): 54–55. 
  7. ^ Budianto, V. Irmayanti Meliono (2004). "Dimensi Etis Terhadap Budaya Makan dan Dampaknya pada Masyarakat". Makara Human Behavior Studies in Asia. hlm. 68. 
  8. ^ Saputra, Angga (2019). "Alasan Mengapa Makanan Cepat Saji Mendominasi di Indonesia". WinNetNews (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2022-01-11. 
  9. ^ Nurdiansyah, Rachmat (2019). "Budaya Pola Konsumsi Makanan Cepat Saji dalam Kehidupan Remaja Jakarta (Studi Kasus : Franchise KFC)" (PDF). Repository UIN Jakarta. hlm. 27-29. 
  10. ^ Priwahyuni, Yuyun (2016). "FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN POLA MAKAN SIAP SAJI (FAST FOOD) PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT STIKes HANGTUAH PEKANBARU". Al-Tamimi Kesmas: Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health Sciences) (dalam bahasa Inggris). 5 (2): 103. ISSN 2654-6485. 
  11. ^ Simamora, Novita Sari (2021). Putri, Anissa, ed. "15 Efek Samping Mengonsumsi Makanan Cepat Saji". Bisnis.com. Diakses tanggal 2022-01-08. 
  12. ^ a b c d e Putri, Adelya (2021). "Bahaya Makanan Cepat Saji (Fast Food) bagi Kesehatan". ners.unair.ac.id. Diakses tanggal 2022-01-07. 
  13. ^ Zhafira, Arnidhya Nur (2021). Putri, Maria Rosari Dwi, ed. "Kemenkes: Obesitas di Indonesia kian meningkat". ANTARA News. Diakses tanggal 2022-01-15. 
  14. ^ Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2019). "PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2019 TENTANG ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN UNTUK MASYARAKAT INDONESIA" (PDF). Kementerian Kesehatan. hlm. 16-17. 
  15. ^ Kurniawan, Andre (2020). Kurniawan, Andre, ed. "6 Bahaya Makanan Cepat Saji bagi Tubuh, Pengaruhi Sistem Pencernaan hingga Tulang". Merdeka.com. Diakses tanggal 2022-01-08. 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  • Adams, Catherine. "Reframing the Obesity Debate: McDonald’s Role May Surprise You.[pranala nonaktif permanen]" Journal of Law, Medicine, and Ethics 35 (2007): 154-157. Academic Search Premier. EBSCOhost. University of Nevada, Reno Libraries. 5 Februari 2008. (Inggris)
  • Arndt, Michael. "McDonald’s 24/7.[pranala nonaktif permanen]" Business Week 4020 (2007): 64-72. Academic Search Premier. EBSCOhost. University of Nevada, Reno Libraries. 22 Februari 2008. (Inggris)
  • Hogan, David. Selling 'em by the Sack: White Castle and the Creation of American Food. New York: New York University Press, 1997. (Inggris)
  • Kroc, Ray with Robert Anderson. Grinding It Out: The Making of McDonald's. St. Martin's Press, 1992. (Inggris)
  • Levinstein, Harvey. Paradox of Plenty: a Social History of Eating in Modern America. Berkeley: University of California P, 2003. 228-229. (Inggris)
  • Luxenberg, Stan. Roadside Empires: How the Chains Franchised America. New York: Viking, 1985. (Inggris)
  • McGinley, Lou Ellen with Stephanie Spurr, Honk for Service: A Man, A Tray and the Glory Days of the Drive-In. St. Louis: Tray Days Publishing, 2004. For photos of the Parkmoor Restaurants see Drive-In Restaurant Photos Diarsipkan 2010-10-02 di Wayback Machine. (Inggris)
  • Obesity In America. The Endocrine Society; The Hormone Foundation. 27 April 2008 The Obesity Crisis: What's it all about? Diarsipkan 2015-08-22 di Wayback Machine. (Inggris)
  • Schlosser, Eric, Fast Food Nation: The Dark Side of the All-American Meal, Houghton Mifflin Company, 2001 (Inggris)
  • Schultz, Howard with Dori Jones Yang, Pour Your Heart Into It: How Starbucks Built a Company One Cup at a Time, Hyperion, 1999 (Inggris)
  • Warner, Melanie "Salads or No, Cheap Burgers Revive McDonald’s.[pranala nonaktif permanen]" The New York Times 19 April, 2006. Academic Search Premier. EBSCOhost. University of Nevada, Reno Libraries. 5 Februari 2008. (Inggris)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]